Kisah Hidupku episode 31

Bagian 31 Pertolongan

Siang itu suasana warung rame, bahkan sampai mengantri giliran makan. Sepuluh ruko yang ada dipenuhi oleh berbagai menu andalan yang menjadi ciri khas. Keriuhan baru mereda setelah diatas jam 2 siang dan akan ramai kembali saat bubaran pulang kerja. Menjelang magrib warung papaku tutup lebih dahulu, hari itu sengaja memasak tak terlalu banyak. Karna Papaku harus berjibaku sendirian sepeninggal Mamaku, tentu akan sangat kelelahn jika harus menyiapkan hidangan untuk pelanggan serti saat Mamaku masih hidup. Tak ada yang aneh hari itu, ketika malam jam 12 telah menjelang. Sengaja aku belum tidur, kata hatiku berbisik… Akan ada tamu nanti malam. Kurasa bukan tamu yang baik.

Aku masih menyibukkan diri dengan wiridku, hingga pukul 1 lewat. Aku memilih mengaji sebentar, suasana saat itu mendadak sepi dan hawa di dalam rumah terasa singup. Ku tetap melanjutkan ngaji dan tak menghiraukan, walau baju koko yang kukenakan mulai basah oleh peluh. Kulihat Papa dan adek-adekku tidur dengan nyenyak tanpa ada gangguan. Hingga jam telah menunjukkan pukul 2 lebih tiba-tiba, seperti ada suara orang melempar kerikil.
Srreeek…. Srrrerrk…. Srrreeekkzz…DUUUAAAARRR!!!!
ASTAGFIRULLAH HAL’AZIM!!! Ada yang mencoba mengirimi sesuatu secara gaib ke rumah Papaku. Anehnya, Papa dan adek-adekku tetap nyenyak dalam tidurnya. DUUUAAARRR!!!! DUUUAAARRR!!!! Kembali suara seperti bunyi petasan dari atas genteng cumiarkan telingaku.

Kusudahi ngajiku dan mulai memejamkan mata, merapal wirid yang kumiliki serta memohon pada ALLAH SWT, pemilik alam semesta ini untuk membantuku melindungi Papa dan Adek-adekku. Tubuhku makin deras dengan peluh keringat, ditengah-tengah wirid. Aku merasakan raga ini dalam kondisi ketindihan dan seperti tertarik, namun tak bisa lepas dan terdengar riuh rame seperti adanya perkelahian diluar rumah dan ada beberapa kali suara dentuman. Cukup lama kurasakan, mungkin hampir sejam. Setelah aku bisa membuka mata, tubuhku terasa lemas dan entah seperti kehabisan tenaga. Aku tertidur dalam posisi bersila, hingga papa dengan sajah heran membangunkanku untuk sholat subuh.

Esoknya, kulihat tetangga sebelah warung seperti orang yang terlihat sakit. Wajahnya pucat pasi dan saat bertatap muka, dia sengaja memalingkan wajah padaku. Aku tak ingin berburuk sangka, jadi tak kuhiraukan kata hatiku. Kalo yang melempar kiriman gaib semalam adalah tetanggaku. Biasanya…. Jika di sinetron atau serial FTV kita lihat ada warung menggunakan penglaris hingga warungnya ramai. Hanya sebagai rekaan cerita belaka, tapi ini nyata kawan. Bagaimana tidak dari 10 warung yang berjejer menjajakan makanan. Hanya warung tetanggaku ini saja yang ramai dan yang lain sepi tak ada seorang pun yang singgah.

Kejadian ini berlangsung 3 hari berturut-turut. Aneh sekali pikirku, sangat tak masuk diakal. Hingga lepas maghrib ada sebuah panggilan telepon masuk ke ponselku dan kulihat nomer tak dikenal. Biasanya aku pasti menghiraukan panggilan telepon masuk dari nomer yang tak kukenal. Kali ini kuangkat panggilan telepon masuk ke ponselku.

Saya: Assalamu’alaikum
Edo: Wa’alaikumsalam….. Gimana kabar Bro??
Saya: ini siapa ya?? Kayak kenal suaranya…
Edo: haiyaaahh!!! Pake lupa, aku EDO!!! EDO!!! Kawanmu dari bumi minakjinggo dan Damarwulan dipesisir selatan Jawa Timur
Saya: oalaaahh…. Ed, kirain siapa?? Nomer baru tah??
Edo: iya…. Maklum nomer yang lama mati masa aktivnya
Saya: gimana Ed?? Tumben telepon!?!?!! Ada apa???
Edo: entahlah!!! Tiba-tiba pas buka hape aku ingin hubungi kamu, kamu gimana kabarnya sekarang?? Lagi sibuk apa??

Saya: minal aidin wal fa’idzin Ed… Kabarku baik, ini lagi di Buitenzorg libur lebaran sambil bantu papaku
Edo: kayaknya??? Ditempat kamu sekarang ada orang yang nggak suka ya??
Saya: iya Ed, beberapa hari lalu ada yang coba kasih paket gaib ke rumah, Alhamdulilah nggak terjadi apa-apa di rumah

Edo: iya…. Tapi habis itu, warung sebelahmu ramenya nggak umum kayak antri sembako gratisan ya???
Saya: iya bener banget itu Ed, warung lainnya kayak ditutup gitu. Sampe sore tadi langganan papaku ke warung, katanya bilang… Kemana aja Pak?? 3 hari nggak buka warung. Padahal dengan jelas warung Papaku buka, tapi tak ada seorang pun yang beli.
Edo: iya aku lihat barusan juga gitu terus kamu maunya gimana sekarang??

Saya: ya… Gimana ya?? Aku juga nggak tahu!! Gini aja, kasian yang lain nggak bisa jualan. Mungkin kamu bisa bantu??
Edo: bereesss itu Bro!!!! Lihat saja, kalo besok warung sebelahmu masih ada yang beli jangan panggil aku EDO
Saya: iya…. Iya…. Aku tahu, kamu kan emang hobi ama mainan gaib. Ya udah…. Kalo gitu tolong dibantu ya, kasian yang lain nggak bisa jualan
Edo: udah tenang aja….

Setelah itu, obrolan kami melalui sambungan telepon masih berlanjut. Hanya sekedar mengingat masa lalu saja. Karna pertemuan yang tak terduga, hingga kami akrab bagaikan saudara. Lagipula, aku juga sudah lama sekali tak menghubungi Edo semenjak dia pindah merantau ke kota Pahlawan. Kami tak pernah bertukar kabar lagi.

Esoknya…. Janji yang Edo katakan padaku ditepati. Hanya warung tetangga sebelahku saja yang sepi tak ada satu orang pun yang beli, sedangkan yang lain riuh ramai seperti biasanya saat jam makan siang dan sore saat jam pulang kerja. Menjelang seminggu, aku didatangi tetanggaku. Dia memohon agar jangan “ditutup” warungnya. Aku hanya pura-pura bego dan tidak tahu dengan maksud kedatangannya ke warung kami. Selepas tetanggaku pulang, Papaku pun bertanya padaku. Hanya kujawab, yaaa…. Namanya juga Petolongan Dari ALLAH SWT Pah, bisa datang dari mana saja!!! Papaku sempat menyinggung tentang Edo kawanku dan kujawab. Yaa…. Bisa jadi ALLAH SWT menunjuk Edo sebagai perantara untuk membantu kita Pah!!….

Apakah selesai sampai disitu??? Jelas tidak kawan. Sekembalinya aku ke Denpasar, dia kembali berulah dan kukatakan pada adekku si kembar. Jika harkat dan martabat keluarga terutama orang tuamu itu penting, maka habisi saja. Kita tahu masa depan kita akan hancur jika sampai berbuat seperti itu. Tapi itu setimpal dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Aku sempat menelpon Ikhsan agar membantu back up kala itu. Untung saja pertumpahan darah tak terjadi.

Rutinitasku sekembalinya daei Buitenzorg masih seperti biasa. Tapi sudah kusiapkan surat pengunduran diriku. Sebulan setelah itu kuajukan surat pengunduran diri dan tentu saja Bossku sampai heran dengan keputusanku itu. Sempat aku ditawari gaji tiga kali lipat dari saat itu diluar bonus insentive, tapi kutolak dan kukatakan Pak!!! Maaf, saya sudah pernah meminta baik-baik perihal kenaikan gaji saya. Tapi bapak terus mengulur waktu. Buat apa saya berlama-lama disini jika saya sendiri sudah tak nyaman. Lagipula lelaki itu dipegang omongannya, jadi pantang bagi saya untuk menjilat ludah saya sendiri.

Terlihat ada ketakutan dimata bossku saat kukatakan itu. Bahkan bossku meminta agar aku tidak bekerja dibidang yang sama, takut area potensial yang aku pegang semua berpaling padaku. Aku tak langsung berhenti kerja hari itu juga, ada jeda sebulan hingga aku benar-benar berhenti kerja. Peraturan perusahaan di tempatku bekerja memang begitu, saat pengajuan pengunduran diri diterima maka sebulan berikutnya baru nonaktiv dari pekerjaan. Bahkan setelah aku berhenti, area yang kupegang masih memberikan ku orderan dan itu tetap kusampaikan ke bagian admin yang biasa mengurusi orderan masuk. Hingga akhirnya, para customer areaku tahu bahwa aku sudah berhenti kerja dan mereka menyayangkan dengan keputusanku itu.

Pesan yang bisa kubagikan pada kawanku penikmat ceritaku sekalian. Apa yang terjadi dalam hidupku adalah sebuah alur yang ditetapkan untukku. Aku bukanlah orang yang memiliki keilmuan tinggi. Bahkan “kelebihan” yang diberikan semenjak aku lahir lebih sering tertutup. Lagipula aku juga belum menemukan jawaban atas “kelebihan” ku yang kini tertutup. Hal-hal gaib dan juga paket gaib dari mereka yang tidak suka kepadaku dan juga kepada sodara serta orang tuaku, Alhamdulilah sering sekali mendapatkan pertolongan tak terduga. Selama kalian selalu berpegang teguh pada agama dan Tuhan kalian, niscaya Tuhan tak kan oernah tinggal diam melihat umatNYA. Lalu apakah kisahku ini telah berakhir sampai disini saja??? Tentu saja tidak kawan. Apa yang kututurkan dalam rangkaian aksara ini hanyalah proses dari perjalanan hidup yang mungkin??? Kawan sekalian bisa ambil hikmahnya dan ceritaku masih berlanjut kawan…..


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset