Kisah Hidupku episode 23

Bagian 23 Sebuah Jawaban

Pagi… Bunda sayang, hari ini masuk apa??….begitulah, hampir setiap pagi aku mengawali hari. Pesan masuk dari Eni….. Masuk siang mas, mas jangan lupa sarapan ya. Siaapp!!!…. Nanti nyampe kantor, aku sarapan…. Balasku pada Eni. Hari jumat itu, aku berencana untuk membeli cincin sebagai mas kimpoi pernikahan. Beruntung kerjaan di hari jumat tak begitu padat. Tak terasa sudah masuk waktu sholat jumat, ada perasaan tak enak dan mengganjal di hatiku. Ada apa gerangan???…. Tak ambil pusing. Segera menuju masjid terdekat, kuambil wudhu dan sholat sunnah terlebih dulu.

Khotib masuk ke mimbar dan mulai memberikan ceramah, hatiku masih tak tenang. Aneh sekali??? Kenapa ini ya???…. Ku perbanyak wirid agar hati lebih tenang. Walau belum reda setidaknya sudah mulai tak gusar hatiku, selepas sholat jumat. Segera saja ku telepon Eni…. Hal yang tak biasa ku lakukan selama berhubungan dengan Eni. Karna jika sudah jam kerja aku sangat jarang sekali mengabari Eni. Agar kerjaanku tak terganggu, begitu pula, eni…. Saat dia bekerja. Tak pernah mengabariku, karena aku tahu. Sebagai seorang perawat akan sibuk dengan pekerjaannya dan tak mungkin sempat membalas pesan WA ku.

Saya: Assalamu’alaikum
Eni: wa’alaikumsalam…. Ada apa mas??? Tumben telepon??? (Nada suara dipelankan, seperti menyembunyikan sesuatu)
Saya: kok??….. Suaranya bisik-bisik Bun, emang lagi dimana??
Eni: lagi di rumah…. Ya gpp mas, lagi ada tamu datang
Saya: biasanya, kalo ada tamu juga nggak bisik-bisik kayak gini… Hayooo!!! Ngaku ada apa ini???
Eni: nggak ada apa-apa kok mas….

Kututup mataku dan melakukan meditasi sambil merapal
Wirid dalam hati sembari menggunakan kekuatan semesta yang Tuhan berikan. Sekejap…. Aku bisa melihat pemandangan di rumah Eni, ternyata…. Disana ada Eni, Uwak dan juga seseorang lelaki yang terlihat lebih muda dariku. Kupandangi lelaki itu, kulihat ada suatu maksud dari kedatangan lelaki ini. Haloo…. Haalllooo…. Haallooo Mas, Suara Eni dari balik telepon.
Saya: Bun….. Kamu jujur aja ya sama mas…
Eni: jujur kenapa Mas??? Emang aku menyembunyikan sesuatu???…
Saya: Iya…. Aku tahu, di rumah ada Uwak dan seorang lelaki kan??
Eni: nggak kok…. Nggak, cuman Uwak aja (dengan nada gelagapan)
Saya: udah jujur aja…. Laki-laki itu datang mau melamar kamu ya??? Aku lihat. Dia masih satu kota dan satu suku denganmu…..
Eni: Yaa… Emang sich, Uwak kesini ngajak salah satu keluarganya. Cuman silaturahmi aja kok.
Saya: lhaaa….. Terus ngapain dari tadi ngomongnya bisik-bisik, kayak yang lagi sembunyi di kamar mandi???
Eni: nggak kok, ini aku lagi di ruang tamu. Ada Uwak juga.
Saya: Ya udah…. Salam buat Uwak ya, ayah mau lanjut kerja lagi.

Saat itu perasaanku berkata benar dengan apa yang telah kulihat, tapi kutepis dan tetap meyakinkan diriku. Sampai aku lupa, tadi sebenernya ingin mengabari Eni. Karna, hari ini mau beli cincin buat mas kimpoi. Akhirnya aku urungkan saja niatku. Aku harus tahu kepastian atas kegundahan hati yang tiba-tiba mulai meraung di kalbu. Malamnya selepas Eni pulang kerja, sengaja aku telepon kembali. Tapi Eni tetap meyakinkanku, kalo kedatangan Uwak dan salah satu keluarga yang ternyata masih keluarga jauh itu hanya sekedar silaturahmi saja. Nama pemuda itu Adnan, dia bekerja luar kota saat itu dan kebetulan sedang pulang kampung, jadi sekalian silaturahmi. Aku tahu, itu adalah kebohongan yang diucapkan secara sempurna oleh Eni padaku. Tapi aku selalu melawan batin kecilku bahwa itu salah dan kami akan menikah selepas Idul Adha tahun depan. Aku pun mencoba mencari tahu lewat sosial media facebook, pemuda bernama Adnan itu kutemukan. Status berandanya di setel publik jadi aku bisa lihat semuanya.

Kenapa harus menunggu lepas Idul adha tahun depan. Karna aku ingin menyiapkan semua dengan baik dan tak tergesa-gesa. Lagipula dipertemuan saat lebaran juga direncanakan setelah Idul adha tahun depan. Hari demi hari berganti, hubunganku dengan Eni tak ada perubahan. Tapi aku tahu, ada sebuah kebohongan yang disembunyikan secara rapi, Eni memang sedari dulu selalu menagih padaku agar segera melamarnya. Tahun pun berganti dan masuk di bulan yang menaungi zodiak pisces serta aries. Ada ketenangan sejenak kala itu, batinku hanya nyeletuk…. Ikhlaskan. Ada apa ini?? Tampaknya akan ada sebuah jawaban mengejutkan. Semoga saja hal yang baik, hanya keyakinan itu yang selalu kutanamkan pada diriku.

Tibalah…. Kenyataan itu datang, Eni menelepon ku. Mengatakan sesuatu yang penting bagiku dan bagi hubungan kami tentunya.
Eni: Assalamu’alaikum mas
Saya: wa’alaikumsalam…. Ada apa Bun??
Eni: nggak usah panggil bunda lagi sama aku ya???
Saya: lhoo??? Ada apa ini??
Eni: mas…. Maaf, kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini.
Saya: maksudmu Apa?? Tolong jelaskan padaku!!….
Eni: aku akan menikah mas, tapi tidak denganmu mas….
Saya: maksudmu apa??….. Kamu membatalkan pernikahan kita??…
Eni: iya mas, mas…. Terlalu mengulur waktu.
Saya: kita kan akan nikah setelah Idul Adha nanti…. Kenapa kamu tiba-tiba minta putus!!! Ini aku lagi usaha ngumpulin uang buat biaya kita Nanti…..
Eni: udah mas…. Mas lupain aku aja, kita tak usah berhubungan lagi mas!!!!
Saya: Eni…. Kamu tahu kan!!! Aku sudah janji sama Alm. Abah untuk menikahi kamu, janji adalah hutang. Jika aku ingkar bagaimana tanggung jawabku di akhirat???
Eni: udah mas…… Nggak usah pikirin itu!!! Aku juga bingung kalo mas bilang gitu.
Saya: ya udah sekarang mau kamu apa??….
Eni: yaa…. Kita udahan aja dan jangan pernah hubungi aku lagi!!!!
Saya: Eni…. Terus, janjiku pada Alm. Abah gimana??
Eni: udahlah nggak usah dipikirin itu
Saya: aku nggak mau nanti saat akan masuk surga dipanggil Abahmu karna tak menepati janji.
Eni: biarkan keluarga kami yang nanggung!!!! ( dengan nada bicara berisi kemarahan )
Saya: ya udah…. Kalo emang mau kamu begitu, aku tak bisa memaksa lagi.
Eni: iya mas….. Jangan hubungi aku lagi setelah ini.
Saya: kok gitu???….. Apa karna lelaki itu yang dulu itu ke rumah ya???
Eni: iya…. Adnan lebih baik dari kamu, dia hanya bertemu empat kali denganku dan langsung melamarku.
Saya: aku tahu…. Adnan lebih baik dari segi agama dibanding aku dan yang jelas dia lebih mapan dariku.
Eni: yang jelas walaupun dia lebih muda dariku…. Dia lebih baik dari kamu.
Saya: iya…. Iya…. Aku tahu, aku cuman pegawai biasa sedangkan Adnan memiliki Usaha perak yang tentu jauh lebih baik dariku.
Eni: nggak kok…. Dia cuman kerja aja disana.
Saya: udah nggak usah bohong, aku sudah lihat FB nya Adnan. Dia pria sukses. Dari orang biasa sampe bisa punya usaha perak, punya rumah bahkan punya ninja 250.
Eni: kamu ngapain sich??? Ngomongin Adnan seperti itu padaku ( nada bicara tak terima ) pake banding-bandingin segala
Saya: ya udah…. Aku minta maaf belum bisa mewujudkan mimpimu, belim bisa jadi yang terbaik buat kamu. Setidaknya selama denganmu aku jadi pribadi yang lebih baik dan lebih sabar. Terima kasih untuk semua kesabaran dan waktunya untukku.
Eni: aku terlalu lama dan terlalu sabar nunggu kamu…. Udahlah, aku sudah dapat yang terbaik. Kamu cari aja yang lain.
Saya: iyaa…. Makasih atas sarannya. Assalamu’alaikum
Eni: Wa’alaikumsalam.

Aku terdiam…. Pelupuk mata tak kuasa membendung air mata. Semalaman aku tak tidur, marah tentu saja. Instrospeksi diri dan juga mengingat masa lalu. Betapa hancur saat itu, bagaimana tidak??? Semua pengorbananku lenyap seketika. Ibarat kata aku ini hanya alas kaki, berguna jika diperlukan dan selalu melindungi, menopang sepasang kaki agar tak terantuk kerikil maupun duri di jalan serta diabaikan begitu saja…. jika sudah tak dibutuhkan.

Setelah kejadian itu, FB ku diblokir dan password FB Eni diganti. Aku pun juga mengganti password FB agar Eni tak memakai FBku lagi. Dulu memang kami saling memberitahukan password serta email FB, hal itu sengaja dilakukan untuk melihat apakah pasangan kita setia atau menyembunyikan sesuatu di FB. Saat kulihat kontak blokir Di FB, banyak sekali kawan wanitaku yang diblokirnya. Bahkan saudara perempuan dari papa juga diblokir. Ini apa-apaan coba??? Untung aku ganti password. Kalo nggak bisa-bisa makin parah FB ku, kataku dalam hati saat sedang di warnet langganan. Kebetulan kalo lagi di bosen ke warung yaa…. Main ke warnet, sekedar buka FB dan memainkan game poker yang trend saat itu.

Aku tak mengerti dengan perubahan sikap Eni yang drastis padaku. Padahal kalo berakhir sebagai kawan pun tak mengapa. Kucoba cari tahu dengan olah Batin, sekelebatan terlihat jika yang melarang dan mengatur adalah Adnan. Agak aneh juga ya??? Kenapa saat perempuan diatur dan ditekan lebih keras hidupnya, jadi lebih menurut. Saat denganku???…. Aku memberikan keleluasaan. Tak pernah mengatur pertemanannya, tak pernah melarang Eni pergi keluar kemana dan dengan siapa??? Asal semua dikabarkan dengan jelas. Maka tak masalah bagiku…. Lagipula, aku ini orangnya simpel tak mau merepotkan dengan remeh temeh yang tak perlu dalam percintaan.

Aku juga sadar diri kawan, tak semuanya kesalahan Eni. Aku juga salah…. Salah karna mengulur waktu hingga lebih dari tiga tahun. Aku harus berusaha keras mungumpulkan pundi-pundi jerih payah demi tujuanku kala itu. Aku hanya pemuda miskin, gaji seadanya yang berusaha keras mencari tambahan uang kesana kemari dengan halal demi cita-cita menghabiskan hidupku dengan Eni hingga akhir hayat. Betapa cinta mengajari tentang kasih dan juga tentang kerelaan. Rela melepas Dia bercanda mesra, berkeluh kesah dan menemukan bahu untuk bersandar sembari menikmati senja. Cinta mengajari bahwa Dia hanya sebentar singgah dihatimu sembari
Meninggalkan luka menganga.

Aku ingat saat awal berkenalan dengan Eni, dia juga baru beberapa bulan putus dengan calon suaminya. Lelaki itu datang ke rumah sakit dimana Eni bekerja dan dengan tegas meminta hubungan mereka diakhiri. Kata Eni saat itu, betapa hancur hatinya, dia rela berhenti dari pekerjaannya di Cikarang dan memilih kembali ke kotanya agar bisa setiap saat bertemu dengan calon suaminya. Apakah ini nampak seperti balas dendam yang Eni lakukan atas masa lalunya padaku???….. Mungkin??…. Biarlah…. Biarkan hanya Eni dan Tuhan yang tahu. Kutulis kisah ini dengan gemuruh sesak didadaku, sakit yang kembali mendera dada menyayat kalbu, karna aku masih mengingat detail kejadian itu….. Kejadian yang bagiku baru seperti kemarin terjadi.


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset