Kisah Hidupku episode 37

Bagian 37 Malam Nyepi

Tahun 2018, tahun yang sama dimana aku mulai bercerita disini. nyepi kali ini kuhabiskan di kost dengan teman-teman seperjuangan di perantauan. Sehari sebelumnya diadakan pawai ogoh-ogoh yang biasa dimulai saat sandi kala hingga lewat tengah malam. Beragam bentuk perlambang Buta Kala diarak keliling desa sore itu. Alunan musik Baleganjur khas Bali makin menambah suasana mistis. Bagi yang lajang, malam pengerupukan ini bisa jadi ajang untuk mencari jodoh. Karna biasanya, saat pawai ogoh-ogoh berlangsung banyak muda-mudi yang menonton.

Sepi sekali pagi itu, hanya kemalasan yang dapat kami lakukan. bermain kartu remi dan domino adalah hiburan utama. waktu berjalan sangat lambat, hanya di Bali. Seluruh aktivitas ikut padam. Hanya beberapa tempat saja yang masih beroperasi. seperti misalnya rumah sakit dan hotel tentu tetap ada aktivitas namun sangatlah dibatasi. Tanpa terasa mentari bergulir dan rona jingga senja mulai menghiasi langit. Malam pun menjelang, hanya bermodalkan penerangan seadanya. permainan tetap berlanjut, karambol menjadi permainan berikutnya. Aku sengaja keluar sejenak menikmati indahnya langit bertabur bintang. Sangat indah sekali kawan dan tentunya menenangkan hati serta pikiran, kuhembuskan rokok yang sedari tadi menemaniku bersamaan dengna secangkir kopi sachet rasa cappucino.

Nyepi kali ini ada aturan baru, jika tahun sebelumnya hanya siaran tivi saja yang dinonaktivkan. Maka tahun ini sinyal internet di ponsel pun ikut padam, sungguh suatu ide briliant yang bermanfaat positif kawan. dimana kita seharian dipaksa untuk tidak kecanduan perangkat nirkabel dan lebih mengenal satu sama lain secara langsung. Tentu bagi mereka yang berkeluarga, Nyepi adalah moment dimana bisa saling berkumpul seharian penuh tanpa terganggu aktivitas dari gadget dan rutinitas pekerjaan. Jika dinilai dari penghematan, maka banyak sekali kawan. karna tak ada aktivitas kendaraan, maka jelas polusi udara menurun sangat drastis dan tentunya menghemat pengeluaran bahan bakar minyak. Selain itu listrik pun lebih hemat karna sangat sedikit sekali pengeluaran daya listrik dalam sehari itu.

kawan-kawanku akhirnya pada ikut nimbrung menatap langit bertabur bintang. Kok…. udahan bro??? kataku pada seorang kawan yang menghampiriku. Biasa bro…. Istirahat dulu ntar lanjut lagi kata kawanku. lahh??? maen karambol lagi bro?? kataku membalas ucapan kawanku. Nggak bro… Ntar mau main domino, mau ikut nggak??? kawanku menimpali ucapanku. Okelaah…. Kalo domino aku ikutan bro, ucapku pada kawan disebelahku ini.

Salah satu kawan kostku berkata: Broo!!!!… Ada kemamang atau banaspati bro (sambil menunjuk kearah sawah sebelah kost)
Saya: Eeehhh!!!!…. Iya, beneran ada dua lagi yang muncul Pak Koshim
Pak Khosim: Kok satunya nggak nyala merah ya??? Tapi malah Biru itu apinya…
Dimas: iya juga ya!?!?!?…. Biasanya kan banaspati merah aja warnanya
Marwoto: cahaya Senter paling itu Bro??…..
Serempak kami menjawab….. mbahmu!!!…. itu udah jelas nyala api bukan senter Dul!!!
Pak Khosim: coba aku ambil senter dulu….. Pak Khosim pun melangkah menuju kamarnya mengambil senter
Marwoto: tapi kok lama-lama makin redup ya cahayanya….
Saya: iya tuch…. daritadi berduaan dipojokkan situ aja
Dimas: emang tadi dari arah mana Bro??….
Saya; kalo nggak salah dari arah pohon besar itu bro…. (sambil menunjukkan arah pohon besar tersebut)

Pak Khosim: Masih ada Bro??…. Coba aku senterin, gimana reaksinya???
Komang: Jangan pak Khosim!!!….. Jangan cari masalah, cukup lihat aja. karena hari ini kan milik mereka.
Pak Khosim: ( dengan tetap tak mengindahkan anjuran komang, diarahkan senter tersebut kearah kemamang itu) Ehhh!!!…. iya cuman api aja, aku kira orang iseng ke sawah bawa obor…..
Ketika dua banaspati itu mendapatkan sorotan dari lampu senter LED, seketika melesat bersamaan kembali kearah pohon besar yang ada di dekat sawah tersebut.

Saya: Yachh….. pak Khosim malah cari masalah!!! Saya nggak ikutan kalo ntar dicariin ama banaspatinya pak….
Komang: iya nie… Pak khosim usil jadi orang, awas nanti mau tidur dicariin ama penunggunya!!….
Pak khosim: haalllaaahhh!!!…. masa gitu aja takut mang, udah lihat aja ntar gimana??….

Setelah asyik mengobrol tak terasa waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam. permainan semakin memanas. yang kalah sekarang dijepit kupingnya pake jemuran biar makin greget. beruntungnya lokasi kamarku strategis, jadi banyak yang nimbrung di kamarku. kalo ada penggerebekan pasti terciduk semua sama pecalang. Broo!!! pintu kamar dibuka aja, gerah nie…. mana kita udah kayak ikan pindang gini plus asep rokok udah kayak kabut nie…. kataku pada Marwoto temanku.

Marwato: ntar keliatan ama pecalang gimana Bro?? kan terang gini
saya: udah buka aja…. Ntar lampu disini aja yang hidup, lainnya aku matiin dulu
Dimas: iya Bro!!!… buka aja gerah nie…
Marwoto: iya…Iya!!!… bawel amat kalian!!!…..

Permainan pun kembali berlanjut, hingga Tanpa disadari…. masuklah seekor kelelawar dengan warna agak kuning keemasan. Suara kepakan sayapnya terdengar. Kawanku Dimas segera menutup pintu kamar agar kelelawar ini tak dapat lolos.
Marwoto: Ini kelelawar langka atau malah jadi-jadian bro
Dimas: Bukan!!!…. jenis ini emang langka, mahal kalo dijual
Pak Khosim: nggak ada sapu lidi??…
Saya: sambil menyodorkan sajadah….. ini pak, adanya cuman ini saja.
WUUTTZZ!!!!…. WUTTZZ!!!…..WUUUUTTZZZ!!!…. Pak Khosim mengibas-kibaskan sajadah kearah kelelawar tersebut. tampaknya kelelawar itu pandai berkelit dari serangan pak khosim.hingga akhirnya PLAAAKK!!!!….. Kibasan Pak Khosim menggunakan sajadah tepat mengenai kelelawar itu.

Kelelawar itu terjatuh menabrak jendela yang tertutup gorden. Ternyata jendela itu terbuka dan jatuhlah kelelawar itu di depan. Dengan cekatan Marwoto yang sedari tadi berada di pintu segera membuka pintu untuk mengambil kelelawar itu. Tapi….. Aneh betul!!! Secepat itu kelelawar telah hilang tak berbekas. Terbilang tak masuk akal, harusnya terjatuh karna kibasan Pak Khosim tadi sangat telak dan keras mengenai kelelawar itu. Kenapa ini cepat sekali hilangnya kata Marwoto pada kami. Udah!!! Biarin aja sekarang lanjut lagi main dominonya kata kawanku Dimas.

Kami pun melanjutkan permainan hingga pukul tiga pagi. Satu persatu dari kawan-kawanku pamit untuk balik ke kamar masing-masing. Termasuk pula Pak Khosim yang sedari sejam lalu sudah menguap terus hingga berair matanya. Esok paginya, saat ke Warungnya Pak Khosim untuk sekedar membeli kopi sachet. Tampak Pak Khosim sedang tak enak badan. Aku pun bertanya pada Pak Khosim: Kenapa Pak??? Bukannya semalem sehat-sehat aja, kok keliatan menggigil gitu sekarang. Lalu Pak Khosim menceritakan kenapa bisa sampai sakit. Jadi…. Setelah kami bubar, Pak Khosim setibanya di kamar segera menunaikan shalat Isya dan wiridan sebentar. Setelah itu, Pak Khosim berniat untuk nyantai dulu di depan teras sambil rokokan karna rasa kantuknya tadi telah hilang.

Saat membuka pintu kamar, alangkah terkejutnya Pak Khosim didatangi oleh Banaspati atau kemamang yang tadi disenterinnya di sawah. Segera Pak Khosim menutup Pintu dan langsung naik ke kasur dan bersembunyi di dalam sarungnya. Terlihat jelas dari balik jendela kamar yang tertutup gorden putih itu, banaspati yang diganggunya tadi masih menunggu disitu. Dalam ketakutannya, Pak Khosim komat-kamit membaca doa agar makhluk gaib itu segera pergi. Tanpa terasa, Pak Khosim akhirnya tertidur dan melewatkan shalat subuh. Hingga saat terbangun, tiba-tiba badannya menggigil seperti terserang demam. Komang yang baru terbangun dan mendengar obrolan kami berkata: Makanya…. Pak Khosim dibilangin nggak mau dengerin. Jadinya dicari ama penunggunya kan semalem. Pak Khosim hanya bisa mengigil tak menjawab kata-kata Komang. Setelah itu aku membuat kopi dan menyalakan rokok mild kesukaanku sembari bersiap untuk berangkat bekerja.

Seminggu berlalu, sakit yang diderita Pak Khosim telah sembuh. Sempat diperiksakan ke Puskemas, kata dokter yang memeriksa malah sehat-sehat saja. Sehari setelah nyepi, aku pun langsung bekerja seperti biasanya. Tak masalah…. Lagipula pekerjaanku yang sekarang ini terbilang santai, hanya jarak tempuh saja yang cukup jauh. Sejujurnya aku menyukai saat mengendarai motor, seperti meditasi bagiku. Menikmati suasana jalan yang tak menentu, kadang lengang tapi lebih sering macet akhir-akhir ini. Proyek pembuatan Underpass di bundaran Bandara I Gusti Ngurah Rai, cukup membuat antrian kendaraan mengular. Lagipula jika aku mengambil libur lagi, paling sekedar lihat omed-omedan dimana dulu aku berdomisili di desa tersebut. Jadi sengaja saat sebelum nyepi ditawari akan libur dua hari atau sehari, aku memilih sehari saja.

Mengenang kembali masa mudaku saat Nyepi dimasa masih SMA. Saat itu, aku dan seorang pegawai Papaku sengaja membuat balon dari bahan dasar plastik. Berhubung saat itu, aku sedang gandrung sekali membuat layangan khas Bali. Maka sisa plastik lembaran untuk membungkus rangka layangan masih tersisa banyak sekali. Dibuatlah balon udara yang nanti bagian bawahnya diisi oleh sabut kelapa yang dibungkus oleh kaos singlet yang sebelumnya telah beberapa hari direndam minyak tanah agar makin meresap minyaknya. Sebenarnya tak ada niat untuk membuat kehebohan saat menyalakan balon itu di malam pengerupukan. Tengah malam pun akhirnya tiba, pegawai papaku dan aku sengaja membuat api kecil yang asapnya kami kipas-kipas agar memenuhi ruangan di dalam balon tersebut. Saat balon itu telah siap. Maka sabut kelapa yang tadi sebelumnya telah terpasang segera dinyalakan.

Balon berwarna hitam pekat itu telah mengembang sempurna. Segera kami angkat ke udara dan kami lepaskan. Balon itu naik perlahan dengan tegak lurus. Saat ketinggian kira-kira mencapai lebih dari tujuh meter, balon tersebut tertiup ke arah selatan mengikuti kemana angin berhembus. Naas…. Ada yang melihat itu sebagai banaspati…. Hingga akhirnya beberapa orang yang masih terjaga di malam pengerupukan setelah kembali dari mengarak-arak ogoh-ogoh langsung memukul kentongan di Banjar. Menandakan agar warga yang mendengar segera berkumpul dan mengejar banaspati atau orang sini lebih sering menyebutnya sebagai salah satu bagian dari ilmu pengleakan. Untungnya angin yang berhembus semakin membawa balon ciptaan kami membumbung makin tinggi.

Bisa ditebak…. Setelah malam nyepi berakhir, tersiar kabar jika setelah pawai ogoh-ogoh usai. Terlihat ada bola api sedang terbang diatas mereka. Jujur saja, saat itu aku takut mengakui kalo itu balon udara ciptaan kami. Bisa-bisa kami habis dimarahi atau malah dipukuli warga karna menciptakan kehebohan saat itu. Sisa dua balon yang belum kami terbangkan, karna warga sekitar sudah keburu heboh. Jadi kami sengaja menyimpannya dan saat tahun baru kembali kami naikkan dua balon yang tersisa. Tentu akhirnya, temanku Thoriq, Kadek dan Topan akhirnya tahu. Siapa dalang yang telah membuat kehebohan saat malam pengerupukan sebelum nyepi.

Nyepi di Masa aku SMA lebih kental suasana mistisnya, dan saat itu internet belum menjamur seperti sekarang ini. Buru-buru gadget canggih yang bisa internetan kawan!!! Bisa punya hape merk nokia tulalit aja udah keren, apalagi punya ponsel yang saat itu resolusi kameranya baru sebatas VGA dijamin dach…. Pasti anak orang kaya yang punya hape seperti itu. Sedangkan aku bagaimana??…. Hanya aku salah satu diantara tiga orang di kelas yang tak memiliki ponsel. Tapi dibalik semua keterbatasan itu, aku tak pernah merasa minder. Aku jalani hidupku sedari dulu dengan santai, bahkan beberapa kawanku mengatakan kalo hidupku ini terlalu santai. Padahal tiap orang pasti punya masalah dan hasrat keinginan, tergantung sedewasa dan sebijak apa menyikapi keadaan yang ditimpakan Tuhan kepada Kita.


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset