Kisah Hidupku episode 25

Bagian 25 Menyerupaiku

Lebaran sebentar lagi datang, aku tak lagi ke rumah Eni. Sebenarnya aku ingin pulang ke Buitenzorg, tapi kuurungkan saat itu. Karna keuanganku yang tak cukup jika untuk pulang. Bisa saja kupaksakan pulang, tapi sesampainya di Denpasar. Aku butuh biaya untuk bayar kost dan juga kebutuhan hidup sehari-hari. Maka kuputuskan tahun itu tak berlebaran dengan kedua orang tuaku, adek-adekku pun juga tak pulang karna tak cukup biaya. Akhirnya…. Demi mengisi kekosongan libur lebaran. Maka aku gunakan untuk turing ke malang dengan menggunakan sepeda motor. Tahun 2014 adalah tahun dimana saya mulai menulis disebuah blog dengan domain gratisan, hingga akhirnya biaa membeli domain dotcom. Blog yang saya kelola hanya membahas seputar sepeda motor, karna berawal dari hobi saya yang suka mengendarai sepeda motor. Dari ngeBlog, saya mendapatkan banyak teman-teman baru yang satu passion dibidang otomotif khususnya roda dua.

Awalnya ingin ke Jogja, tapi kuurungkan niatku. Karna saat itu feeling saya lagi tak bagus untuk ke Jogja. Maka aku pilih Jalur turing ke Malang. Kami berangkat bertiga dengan dua sepeda motor, cukup lumayan antri kemacetan di pelabuhan Gilimanuk. Akhirnya kami sukses memarkir motor di dalam Kapal RORO. Sesampainya di Pulau Jawa, kami ambil jalur Utara melewati alas Baluran. Akan tetapi saat sampai Situbondo, saya sengaja misah tanpa sepengetahuan kawan-kawan saya. Sebelumnya saat masih diatas kapal, saya sudah mengontak salah satu kawan Blogger otomotif yang ada di Situbondo. Saya janji bertemu di alun-alun kota Situbondo saat itu, setelah bertemu. Tanpa rasa canggung, layaknya kawan yang lama tak bersua kami asyik ngobrol dan saya ditawari nginap semalam di Situbondo.

Hanya bisa mengiyakan saja ajakan kawan saya ini. Sesampainya di rumah kawan saya ini, saya diperkenalkan dengan keluarga yang ada disana dan ditanyakan ke Malang nanti ambil jalur Utara apa Selatan??…. Enaknya jalur mana kalo menurut sampean mas??? Kataku pada kang Karni. Enak lewat selatan aja mas, jalurnya mantap. Cocok buat yang hobi cornering plus pemandangan Ciamik, kata kang Karni menimpali ucapanku.
Saya: tapi… Saya belim pernah lewat jalur selatan ke malang Kang. Paling mentok juga ke Jember.
Kang Karni: gampang…. Besok bareng adekku aja, kebetulan dia kuliah di UNEJ…. Jadi sampean bisa bareng
Saya: setelah dari Jember brarti saya ambil arah ke Lumajang kemudian lewat piketnol-Dampit-malang ya kang??
Kang Karni: yuppzzz…. Betul sekali, udah nyante wae, kagak bakal nyasar kok
Saya: oke dech…. Saya juga penasaran ama treknya
Kang Karni: pesan saya satu mas…. Jika sampe Lumajang kesorean. Mending nginep aja, soalnya rawan begal
Saya: waduuh!!!!….. Saya harus pagi berangkat kalo gitu Kang
Kang Karni: iya… Besok pagian aja berangkat sama adek ku.

Obrolan berlanjut hingga saat berbuka puasa tiba. Selama Turing, Alhamdulilah…. Aku tak pernah melewatkan puasa. Bagiku puasa hanya memindah jam makan saja. Kami larut dalam berbagai obrolan, mulai dari bahas tentang produk sepeda motor baru yang akan muncul tahun ini. Kemudian bahas soal fansboy pabrikan motor, bahkan sampai bahas soal politik. Tak terasa malam semakin larut, kami pun beristirahat agar paginya tidak telat bangun sahur. Paginya kami sahur, terasa sekali kehangatan dan keramahan dari keluarga Kang Karni ini. Perjalanan pun kulanjutkan kawan, sesampainya di Jember aku istirahat sejenak. Karna hari itu adalah hari jumat, jadi kuputuskan akan lanjut jalan lagi setelah jumatan.

Akhirnya saya berpisah dengan adeknya Kang Karni di Jember, itu pun juga dikawal hingga lepas dari kota Jember. Memang benar jalur selatan lewat piketnol dari Lumajang emang mantap. Motor bebek yang kugunakan untuk turing menari-nari mengikuti jalan. Hampir saja aku mabok karna belum habis stang motor belok ke kanan sudah harus belok ke kiri, begitu seterusnya sejauh lebih dari 100 kilometer. Aku sempatkan juga mampir ke masjid terdekat untuk menunaikan sholat Ashar. Sengaja tak ku jamak karna aku butuh istirahat cukup saat turing.

Akhirnya aku sampai juga di Malang, setelah sebelumnya. Saat menjelang maghrib di telepon oleh kawan blogger dari Malang, menanyakan posisi sudah sampai dimana dan kujawab sudah masuk malang, lagi berhenti di depan Pindad. Sesampainya di Malang, aku janjian ketemu di Blimbing sari dan selama di Malang aku menginap di rumah kawan blogger tersebut. Sungguh pengalaman tak terlupakan bisa kopdar dengan rekan-rekan blogger Jatimotoblog yang ada di Malang. Aku menyempatkan juga mampir ke salah satu mekanik yang bisa dikatakan sebagai suhu spesialis oprek motor dua tak Honda.
Setelah selesai shalat Ied di Malang, aku segera lanjut untuk mampir ke Jember sebelum pulang Ke Bali. Selama di Jember aku menginap di rumah Ibu Warung langganan yang sudah menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Di Jember, aku juga berkesempatan untuk bertemu dengan blogger otomotif roda dua yang merantau ke Papua. Semua perjalanan turingku telah kuabadikan di blog yang aku kelola.

Keanehan muncul sekembalinya aku dari Jember, pemilik kost bertanya padaku. Mas darimana?? Abis pulang kampung??
Saya: iya mbak, abis dari jalan-jalan ke Malang dan mampir ke Jember sebentar.
Pemilik kost: kok bentar liburannya mas???
Saya: nggak juga mbak?!?!….. Saya malah sudah 18 hari di Jawa
Pemilik kost: yang bener mas??? Halaaahhh….. Mas nya becanda nie
Saya: nggak mbak…. Saya nggak becanda, ini oleh-oleh buat mbak (sambil menyodorkan oleh-oleh)
Pemilik kost: mas…. Lima hari lalu, pas malemnya. Saya ketemu mas di depan kamarnya mas sendiri
Saya: nggak mungkinlah mbak…. Lima hari lalu saya masih di jember
Pemilik kost: masnya bohong nie…. Jelas-jelas saya lihat mas baru abis parkir motor dan saya sapa…. Terus mas bilang baru abis nyari makan.
Saya: yang bener mbak??? Mbak ini nakut-nakutin saya aja.

Pemilik kost: sumpah mas…. Saya selama disini pasti ketemu sama mas nya, saya kira mas nggak mudik ke jawa
Saya: waduuuhh!!!! Saya nggak mungkin bohong mbak, ini aja baru saya sampai dari jawa.
Pemilik kost: terus siapa mas??? Jangan-jangan mas punya sodara kembar???
Saya: nggaklah mbak, lagipula…. Ini (sambil nunjukin) kunci kost saya bawa mudik…. Mana mungkin saya kasih pinjem kamar saya ke orang lain mbak!!!
Pemilik kost: Beneran aneh ini mas…. Dulu kakak saya juga gitu, pas kejadian yang mas telat bayar kost itu lho…. Yang pas saya lupa ngabarin kakak, kalo mas telat balik ke Bali dan uang kost dibayar nanti aja saat sampai di Bali
Saya: oiyaaa…. Pas kakaknya mbak bilang mau keluarin isi barang-barang saya gegara telat bayar kost itu ya
Pamilik kost: iya mas…. Maaf atas kejadian itu, padahal mas nggak pernah telat bayar kost. Sekalinya telat malah mau dikeluarin isi kamar yang mas tempatin
Saya: emangnya awalnya kenapa sich itu mbak???
Pemilik kost: awalnya karna kakak saya lihat mas nggak pulang kampung dan berada di kamar, bahkan kakak saya bilang mas lagi nonton tivi dan pintunya dibuka. Tapi pas saatnya bayar kost malah nggak pulang, untung saya pas datang itu mas
Saya: iya mbak… Saya ingat sekarang, tapi kok bisa ya??? Pas saya nggak ada di kost. Banyak yang lihat saya di kost bahkan tetangga di kamar nomer tiga pernah ngobrol ama makhluk yang menyerupai saya. Padahal jelas-jelas saya masih pulang kampung.

Akhirnya aku pun pamit untuk masuk ke kamar, harus bebersih kamar karna lama tak kutempati. Beruntung kasur dan tivi aku tutup kain jadi tak begitu berat aktivitas bebersihku saat itu. Sambil nyapu, aku kepikiran dengan perkataan pemilik kost. Kira-kira siapa yang sengaja menampakkan wujud seperti aku???…. Kulihat azimat yang berada di meja tivi. Apakah khodam di dalam jimat ini yang sering berwujud sepertiku?? Lagipula ini azimat tiap aku ajak ngobrol nggak pernah nyahut. Kamar yang kutempati adalah kamar nomer satu, di kost ini hanya ada empat kamar saja dan satu bangunan rumah pemilik kost yang biasa ditempati anaknya. Di kamar ini hawanya adem dan tenang, walaupun di depan sinar mentari masuk dengan hangat dan plafonnya tertutup oleh anyaman bambu. Jadi kalo kamar sebelah indehoi, yaa… Pastinya sayup-sayup terdengar dari kamarku.

Hingga saat mendengarkan ceramah dari khatib saat hari jumat. Aku tersadar, bahwa sejatinya diri kita ini pusaka paling ampuh dan paling dahsyat dan pemilik pusakanya tentu Tuhan Yang Maha Esa. Jadi tak perlu meminta pada makhluk ciptaan Tuhan. Akhirnya kutekadkan untuk membuang azimat pemberian Alm. Om Widodo. Aku harus membuangnya ke laut dan yang ada dipikiranku saat itu adalah melarung azimat ini ke salah satu pantai yang ada di Bali.

Hari minggu pun tiba dan selepas sholat Ashar. Kupacu sepeda motorku dengan santai menuju ke pantai yang terkenal dengan pemandangan matahari terbit. Keanehan pun muncul, sesampainya aku di Pantai .disambut dengan lolongan anjing AAAAUUUWW……AAAUUUUWW……AAAAUUUUUWWW….. Saling bersahutan. Beberapa orang yang ada disana ada yang merasa heran, karna hari masih terang namun anjing-anijng yang ada disitu melolong layaknya ada makhluk gaib yang sedang datang. Aku berjalan dengan pura-pura tidak tahu akan keganjilan tersebut, hingga sesampainya di bibir pantai. Kupandangi azimat yang kupegang dan berkata dalam hati….. Maaf, aku punya Tuhan sebagai pelindungku. Kamu lebih baik cari majikan baru saja. Sekarang kamu aku larung disini ya. Hanya keheningan batin tanpa ada jawaban.

Angin mendadak kencang dan lolongan kawanan anjing di Pantai makin ramai. Beruntung sore itu pantai Sanur sedang tidak ramai dan kulihat orang-orang pada sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Bismillahirahmanirahim…. Kulempar sejauh mungkin azimat itu. Anehnya….. Azimat itu seperti berjalan diatas air seperti perahu layar dan kembali lagi padaku. Kulempar lagi…. Lagi…. Lagi…. Dan lagi tapi hasilnya sama juga. Kupegang kembali azimat itu, aku menceburkan diri ke pantai. Air sebatas paha telah membasahi sepertiga celana pendek yang ku kenakan. Aku berjalan agak kearah depan agar lebih jauh dari bibir pantai. Keanehan terjadi lagi…. Air laut di pantai ini tiba-tiba meninggi dan muncul riak-riak ombak. Walau tak besar tapi aku merasa ombak ini mirip pantai kuta dikala surut dan air laut telah membasahi hingga ke pusar. Kembali kukatakan dalam hati pada azimat yang kugenggam agar tak mengikutiku lagi. Saat kulemparkan azimat itu, sekejap ombak di pantai itu meninggi dan menggulung layaknya musim pasang, orang-orang yang awalnya asyik bermain air di pantai langsung segera berlarian menuju ke tepi pantai takut muncul tsunami. Termasuk juga aku yang sesegera mungkin kembali ke bibir pantai.
Setelah aku sampai di tepi pantai, mendadak ombak kembali tenang. Tak sedikit kudengar mereka yang tadi ikut menepi, mempertanyakan keanehan yang terjadi tadi. Lolongan anjing pun telah berhenti bersamaan dengan kularungkan azimat pemberian Alm. Om Widodo.

Segera ku menuju parkiran motor dan langsung pulang ke kost, sesampainya di kost motor langsung aku cuci agar tak berkarat karna celana dan bajuku tadi telah basah terkena air laut. Setelah kejadian itu pun, aku tak pernah didatangi khodam penunggu azimat tersebut. Azimat berbentuk persegi yang satu sisi berisi huruf arab gundul dan disisi lain berisi gambar patkwa. Aku juga heran…. Selama diberikan azimat. Mamaku tak pernah mengatakan apa fungsi azimat persegi berbungkus kain mori.


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset