Kisah Hidupku episode 4

Bagian 4 Hijrah Ke Pulau Seberang

Pernah suatu ketika aku bertanya kepada eyang putri….
Saya: mbah Ibu…. Islam nduwe Tuhan, Kristen nduwe Tuhan, hindu nduwe Tuhan, Budha yo nduwe Tuhan, dadi Tuhan sing bener iki milik sopo?? (mbah Ibu….. Islam punya Tuhan, Kristen punya Tuhan, hindu punya Tuhan dan Budha juga punya Tuhan. Jadi Tuhan yang benar itu milik siapa???…..)
Mbah Ibu: ngene wae, sesok mbah ajak koe neng gon ngaji ning langgar kunu yo…. Ben koe lebih ngerti sopo Tuhanmu (gini aja besok mbah ajak kamu ke tempat ngaji di langgar (mushola) sana ya….. Biar kamu lebih mengenal Tuhanmu.)
Entah kenapa….. Aku yang sekecil itu bisa bertanya demikian???…. Basic keluarga mamaku adalah Nasrani, kemudian mamaku menikah dengan papaku yang seorang muslim dan tentunya mamaku ikut agama papaku. Demikian pula dengan aku dan semua adik-adikku, kami semua Alhamdulilah beragama Islam.

Kedua orang tuaku datang lagi, seperti sebelumnya…. Aku dan adik ku takut ketika mereka datang. Karna jelas aku tidak mengenal dekat dengan mereka, hingga akhirnya kedua orang tuaku berlibur cukup lama sampai aku dan adik ku bisa mengenal siapa mereka sebenarnya dan bisa menerima mereka sebagai kedua orangtuaku.
Saat yang dinantikan tiba…. Aku dan adikku harus berpisah dengan mbah Ibu dan mbah Kung, sekecil itu yang bisa kulakukan tentu hanya menangis. Cengeng ya aku semasa kecil hehehehehe…… naiklah kami didalam bus, yang kuingat saat itu aku duduk dipangkuan mamaku dan adikku duduk dipangkuan papaku. Tak terasa sudah menaiki kapal laut, itu pengalaman pertamaku naik kapal laut. Akhirnya aku, adikku dan kedua orangtuaku telah sampai di terminal Ubung. Yaaa…. Betul, aku telah menjejakkan kaki mungilku di pulau dewata bali saat masih berusia 5 tahun.

Aku ingat betul…. Saat itu hujan mulai turun, sambil menunggu taksi datang, kami sekeluarga berteduh disalah satu warung yang ada di terminal itu, taksi pun datang. Sebelum masuk ke taksi sempat aku lap kaca taksi itu menggunakan lengan jaket yang kupakai, dimarahinya aku oleh mamaku saat itu. Selalu terlintas dipikiranku, apakah aku akan punya teman nanti dikota ini??…. Karna yang aku tahu temanku hanyalah adikku ini. Kami sering sekali bertengkar seperti tom and jerry, yaa….. Hanya sekelumit saja yang bisa kuingat dalam perjalanan ke pulau Dewata.
Beberapa hari di Bali tepatnya di ibukota pulau Bali ini, aku mulai mendapatkan teman. Bahkan diantara mereka adalah teman-teman yang sampai saat ini menjadi seperti saudara sendiri bagiku. Mereka adalah Toriqh, Topan, Kadek, komang dan juga Doni, merekalah teman bermainku semasa kecil. Mamaku selalu berpesan jika aku main dengan mereka, jangan mau jika ada orang tak dikenal ngajak jalan-jalan. Sayangnya kekhawatiran mamaku terjadi saat bermain batulima dengan kawan-kawanku, tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan seorang kakek tua disebelahku yang ingin mengajakku jalan-jalan.

Kakek: nak ikut kakek ya….. Nanti kakek belikan mainan
Saya: nggak kek, saya nggak boleh ikut dengan orang yang nggak dikenal
Kakek: aku ini tetangga orangtuamu, nanti kakek antar pulang ya….
Saya: ndak kek….. Saya ndak brani
Topan yang ikut sembunyi bersama ku kaget…..
Topan: kamu ngomong sama siapa???…. Kita cuman berdua aja ngumpet disini ndak ada orang lain
Saya: ada kok Pan…… Itu ada mbah-mbah, sambil nunjuk kearah kakek tersebut.
Topan: mana ndak ada San, jangan ngaco kamu, udah kita pindah aja ngumpetnya.

Kejadian ini sebenarnya sering sekali, kadang tatkala senja mulai meninggalkan langit menyisakan semburat jingga dilangit yang mulai nampak kelam, terdengarlah suara ringkikan kuda hiii….. Hiiiikk…hiii….hiiikkkk…. Sering kali aku menanyakan itu pada mamaku. Karna jaman itu jalan depan rumah kedua orang tuaku kecil dan masih berbatu, itupun hanya cukup dilewati oleh dua motor yang berpapasan, jika salah dikit bisa kecemplung got, belum lagi depan rumahku persis itu kebun dengan pepohonan kelapa yang sangat rapat yang konon disitu adalah salah satu jalan menuju kampung ghaib. Namun mamaku selalu mengatakan padaku, mana???…. Ndak ada suara kuda, jangan aneh-aneh…. Udah nonton tv aja sana, jangan berantem sama adekmu. Papaku bekerja secara wiraswasta, membuat order pesanan tamu dari luar negeri. Jadi rumah kedua orang tuaku bisa dikatakan luas karna pas dibelakang rumah adalah tempat kerja papaku.

Saat pertama kali masuk ke rumah itu, aku sama sekali belum mendapatkan perkenalan dengan makhluk gaib. Malah sebenarnya setelah itu akan sering sekali terjadi teror godaan dari makhluk gaib, namun beberapa diantaranya mereka yang terkena teror adalah mereka yang bekerja pada papa san mamaku tapi berlaku culas. Pernah aku melihat dengan mata mungilku, seorang pembantu mamaku kesurupan. Suaranya berubah menjadi laki-laki terkadang mengeram bagai seekor macan. Jika sudah kesurupan, air bak mandi satu gentong besar diminumnya hingga habis tak bersisa.
Seringkali kedua orang tuaku memanggil salah seorang Ustadz yang memiliki ilmu tinggi untuk mengatasi kejadian kesurupan yang sering terjadi di rumahku. Entah mengapa jika dipanggilkan ustadz atau malah orang pintar selalu tidak mempan bahkan kalah dengan Jin yang merasuki pembantu di rumahku. Kesurupan itu terjadi lagi Bi Inah mengerang layaknya seekor macan aaaaarrrr…..aaaaarrrhh….aaaarrrhh…. 4 orang karyawan papaku memegang Bi Inah sangat kewalahan, tenaganya seperti 10 kali lipat dari orang dewasa. Disaat genting berangkatlah papaku ke rumah Pak Ustadz yang biasa menangani kesurupan di rumahku, karna rumahnya tak jauh dari rumah kedua orangtuaku. Begitu sampai langsung dipegangnya kepala Bi Inah yang kerasukan seraya berkata:

Pak Ustadz: kamu ini senang sekali mengganggu keluarga ini….. Mau kamu apa
Bi Inah: aaarrrrgg….. Aaaarrrrgh….. Aku mau orang ini kapok, dia sudah berbuat jahat pada keluarga ini.
Pak Ustadz: kenapa kamu membantu keluarga ini??…… Apakah keluarga ini minta pertolongan kepadamu??….
Bi Inah: tidak….. Aaaarrrrgg…. Mereka tidak meminta, tapi ini tugasku
Pak Ustadz: siapa yang menugaskanmu
Bi Inah: kamu tidak perlu tau….. Yang jelas leluhurnya adalah Guruku dan Dia yang memintaku untuk menjaga anak Cucunya kelak.
Pak Ustadz: jadi kamu ini bangsa jin yang beragama Islam???
Bi Inah: iya….. Aaaarrrgg…. Aaaarrrgh….. Aku ini dimuslimkan oleh leluhurnya dan berguru agama Islam pada leluhurnya
Pak Ustadz: baiklah….. Kamu mau keluar??? Atau saya yang keluarkan kamu dari Raga ini???
Bi inah: haaahahahaha….. Hahahahaha….. Kamu nantang aku?? Ilmu mu itu masih jauh dibawahku
Pak Ustadz: baik…. Kita selesaikan dihalaman belakang jangan disini.

Digiringlah Bi inah yang kesurupan di halaman belakang, sambil berteriak dengan suara parau yang berat…. LEPAASS…. Aku bisa jalan sendiri. Pak Ustadz pun bersiap-siap pasang kuda-kuda untuk menghadapi Jin yang merasuki Raga Bi Inah.
CIIIIAAATT….. Secepat kilat Pak Ustadz melancarkan tendangan dan beberapa pukulan kearah Bi Inah, namun dengan mudah dihindari. Kini gantian Bi Inah yang kesurupan menyerang dengan jurus laksana gerakan jurus harimau, untungnya Pak Ustadz masih mampu menepis serangan demi serangan yang dilancarkan, walaupun sebenarnya sudah mulai kewalahan menghadapi jurus demi jurus yang dilancarkan sang Jin. Saat kuda-kuda Pak Ustadz terlihat goyah, ditendangnya hingga terjungkal. Begitu akan melanjutkan dengan serangan pukulan mengarah ke wajah pak Ustadz, dengan refleks ditangkis menggunakan tangan kiri dan ternyata tangan kanan Pak Ustadz sudah lebih dulu melancarkan pukulan hingga menghantam perut Bi Inah dan akhirnya terpental beberapa meter di depan Pak Ustadz.
Lumayan juga ilmu pencak dan tenaga dalammy orang tua….. Baiklah aku akan keluar dari raga perempuan ini dan ingat setelah ini harus kamu usir perempuan ini jika tidak aku akan membuatnya MATI….

Seketika itu robohlah tubuh Bi Inah ke tanah dan segera beberapa lelaki karyawan papaku menggotongnya dan memindahkannya kedalam. Kemudian disaat yang bersamaan digotongnya Bi Inah Pak Ustadz memandang tepat dibelakang robohnya Bi Inah tadi terlihat jelas sesosok lelaki berperawakan tinggi besar, gagah dan kekar, berkumis lebat seperti Pak Raden serta berpakaian layaknya warog dari pulau garam dengan ditemani sepasang harimau, dimana salah satunya adalah seekor harimau putih. Aku yang masih kecil dan ketakutan saat itu sedang bersembunyi dibelakang kaki mamaku sempat melihat sekilas penampakan Jin tersebut, antara Pak Ustadz dan Jin tersebut hanya saling berpandangan lalu kemudian menghilang dari hadapan.

Begitu Bi Inah sadar dan masih lemas seperti orang yang kelelahan sangat hebat karna bekerja terlalu berat dengan masih ditemani oleh mamaku dikamar. Pak Ustadz memanggil untuk berbicara dengan papa dan mamaku diruang tamu sederhana, sangat kuingat saat itu jin yang merasuki mengatakan dia adalah jin yang sekarang bersemayam di sumur belakang kamar mandi. Jin tersebut ditugaskan untuk melindungi keluarga kami tapi tak hanya keluarga kami saja, jadi Jin ini sering berkeliling untuk menjaga semua keturunan dari leluhur kami dan itu diamini juga oleh Papaku yang ternyata juga memiliki penglihatan sepertiku. Anakmu ini memiliki bakat lebih, semoga tidak salah jalan hidupnya karna nanti dia akan menjadi orang besar di negeri ini. Lagi dan lagi….. Kata-kata itu terdengar ditelingaku. Aku yang masih kecil hanya bisa menyimpannya dalam alam pikiran dan sempat berkata dalam hati pada diriku sendiri, mungkin nanti saat aku besar (dewasa) akan menemukan jawabannya.


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset