Kisah Hidupku episode 11

Bagian 11 Si Pahit Lidah

Pernahkah kalian mendengarkan dongeng Si Pahit Lidah Kawan???….. Dongeng dari negeri Andalas yang termasyhur. Dongeng tentang seseorang yang memiliki salah satu kesaktian ilmu laduni, apa yang terucap dari mulutnya akan terjadi. Sejatinya tiap orang bisa memiliki ilmu itu, namun Kita kembalikan lagi pada Tuhan pemilik alam semesta, karna hanya Tuhan yang berhak memberikan ilmu itu. Aku masih teringat ketika libur panjang telah tiba kawan, biasanya kami sekeluarga akan berlibur ke rumah eyang kakung dan eyang putri dari papa mama ku. Selain itu, kami sekeluarga biasanya menghabiskan liburan ke kota jogja dan juga solo. Di Solo biasanya kami mampir dan menginap di rumahnya om Widodo, beliau masih ada hubungan keluarga dari mamaku. Om Widodo ini bisa dikatakan sebagai guru spritual bagi keluarga dari mamaku, terkadang juga membantu memberikan tentang “penglihatan” masa depan. Yaa….. Walaupun sampai sekarang aku juga masih belum paham karna bahasa yang digunakan lebih sering menggunakan bahasa kiasan. Beberapa ada yang tepat, itu pun setelah terjadi keluarga kami baru tahu apa maksud yang telah dikatakan om Widodo sebelumnya. Khusus untuk diriku, seperti yang sudah-sudah bakal menjadi pemimpin dan Beliau ini mengatakan kalo aku akan menjadi semacam Lurah yang dipercaya warganya. Hehehehehe….. geli juga aku mendengarnya saat itu yang sudah menginjak kelas 2 SMP dan nasehat berikutnya dikhususkan padaku agar tak menjadi si Pahit lidah. Karna itu juga akan kecipratan efek negatif dari omonganku sendiri. Setelah itu beliau sempat memberikan azimat berbentuk persegi berbungkus kain Mori disalah satu sisi ada huruf arab gundul dan disisi lainnya ada gambar Patkwa, katanya nanti jika sudah waktunya tiba tolong diberikan kepadaku. Aku ingat kata-kata ini adalah pesan terakhir karna setelah kunjungan kami sekeluarga saat berlibur, di tahun berikutnya om Widodo sudah dipanggil yang Maha Esa.

Kata Lurah dan terutama kata si pahit lidah masih terngiang ditelingaku. Hingga ketika SMA selepas sholat jumat aku disamperin seseorang yang kira-kira lebih tua sedikit dari Papaku, beliau lalu menyalami dan segera kutarik tanganku ketika ingin mencium tanganku. Aku pun bertanya Bapak ini siapa????…… Aku Guru agamamu dulu ketika SD Nak, maafin bapak Ya?? Kata orang tersebut. Lalu aku kembali bertanya meminta maaf karena apa ya Pak??….. Saya rasa Bapak tak punya salah sama saya.
Guru SD: Saya yang dulu pernah ngelempar kamu pake penghapus papan tulis kapur, ketika itu lemparan saya tepat mengenai jidatmu hingga benjol. Lalu kamu sudah menjelaskan kalo tidak ngobrol di kelas sedang menyalin salah satu surah di Al-Qur’an.

Saya: Ya Alllah….. Iya Pak, saya ingat itu Pak dan saya sudah ilhklas memaafkan serta saya juga minta
Maaf dulu memaki Bapak dan menyumpahi dengan kata yang tidak baik.
Guru SD: iya Gpp Nak….. Saya juga ikhlas kalo sumpah yang diucapkan saat itu, kini terwujud pada saya
Saya: Astagfirullah Hal Azim…… Maafin saya Pak, sungguh saya tak ingin bermaksud begitu…. (Tak terasa saya sedikit menitikkan air mata)
Guru SD: baiklah Nak….. Bapak pamit dulu, Assalamu’alaikum.
Saya: Wa’alaikumsalam…..
Sesampainya di rumah aku katakan kejadian yang menimpa di Masjid tadi pada papa mamaku dan mereka hanya mengatakan agar aku lebih menjaga lisan, hati dan pikiran serta harus mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.

Malamnya tak bisa tertidur kumainkan gitar sayurku sejenak sambil mengingat kembali arti si Pahit lidah ini. Aku pun teringat ketika dulu masih SD untuk pertama kali diajak pulang ke rumah nenek dari Papa di kota Batik. Disana aku bertemu eyang kakung dan eyang putri dari Papaku. Eyang putri begitu antusias menyambut kedatangan kami sekeluarga, tapi entah kenapa eyang kakung dari Papaku ini sangat tidak menyukaiku sama sekali, bahkan….menganggap aku ini musuh bebuyutan yang harus dilenyapkan. Kuingat betul, saat adek keduaku sedang duduk diboncengan sepeda gayung yang di standar ganda oleh mamaku yang sedang sibuk mengurus si Kembar. Sedangkan aku sedang asyik bermain mobil-mobilan tak jauh dari adekku. Saat mamaku Lengah dari pandangan sekejap, adek kedua perempuan terjatuh dari sepeda dan menangis lalu dan segera mamaku menggendongnya. Papaku yang dari dapur berlari ke depan, ketika bertanya kenapa bisa jatuh. Sekonyong-konyong eyang kakung menyebutkan kalo aku yang mendorong sepedanya dengan sengaja agar adekku jatuh.

Padahal jelas-jelas….. Posisiku saat itu di depan mamaku, dan adekku disebelah kanan mamaku. Tanpa banyak tanya dicubitnya aku hingga menangis, padahal mamaku sudah menjelaskan kejadian sebenarnya tapi tetap aku yang disalahkan. Jujur…. Saat itu sakit sekali hatiku difitnah seperti itu. Tak hanya sampai disitu, sering kali tiap ada kesalahan pastilah aku yang dituduh padahal aku tak melakukannya. Dan kejadian berikutnya yang kuingat adalah saat aku, adek pertama, dan adek keduaku, serta eyang putri naik becak menuju rumah eyang kakung (eyang kakung punya 2 istri)….. Entah kedua adek ku ini mendapat komando darimana??….. ketika sudah sampai di depan rumah eyang kakung lalu meneriakkan nama mbah kakungku dan dibelakangnya ditambahkan kata GILA.

Jujur saat itu aku diam saja tak berucap apapun bahkan eyang putri menasehati jangan berkata begitu
Dosa…. Udah jangan Dosa….. Begitu kata eyang putri. Tak ayal eyang kakung tergesa-gesa keluar rumah dan tahu apa yang terjadi???….. Kembali aku yang jadi bulan-bulanan, dicubit, dijewer telingaku bahkan hampir dipukul pundakku pakai sapu sedangkan kedua adekku???….. Mereka sama sekali tak kena amukan eyang kakungku. Untung eyang putri dan mamaku yang sudah dulu disana mencoba menenangkan eyang kakungku.

Eyang putri: sudah…… Sudah…. ngapain kamu marahin dia?? (sambil menunjuk aku yang hanya bisa menangis)….. Putu lanangku iki meneng wae. Malah iku lho sing bengak-bengok…. Menunjuk kedua adek perempuanku. (Cucu lelakiku diam saja, itu lho yang teriak-teriak)

Eyang kakung: Ra mungkin….. Wes jelas aku krungu ngejek ngunu, nek gak ono sing kongkon terus sopo sing iso ngajari ngomong ngunu (nggak mungkin…. Sudah jelas aku dengar ngejek gitu, kalo nggak ada yang suruh terus siapa yang ngajarin ngomong begitu)
Papa: bener kamu ngomong gitu???…. Ngajarin adekmu ngomong gitu?!! Sambil menatapku dengan geram
Saya: nggak Pah….. Aku diem aja daritadi sambil sesenggukan menitikkan air mata.
Eyang kakung: haallaaah…. Ra mungkin, ra percoyo aku, koe raiso didik anakmu (haaallaaah…. Nggak mungkin, nggak percaya aku, kamu nggak bisa didik anakmu.

Maka bertambah geramlah Papaku…… Melayanglah sapu dipundaku hingga aku tersungkur dan kembali menangis keras. Mamaku merelai papaku yang sudah mulai kalap….. kemudian aku berlari seorang diri pulang ke rumah eyang putri, karna saat itu aku sudah hapal
Jalan pulang ke rumah eyang putriku. Sudah pasti saat itu terjadi pertengkaran yang cukup hebat disana.
Sesampainya aku didepan pintu rumah eyang putriku yang jelas-jelas terkunci, karna eyang putriku masih di rumah eyang kakung. Aku menangis dan hanya bisa entah itu berdoa atau mengucapkan sumpah serapah memohon kepada ALLAH SWT. YA ALLAH….. Salahku apa??? Kok bisa eyang kakung sampai sejahat itu kepadaku,???? jika begini terus mending MATIIN AJA……. Eyang kakungku itu. Hanya kata-kata itu yang terulang-ulang dibatin kecilku, sungguh saat itu aku merasa teraniaya dengan amat sangat kawan.

Semenjak kejadian itu, aku tak pernah lagi diajak ke rumah eyang kakung, bahkan jika ke rumah keluarga yang lain dan eyang kakungku ikut maka aku disuruh di rumah saja, untungnya eyang putri mengerti dan sering menemaniku sendirian di rumah. Bahkan tak jarang diberikannya aku uang jajan untuk bermain dengan teman-teman sebaya yang aku kenal disitu. Beruntung kawan-kawan di kota batik ini baik kepadaku, jadi aku tak merasa kesepian jika ditinggal sendirian.

Doa atau mungkin sumpah serapah yang kupanjatkan ternyata benar-benar muzhtajab, entah karna teraniaya atau karna si pahit lidah???….. Aku juga bingung ketika itu kawan, karna tak sampai libur lebaran berikutnya ternyata Eyang Kakungku telah dipanggil Oleh ALLAH SWT. Saat itu aku hanya bisa membatin dan bersyukur karna ALLAH SWT mengabulkan doaku. Padahal kini setelah kurenungi lagi, sungguh sangat berdosanya aku mendoakan seperti itu. Maafkan anakmu Pah………karna mendoakan ayahnya (eyang kakung) Papa dengan doa yang tidak baik.
Sungguh aku tak ingin berkata begitu, karna saat itu aku sangat kecil dan lemah serta tak ada yang mendengarkan kejujuranku, tak sadar aku sedikit menitikkan air mata dalam lamunanku. Sejak saat itu aku sangat berusaha menjaga hati dan lisanku agar tak sampai menyumpahi orang yang tidak-tidak karna takut terulang kembali. Ikhlas adalah kata yang mudah diucapkan, namun teramat sulit diamalkan kawan semua. Aku berusaha tetap istiqomah agar tak menyumpahi orang lagi. Sempat beberapa kali aku dikecewakan dan umpatan serta sumpah serapah yang dulu sering aku ucapkan saat kecewa perlahan kini aku ganti dengan doa yang baik-baik saja agar orang tersebut dibukakan pintu hatinya dan diberikan hidayah. Sulit…. Tentu sulit sekali kawan,…….. Tapi aku akan tetap berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi kini, nanti dan seterusnya.
Setelah dewasa mulai mengerti kenapa eyang kakung begitu membenciku, nanti sajalah kawan jika aku sudah siap akan kuceritakan rahasia hidupku pada kalian, karna ini adalah salah satu rahasia besar hidupku dan tolong jika tak kuceritakan janganlah kalian memaksa. Tidak semua bisa aku ceritakan disini kawan.


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset