Kisah Hidupku episode 27

Bagian 27 Mama Aku Rindu

Minggu itu suasana cerah, namun tidak dengan hatiku. Akhir-akhir ini selalu diliputi kegelisahan, aku telepon orang-orang di rumah. Aneh…. Semua nomer tak aktiv, kuminta adek perempuanku untuk menelopon ke rumah hasilnya sama saja. Tiba-tiba ponselku berdering, segera saja kuraih. Kupikir orang rumah mengabari. Setelah kulihat ternyata Salman Mengirimiku pesan. Salman mengajak mancing minggu itu, salman adalah kawan yang kukenal saat aku sering nongkrong di warung langganan. Kuterima ajakan Salman, daripada hatiku gundah tak menentu. Mungkin dengan memancing di pedesaan, hatiku lebih tenang. Segera kusiapkan peralatan memancing dan segera menuju ke kostnya Salman.

Sesampainya disana, kami memancing di spot langganan yang kebetulan banyak ikan wader dan juga ikan lelenya. Tak terasa, hari sudah mau menjelang maghrib dan hasil tangkapan ikan kami cukup banyak. Terutama ikan wader yang hampir seberat 2 kilogram kami dapatkan. Ponselku kembali berdering, kali ini sebuah SMS masuk dari nomer yang tak kukenal muncul dan tampil di antarmuka ponselku. Setengah tak percaya dengan isi pesan yang masuk, akhirnya aku telepon nomer tersebut. Benar saja…. Itu nomer baru milik salah satu adekku si kembar.
Saya: Assalamu’alaikum
Si kembar: Wa’alaiksalam mas
Saya: Dek!!!!….. Jangan becanda!!! Dek!!! SMS mu nggak lucu
Si kembar: (menangis sesenggukan)
Ak…. Ak…. Aku…. Nggak becanda mas!!! Mas harus pulang secepatnya
Saya; iya aku akan pulang, tapi bukannya Mama setelah Idul Adha sedang berobat jalan demi kesembuhan sakit stroke??
Si Kembar: iya Mas…. Tapi ALLAH SWT berkata lain, tadi selepas maghrib MAMA MENINGGAL!!!!…..( terdengar suara tangis adekku pecah seketika )
Saya: baik…. Aku segera cari tiket pesawat malam ini juga.
Si Kembar: iya mas, paling telat….. Besok pagi sudah harus di rumah.

Masih tak percaya dengan berita yang kudapatkan, aku segera pamit dengan Salman dan mengatakan akan pulang ke kampung halaman malam ini. Karna kabar duka kepergian mamaku. Kupacu sepeda motorku dengan cepat dan ugal-ugalan. Hingga tepat disebuah perempatan traffic light tak sadar dari pelupuk mataku ini mengalir deras air mata. Tak ku pedulikan disekitarku yang mencibir dengan
Mengira, kalo aku habis putus dengan
Pacar lalu mewek di jalan.
Sesampainya di kost….. Kulihat adek-adek perempuanku telah menangis, aku pun tak kuasa dan menangis atas kabar yang mengejutkan ini. Setelah kami semua reda dalam tangis, langsung meraih ponsel masing-masing melihat tiket penerbangan malam itu…..
Diana: mas….. Malam ini tiket sold out semua, tapi jangan khawatir…. Besok pagi-pagi kita berangkat dengan penerbangan pertama.
Saya: iya Dek….. Kamu atur aja, sekarang kita berkemas buat berangkat besok pagi.
Diana: iya mas….. Aku juga nggak percaya??? Besok kita harus bisa sampai rumah secepatnya!!!!
Saya: iya dek…. Mas, mau berkemas dulu habis itu mau mandi dan sholat maghrib.

Semalaman aku tak tidur, hanya mengingat kenangan bersama mamaku yang paling kucinta. Mamaku hanya satu-satunya orang yang tulus mencintaiku tanpa melukai perasaanku. Kami sudah seperti kawan, tak jarang aku dan mamaku ke salon untuk sekedar potong rambut atau menemani jalan-jalan ke mall. Bukan memuji, tapi ini kenyataan. Mamaku adalah wanita yang cantik, bahkan hingga tutup usia masih terlihat cantik. Tak jarang, saat kami ke mall sering dikira kalo aku ini brondong simpenannya tante-tante muda, padahal jelas-jelas aku pergi dengan mamaku. Bahkan kuingat jelas saat, pagi-pagi abis pulang dugem, mamaku hanya menyuruh untuk segera masuk kamar mandi dan lekas mandi agar tak ketahuan papaku.

Pagi pun tiba, ternyata aku dan adek-adek perempuanku semalam terjaga tanpa ada yang tertidur. Segera saja, kami berangkat dengan diantar mobil milik si Andri kekasih adekku Diana. Sesampainya di bandara Ngurah Rai, segera kami boarding pass dan menunggu kedatangan pesawat dua jam lagi. Pesawat yang akan kami tumpangi datang tepat waktu, di dalam pesawat. Kami semuanya hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Satu jam lebih kami di dalam burung besi ini, akhirnya mendarat juga di bandara Halim Perdana kusuma. Segera saja kami order Taxi online yang saat itu sedang trend di ibukota. Jalanan pagi itu masih lengang dan di dalam mobil kami hanya terdiam saja. Melihat kami semua diam saja, pak sopir sekedar basa-basi mengajak kami ngobrol dan menanyakan tujuan kami ke Buitenzorg untuk apa???? Aku pun hanyan menjawab….. Kalo kami sedang masa liburan kerja dan pulang ke rumah.
Kami pun tiba di rumah, terlihat di depan rumah yang sekaligus warung makan itu ada bendera kuning. Aku pun meminta pak Sopir untuk berhenti di warung makan yang ada bendera kuning tersebut. Saat kami sampai, segera kupeluk papaku dan kemudian membantu pak sopir menurunkan tas kami dari bagasi mobil, maaf…. Mas, saya nggak tahu kalo di rumah mas lagi berduka kata pak Sopir….. Iya nggak apa-apa pak, ini saya bayar sesuai tarif yang tertera di aplikasi ya.

Kulihat dengan jelas jazad seseorang terbujur kaku tertutup kain batik di dalam rumah. Saat papaku membuka bagian wajah yang tertutup itu, seketika kami semua….. Mama…. Mama…..huuu….huu…huuhhhuu!!! Kami menangis sejadi-jadinya. Tak kupedulikan lagi orang-orang disekktar yang melihatku. Mamaku terlihat sangat kurus sekali, diperjumpaan terakhir. Mamaku kelebihan berat badan hingga 90 kilogram dan Mama sempat berkata…. Mama pasti sembuh Nak!!…. Mama harus berobat jalan dan diet untuk menurunkan berat badan yang berlebih dan juga akan lebih cepat sembuh jika badan mama sudah kembali ideal. Kupandangi dan kupandangi wajah seorang wanita yang terbujur kaku, bergelar Raden Ayu ini tak pernah sekalipun memanfaatkan gelarnya untuk lebih dipandang secara status sosial. Seorang Ibu yang hebat dan mampu membesarkan semua anak-anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kulihat dengan seksama, ternyata Wajah mama terlihat lebih bersinar dan kulit mamaku terlihat bersih tak menghitam saat kami silaturahmi ke rumah keluarga Eni.

Pengurus jenazah pun datang, dipersiapkan semua peralatan dan berkata: Pak…. Mas, mbak yang tanah ya!!…. Sekarang dipuas-puasin dulu lihat mamanya, kami akan mempersiapkan untuk menjahit kain kafannya. Butuh waktu cukup lama, perkiraaan kami selepas Dzuhur jenazah Alm. Ibu baru bisa dimakamkan, kata ibu-ibu pengurus jenazah tersebut. Aku pun bertanya
Pada papaku…..
Saya: Pah!!!! Papah kenapa nggak ngabari kalo mama sampe kayak gini kondisinya??? (Kulihat mamaku yang kurus sekali)
Papa: Papah mau ngabarin seminggu sebelumnya, tapi aneh…. Kami semua kecolongan hape.
Saya: kok bisa Pah??? Emang ditaruh dimana??
Papa: ditaruh di dalam kamar, tapi malingnya kayaknya tahu situasi warung. Jadi kemungkinan dicuri saat warung sedang rame-ramenya
Saya: YA ALLAH…. Kok tega banget itu maling….
Papa: gini lho…. Nak, seminggu sebelum mama meninggal. Mama didatangi oleh alm. Eyang putri kamu saat siang hari. Saat itu mama menangis dan memohon agar jangan dijemput dulu.
Saya: iya pah, aku tahu…. Di keluarga kita memang sering seperti itu saat ajal akan menjemput
Papa: naaah….. Pas kejadian itu, papa mau hubungi kamu nak, tapi anehnya hape papa ilang dan pas mau pinjam hape adekmu si kembar ternyata hapenya ilang juga.

Saya: kok nggak langsung beli hape atau pinjem hape tetangga buat ngabarin Pah??
Papa: gimana mau beli hape, uang aja nggak ada buat beli lagian mau pinjem hape… Semua kontaknya kan ada di hape yang ilang
Saya: lhaaa…. Terus kemarn sore aku telepon adek itu pake hape siapa Pah???
Papa: adekmu pinjem duit ke temennya buat beli hape, pagi baru beli hape……. Lepas maghrib mama meninggal
Saya: kok nggak jauh hari sebelumnya pinjam uang Pah??
Papa: disini papa nggak brani pinjem soalnya tetangga-tetangga yang lain acuh tak acuh…. Lagipula selama seminggu sebelum mama meninggal, tiap saat selalu didatangi eyang kamu. Awalnya di depan pintu saja, tapi saat menjelang harinya. Alm. Eyang datang dan masuk ke rumah lalu berbicara dengan mamaku untuk mengajak pulang. Terakhir kali paginya saat papa lihat mama ngobrol sendiri dan pas papa tanyain, mamamu nangis katanya hari ini akan dijemput pulang.

Saya: terus saat papa tahu mama meninggal kapan??
Papa: waktu itu papa habis mandi rencananya mau mandiin mama pake air anget, tapi mama bilang Nanti aja Pah, abis magrib mandinya. Mama mau lanjutin tidur dulu. Akhirnya karna sudah masuk waktuk maghrib, maka papa sholat di kamar sambil nunggu mama yang sedang tertidur. Saat rakaat terakhir, terdengar suara mama berdehem layaknya orang yang tenggorokannya gatal karna kering kurang minum air. Setelah sholat maghrib…. Papa bangunin mama, tubuh mama sudah dingin dan tak terlihat bernapas lagi.
Saya: alhamdulillah Pah….. Mama dicabut nyawanya dengan halus oleh malaikat Izrail, semoga mama khusnul khotimah.

Saat kami sedang sibuk ngobrol, masuklah lelaki yang menjadi suami dari ibu si pengurus jenazah. Ngobrol wae…. Cepetan atuh, jangan kebanyakan ngobrol. Lhaaa…. Ini kita sudah selesai semuanya, tinggal keluarganya aja sekarang memandikan jenazah, kata si istri pengurus jenazah. Ya… Udah kalo gitu Pak, mas, mbak sekarang bisa memandikan jenazah ibunya. Saat kulihat jam ternyata satu jam telah berlalu, kuingat jelas tadi jam setengah sembilan pas dan sekarang setengah sepuluh pas. Kami sekeluarga memandikan jenazah alm. Mama dengan dibantu salah satu ibu pengurus jenazah, tampak jelas mama terlihat amat sangat kurus. Namun wajah mama berseri dan tersenyum serta kulit mama halus dan bersinar bahkan saat kami memandikan. Badan mama terasa hangat dan tidak kaku. Ibunya lain daripada yang lain ini pak!!! Kata ibu pengurus jenazah…. Lain gimana maksudnya Bu??? Kataku pada ibu pengurus jenazah. Biasanya…. Jenazah kan kita
Harus buang semua kotorannya, lihat ini sudah bersih semua. Jadi kita mandikan lalu ambilkan air wudhu. Setelah itu bisa segera dikafani dan dimakamkan.

Setelah memandikan dan mengkafani, kami semua melaksanakan sholat jenazah dan kemudian berangkat menuju ke pemakaman yang tak jauh dari rumah kami. LA ILAHA ILLALLAH…… LA ILAHA ILLALLAH….. LA ILAHA ILLALLAH….. Kami semua berangkat menuju pemakaman. Setelah sampai, segera aku turun ke liang lahat yang nantinya akan menjadi tempat dimana Alm. Mamaku disemayamkan. Adem sekali dibawah sini kataku dalam batin… Aku, Papa dan Adekku salah satu dari si kembar ikut turun ke liang lahat. Segera jenazah mamaku diturunkan dari keranda. Kami semua dengan sigap menaruh jenazah mama dan segera menyangga dengan gumpalan tanah liat juga bambu. Terakhir kali sebelum tanah menutup, aku diminta oleh papaku untuk mengadzani mama diliang kuburnya. Tapi aku terlampau kelu untuk mengumandangkan adzan. Hanya mampu untuk terakhir kali memandangi wajah Alm. Mama. Semua proses berjalan lancar dan cepat bahkan saat gundukan tanah sudah terbentuk sempurna dan didoakan. Kulihat jam tanganku belum ada jam satu siang waktu Denpasar yang berarti belum jam dua belas siang. Bahkan saat kami semua akan pulang, adzan dzuhur baru berkumandang. Entah ini waktu berjalan sangat lambat atau memang semuanya dimudahkan oleh Tuhan. Sampai-sampai bapak pengurus makam juga merasa heran, karna ini termasuk jenazah yang paling cepat dimakamkan.

Aku telepon boss ku dan minta ijin selama seminggu, awalnya tak diberinya aku ijin selama seminggu. Aku tak peduli segera saja kuhardik. HEEHH!!!! Punya perasaan nggak sich?? Saya ini lagi kena musibah, lagi berduka, otaknya dipake juga buat mikir. Kalo bapak nggak menyetujui saya ijin seminggu yaa…. Saya Resign hari ini juga!!!! Kataku pada bossku lewat sambungan telepon dan bossku dan langsung diberikan ijin.
Malam…. Tahlilan pertama, keluarga kami tak seperti keluarga lainnya yang sigap dengan segala urusan tahlilan bagi para pelayat yang datang. Hanya ada air mineral dalam cup dan juga kacang tanah sangrai serta rokot sebagai teman selepas tahlilan. Kami terlalu miskin untuk bisa mengadakan tahlilan seperti orang lainnya. Aku saja berangkat menggunakan uang yang seharusnya kupakai untuk bayar semesteran kuliah dan bayar untuk ujian skripsi. Bahkan untuk kembali ke Bali saja, aku tak tahu nanti selama disana akan bertahan berapa lama??? Karna sebelum musibah menimpa kami. Aku sudah lebih dulu membeli tiket bus tujuan solo untuk bertemu dengan sahabat karibku A’ang dan juga ingin sikaturahmi ke keluarganya Mirna.
Tahlilan hanya bisa diadakan tiga hari berturut-turut saja dan akan kembali diadakan saat tujuh hari dan 40 hari setelah kepergian. Papa meminta kami agar selepas sholat magrib untuk selalu yasinan di kost dan jangan sampai terputus. Betapa aku sangat merindukan mamaku, tak terasa kuketik kisah ini, sembari menitikkan air mata. Mengingat semua kenangan suka dan duka bersama mamaku. Buat kalian semua, sayangilah mama kalian. Jangan sampai jika ajal telah menjemput, kalian akan terjebak dalam jurang penyesalan karna tak pernah memuliakan kedua orang tua kalian terutama Mama kalian. Aku pun menyesal, menyesal…. karna belum mampu membahagiakan kedua orang tuaku. Trutama mamaku. Anakmu ini hanya bisa mengirimkan doa disetiap akhir sujud, semoga mama dilapangkan kuburnya dan diberikan nikmat kubur oleh ALLAH SWT.


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset