Kisah Hidupku episode 30

Bagian 30 Persaingan Usaha

Sekembalinya aku dari Solo, kutata kembali hidupku. Aku lebih memilih diam dibandingkan biasanya. Sudah kupikirkan dengan matang, lepas libur Lebaran aku akan resign dari kerjaanku. Padahal aku belum punya pandangan akan bekerja dimana setelah lepas dari tempatku itu. Hanya satu yang kutahu, jika tempat itu sudah tidak nyaman maka hijrahlah…. Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan begitu. Ibarat kata modal nekat, Hanya ALLAH SWT yang kujadikan pegangan. Dalam benakku cukup diyakinkan bahwa ALLAH SWT tak kan membiarkan umatNYA mati kelaparan selagi Umat itu mau berusaha dan Istiqomah di Jalan ALLAH SWT.Kubuka salah satu sosial media. Path adalah salah satu sosial media yang hanya kupergunakan untuk sharing artikel otomatis dari blog pribadi yang kukelola. Kulihat…. Ada seorang gadis meminta pertemanan denganku, kuterima saja toh!!! Aku saat itu masih ingin sendiri saja.
Haaayy…. Salam kenal ya…. Gadis itu mengirimiku pesan di Path
Iya…. Salam kenal juga, balasku pada gadis bernama Lia itu.
Hubungan kami pun berlanjut, saling bertukar pin BBM dan akhirnya bertukar kontak WA. Lia jika dibandingkan dengan Eni tentu berbeda apalagi disandingkan dengan Mirna tentu kalah cantik. Dengan tubuh berisi dan kulit kuning langsat serta
Senyum manisnya menjadi daya tarik tersendiri. Namun saat itu aku hanya menganggap teman biasa, terlebih lagi Lia ini baru putus dari kekasihnya yang posesive namun suka main perempuan.

Sebagai lelaki, aku hanya membantu Lia menjauhkan dari kekasihnya itu. Kujalani hari-hari ditemani Lia yang rutin sekedar mengirimiku pesan agar tak lupa sholat dan makan serta menjaga kesehatan. Hubungan jarak jauh, apalagi dengan orang yang belum pernah kutemui menjadikanku tak terlalu serius. Kujalani ngikut arus saja, tak terlalu menjadikan prioritas. Padahal usiaku sudah masuk kepala tiga. Kawan-kawanku sudah pasa menikah dan beberapa malah, anak-anak mereka sudah masuk Sekolah Dasar. Setelah beberapa bulan berlalu, akhirnya kami pun jadian. Lia tak pernah mengatur dan mengekangku, aku bisa menjadi diri sendiri. Secara psikologi, Lia ini bisa menjadi kawan dan juga kekasih yang saling membangun.

Hari itu…. Aku harus membantu kawan sekantor mengirim barang di salah satu Rumah Sakit Negeri di Denpasar. Agak malas sebenarnya, tapi mau gimana lagi?? Namanya juga kerjaan. Saat kirim barang selesai, ponselku sedari tadi berbunyi seperti sedang dalam mode charging. Saat kulihat ponsel di kantongku, ternyata emang lagi dalam mode charging. Namun ajaibnya tak sedang aku isi menggunakan powerbank. Bagaimana bisa??? Hape tanpa dicolokin powerbank, bisa ngecharge otomatis dan daya yang masuk pun juga bertambah. Yaa…. Sudahlah, biarkan saja. Daripada aku terganggu penampakan, mending begini aja. Enak nggak usah bawa powerbank, hape ngecharge otomatis.

Libur lebaran pun tiba kembali, kali ini…. Aku pulang sendirian saja. Kedua adek perempuanku tak ikut pulang, karna jatah cuti mereka telah habis terpakai. Setelah pulang dari kepulangan mamaku, sebulan kemudian… Kedua adekku jatuh sakit, sehingga diharuskan untuk beristirahat di rumah. Kukemasi barang-barangku, istirahat lebih awal karna esoknya pesawat pagi agar tak terlambat. Sedikit buah tangan sengaja kubawa dari Denpasar.

Penerbangan pagi itu lancar saja, sesampainya di Cengkareng. Kugunakan Damri saja agar lebih murah, selain itu turunnya juga tak jauh dari rumah. Hanya perlu pindah angkot sebanyak tiga kali, aku sudah menapakkan kaki dirumah. Kedatanganku disambut pelukan hangat oleh Papaku dan adekku si kembar. Kami saling melepas rindu dan bertanya kabar selama tak bertemu. Hingga akhirnya, papaku bercerita padaku:

Papa: Mas…. Hati-hati sama tetangga sebelah, dia orangnya licik dan suka main jalur belakang
Saya: warung nasi dari Andalas pas sebelah kita ini Pah??
Papa: iya…. Masa, orang belanja di warung dia tapi parkirnya disuruh parkir depan warung kita.
Saya: Astagfirullah… Beneran itu Pah?? Kok ada orang model kayak gitu ya Pah!!!

Papa: malah kalo istrinya nyapu, sampahnya dibuang di parkiran warung kita kok, kalo buangnya ke bak sampah kita gpp lah…. Ini kelewatan.
Saya: emangnya Papa nggak pernah samperin terus diomongi baik-baik??
Papa: sudah Nak, malah papa diancam pake golok waktu itu
Saya: sialaaann!!! (Emosi mendengar perkataan papaku) berani-beraninya Dia!!! Besok aku lihat, sejagoan apa itu orang??

Papa: udah biarin aja Nak, dia temannya preman daerah sini banyak
Saya: Bodo amat!!! Lihat saja, berani mengusik… Siap-siap istrinya jadi janda dan anaknya jadi anak yatim
Papa: udahlah!!! Backingan dia preman daerah sini banyak
Saya: yaelaaahh!!! Kalo itu gampang Pah, kawanku ada tuch backingan preman pasar daerah sini. Mending aku minta tolong Octo aja buat sewa aparat Pah…
Papa: ya udahlah…. Kalo kamu emang bersikukuh begitu, papa hanya menyampaikan permasalahan selama disini.
Saya: tenang Pah… Kalo sampe berani adu fisik, biar aku yang maju. Pantang bagiku jika golok belum kena darah belum pulang
Papa: udahlah Nak…. Nggak usah diambil hati, lagian puasa kok marah-marah…..

Aku sangat tak terima saat Papaku mendapatkan perlakuan seperti itu, bagiku keluargaku adalah yang utama dan aku rela berkorban paling depan demi harkat dan martabat kedua orang tuaku. Tapi aku juga penasaran?? Apakah ada orang dengan kelakuan layaknya sinetron begitu??…. Hingga saat berbuka puasa pun tiba, adekku si kembar saat itu sama-sama sedang masuk siang jadi, mereka pulang nanti jam 10 malam. Setelah berbuka puasa, sengaja ku menjauhi papaku yang memiliki sakit asma, agar tak terkena asap rokok yang kuhisap. Aku duduk di kursi depan warung papaku dan mulai menyalakan rokok mild kesukaanku.

Saat enak-enak nongkrong di teras sambil menghisap rokok, benar saja… Tetangga sebelah buang puntung rokok dilempar ke dalam warung Papaku. WOOIII MAS!!!! Buang puntung jangan sembarangan!!! Kataku memghardik orang itu. Eeehhh…. Maaf mas, nggak sengaja (diambilnya puntung rokok yang dibuang ke dalam tadi) kata orang itu padaku.
Ternyata benar, kata papaku bukan isapan jempol semata, dia semena-mena jadi orang ternyata.

Esoknya…. Aku menyambangi kost adekku si kembar. Yaa… Kedua adekku sengaja kost, karna saat itu kamar tak cukup. Sehingga mereka memilih untuk kost, tapi dengan keadaan sekarang tentu kamar kosong tersisa sepeninggal Mamaku. Kost’an kedua adekku tak jauh dari warung, hanya perlu menyeberang ke depan jalan melewati gang yang cukup luas untuk ukuran dua mobil berpapasan jalan. Saat masuk ke gang itu, kulihat ada sekumpulan pemuda sedang nongkrong pagi itu. Nampaknya mereka habis pesta miras dan tidur di pos kamling ini semalam. Punten kang…. Numpang lewat kataku sambil melempar senyum kepada mereka sebagai sapaanku pagi itu. Namun mereka memandangiku dengan pandangan menantang, sengaja kuhiraukan. Aku tak ingin membuat masalah saat itu.

Sekembalinya aku dari mengemasi barang-barang adekku, aku harus kembali melewati jalan yang kulalui tadi. Tentu saja akan bertemu sekumpulan pemuda tadi. Benar saja saat aku sudah dekat dengan mereka, salah satu memanggilku. Mas!!! Sini…. Kita mau ngobrol sebentar( dengan logat jawa yang kental). Kudatangi saja mereka, lagipula aku juga ingin tahu maksud mereka apa memanggilku?? Iya ada apa mas?? Kataku pada mereka….
Preman 1: sampean kok baru saya lihat??
Saya: saya anaknya bapak pemilik warung itu (sambil menunjuk kearah warung papaku yang berada di depan)
Preman 1: pantas, saya baru lihat sampean…. Kerja dimana mas??
Saya: kerja di Bali mas
Preman 2: kerja apa di Bali mas??
Saya: collector mas, alias tukang tagih
Preman 3: (sambil memegang lenganku yang sesak oleh kaos yang kugunakan) pantes kalo kerja di Bali badannya besar gini
Saya: nggak juga mas, ini karna rajin olah raga saja
Preman 2: mas…. Saya cuman mau bilang ke sampean, jangan cari masalah dengan warung sebelahnya sampean itu!!!
Saya: emang kenapa pak??
Preman 1: dia itu jawara di kampung sini
Saya: lhaaa…. Terus kenapa pak??
Preman 3: saya dengar sampean mau nantangi Dia??
Saya: tergantung pak, saya juga udah lama nggak ngelemesin tangan
Preman 2: waaahh…. Cari mati kamu kalo gitu!!!
Saya: saya mau tanya Pak?? Reputasi dia apa?? Pernah dibacok nggak mempan?? Pernah dikeroyok lawannya nggak tumbang?? Atau pernah bunuh orang
Preman1 dan 2: nggak sich mas… Saya nggak pernah tahu kehebatan bapak itu apa?? Tapi orang-orang sini tahu dia jagoannya di kampung ini
Kuambil dompet dan kukeluarkan uang tiga lembar 100 ribuan) ini mas, sampean bilang aja ke Dia ditantangin ama saya… Kalo mas brani?? Uangnya ambil aja
Preman 1,2,3: nggak deh mas, kita nggak mau cari masalah apalagi dengan orang dari negeri andalas yang terkenal dengan kota begalnya
Saya: ya sudah…. Klo nggak mau, uangnya saya ambil lagi. Permisi saya pamit dulu harus bantu bapak saya di warung.

Kutinggalkan mereka san melangkah ke warung. Papaku pun bertanya padaku dan kujelaskan. Biasalah, Pah…. Sengaja nebar ancaman ke aku. Lagipula aku nggak takut malah penasaran jagoan kayak apa sih dia sebenarnya??? Untung saja saat aku sedang gandrung diet dari sang mentalist yang kini jadi host di salah satu tivi swasta. Badanku sempat kubesarkan hingga menyerupai tokoh BANE di film BATMAN. Perawakanku yang sebesar gorila itu, tentu cukup mudah untuk mengangkat sebuah motor bebek dan melempar ke sasaranku dengan kedua tanganku, pastinya akan buat bikin ciut nyali lawanku, ditambah lagi rambut yang hampir setahun tak kupotong serta kumis dan jenggot yang kubiarkan lebat tak terurus. Siangnya pun tetangga ini kembali berulah, saat ada sepasang muda mudi akan makan di warungnya diakhir bulan puasa itu. Mereka malah dengan sengaja disuruh memarkir motor menghalangi pintu masuk warung papaku. Segera kuambil dua pisau besar pemotong daging. Masuk kedalam warungnya dan BRUUAAAGHH…. Kubanting kedua pisau itu tepat di depan meja dimana si Kremi ini duduk. Lebih baik kusebut kremi saja agar lebih mudah kawan.
Kremi: apa ini Mas???
Saya: sampean punya otak nggak?? Itu kenapa orang parkir kamu suruh parkir menghalangi pintu masuk warung papaku
Kremi: dengan gemetar menaruh gelas kopi yang tak jadi diminumnya…. Anu…. Anu… Maaf mas, tadi penuh parkiran saya
Saya: muka kau itu parkiranmu kosong melompong gini??? Pindahin sekarang atau kita adu carok sekarang.
Kremi: B….bb…baaikk mas, saya pindahin

Sebelum pemilik warung memindahkan, ternyata pemilik motor yang mendengar kemarahanku tadi buru-buru memindahkan motornya. Tak cukup sampe disitu, sorenya…. Aku ditantang oleh adik-adik pemilik warung sebelah. Segera ku telepon kawanku si Ikhsan yang kebetulan kerja di pasar dekat situ dan kenal dengan pentolan preman disana untuk membantuku. Kawanku meluncur ke lokasi yang kukirim melalui WA. Kalian mau main keroyokan nie??
Saya panggilkan kawan saya juga kalo gitu kataku pada mereka. Halaahh…. Kamu punya bekingan siapa?? Belum tau kami ya?? Kata mereka padaku. Kusebut salah satu nama pentolan pasar di daerah itu, seketika raut mereka berubah dan melunak padaku.

Kawanku Ikhsan datang dengan membawa tiga orang temannya dan menanyakan duduk masalah yang terjadi. Setelah kujelaskan, mereka siap membantuku. Belum sampai pertumpahan darah terjadi, adik-adik pemilik warung meminta maaf padaku dan berjanji tak akan semena-mena lagi. Setelah selesai, ikhsan dan kawan-kawannya mampir ke warung papaku, mereka malah lebih santun dibandingkan tetangga sebelahku ini. Bahkan ditolak mentah-mentah saat kuberikan uang sebagai imbalan karna membantu. Malah mereka memberikan nomer telepon jika tetangga sebelah berani berulah kembali.

Esoknya tentu aku jadi bahan omongan tetangga lainnya. Orang baru yang berani menantang jagoan kampung situ, aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Jagoan apaan?? Mulut doang yang besar… Reputasi kriminal nggak ada… Apalagi reputasi sebagai jawara kampung?? kataku dalam batin saat itu. Apakah berhenti sampai disitu saja?? Tidak kawanku semua, hanya mereda sejenak. Tiga Hari setelah lebaran, aktivitas warung kembali normal. Pembeli silih berganti berdatangan, warung papaku berada diantara deretan pertokoan yang letaknya di wilayah pabrik. Tentu saat jam makan siang akan sangat ramai pembeli.


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset