Kisah Hidupku episode 22

Bagian 22 Bertandang

Akhirnya libur lebaran tiba, aku bisa mengajak kedua orang tuaku untuk silaturahmi ke rumah Eni. Selain silaturahmi, tentu saja untuk melamar Eni. Di tahun itu, kondisi kesehatan mamaku telah membaik. Berangkatlah aku dari kota Buitenzorgen menuju ke kota yang terkenal dengan batik mega mendungnya dan rumah eni berada di kota dengan sebutan Kuda Jengke/ kuda jingkrak. Tahun 1435 Hijriyah adalah penentuan hidupku. Aku menggunakan angkutan Bus untuk menuju kota Buitenzorg setelah itu perjalanan kami lanjutkan dengan menaiki travel. Travel sarana angkutan yang sengaja aku pilih agar memudahkan kami sampai ke rumah Eni.

Begitu sampai di rumah Eni, kami disambut dengan hangat oleh keluarga Eni. Eni agak berbeda kali ini, terlihat lebih kurus dari perjumpaan kami terakhir. Ada sedikit kejadian tak mengenakkan hatiku kala itu, pertama…. Karna aku harus menjemput kedua orang tuaku, ditambah lagi kondisi mamaku yang baru saja membaik dari serang stroke. Tentu akan merepotkan jika aku membawa oleh-oleh dari Denpasar. Maka kuputuskan untuk mengirimnya terlebih dahulu. Tentu saja…. Sesampainya kami disana ditagih oleh-oleh, padahal…. Oleh-oleh itu sudah sampai sehari sebelumnya. Eni pun sudah membagikan semua oleh-oleh yang aku kirim. Tak hanya keluarga Eni saja yang datang ada ada juga Uwaknya yang datang ke rumah Eni. Mana nie mas oleh-olehnya???…. Masa kesini, tangan kosong nggak bawa apa-apa???…. Kata uwak padaku dan aku pun menjawab. Lhaaa….. Oleh-olehnya sengaja saya kirim Uwak, biar nggak repot. Lagipula itu kaos yang Uwak kenakan dari saya. Lalu Uwak pun kembali menjawab….. Kaos ini kan Eni yang kasih bukan kamu yang kasih ke Uwak. Eni pun membelaku….. Uwaak! kan oleh-oleh dari si Mas sudah dikasih kemaren, itu bajunya dari Mas aja…. Uwak pake sekarang. Merasa kalah…. Uwak main cabut aja pulang tanpa mengatakan sepatah kata apa pun.

Ada yang aneh dengan sikap Eni?? Selepas maghrib. Diraihnya ponselku… Lalu semua nomer yang ada di kontak teleponku dilihatnya. Tanpa sepengetahuanku, ada beberapa nama perempuan yang di sms oleh Eni…. Termasuk pula nomer Riyanti. Eni bertanya padaku: Riyanti ini siapa??? Kok kamu nggak cerita ke aku!!! (Melihat dengan tatapan menyelidik)…. Ooohhh!!! Itu, nomer penjual kue…. Kebetulan salah satu kepala RS langganan kue ke dia. Jadi aku sering hubungi Dia buat order kue…. Jawabku pada Eni. Ngapain kamu simpen nomer penjual kue??? Cantik pula di foto kontaknya….. Eni kembali bertanya padaku. Lhaaa…. Kan aku dikasih nomernya cuman buat order aja, kujawab kembali pertanyaan Eni.

Bohong kamu mas!!!! Ini apa?? (Sambil menggeser-geser kontak telepon dan menunjukkan padaku) kamu banyak sekali simpan nomer cewek, kamu selingkuh ya!!!! Eni berkata dengan nada geram padaku. YA ALLAH…. Itu nomer customer, teman kantor, teman sekolah dari SD sampe kuliah juga ada…. Jadi wajar, aku simpan kontak mereka….. Ku Kembali menjawab pertanyaan Eni.

Pantes aja kamu mengulur-ngulur pernikahan kita!!!! Playboy…. Mana mau ngaku?? Eni berkata dengan Nada agak tinggi padaku. Apaan sich kamu??? Aku ini fokus kerja!!!…. Ngumpulin uang buat biaya nikahan kita nanti!!!! (Aku terbawa emosi dan kupukul toples bundar untuk nastar hingga rusak dan berantakan semua kue nastar yang kukirim ke Eni)

Eni…. Hanya terdiam tak berkata sepatah kata pun…. Setelah kemarahanku reda, aku tersadar. Saat kami berantem tadi dilihat oleh adik dari bapaknya dari Eni dan aku pun meminta maaf pada Eni, namun Eni hanya terdiam saja. Esok paginya terjadilah kehebohan…. Awalnya keluarga Eni berkumpul di rumah neneknya Eni, dimana saya dan kedua orang tuaku menginap selama di kotanya Eni. Lalu mereka bertanya pada papa dan mamaku soal kemarahanku kemarin sore serta menanyakan kepastian tanggal pernikahan kami. Selanjutnya tentu….. Aku kena sidang oleh keluarga besar Eni. Mereka menanyakan tentang kemarahanku pada Eni dan juga menyayangkan sikapku yang seperti itu. Gimana kalo udah nikah nanti??? Kamu bisa-bisa sering main tangan sama Eni kata salah satu anggota keluarga Eni. Yaa…. Pak, saya mengaku salah dan khilaf atas tindakan saya kemarin sore. Tapi itu bukan murni kesalahan saya…. Pembelaanku pada keluarga besarnya Eni….. Emang kamu ada masalah apa??? Kini Uwaknya Eni menanyakan padaku. Gini Uwak…. Eni menanyakan setiap nomer perempuan yang ada di hape saya. Saya sudah jelaskan semuanya, tapi Eni tetap tak percaya dan menyudutkan saya.

Yaa….. Wajarlah!!! Namanya orang bertanya, kenapa kamu sampai marah??? Kata salah satu keluarga besar Eni. Gini…. Pak, saya sudah menjelaskan semuanya dengan jujur dengan Eni. Tapi Eni menuduh aaya selingkuh dan tak serius sama Dia. Jika saya tak serius!!! Saya tak akan mengajak kedua orang tua saya kesini, bapak bisa lihat sendiri….. Mama saya baru sembuh dari stroke, sampe bela-belain kesini demi merestui hubungan saya dan Eni serta ingin membicarakan pernikahan kami agar secepatnya dilaksanakan.
Lagipula…. Pagi ini, saya baru tahu. Kalo Eni malah mengirim pesan ke beberapa nomer perempuan yang ada di kontak saya. Bahkan salah satunya rekan kantor saya ( sambil menyodorkan hape dan menunjukkan bukti-bukti, bahwa Eni mengirimkan SMS ke nomer yang ada di kontak).

Ya sudah….. Berarti ini hanya salah paham saja. Kami anggap semuanya sudah jelas sekarang. Kata Uwak padaku. Iya…. Uwak, lagipula kalo saya tak serius. Sudah pasti dari dulu saya sudahi hubungan kami. Saya hanya ingat janji pada Alm. Abah yang meminta saya untuk menikahi Eni. Jawabku pada seluruh keluarga besar Eni yang ada di ruang tamu itu. Akhirnya satu persatu anggota keluarga yang datang saat itu pulang.
Selanjutnya dipanggillah aku oleh papa mamaku. Le!!! Sini kami mau ngomong, papa memanggilku yang sedang berberes dan merapikan sisa jajanan yang ada diruang tamu.
Yaa…. Pah ada apa??? Kataku, gini nak…. Papa mama mu ini menyetujui dan merestui hubunganmu dengan Eni, tapi apa nggak terlalu cepat kamu ambil keputusan?? Kata papa padaku. Kecepetan gimana Pah??? Usiaku sudah hampir 30 tahun dan sudah selayaknya berumah tangga…..

Iya…. Papa mama ngerti, tapi lihat keadaan keluarga kita??? Kita ini miskin nak…. Kamu nggak ingin menyenangkan kita dulu??? Rumah pun cuman ngontrak….. Beda dengan keluarga calon istrimu, mereka keluarga kaya dan terpandang…. Papa menasehatiku.

Lhaaa….. Terus??? Aku lebih baik nggak nikah dulu?? Jawabku pada papaku…..
Yaaa…. Kalo itu keputusanmu, kami nggak bisa melarang. Tapi ingat nak, kami sebagai orang tua tidak bisa bantu apa-apa?? Itu hak kamu untuk menikah Mama memberi saran padaku dengan nada terkesan seperti lepas tangan

Batinku sebenarnya kecewa saat itu, kecewa karna saat ingin menikah dan membina biduk rumah tangga dengan Eni tapi malah dilarang “secara halus”. Bukankah jika anak sudah akil baligh dan sudah bekerja serta siap untuk berkeluarga, harusnya orang tua memudahkan segala urusan agar si anak terhindar dari dosa???
Selama di rumah neneknya Eni, aku sengaja membantu mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, agar membantu meringankan pekerjaannya Eni selama disana.

Eni memanggilku yang sedang menjemur cucian papa mama yang tadi kucuci. Terlihat sekali Eni ingin bicara serius empat mata denganku. Mas!!! Lebih baik kita batalkan pertunangan dan pernikahan kita…. Eni berkata dengan nada tegas padaku. Lhaa??? Aku kan udh minta maaf dan menjelaskan semuanya sama kamu… Kataku pada Eni.

Eni: Iyaa…. Aku tahu, tapi aku nggak tahan mas!!! Akhir-akhir ini banyak keluarga yang makin tak suka dengan hubungan kita, bahkan tak jarang menjelek-jelekkan mas di depanku.
Saya: menjelekkan gimana tho??
Eni: tadi aja aku dengar sendiri dari anteu….. Katanya, mas ini seenaknya sendiri disini. Di rumah nggak mau kerja, mau enaknya aja cuman makan tidur termasuk papa mamanya mas?!!!…
Saya: kok bisa setega itu??? Kamu kan lihat sendiri. Selama disini setiap pagi selepas subuh aku sudah nyapu halaman lalu nyapu rumah dan ngepel
Eni: iya…. Mas, aku tahu itu….. Sudah kujelaskan pada Anteu juga. Tapi mereka tak percaya dan yang jelas setelah kejadian mas marah-marah. Keluargaku makin tak suka dengan mas
Saya: (entah kenapa?? Aku bersimpuh di kaki Eni) YA ALLAH….. Aku sudah berbuat baik semaksimal mungkin sama keluargamu, tapi kenapa masih banyak yang tak suka padaku???
Eni: MAS….. AKU NGGAK BISA NERUSIN!!!! KITA PUTUS AJA!!!
Saya: (luluh lantah hatiku, tak terasa air mata mengalir) Salahku apalagi sama kamu??? Aku minta kamu jangan putusin aku, keluargaku dan keluargamu kan sudah membicarakan tanggal pernikahan kita.
Eni: jujur!!! Kamu pernah selingkuh kan!!
Saya: selingkuh sama siapa??
Eni: sama gadis penjual kue!!!
Saya: (DEEEGGH!!!!….. Dadaku terasa sesak) kamu tahu darimana???
Eni: aku nanya ke Riyanti…. Tapi, aku tahu kalian bohong. Karna Riyanti hanya mengatakan Teman biasa tak lebih.
Saya: kan…. Riyanti juga mengatakan teman biasa, kenapa sekarang jadi nggak percayaan sama aku sich???….
Eni…. Tetap pada pendiriannya dan tetap menuduh dengan segala tuduhannya yang dibuat-buat. Walau aku tahu…. Aku memang pernah punya hubungan dengan Riyanti. Tapi aku sadar dengan segala salahku, jadu sengaja aku menjauh dari Riyanti dan menghentikan main hati.

Aku tak patah semangat. Ku yakinkan dan ku yakinkan kembali…. Kuingatkan kembali semua janji-janji san mimpi-mimpi yang akan kami rajut nanti, hingga akhirnya Eni mau kembali rujuk padaku dan akan tetap menikah denganku. Apalagi saat kuingatkan janjiku pada Alm. Abah untuk menikahi Eni. Akan sangat berdosa besar jika aku mengingkari janji, janji pada seseorang yang kini telah meninggal. Jika masih hidup, masih bisa minta maaf. Jika sudah meninggal, gimana minta maafnya???

Setelah seminggu disana, kedua orang tuaku kembali ke Buitenzorg, sedangkan aku dan Eni akan menuju ke Solo untuk menghadiri pernikahan sahabat baik yang telah mengenalkanku pada Eni. Tak lupa pula, aku meminta ijin pada ayahnya Eni dan alhamdulilah disetujui dan mempercayakan Eni padaku selama di Solo. Orang tuaku pun mewanti-wanti agar menjaga Eni selama di Solo dan segera pulang setelah urusan selesai. Kami berangkat dengan menaiki kereta api menuju ke Solo. Sesampainya disana, Eni menginap di kost temannya A’ang sahabatku yang akan menikah. Sedangkan aku menginap di kostnya A’ang, karna kamar kost A’ang sudah tak ditempati. Lagipula…. Aku juga mengenal teman-teman sekost’annya si A’ang.

Alhmdulilah….. Selama di Solo, semua lancar dan tanpa ada masalah. Setelah acara selesai, kami segera pamit balik lagi dan setelah sampai di rumah Eni. Aku hanya menginap dua hari untuk beristirahat karna capek selama di Solo. Ada yang aneh sepulangnya aku dari Solo??? Tak ada satu pun keluarga Eni yang ke rumahnya Eni. Bahkan saat aku pamit untuk pulang ke Denpasar pun, mereka menganggap aku ini seperti orang asing…..
Ya sudahlah…. Tak mengapa!!!! Aku hanya lelaki miskin yang berusaha untuk mencapai cita dan cintaku… Yang kutahu pasti Tuhan tak akan menguji melebihi batas kemampuan umatNYA


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset