Kisah Hidupku episode 10

Bagian 10 Memacu Adrenaline

Malam minggu kami asyik ngumpul di rumah Toriqh, aku asyik memainkan game Tonyhawk pro skater yang saat itu lagi trend di hape N-Gage QD milik Toriqh. maklum di usia seperti itu hanya aku saja yang tidak memiliki ponsel. Ingin rasanya meminta agar memilik ponsel seperti teman-teman yang lain, tapi keuangan orang tuaku sedang tidak baik. Ditambah lagi adek keduaku masih harus bolaki-balik Jakarta untuk check up. Jadi sengaja aku tak meminta ponsel, lagipula, teman-temanku saat itu tidak akan bingung mencariku jika sedang tidak berada di rumah. Kadek lalu berkata: eeehhh…….. Lihat trek-trekan yukz!!!! mumpung malam minggu, ayooo!!!…. kami serempak setuju dengan usul si kadek. Aku pun berangkat dengan dibonceng kadek, biasa…. lagi apes, kunci motor ketahan gegara pulang kemaleman. mutar-muter keliling tempat-tempat yang biasanya dijadikan ajang kumpul bagi para pembalap liar, tidak ada satu pun yang nongol. Malah lebih banyak patroli sliweran, akhirnya kami putuskan istirahat sejenak di mini market berlogo K yang saat itu hanya satu-satunya mini market yang ada di Denpasar. Entah siapa yang memulai percakapan akhirnya obrolan kami berlanjut ke wisata malam yapzz…… wisata malam alias berkunjung ke tempat angker. kadek pun kembali mengusulkan:

Kadek: eeehhh…… Jal, gimana kalo kita survey Taman Festival???……..
Toriqh: jangan dach Jal!?!!….. ntar ente dimakan buaya disana
Topan: iya Dek…… isunya kan masih ada buaya yang sembunyi disana??
Kadek: Yaelaaahh!!!….. tempat ini lagi trend, 2 minggu lalu kan kita habis darisana mau ikut audisi acara mistis salah satu stasiun tivi swasta
Topan: aseeemmb!!!! Masa pas nunjukin KTP langsung nggak lolos, dibilang: waaahhh!!! orang Bali nie, biasa temenan ama Hantu kan koplak namanya.
Saya: Ayooo….. jal!!!!, lagian kita nggak usah sampai jauh kedalem masuknya cukup sampai kebagian sebelum wahana bermain itu aja yang dulu dipakai taman itu lho….
Toriqh: ya udah, kita berangkat kalo gitu….. Terus senternya gimana???
Saya: iya ya???….. balik dulu ajalah kalo gitu
Kadek: hallaaah!!……. urunan aja beli senter sebiji ntar diundi yang kalah dapet bagian depan pegang senter.
Akhirnya kami pun urunan untuk beli senter yang ternyata tersedia di minimarket ini dan perjalanan pun berlanjut menuju taman Festival.

Sebagai gambaran Taman festival ini memiliki luas 8,9 Hektar, taman ini dulu dibangun oleh PT. Abdi Persada Nusantara yang Berlokasi di daerah pantai Padang Galak, Desa Kesiman Petilan, Sanur. taman Festival ini dulunya memiliki banyak sekali wahana permainan yang keren dan megah. Mulai dari gedung pertunjukkan, amphitheater, theater 3D, kebun binatang, wisata alam, hingga gunung berapi buatan yang bisa meletus secara nonstop kawan. Betapa megahnya Taman Festival ini yang dulu sempat digadang-gadang sebagai saingannya Dufan. Namun harus gulung tikar saat memasuki era millenium, seingat saya tahun 2000 sudah tutup ini tempat.

Akhirnya kami sampai ke Taman festival, tidak seperti sekarang yang sering ramai dikunjungi oleh penghobi misteri ataupun sekedar mencari spot foto. Kesana dulu itu kudu sembunyi-sembunyi, kalo ketahuan yang jaga bisa habis kalian. Yaaa…. Walaupun yang jaga juga jarang terlihat. Masuk ke dalam akan sangat berbeda sekali suasananya kawan, bahkan orang yang tak memiliki “kelebihan” pun akan merasakan suasana mistis dan angker. Ilalang tumbuh dimana-mana dan yang menakutkan adalah konon masih ada buaya yang tersisa di Taman festival Bali ini. Disambut dengan ilalang yang tinggi menjulang serta banyaknya daun berserakan dan juga bangunan tak terawat bikin bulu kuduk seketika naik kawan. Topan kebagian bawa senter karna dia yang kalah undian, tolah toleh….. melihat keadaan sekitar yang gelap gulita. Begitu memasuki areal Turbo Theater, ditengah jalan tersebut ada pohon beringin besar dengan pagar setinggi satu meter yang bisa dipakai buat duduk-duduk jika ingin istirahat. Sayangnya tempat ini sering dijadikan tempat buat mesum, terlihat ada beberapa sisa bekas peperangan, semoga saja sekarang lebih baik kondisinya.

Gimana kita masuk ke ruangan Theater apa nggak???….. kata Topan, Kadek pun menimpali perkataan Topan: ngeri Pan!!….. mending lanjut jalan aja ke depan nggak usah masuk ke dalem ntar malah nggak bisa pulang kita. pelan-pelan kami melangkahkan kaki sambil melihat kembali keadaan di sekeliling, lalu aku berkata pada sahabatku untuk membaca doa sapu jagad dan buat Kadek bacalah doa yang sering kamu baca dan kamu tahu. susana gelap menyulitkan kami untuk mengidentifikasi sudah sampai di area mana, merasa sudah terlalu jauh dan mulai tercium aroma tak sedap. Terkadang bau melati lalu tiba-tiba bau singkong bakar dan yang sering tercium sejak memasuki Taman festival bali ini adalah Bau bangkai dan anyir.

Begitu kami melangkahkan kaki untuk pulang tiba-tiba terdengar suara anak kecil sedang bermain yang saling sahut menyahut, Dengerin Jal….. ada suara anak kecil tuch kata Kadek, iya… bener jal, ada suara anak kecil sekilas kami menimpali ucapan Kadek. lalu…. tiba-tiba ada suara anak kecil berkata: Om….. Kok udah mau pulang??? kan kita belum diajak main. Seketika kami semua kompak menoleh kearah belakang, terlihat jelas anak kecil menggunakan semacam popok menutupi kemaluannya dan tak mengenakan baju sambil memeluk boneka dari anyaman batang padi. LAAARRRIIIII!!!!……. kami semua berlarian menuju pintu keluar yang masih sangat jauh di depan kami. Setelah dirasa aman kami berhenti sejenak mengatur nafas yang tersengal-sengal.

GILLLAAA!!!!….. itu tuyul tadi. Belum reda kami mengatur nafas sudah dikejutkan lagi dengan suara perempuan bernada lirih TOLOONG…… TOOLLOOONG AKU….. Ternyata di pojokkan sebelah kiri ada Kuntilanak dengan posisi tergantung diantara rimbunnya pepohonan dan suara minta tolong tadi berubah menjadi suara cekikikan khas Hiii….. Hiihiiiii….. Hiiii….. Hiihiiiihiiiii…… Saling menoleh satu sama lain kemudian LAAARRRIIII!!!!…… Serempak kami berlari hingga akhirnya mencapai pintu masuk yang kebetulan ada penjaganya disitu dan tentunya kami semua kena omelan serta tak menerima penjelasan dari kami, bahkan disuruh squadjump 100 kali setelah itu kami pun pulang. Topan ngedumel selama diperjalanan pulang karna sandalnya lepas saat berlarian di Taman Festival Bali tadi.

Ilmu yang aku miliki hanya kelas rendahan bukan untuk melawan “mereka” jadi ya tetap saja lari pukang langkang jika sampai ketemu sosok menyeramkan seperti mereka. Lagipula ilmu amalan itu aku dapatkan saat masih SMP oleh pelatih bela diriku saat itu, karna Beliau sepertinya tahu kelebihanku namun sayangnya Beliau sudah lebih dulu dipanggil oleh Tuhan diusia yang masih sangat muda.


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset