Kisah Hidupku episode 7

Bagian 7 Ada Cerita Dimasa SMA

Putih biru telah berganti jadi putih abu-abu, sialnya saya terjebak mengikuti MOS (masa orientasi siswa) yang tak lebih hanya sebagai penggojlokan yang terfasilitasi. Dibalik semua itu ternyata ada berkahnya, karna saya bertemu dengan beberapa teman SD dan juga teman SMP. Maklumlah….. Bali itu pulau kecil apalagi hanya seputaran Denpasar pasti bakal ada yang namanya loe…. Lagi…. Loe…. Lagi kawan. Tahun 2002 awal melangkah menjadi siswa SMA disalah satu SMA Negeri di Denpasar, menyenangkan. Dapat bertemu kawan lama dan juga kawan baru lagi. Masa ini adalah masa menyenangkan dan juga masanya pencarian jati diri, haus akan hal-hal baru dan tantangan yang tentunya memacu adrenaline.

Masuk masa SMA awal penerapan sistem semester menggantikan sistem caturwulan dalam kurikulum belajar mengajar di sekolah. Kelas 1 terpaksa harus dijalani siang hari, hal ini terjadi karna saat itu sedang terjadi perombakan gedung besar-besaran demi menampung jumlah siswa baru yang membludag. Seingat saya Angkatan sebelum saya hanya 5 kelas, sedangkan angkatanku menjadi 13 kelas dengan rata-rata per kelas berisi 50 orang siswa dan siswa. Perombakan dilakukan tak hanya untuk menampung jumlah siswa yang banyak, akan tetapi juga untuk menjadikan sekolah ini lebih nyaman bagi para guru dan siswa. Extra kurikuler kegemaranku masih tetap kujalani kawan, biasanya diadakan di hari minggu di rumah sang pelatih. Menelusuri bagian perbagian dari sekolah ini, ternyata banyak juga makhluk gaib yang tinggal. Terutama dibagian aula sekolahan terasa penunggu gaib disitu adalah seekor ular yang sangat besar. Tower sekolah ada kakek-kakek wara-wiri, ruang lab dan kelas paling belakang ada sosok mbak Kunti. Kawan baru lagi dan tentunya banyak bertaburan gadis-gadis cantik, sungguh masa yang menyenangkan kala SMA.

Kelas 1 ada seorang gadis yang aku sukai, tubuhnya proporsional dengan rambut sedikit ikal dengan wajah khas timur tengah. Pengalaman lucu sempat terjadi saat pelajaran agama Islam, karna kita semua yang muslim dikumpulkan menjadi satu di ruangan perpustakaan dari kelas 1 sampai kelas 3 dan kami yang masih kelas 1 terpaksa masuk lebih awal untuk mengikuti mata pelajaran agama Islam. Saat menunggu guru agama Islam datang mengajar, kami sibuk membaca buku yang ada di perpustakaan dan saya lebih memilih membaca koran pagi tadi sambil sesekali melihat berita di tivi saat itu siaran tivi lagi tivi di sedang menayangkan acara bang napi. Biasalah….. Reflek saat melihat berita pem*rkos**an sebut saja dia Bunga, saya menoleh kearah tivi. Abis itu disahutin ama kakak kelas 3 yang pas duduk disebelah, sambil berkata Hayoo….. Seneng nonton berita beginian ya??….

Saya: (mbatin dalam hati….. Siyaall, nie cewe nyaut aja tapi cantik sich) heheehehehe….. Namanya juga reflek Kak penasaran aja
Intan: halaaah…. Ngeles, oiyaa kenalkan aku Intan.
Saya: salam kenal juga kak, saya J…… Santoso
Setelah itu kita sedikit akrab dengan perkenalan yang sebenarnya hanya basa-basi belaka, hingga Dia bertanya….
Intan: eehhh…. Nomer hape kamu berapa??
Saya: maaf kak….. Saya ndak punya hape
Intan: yaellaaaahh…. Haree gene??… ndak punya hape!!! Helloow???…. ndak punya hape apa pelit nie kasih nomernya???
Saya: beneran kak, saya ndak punya hape. Adanya telepon rumah itu pun telepon rumah milik orang tua saya, bukan milik saya.
Intan: dasar pelit!!!….. (Sembari menjulurkan lidahnya lalu berdiri dari bangku sebelahku sambil mengipas-ngipaskan rambutnya yang hitam lurus kayak iklan shampoo eeehh…. Tepatnya abis dicatok hehehehehe…..  lalu pindah ke bangku dekat pegawai perpustakaan.

Hanya bisa mbatin…. Ada-ada saja ini cewek…. Guru agamaku pun datang, memperkenalkan diri dengan nama Pak Samanhudi. Yaa…. Dalam cerita ini kalian cukup mengenalnya dengan nama itu, walaupun bukan nama sebenarnya yang aku tulis. Setelah 1 semester berlalu, bersyukur nilai agamaku bagus, alhasil malah kena tugas tambahan dari guru agamaku untuk membantu mengoreksi jawaban ujian semua murid dan sebagai upahnya, saya bebas sesuka hati untuk ikut atau tidak?? pelajaran agama serta nilai agama dijamin bagus terus. Sssstttt!!!….. Tapi ini rahasia antara kita ya kawan pembaca sekalian hehehehehe……. Mohon maaf juga jika ternyata ada kawan SMA saya disini yang membaca tulisan ini dan tahu, ternyata yang mengoreksi nilai ujian agama dan memberikan kata-kata manis di soal ujiannya bisa jadi itu saya . Merasakan juga yang namanya senioritas kakak kelas maupun teman sekelas yang memiliki kuasa lebih di sekolah.

Kelas 1 ini saya pulang pergi berjalan kaki saja karna jarak sekolah dengan rumah dekat hanya 2 kilometer. Kenapa tidak naik sepeda??…. Karna sepedaku beralih fungsi jadi kendaraan bagi karyawan papaku saat ingin keluar entah main ke temannya atau nonton orkes di pasar malam. Karna jelas lebih aman, siapa juga yang mau nyolong sepeda butut. Lagipula aku senang berjalan kaki karna tiap pagi dan siang bisa lihat serombongan calon-calon suster cantik lengkap dengan pakain suster putih dan rok diatas lutut dengan warna senada yang berangkat atau baru pulang dari sekolah di Akper (Akademi Keperawatan) mengendarai sepeda gayung. You knowlaah what i mind gaaess….. Biasa penyegar mata siang hari. Ditambah masa itu pagi di kota denpasar masih sepi dan riuh suara tegur sapa saat saling berpapasan jalan. Kelas 1 saya lebih sering jadi korban disuruh-suruh oleh mereka yang berduit untuk berbelanja, tapi enaknya pasti ada komisinya jadi yaa…. Saya kerjakan saja toh menghasilkan.

Kelas 1 naik tanpa hambatan, di kelas 2 ini bersyukur dibelikan sebuah sepeda motor bebek, walaupun bukan motor yang trend di tahun 2003 tapi saya sangat senang. Pintarnya papaku, karna aku belum punya SIM malah sering banget disuruh jemput si kembar adekku yang bontot pulang sekolah. Setelah itu mengantarkan kain batik ke garment di daerah oberoi-seminyak. Terbukti efektif, jadi keinginan keluar bawa motor tercapai dan tujuannya jelas, padahal takut juga kalo ketilang, tapi papa bilang kalo ketilang minta surat tilang aja jangan mau kasih bayar ditempat. Di masa ini badai hidup mulai menggoyahkan. Adik keduaku Santi harus menjalani operasi ke jakarta dan memakan waktu cukup lama. Saya hanya ditinggal dengan adik pertama dan si kembar beruntung, mbah Ibu atau kemudian saya menyebutnya eyang putri mengurus kami.

Ingat betul saat itu uang tidak sampai sejuta untuk sebulan, sebenarnya lebih dari cukup jika untuk sebulan. Untuk biaya makan 5 orang plus biaya SPP, ternyata hingga 2 bulan berikutnya masih harus di Jakarta untuk kontrol. Dengan sangat terpaksa kedua orang tuaku harus disana dul. Beruntung ada sodara kakek yang tinggal di daerah Menteng, jadi tidak pusing biaya tinggal selama disana. Kami disini sudah mulai kelimpungan. Orderan batik dari tamu asing papaku saat itu lagi sepi, apalagi habis kejadian bom bali pertama, jadi tak ada satupun pegawai yang di rumah. Mereka masih berkelana ke juragan batik lainnya mengumpulkan impian hari tua. Bolos sekolah, jangan ditanya hari ini bikin surat sakit, besoknya ijin esoknya lagi tanpa keterangan alias alpa otomatis seminggu absensi di papan sekolah bagi yang tidak masuk jadi SIA SIA selama sebulan. Ya…. Inilah masa badung yang kujalani. Hampir diberikan surat cinta oleh Guru BK (bagian kesiswaan) akhirnya saya mulai masuk sekolah. Perubahan terjadi, awalnya jadi pesuruh berakhir jadi tukang palak. Jahatnya yang saya palakinmulai adik kelas, teman seangkatan dan kakak kelas.

Dengan cara halus tentunya, anehnya mereka nurut saja, saya curiga ketika itu menggunakan ilmu keenam untuk mempengaruhi mereka atau mungkin muka saya ini kacung miskin jadi mereka mudah memberikannya???…… Jika ada yang bertanya nggak takut salah malak ternyata dia jago beladiri???….. Beruntung sekali tidak terjadi, malah mereka tahu saya sedang kesusahan terutama dalam hal keuangan. Sering mereka membantuku dan tutup mata jika aku harus malak ke teman-teman yang lain. I have power mungkin itu ungkapan yang tepat???…..
Sssstttt…… Akan kuberitahukan 1 lagi rahasiaku saat masih sebagai anak badung dulu. Biasanya saya dan beberapa sahabat karib sedari kecil menjerat Wedus balap atau kambing kota yang liar di jalanan, bukan mencuri dari rumah orang. Kemudian dijual ke rumah makan yang menyediakan menu tersebut. Selain wedus balap kadang menjerat biawak, hasilnya lumayan. Sahabat-sahabatku malah tidak meminta sepeserpun hasil jerih payah mereka, kata mereka….kamu butuh duit, kita ini sudah saling kenal sejak kecil, dari masih ingusan sampe ketahuan baca stensilan 3 ribuan ramai-ramai di kebon belakang. Susah senang kita lalui….. Udah ndak usah dipikirin, entar malem kita kudu beraksi lagi sikat wedus balap lagi buat nambah keuanganmu.

Kalian mau bilang perbuatan saya ini Biadab????…… Jahat???….. Uang yang didapatkan Haram…. Iya saya akui itu. Silahkan saja tak mengapa…. Aku tidak dendam pada kalian kawan, karna aku tahu kalian tidak berada dalam posisiku. Apa yang bisa kulakukan saat itu???…. Remaja 17 tahun dengan keuangan morat-marit tanpa keahlian. Keahlian beladiriku juga masih kalah dengan teman-teman di perguruan. Jam terbang mereka lebih tinggi, beberapa kali seleksi juga kalah point. Apalagi saat itu sedang gencarnya diutamakan putra-putri daerah yang berprestasi dan saya akui prestasi mereka sangat bagus bahkan sampai bisa membawa pulang medali emas saat PON yang diadakan tahun itu, tapi mereka sangat baik padaku, sama sekali tak membedakan suku ras dan Agama. Nunggu kiriman uang juga tidak mungkin, duit buat berobat dan operasi papaku dapatkan dari menggadaikan rumah warisan orang tuanya dan itu sangat tidak cukup bila harus berbagi dengan kami.

Kami yang ditinggalkan hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa dalam tiap shalat bahkan aku sempatkan menyelipkan doaku disepertiga malam. Masa SMA ini saya tidak merokok apalagi minum-minuman keras seperti teman-teman sebayaku. Doa kami terkabul, adekku pulang dengan selamat. Meskipun dokter menganjurkan untuk enam bulan berikutnya kontrol lagi kemudian setahun berikutnya setiap tahun hingga tiga tahun untuk melihat apakah sel kankernya sudah benar-benar hilang.
Hubunganku dengan Ririe…. Oiya sampai lupa kawan, Ririe itu gadis yang aku taksir dulu. Berwajah timur tengah dengan cantiknya yang natural. Ririe Semakin lengket bahkan kadang sedikit berani, bayangkan saja…… lagi asyik-asyiknya ngobrol di depan kelas. Sebagai gambaran kawan tiap kelas kami biasanya ada kursi panjang permanen dan taman persegi di depannya, biasa dipakai buat duduk sambil ngobrol.

Kala itu aku sedang asyiknya ngobrol dengan teman-teman cowok satu geng depan kelas. Tiba-tiba Ririe datang dengan tenangnya langsung duduk dipangkuanku dan mengambil permen lolipop yang ada dimulutku. Dikulumnya permen tersebut habis itu malah dibalikin lagi dimasukin ke mulutku. Awalnya…. ya risih dan malu banget diledekin teman-teman sekelas. Ciiiyyeeehh!!!….. Suami istri mesranya, belom malem jumat ini masih senin bro!!!….. Tapi saya lebih memilih diam tak menanggapi, hanya menganggap angin lalu dan Ririe yang asyik ikut nimbrung juga terlibat obrolan dengan teman-teman perempuan yang kebetulan ada disitu sekedar tersenyum. Ririe ini merupakan gadis pertama selain mama dan adek perempuanku yang mau aku antarkan pulang.

Dari kelas 1 sampai kelas 3 jadwal mata pelajaran olah raga selalu dapatnya hari rabu dengan jadwal tiap 2 minggu sekali berenang. Saya yang kurus kering tak bisa renang, akhirnya bisa juga berenang itupun karna malu teman yang lain pada bisa renang, belajarnya di pantai bareng sahabat di perumahan. Kesalahan lain yang kulakukan adalah ikut ngeGym karna malu dengan berat badan yang hanya 45kg, sempat diskusi dengan papa katanya jangan sekarang tapi nanti saja setelah lulus SMA. Membayangkan tubuhku dimasa SMA Lebih mirip pecandu, gaya pakaian SMAku berbeda dengan yang lain ciri khas celana cutbray baju agak longgar. Kiblatku saat itu band yang hits dengan salah satu lagunya berjudul Pos*s*ve, sedangkan jaman itu sedang trend lagu beraliran grunge dan punk. Remaja SMA jaman itu trendnya celana komprang ala rapper dengan baju rada ketat agak kayak maho-maho nggak jelas gitu plus kancing depan dibuka sebiji tak lupa lengan baju dilinting dan rambut klimis berjambul ala Tintin ada juga yang dibikin mohawk tapi nggak sampe skinhead. Sedangkan yang cewek-ceweknya asli dach pakaian sekolah mereka full pressbodi, apalagi pas primadona sekolah yang lewat sampe bikin susah nelan ludah sama celana mendadak sesak dibagian depan, wangi parfum minimarket yang iklannya sering banget beredar di tivi yang ada wangi jeruk, Tutty fruitty atau melati plus rambut rebounding hasil catokan, maklum lagi hits banget trend rebounding yang hasilnya rambut lurus kayak sapu ijuk itu kawan. Padahal smoothing sudah ada cuman belum ngehitz.

Paling kuingat saat sudah penjurusan di kelas Tiga dan jurusan yang aku pilih adalah Bahasa. Alasannya simple…. nggak mau ribet ngitung dan juga tertarik dengan bahasa Prancis. Selain itu, karna nilai fisika dan kimia saya di kelas dua bertengger di angka empat dan tiga bertinta merah, sedangkan matematika diangka Lima kemudian ekonomi dan akuntansi malah berada diangka 7 dan 8,5. Waliku menganjurkan masuk IPS, tapi aku lebih memilih bahasa sebagai kelas terakhir di SMA. Beruntungnya lagi Ririe sekelas denganku di kelas tiga tapi tetap tak sebangku, karna SMA Negeri dimana aku sekolah ini mewajibkan yang putra sebangku dengan putra dan yang putri sebangku dengan putri demi menghindari hubungan yang tidak-tidak.
Sempat terjadi kehebohan saat pagi hari, dimana mentari baru mulai merangkak naik dan embun pagi masih tersisa dipucuk dedaunan. Kejadian inj terjadi di kelas paling pojok sebelah kiri. Sebagai gambaran, kelas yang ada di sekolahku membentuk Letter N dimana pojok belakang kanan dan kiri ada Pura untuk sembahyang.

Kami ramai-ramai lihat ke kelas tersebut, terlihat jelas sosok kuntilanak berdiri melayang di sebelah meja guru dengan tawa khas nya hiii….. Hiihiii…. Hiihiii…… Hiiii….. Tentunya ini bukan pertunjukkan teater apalagi pentas cosplay. Ini real hampir semua yang datang pagi itu melihatnya. Beruntung kelas tersebut masih terkunci dan salah seorang guru kami yang bisa mengatasi kejadian ini segera datang. Setelah ditanyakan ternyata kelas tersebut sempat digunakan untuk perbuatan asusila. Sungguh sangat disayangkan, jika kalian pernah dengar atau malah pernah menonton salah satu video yang tak pantas yang dilakukan oleh sepasang muda-mudi SMA Negeri di Balidi tahun 2004-2005 hingga video tersebut sempat masuk berita stasiun tivi nasional. Maka kawan semua bisa menebak dimana saya menghabiskan masa SMA.
Pengalaman paling parah saya adalah saat berkelahi dengan salah satu teman di sekolah, tahu sendirilah…. jaman SMA mengejek dengan memanggil nama orang tua itu biasa. Tapi ini sudah kelewatan jika orang tuamu dihina sehina-hinanya kawan, kesabaranku sudah habis.

Saat jam pulang sekolah teman sekelas yang menghina orang tuaku sengaja saya samperin ke kelas 3. IPS 4 yang berada di lantai 2 dan ingin menanyakannya kenapa menghina orang tuaku. Baru sampai di kelas itu aku sudah dihadiahi tinta penghapus papan whiteboard oleh si Wira disekujur baju putih SMAku lalu dia berlari meninggalkanku dan teman-teman satu gengnya hanya bisa menertawakanku. Segera putar balik mengejar Wira yang belum jauh dari pandanganku dan aku memanggil nama Wira sambil berkata kasar, begitu sampai di tangga Wira berbalik menantangku. Tanpa banyak tanya kulayangkan pukulan tangan kiri yang tepat menghantam rahang kanannya. DUUGHhh….. Duuaaggh…. BRuuuggh…. Pukulan silih berganti kuhadiahkan ke wajah Wira, kemudian Tangan kanan tepat menghantam perutnya lalu kulanjutkan menghantam pelipisnya dan Wira meringis kesakitan. Tak tinggal diam teman-teman satu gengnya ikut mengeroyokku. Bak adegan film laga aku bertarung sendiri menghadapi 5 orang di beranda lantai 1 yang bisa dikatakan sempit dengan lebar beranda kurang dari dua meter. Ciiiaaattt…. Tendangan pertama mengenai sasaran hingga tersungkur menahan sakit, tangkisan, tendangan dan pukulan silih berganti. Aku pun tak luput kena pukulan, karna saking kalapnya mereka sampai kewalahan menghadapiku hingga ketika aku tepat berada di depan Wira yang mau kabur menuruni tangga segera kutarik kerah bajunya dan DUUUAAGGHH…..Duuaaggh…. Brruuughh….. Beberapa pukulan kulayangkan lagi ke wajahnya. Begitu tersungkur dan hampir jatuh ke anak tangga segera kutarik lalu kucekik lehernya seraya berkata: KAMU HARUS GANTI BAJUKU…… Wira menimpali dengan berkata: Iya Bro, aku ganti rugi bajumu. Masih dalam keadaan kalap aku angkat Wira dengan kedua tanganku bersiap aku jatuhkan dari lantai dua. Entah Setan apa yang menguasai diriku saat itu, tenagaku serasa sangat besar. Hampir saja aku lemparkan si Wira dari lantai dua, beruntung Roy dan julio serta teman se-gengnya menarik badanku dan sekuat tenaga merelaiku dari Wira dan menyuruhnya segera pulang. Seketika aku sadar kalo hampir saja membunuh teman satu sekolah.
Aku pulang dengan muka penuh memar sedikit kebiruan di pipi dan pelipis, anehnya teman-teman yang aku pukul saat itu hanya membentuk ruam kemerahan dibagian yang aku pukul dan aku tendang tanpa luka yang berarti. Tapi aku sudah menduga kalo besok mereka pasti kondisinya lebih parah dariku. Mama melihat anak lakinya pulang habis berkelahi dengan pakaian penuh tinta hanya ngedumel: bagus disekolahin malah berantem ya….. Kemudian aku jelaskan duduk permasalahannya hingga papaku yang ada disitu menimpali: tadi menang apa kalah???….. Lalu kujawab: menang pah….. Besok aku mau minta ganti rugi seragam ini. Ya udah mandi sana obatin lukamu sendiri begitu papaku berucap padaku.


cerbung.net

Kisah Hidupku

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain.saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset