Kisah Hidupku episode 26

Bagian 26 Menata Hidup

Hari demi hari selepas kepergian Eni untuk segera menikah dengan lelaki pilihannya tentu terasa sepi. Tak ada lagi senda gurau dan keluh kesah menemani malam menjelang tidurku. Tak terasa sudah memasuki bulan kesembilan di tahun itu. Aku pun ingat jika sebentar lagi, Eni akan melangsungkan pernikahan. Semenjak, aku putus dengan Eni dan diminta untuk tak menghubunginya lagi. Tak pernah sekali pun aku SMS ataupun WA dia, bahkan adik lelakinya pun tak pernah lagi menghubungiku. Segera kuketikkan pesan pada Eni…..

Assalamu’alaikum
Apa kabar???…. Kuingat bulan ini, kamu akan menikah.
Sebelumnya aku minta ijin dahulu padamu.
Bolehkah aku datang ke pesta pernikahanmu??
Aku datang sebagai kawan dan tamu undangan tak lebih. Setelah acara selesai aku langsung pulang

Begitulah bunyi pesan SMS yang kukirimkan pada Eni. Aku tak peduli Eni akan membalasnya atau tidak, yang jelas aku sudah ada etikat baik untuk bersilaturahmi. Beberapa hari kemudian, aku baru mendapatkan balasan dari Eni….

Maaf mas…. Lebih baik tidak usah datang ke pernikahanku, calon suamiku melarangku untuk mas hadir di pernikahan kami

Kubaca pesan dari Eni sambil mengernyitkan dahi…. Agak aneh bagiku saat itu. Dimana belum resmi secara agama dan hukum yang sah, sudah benar-benar seperti seorang suami yang Mengatur istrinya. Aaahhh….. Tak mengapa!!!!! Lagipula itu hak mereka, tak perlu kupikirkan lagi yang penting aku sudah berniat baik. Saat acara berlangsung, kulihat foto profil BBM adik lelaki Eni terpampang foto Eni dengan suami sah nya beserta caption semoga samawa. Layaknya oksigen mencibir tingkahku hingga terasa sesak dada ini, sudah…. Sudah…. Ikhlaskan saja, anggap saja…. Kamu lagi ngejagain jodoh orang lain. Gumamku dalam hati.

A’ang tak luput pula mengabariku tentang pernikahan Eni dan kujawab kalo aku juga sudah tahu. A’ang ini sodara bukan berdasarkan oertalian darah yang amat dekat denganku. Setelah itu, kami lama tak berkabar. Aku juga merasa tak enak, karna A’ang sudah memiliki istri. Tentu akan mengganggu kemesraan pengantin muda.
Hingga di suatu
Malam Ponselku berdering, menandakan ada WA masuk. Tak kuhiraukan, hingga beberapa kali ada pesan masuk. Akhirnya kubuka WA dan ternyata sahabat karibku A’ang yang mengirim pesan. A’ang ini sudah selayaknya saudara sendiri, jika aku tak berkabar pastilah dia menanyakan kabarku. Dari A’ang inilah aku tahu saat Eni akan memutuskan hubungan denganku. A’ang mengabariku dan mengirimiku pesan berisi gambar screenshot kalo Eni telah memilih lelaki lain, saat kucoba buka lewat Fb ternyata pertemananku diblokir dan kucoba buka fb nya Eni. Eni telah mengganti password FB nya. Kali ini A’ang mengabarkanku karna ada seorang kawannya yang ingin kenal lebih dekat padaku. A’ang sengaja lakukan itu, karna tahu aku sedang tak punya kekasih. A’ang juga tahu, jika aku sedang memiliki kekasih. Maka tak mungkin menawarkan temannya padaku untuk berkenalan.

Singkat cerita aku diberikan kontak telepon seorang wanita bernama Mirna. Mirna ini mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi di Solo. Sama seperti saat ingin berkenalan dengan Eni, aku tak langsung menghubungi Mirna. Ada jeda lebih dari satu bulan. Aku juga sudah pindah kost, tempat kost yang kutempati lebih mirip seperti homestay. Jadi aku dan kedua adek perempuanku bisa satu kost. Kost yang ku tempati ini dalam satu ruangan memiliki 2 kamar tidur dengan luas kamar 3X3 dan sedikit space untuk ruang tamu, dapur yang luas dan juga kamar mandi yang berukuran cukup besar. Jika dibandingkan dengan kostku sebelumnya tentu lebih elit yang sekarang. Posisinya pun pas dipinggir jalan besar, jadi akses kemana-mana lebih mudah. Aku pindah kost atas ajakan adek-adekku agar bisa kumpul bareng.

Beberapa hari aku pindah kesana, sempat mendapatkan perkenalan dengan penghuni tak kasat mata. Saat itu aku terbangun karna ingin menuntaskan buang air kecil, kubuka kamarku. Tenyata adek perempuan pertamaku lewat dan lebih dulu masuk kamar mandi. Aku pun menunggu di depan pintu kamar mandi dengan keadaan masih teramat ngantuk sembari menahan air seni yang sudah harus dikuras dari kedua ginjalku. Lama kutunggu di depan pintu, telah lebih 10 menit aku menunggu. Kenapa tidak ada suara didalam kamar mandi??? Kebiasaan kami jika ke kamar mandi untuk buang yg kecil ataupun yang besar pasti lebih sering menyalakan kran air. Entah kenapa??? Kebiasaan itu sampai sekarang masih kami semua lakukan. Tok…. Tok….. Tok…. Ku ketok pintu dan memanggil nama adek perempuanku. Tak ada jawaban dan ku ketok kembali pintu kamar mandi, ternyata masih sama. Hanya ada kesunyian. Penasaran??!!!! Kuraih gagang pintu dan kubuka, ternyata tak ada seorang pun di kamar mandi. Karna aku sudah kebelet, jadi ya bodo amat!!!! Yang penting dikeluarin dulu biar nggak jadi batu ginjal.
Esok paginya, aku tanyakan kepada adek perempuan pertamaku. Nggak ada mas!!! Semalem aku udah tidur dan nggak ada kebangun buat ke kamar mandi kata adekku….. Waduuuh!!!! Berarti yang semalem itu ngajak say hello dong ama aku, kataku pada adekku. Iya palingan mas??!!!…. Lagian, selama aku pindah sini aman-aman aja nggak pernah ada gangguan. Kata Adek membalas ucapanku. Adekku menyukai kucing dan adekku membeli kucing Ras jenis Persia. Kucing jantan yang baru berumur tiga bulan ini terlihat lucu dan menggemaskan. Apalagi bulunya yang lebat dengan dominan warna mocca dan putih. Adekku sengaja memberinya nama Percy, kucing yang lebih sering bikin ulah ini juga pintar mengambil hati kami.

Malam selepas sholat Isya, kucoba iseng untuk mengecek kontak WA dan kebetulan Mirna memiliki WA. Segera saja kusapa Mirna untuk sekedar perkenalan. Mirna ini perempuan yang baru beralih dari masa remaja, berasal dari kota seribu industri, matanya yang budar dengan bentuk wajah yang oval, alis tebal, hidung mungil dan Hijab yang menutupi menambah kesan cantik yang tersematkan padanya. Aku hanya bisa bergumam…. Ini A’ang nggak salah kasih nomer cewek??? Cantiknya udah kayak selebram di IG aja. Mirna pun membalas pesan WA yang kukirim, kami pun mulai berkenalan. Tak lupa kukabarkan kepada A’ang, karna si A’ang ngomel terus padaku….. Udah untung ada cewek mau kenalan ama kamu, malah kamu anggurin nggak diajak kenalan…. Begitu kata si A’ang, saat tahu… Kalo aku belum sekalipun bertegur sapa via aksara dalam layar semu dengan Mirna.

Kami pun makin akrab, tak ada kata mesra layaknya sepasang insan yang sedang kasmaran. Aku pun lebih banyak menggunakan logika dibandingkan perasaan hati, walau aku juga tahu bahwa hati kecil ini tak bisa berbohong kalo aku menyukai Mirna, begitu pula sebaliknya dengan Mirna. Mirna ini wanita cukup romantis, dia mampu mengimbangiku saat kami sedang beradu sajak maupun prosa picisan. Aku juga menaruh simpati atas hidupnya yang ternyata terjal dan berliku. Mirna tumbuh dari lingkungan keluarga Broken Home, ayah dan ibunya telah berpisah. Mirna lebih memilih ikut dengan ayahnya yang saat itu sedang mengalami kebangkrutan. Agak kasar jika kukatakan Mirna ini dijual oleh ayahnya, lebih baik kukatakan. Mirna berkorban untuk ayahnya yang sedang terlilit hutang. Ayahnya sengaja menjodohkan dengan anak dari seorang kawan baik yang telah berjasa besar membantu melunasi hutang-hutang ayahnya.
Disaat usianya baru ranum, dia telah kehilangan mahkota yang harusnya diberikan pada suami sah nya nanti. Mirna tak pernah menyesal, karna dia juga menyukai lelaki yang dijodohkan oleh ayahnya itu. Kisah ini adalah kisah Mirna yang dituturkan padaku saat kuhubungi ponselnya disuatu malam.

Mirna: mas…. Aku mau tanya??? Buat mas, jika nenikah nanti keperawanan itu pentingkah??
Saya: yaa…. Lelaki mana yang tak mendambakan untuk mendapatkan
Istri yang perawan??… Kalo aku sich fleksibel dan nggak munafik aja jadi orang
Mirna: fleksibel gimana maksudnya mas??
Saya: Ya…. Jika aku dapat istri yang ternyata masih perawan tentu akan ada kebanggaan tersendiri, tapi aku juga tak menampik…. Jika ternyata istriku nanti sudah tak perawan lagi tak masalah…. Asal!!! Dia mau berubah dan mendekatkan diri pada Tuhan serta tidak selingkuh apalagi tidur dengan lelaki lain yang bukan suaminya…..
Mirna: jika aku sudah perawan??? Apakah mas masih mau menjadikanku istri mas kelak??
Saya: yaa…. Nggak masalah, seperti yang sudah kukatakan tadi, lagipula…. Jika aku nikah nanti, tentu aku harus siap untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan serta masa lalu istriku….
Mirna: makasih mas…. Aku jadi lebih tenang sekarang, aku inginnya Ta’aruf aja mas…. Apa mas sanggup??
Saya: sanggup!!! Kapan aku bisa ke rumahmu??….
Mirna: Secepatnya…. Akan kukabari mas!!!
Saya: okee…. Aku tunggu kapan pastinya, aku bisa silaturahmi???
Mirna: iya mas…..

Begitulah…. Percakapan yang kuingat saat kuhubungi melalui LINE. Aku, sedari dulu jika berhubungan dengan seseorang. Bisa dibilang termasuk cuek dan memberikan kebebasan bagi pasanganku untuk bergaul dan berkawan dengan siapa pun. Karna aku belum punya ikatan sah secara agama dan hukum, maka tak layak aku mengatur apalagi mengekang kehidupan pasanganku.

Kerjaku sering tak bisa fokus, bukan karena Mirna kawan, aku terkadang bisa terdiam lama menatap dengan tatapan kosong. Boss ku sering menegur dan menanyakan apakah aku sedang ada masalah??? Kujawab Tidak pak, saya baik-baik saja. Tapi saya ingin pulang kampung pak. Boss ku in….termasuk orang yang cukup pengertian, walaupun kalo udah soal duit dia lebih pelit padaku. Bahkan saat libur kerja dan kuisi dengan kegiatan mancing di pedesaan, tak jarang kawan-kawan mancingku menanyakan hal yang serupa. Selalu kujawab bahwa, aku ingin pulang. Sempatku menelepon mamaku di rumah, saat itu beliau baik-baik saja dan masih pemulihan dari penyakit stroke.
Sangat aneh sekali ini….. Bahkan sengaja tiap sepertiga malam kusempatkan untuk sholat malam agar diberikan petunjuk, namun tak ada petunjuk apapun. Tak putus semangat, ibadahku semakin rajin. Sholat selalu tepat waktu dan berjamaah serta puasa sunnah senin kamis tak pernah terlewatkan. Tetap saja….. Ada perasaan gundah di dada dan selalu ada rasa untuk pulang ke Buitenzorg….. Ada apa gerangan???


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset