Kisah Hidupku episode 38

Bagian 38 Ramadhan Tahun Ini

Tanpa terasa dua tahun telah terlewati semenjak kepergian Mamaku. Kini bulan Ramadhan kembali telah berada dekat dipelupuk mata. Ramadhan adalah bulan yang selalu bisa membuat hatiku tersentak hebat. Entah kenapa??? Saat bulan Ramadhan tiba, ada suka cita dan kesedihan secara bersamaan. Suka cita menyambut datangnya bulan suci, dimana ALLAH SWT membuka selebar-lebarnya pintu surga dan royal dalam memberikan ganjaran pahala bagi umatNYA yang beribadah. Sedih…. Sedih tang kurasakan adalah bulan Ramadhan terlampau sejenak, saat harus berpisah ada getar kesedihan didadaku. Ditambah lagi kini, Mamaku telah tiada. Tak ada lagi suara cerewet Mama yang membangunkan sahur dan mengingatkan untuk menjaga shalat lima waktu serta memperbanyak ngaji. Tangis dalam diam saat Ramadhan tahun ini kembali memanggilku.

Jika kalian mengunjungi Bali saat bulan Ramadhan, maka di daerah Kampung Jawa yang berlokasi di jalan Ahmad Yani akan ramai sesak oleh kerumunan warga yang mayoritas beragama Islam membeli Takjil untuk berbuka puasa. Tempat kedua adalah di Monang-maning, disini untuk pembagian susunan administrasi suatu provinsi. Lingkup terkecil adalah Banjar. Banjar, adalah pembagian wilayah administratif di Provinsi Bali, Indonesia di bawah Kelurahan atau Desa, setingkat dengan Rukun Warga. Seingatku hanya wilayah perumahan di kampung jawa dan perumahan tentara yang menggunakan RT/RW, tempat lainnya di Bali memakai Banjar sebagai lingkup terkecil.

Kost yang aku tempati sekarang didominasi oleh kalangan usahawan wiraswasta. Ada yang mandor bangunan, pedagang sempol, pedagang Mainan dan ada juga pedagang Bakso. Lingkungan disini lebih seperti keluarga, Alhamdulilah susah senang masih saling berbagi. Yaa…. Walau tak dipungkiri yang suka bergunjing juga ada pastinya. Tapi itulah seninya kehidupan kawan, penuh dengan warna menghiasi perjalanan hidup. Hobi memancingku sudah agak jarang kulakukan, karna kesibukanku bekerja di tempat sekarang. Jadi hari libur lebih kupergunakan untuk beristirahat dan bermalas-malasan saja seharian di kamar kost.

Bulan suci ramadhan sedang berjalan, kebiasaan kami adalah jika salah satu dari kami ada yang bangun duluan. Maka tugasnya adalah menyambangi satu persatu kamar untuk membangunkan yang lain. Setelah itu, kami semua berkumpul di salah satu teras kamar kost menyantap hidangan sahur beramai-ramai sembari bercerita. Sayangnya, Ramadhan kali ini kuakui. Jika ibadahku sangat menurun drastis. Ada sedih yang tak dapat diungkapkan. Biasanya aku paling getol menjalankan ibadah wajib dan sunah jika bulan Ramadhan berlangsung. Efeknya, kelebihan yang kumiliki meningkat sangat pesat. Lebih tajam dibanding bulan lainnya saat menjalankan laku spiritual sesuai tuntunan agamaku. Ramadhan di tahun ini ibadahku yang mengendur, turut berimbas pada kelebihan yang aku miliki. Tapi kelebihanku ini termasuk aneh kawan….. Jika, aku kembali minum-minuman keras. Imbasnya adalah seminggu setelah berhenti, penglihatanku menjadi jelas. Bahkan tak jarang siang pun dapat melihat mereka yang tak kasat mata dalam wujud menyerupai mereka.

Tentunya membuatku menjadi sangat tak nyaman, aku jadi agak sulit membedakan mana manusia dan yang bukan. Selain itu juga, takutnya dikira orang nggak waras saat ada yang mengajakku ngobrol ternyata adalah makhluk gaib yang orang laintak dapat melihat. Kejadian itu akan berlangsung dari seminggu setelah aku berhenti melakukan maksiat hingga 40 hari berikutnya. Setelah itu, aku baru bisa menjalani hidupku seperti orang normal pada umumnya. Jika sudah mengalami keadaan begitu, aku lebih memilih untuk lebih banyak diam saja dan mengurangi berbicara. Efek positivenya adalah sebagai kontrol bagi diriku agar tak lepas kendali, bayangkan jika batasan itu tak kuindahkan. Mungkin aku sudah mengalami gangguan kejiwaan karna bingung membedakan mana yang kasat mata dan mana yang tidak. Lhaa…. Wong kuburan aja kadang pas sedang terbuka penglihatanku, malah kulihat sebagai sebuah perumahan.

Ketika bulan Ramadhan, para setan dibelenggu dan dimasukkan ke dalam neraka. Tapi kenapa tempat-tempat maksiat tetap merajalela??…. Bahkan saat siang hari di bulan Ramadhan aja manusia masih bisa kesurupan Jin, kalian pernah melihatnya?? Saya pernah kawan. Aku disini bukan mempertentangkan apa yang agama telah tuliskan dan tak perlu kita semua perdebatkan. Setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing dan saling memahami serta menjaga kerukunan terutama yang seiman itu lebih baik kawan.

Malam itu selepas kuselesaikan kerjaanku, seperti biasanya aku mengembalikan kunci lapak terlebih dahulu. Tak ada yang ganjil selama perjalanan pulang ke kost, jalanan saat itu masih terbilang ramai di By Pass Ngurah Rai. Padahal biasanya diatas jam sembilan malam, aku bisa lewat jalan ini dengan agak cepat karna jalanan sudah lengang. Maklumlah…. Imbas dari proyek underpass di bundaran Bandara jadi aktivitas kendaraan bermotor tersendat. Bundaran tersebut sengaja dibuatkan jalur underpass karna selalu terjadi penumpukan kendaraan bermotor, terutama saat jam sibuk.

Dengan kemacetan seperti ini tentu bisa hampir satu setengah jam baru sampai ke kost. Motor bebek bututku meliuk-liuk diantara kendaraan yang terjebak kemacetan, untungnya ada abang ojol didepan. Jadi ada voorider yang bisa aku ikuti. Lepas dari jalan by pass aku memilih melewati jalan taman pancing. Jalan yang minim penerangan tapi pengendara yang melintas rata-rata hampir 60 km per jam. Ditemani alunan musik dari headset yang menemani perjalananku pulang. Akhirnya aku tiba di desa tempat aku kost. Pastinya jalan yang kulalui harus melewati tanjakan letter S yang terkenal dengan cerita mistisnya.

Dibelakangku ada seorang pengendara motor lain yang mengikuti. Tiba-tiba hidungku mencium bau terasi busuk, HUUEEKKZZZ!!!….. Kogosok-gosok hidungku, baunya tetap saja mengikuti dan kucium tanganku tidak bau terasi. SIALAAN!!!….. Ada aja setan yang ngikut, Umpatku saat itu. Bau itu baru hilang sesaat aku akan memasuki gang kostku. Apesnya tidak sekali saja terjadi. Esok malamnya, aku sengaja pulang lebih awal. Kali ini malah bau harum bunga melati dan pandan yang mengikutiku. Hanya bisa ngedumel…. SEMPRUULLL!!!!….. SEMPRULL!!!…. Kok ya dari kemarin ngikutin aja!!!

Puncaknya pada hari ketiga, saat akan melewati tanjakan letter S itu. Aku melewati jalan menurun setelah rumah makan Babi Guling Bu…. Dibelakangku tepat ada pengendara matic, sinar lampu yang terpantul ke spionku cukup menyilaukan. Sengaja aku angkat sedikit agar tak silau, otomatis sisi belakang pundakku terlihat di spion. Tatkala aku melihat spion…. Tiba-tiba!!! Ada sesosok makhluk gaib yang ikut membonceng di jok belakang motorku. HUUUAAAA!!!!…. HAAHAHAHAAA!!!!….. Begitu terdengar suara makhluk gaib di belakangku mengagetkan pengendara matic yang pas akan menyalip dari sisi kananku.

Kulihat dari spion pengendara matic tadi kaget, karna dia pasti jelas melihat aku yang didepan tidak membonceng siapa pun, namun ketika akan disalip. Tiba-tiba ada makhluk lain yang ikut membonceng, walaupun tidak menunjukkan mula seram. Tentu saja dia pasti terkejut sekali. Sesampainya diatas, segera kuhentikan motorku dan turun sejenak sambil melihat ke jok belakang yang ternyata sudah kosong. Pengendara matic yang tadi akan menyalipku pun terlihat berhenti dibelakangku dengan jarak agak jauh dariku. Kulajukan kembali motorku dan pengendara matic dibelakangku, sama sekali tak berani menyalipku kembali.

Setibanya aku di kost, kuceritakan kejadian yang kualami tadi. Teman-temanku pada tidak ada yang percaya. Karna bagi mereka, bukannya di Bulan Ramadhan ini semua setan dibelenggu di neraka. Wallahu A’lam….. Hanya Tuhan yang tahu kataku pada mereka. Bukankah dari bangsa jin pun juga ada yang muslim dan pastinya mereka juga berpuasa. Iya juga sich… Jawab salah satu temanku. Lagipula hal seperti ini juga wajar, buktinya…. Klub malam dan tempat hiburan malam lainnya masih buka. Udahlaahhh…. Kalo nggak percaya juga nggak apa-apa, tiap orang punya pemikiran dan pendapat masing-masing. Pagi nanti sahur pake lauk apa nie?? Kataku melanjutkan ucapanku tadi. Masak mie goreng ama ikan asin aja bro. Kata Bu Khosim istri Pak Khosim.

Tak terasa lebaran telah tiba, sebenarnya aku ingin menghabiskan libur lebaran di kota Jember. Tetapi, seorang kawan dari kota Pahlawan memintaku untuk tak pergi ke Jember. Menemani Dia dan suaminya berlibur di Bali. Lumayan…. Bisa kecipratan karna pastinya butuh mobil selama di Bali. Gema takbir berkumandang, sedih dan sesak memenuhi dadaku. Aku hanya bisa menelepon Papa dan adekku si kembar. Mengabarkan kalo tahun ini pun belum bisa pulang dan berembug rencana untuk mengadakan pengajian seribu hari Alm. Mamaku yang nanti akan diadakan sederhana di kost dengan teman-teman di kost saja.

Lebaran tahun ini tak seperti tahun kemarin. Tahun ini lebih banyak umat muslim yang tak pulang ke kampung halaman. Jadi tak sesepi tahun kemarin, banyak yang tak pulang kampung karna libur lebaran tahun ini mepet dengan pendaftaran masuk sekolah. Jadi daripada pulang kampung tapi anak tak bisa bersekolah, lebih baik tidak pulang kampung saja. Penghuni kost hanya tersisa tiga kamar saja yang tak mudik. Hanya aku saja yang beragama Islam yang tak mudik ke kampung halaman sedangkan dua penghuni kamar lainnya, mereka tidak mudik karna berbeda agama denganku.
Kawanku sekamar si Dimas yang mengajakku untuk berlibur di Kampung halamannya Jember pun telah pulang tiga hari sebelum lebaran. Praktis di kamar hanya aku sendirian saja, libur kerjaku dimulai sehari sebelum lebaran hingga sepuluh hari setelah lebaran.

Kusempatkan untuk bertemu dengan kawanku dari kota Pahlawan. Setelah mengobrol sebentar, aku diminta menemani untuk ke kawasan seminyak. Sekedar menikmati menu masakan eropa dan kemudian berlanjut menikmati dentuman musik DJ di Lavafela. Baru kembali ke kost pukul lima pagi. Di Lavafela hanya sekedar menikmati musik saja, lagipula aku sedang tidak berminat untuk minum. Penyebab utamanya adalah gigiku yang berlubang akan menimbulkan efek nyeri yang tak terkira esok harinya. Jadi aku lebih memilih untuk sekedar menikmati musik dan riuh ramainya pengunjung yang berjoged mengikuti alunan musik dari sang DJ. Seharian kuhabiskan dengan tidur saja, badanku terasa lelah karna semalaman begadang.

Malam harinya, kost yang hanya dihuni oleh tiga penghuni kamar saja. Otomatis jam sembilan malam sudah sepi sekali dan saat jam satu malam, saat aku asyik menonton tivi. Kudengar ada suara orang yang sedang mengobrol di gang kost. Suara sepasang muda-mudi yang tak kukenal, kubuka pintu dan tak terlihat ada yang sedang mengobrol. Suara yang kudengar tadi pun mendadak senyap. Jam tiga pagi, aku belum bisa tertidur. Aku masih menonton film yang diputar oleh salah satu stasiun tivi swasta. Ciaakk….. Ciiiaaak…. Ciiiaakk…. Tersengar suara anak ayam dan kemudian terdengar Huu…. Huuhhuuu…. Huuhhu!!!… Suara seorang perempuan menangis.

Aseeem!!! Sekarang malah mbak Kunti lagi yang bikin ulah, biarin ajalah. Paling habis diomelin cowoknya atau habis putus sama cowoknya itu mbak kunti. Gumamku dalam batin saat itu, aku pun tetap asyik menonton tivi yang kebetulan saat itu sedang klimaks cerita. Hampir setiap malam, setelah lebaran itu aku agak terganggu dengan beberapa keusilan makhluk astral penghuni kostku sekarang. Siang harinya, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan memancing ikan gabus, wader dan lele. Hasilnya lebih dari cukup untuk makan aku seorang saja. Alam Bali sangat kaya dan terjaga kawan, jadi jika hanya memancing akan sangat mudah untuk mendapatkan ikan. Tapi ingat jangan dijala dengan jaring apalagi disetrum dan diobat dengan obat kimia. Kalian bisa habis dikepruk jika berani melakukan hal tersebut.

Libur lebaran telah usai dan aku kembali dengan rutinitas pekerjaanku. Masih tersisa kemalasan selama libur lebaran, lagipula masih sepi orderan jadi aku lebih banyak menghabiskan waktu didepan layar monitor kerjaku untuk sekedar buka FB dan berbalas komentar dari status yang berseliweran di linimasa FB ku. Setelah seminggu, baru aku bisa kembali beraktivitas dengan normal seperti sedia kala. Teman-teman di kostku satu demi satu mulai berdatangan dari kampung halaman mereka.


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset