Kisah Hidupku episode 36

Bagian 36 Proses Kehidupan

Dua kali lebaran telah kulewati tanpa pulang ke Buitenzorg, ada perasaan sedih yang tak dapat diungkapkan saat gema takbir berkumandang. Hanya bisa saling bermaafan melalui suara, ada kerinduan mendalam terutama pada mamaku yg kini telah terbaring menikmati nikmat kubur. Kembali sendiri dan merajut mimpi, mengikuti kemana angin membawaku. Walau kini aku telah bekerja dengan kawan blogger, sering dalam diamku terlintas banyak sekali hal yang sulit kugambarkan dalam aksara.

Seperti biasanya, aku berangkat di pagi hari menuju ke lapak. Sebelum ke lapak aku biasa mampir ke tukang cetak langganan untuk mengambil hasil stiker pesanan konsumen. Hari itu kulalui seperti biasa tanpa keganjilan, hingga saat aku pulang. Aku biasa mengembalikan kunci lapak terlebih dahulu sebelum pulang. Saat melewati perumahan boss ku, kurasakan dipertigaan menuju ke rumah itu ada sesosok makhluk yang mengawasiku. Aku tahu dimana keberadaan makhluk itu, tapi lebih memilih diam saja. Tohh!!! Tidak ada yang terusik, sesampainya di rumah boss ku batinku nyeletuk.

“Pojok kanan ada kuntilanak dan di kamar mandi itu ada penunggu hitam besar disana”.

Belum sempat ku bertanya, tenyata boss ku sudah bercerita terlebih dahulu. Jika di rumahnya sering diganggu penunggu rumah tersebut dan letak mereka persis sekali dengan yang dikatakan batinku. Tapi selama gangguan tidak parah, aku lebih memilih diam saja. Lagipula boss ku juga punya orang pintar yang bisa membantu jika mereka makin berani mengusik. Selain itu, ilmu yang kumiliki hanya tingkat rendahan. Maka tak pantas aku menyombongkan diri dengan menawarkan bantuan.

Kejadian berikutnya yang sering kualami adalah ketika pulang menuju kost. Jika kalian dari arah poltek menuju ke pertigaan batu bolong maka untuk menuju lampu merah McD kalian ambil kiri dan nanti saat dipertigaan. Kalian bisa belok ke kiri atau lurus memotong melewati rumah sakit universitas udayana. Jika melewati jalan tembus itu, suasana jalan gelap dengan penerangan yang sangat minim dan seringnya saat melewati jalan itu sendirian di malam hari. Aku mencium bau singkong bakar. Terutama saat melewati bangunan disisi kiri jalan. Sebuah bangunan besar yang hingga sekarang belum terselesaikan itu. Kini telah menjelma menjadi apartemen bagi penghuni gaib. Bagaimana tidak??? Saat melewati bangunan itu, akan banyak mata memandangi kalian kawan.

Keanehan berikutnya adalah setelah traffic light McD tentu aku ambil jalan ke kiri arah Denpasar. Pernah suatu malam, saat derasnya hujan menemani perjalananku pulang. Kulihat dikiri jalan setelah jembatan ada seorang gadis dengan kaos kuning dan rok merah, bewajah cantik jelita seperti menunggu seseorang menjemput. Akan wajar jika itu malam yang terang tanpa rintik hujan. Akan tetapi malam itu hujan deras menerpa dan kulihat gadis itu tak sedikit pun terlihat basah terkena guyuran air hujan. Aseemm!!!! Makhluk gaib nongol pas hujan deras kataku sedikit mengumpat. Setelah traffic light kedonganan, ternyata…. Aku kembali melihat gadis itu. Dengan posisi yang sama dan pakaian yang sama. Siaall!!!!…. Malah dua kali aku ditongolin aku kembali berkata dalam derasnya hujan. Asal nggak ikut membonceng nggak ada masalah sebenarnya, pokoknya tidak saling mengganggu itu saja bagiku sudah lebih dari cukup.

Hanya saja yang aneh, jika aku ditampakkan wujud makhluk gaib nyata di depanku. Biasanya esok harinya aku akan mengalami nasib mujur. Lebih tepatnya aku mendapatkan uang tak terduga. Entah itu nemu dompet di jalan dan kukembalikan lalu dipaksa menerima uang terima kasih atau malah ikut kecipratan dapat uang terima kasih dari pemilik motor yang hari itu motornya dipasang stiker dan masih banyak lagi lainnya. Agak aneh menurutku, tapi ya sudahlah…. Aku anggap hanya kebetulan semata. Aku sempat ditawari untuk tidur di lapak saja agar menghemat uang kost. Aku tak langsung menerima, kucoba beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan suasana disana.

Aku mencoba untuk seminggu pertama tidak balik ke kost, ternyata disana jalanan tetap bising hingga jam dua pagi dan akan ramai kembali saat jam enam pagi. Luas lapak yang 6 meter kali 8 meter serta lahan parkir lebih dari 4 meter sebenarnya cukup jauh dari jalanan, tetapi karna isi lapak masih kosong. Maka setiap kendaraan yang lewat pasti akan bergema di dalam. Tentu imbasnya, waktu tidurku berkurang sangat banyak karna susah tidur. Sempat pula saat tiga malam berturut-turut aku tidur di lapak. Setiap malamnya tiba-tiba terdengar bunyi burung tekukur di dalam lapak.

Padahal jelas-jelas aku tak memelihara burung, apalagi bossku. Lalu kenapa tiga hari berturut-turut diganggu dengan suara burung tekukur yang nyaring di dalam lapak??? Sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku. Asal tak menggangguku, maka tak masalah bagiku. Toh hidup kita dengan mereka yang tak tampak itu sebenarnya saling berdampingan.

Sebenarnya daerah tempatku bekerja masih kental suasana mistisnya, namun bagi orang lain akan terasa biasa saja. Tapi bagi mereka yang memiliki kelebihan akan melihat bahwa daerah itu penghuni gaibnya lebih banyak daripada manusia yang sekarang mendiami wilayah itu. Aku menikmati pekerjaanku sekarang, meskipun gaji yang kuterima standar. Tak mengapa kawan, karna kerjaku teramat santai bahkan lebih bisa dikatakan sebagai bermain saja. Karna aku sering ambil barang lalu packing dan kirim ke expedisi pengiriman tentu, akhirnya aku akrab dengan agen jasa pengiriman barang. Salah satunya adalah mas Jay, dapat kurasakan jika mas Jay ini lebih bisa melihat daripada aku.

Terbukti… Saat itu ada seorang bapak ingin mengirimkan motornya ke kampung. Saat aku memarkir motor disebelah motor itu. Kurasakan hawa kesedihan mendalam. Ada yang nggak beres ama ini motor. Istri mas Jay sedang melayani bapak tersebut dan mas Jay menghampiriku.

Mas Jay: gimana bro?? Mau kirim kemana ini??
Saya: biasa mas….. Hari ini kirim Jakarta sama Demak aja
Mas Jay: sik ya…. Istriku masih agak ribet
Saya: santai wae mas…. Saya lagi nggak terburu-buru.
Mas Jay: motor ini aneh nggak menurutmu bro
Saya: kalo lihat kasat mata tak ada yang aneh bahkan keren dengan motif airbrushnya
Mas Jay: emang nggak terasa tah??? Kalo motor ini nggak beres??!?!?!!
Saya: kayaknya ini bekas kecelakaan mas, pemiliknya anak bapak itu…. Dia kecelakaan tunggal dekat sini
Mas Jay: lhaaa…. Kamu brarti bisa lihat kayak aku juga???!!!

Saya: saat ini… Nggak mas, tapi batin kecilku yang membisikannya
Mas Jay: itu anaknya duduk di jok belakang mukanya hancur sebelah dan sebagian isi otaknya keluar kececeran
Saya: waaahh….. Mas Jay lebih tinggi nie tingkatannya dibanding saya
Mas Jay: nggak bro, ini bawaan lahir…. Aku sebenarnya juga nggak merasa nyaman
Saya: sama berarti mas, tapi saya saat kecil pernah dikasih air yang isi doa. Jadi kadang lihat kadang nggak kalo sekarang ini.
Mas Jay: kamu dikasih siapa itu dulu?? Orangnya di Bali sini?? Anterin aku bro…. Aku juga pengen ditutup penglihatanku ini
Saya: dulu tetangga sebelah rumah mas, tapi sekarang beliau sudah pulang ke kraksan sana
Mas Jay: walaaaahh….. Sayang sekali, tapi kamu tahu rumahnya yang di Kraksan nggak?? Atau barang kali ounya nomer hapenya??
Saya: maaf mas, saya malah nggak punya nomernya.

Lalu mas Jay sengaja mengirim WA pada istrinya agar menolak secara halus keinginan bapak itu. Alasan mas Jay sederhana, selama motor belum diambil kurir expedisi otomatis akan menginap di lapaknya dan pastinya tiap hari mas Jay akan terganggu dengan penampakan penunggu motor itu. Terlihat sekali gurat kesedihan saat ditolak tidak bisa kirim motor dengan alasan warna motor telah tidak seauai stnk. Takutnya malah ketahan di perjalanan. Aku lihat saat bapak itu menstarter motornya tak mau hidup bahkan diselah dengan starter kaki tetap tidak nyala. Sampai bapak itu berkata sendiri, Ayoo nak!!! Kita pulang, nggak jadi dikirim ke kampung motornya…. Seketika motor mudah distarter dengan elektrik starter. Padahal sebelumnya, jelas sekali aku ikut bantu menyelah motor itu tapi seperti tanda-tanda tak ada pengapian di businya.

Bapak pemilik motor bebek berlogo garputala itu pun bercerita persis dengan detail yang mas Jay serta bisikan hatiku. Anak semata wayangnya meninggal dalam kecelakaan tunggal, namun anehnya motor yang dikendarai hanya sedikit sekali mengalami lecet. Bapak itu juga bercerita kalo hampir tiap tengah malam. Motor tersebut tiba-tiba menyala sendiri tanpa perlu kunci kontak. Ada rasa iba saat itu, tapi apalah dayaku?? Aku juga tak bisa membantu bapak itu. Semoga saja motor itu dapat dikirim ke kampung halaman dengan menggunakan expedisi lainnya dan berguna bagi keluarga di kampung. Hanya doa itu yang dapat kupanjatkan, serta tak lupa mengirimkan Al-Fatihah bagi si anak yang telah meninggal agar lebih tenang di alam sana.

Aku memilih kost terpisah dengan kedua adek perempuanku. Ada suatu hal yang tak dapat kukatakan disini. Sebenarnya sepele, tapi itu masalah kami saja. Jadi cukup menjadi konsumsi kami, lagipula semenjak aku pindah kost masih sering main ke kost adek-adekku. Aku memilih kost berdua dengan Dimas, karna lebih hemat biaya. Namun resikonya jarak yang kutempuh menuju tempat kerja menjadi bertambah sejauh 11 kilometer, total sekali perjalanan menempuh 33 kilometer untuk sampai ke lapak. Kost ku yang sekarang jauh dari hingar bingar kehidupan kota, entah mengapa??? Aku menyukai suasana pedesaan. Bangun pagi tinggal melongok dari depan teras sudah terhambar rumpun padi di sawah. Benar-benar menentramkan hatiku.

Karna ini masih di pedesaan apalagi di Bali, kalian harus siap mental jika pulang tengah malam. Bukan karna begal atau pengendara mabuk yang bikin onar, namun aktivitas mereka yang tak kasat mata tentu lebih banyak dan lebih kuat auranya dibandingkan di perkotaan. Ada satu titik jalan, dimana tiap kali aku melewatinya selalu saja merasa ada yang memantau. Jalan menanjak dan berletter S itu merupakan salah satu jalan yang terkenal dengan urban legendnya. Tak tanggung-tanggung kawan, tetangga sebelah kostku pernah saat pulang tengah malam membonceng kawannya di tanjakan itu, mereka disalip oleh pengendara matic. Saat posisi pengendara matic itu sejajar dengan dirinya ditanjakan letter S itu, terlihat jelas kalo pengendara matic yang akan menyalip itu ternyata berboncengan juga dan sangat jelas terlihat tak memiliki kepala. Bahkan darah segar dan bau anyir masih tercium saat pengendara matic itu menyalip. Seketika mendadak mesin mati ditanjakan, karna kaget ditariklah kedua tuas depan serta diinjaknya rem kaki. Namun apa daya??? Karna saking kagetnya. Mereka malah akhirnya terjatuh terguling-guling ditanjakan itu hingga sampai ke bawah. Saat dibawah, beruntung ada orang yang melintas dan ikut membantu meminggirkan posisi motor yang melintang ditengah jalan. Tetanggaku ini dikira oleh si penolong itu terjatuh karna mabuk.

Dikarenakan ini desa yang masih asri, maka penduduk pendatang dari luar bali yang berjualan masih bisa dihitung dengan jari. Jangan berharap seperti di kota denpasar ataupun di seputaran tempat wisata seminyak dan Kuta yang tak pernah mati akan denyut kehidupan kota. Di desa tempatku kost, jam sebelas malam sudah sepi sekali. Bahkan warung lalapan dan penjual nasi goreng sudah banyak yang tutup. Biasanya, sebelum sampai di kost. Aku pasti menyempatkan untuk mampir ke warung dulu mengisi perutku. Jadi saat tiba di kost, aku sudah tak bingung lagi harus keluar mencari makan.


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset