Kiss Me Please episode 1

Chapter 1

Ini gila, aku benar-benar gila aku menginginkan ciuman mendarat di bibirku. Apa ini normal?

Tapi kurasa itu normal dan sah-sah saja, toh semua teman-temanku sudah pernah merasakannya terkecuali aku. Aku ingin sekali merasakan sensasi ketika bibirku bertaut dengan bibir kekasihku tapi bagaimana caranya??? Kekasih saja aku tidak punya, menyedihkan bukan. Sudahlah Diaz buang jauh-jauh pikiran konyolmu itu, ingin merasakan ciuman?!! yang benar saja umurmu saja belum cukup 17 tahun, mungkin ini karena aku terlalu sering menonton film drama korea. Melihat aktor kesayanganku lee min ho yang selalu beradegan kissing dengan lawan pemainnya sehingga membuatku iri dan ingin mencoba apa itu ciuman dan bagaimana rasanya?

Aarrrgghhhh… Aku menginginkan hal itu, merasakan sensasi berciuman yang akan menimbulkan hasrat yang melambung tinggi, membawamu menembus atmosfer bumi dan mendaratkanmu dibulan. Setidaknya itu yang kudengar dari kakakku yang puitis.

Aku iri mendengar cerita Vita, dia bilang semalam kekasihnya menciumnya lagi, lagi dan lagi. Serakah sekali kau Vita, berbagilah sedikit denganku Vita. Melihat vita yang sangat antusias mendeskripsikan ciumannya dengan kekasihnya membuatku ingin mengeluarkan air liurku, huuuuhh….siapapun yang merasa dirinya tampan kumohon ciumlah aku!!!!

“Kau gila Diaz, jangan lakukan hal itu.” protes Amanda setelah aku mengungkapkan keinginan konyolku untuk mencari pria yang tepat agar mau menciumku.”Kau tidak mungkin melakukan hal itu kan? Yang benar saja berciuman iiiihhh… menjijikan.” lanjutnya.

“Jangan dengarkan dia Diaz, dia itu makhluk so suci.” Vita berbisik di telingaku, buukkk… buku fisika yang dipegang Amanda jatuh tepat di kepala Vita.

“Aku dengar itu,” ujarnya marah.

“Diaz itu ide bagus, akan kudukung keinginanmu.” kini Yolla angkat bicara ia menepuk pundakku dengan bangganya.

“Yolla kau gila, Diaz jangan ikuti kata-kata mereka, mereka itu orang-orang sesat.” Amanda memelototi Vita dan Yolla seperti peringatan ‘jangan pengaruhi gadis kecil ini.’

“Memangnya kenapa kalau Diaz ingin merasakan ciuman, satu kali ciuman itu bisa mengurangi kalori didalam tubuhmu, itu kan bagus. Bukankah begitu Diaz ?!!” aku hanya mengangguk ketika Yolla bertanya meminta persetujuan dariku.

“Yolla benar Diaz, aku sudah membuktikannya dengan cek up kedokter pribadiku, dia bilang kalori di dalam tubuhku berkurang.” Vita ikut setuju dengan Yolla.

“Sejak kapan kau punya dokter pribadi?” Amanda benar sejak kapan Vita punya dokter pribadi.

“Dua lawan satu Amanda, kau kalah telak.” ujar vita tanpa menjawab pertanyaan Amanda tadi, Vita benar dua lawan satu Amanda kalah telak dan tidak bisa berbuat apa-apa.

“Terserahlah, yang jelas aku sudah memperingatkanmu Diaz.” Sepertinya Amanda kesal ia pergi meninggalkan kami begitu saja.

“Biarkan saja dia, so !!! pria mana yang akan menciummu.” tanya Yolla yang mulai berantusias.

“Aku tidak tahu.” jawabku yang memang bingung dengan siapa…mmm… maksudku pria yang akan menciumku, tidak mungkin kan aku menawarkan bibirku ini ke setiap pria yang lewat di hadapanku, mereka pikir aku pasti sudah gila.

“Kau tidak perlu bingung Diaz, kau hanya perlu menjentikkan jemarimu dan dinggg… dia akan menjadi milikmu.” Yolla menjentikan jemarinya seperti jin di dalam cerita aladin dan lampu ajaib hanya saja tidak ada asap ketika Yolla menjentikan jemarinya.

“Hey Diaz, lihat di sekelilingmu, di sini banyak pria tampan yang dapat kau kencani.” ujar Vita. Matanya berkeliling melihat pria-pria tampan di dalam kantin ini. Mereka semua yang bersekolah di sini memang tampan, jelas sekali mereka semua yang bersekolah di SMA favorite ini rata-rata memiliki orang tua yang berada dimana penampilan itu lebih menonjol dibandingkan otak mereka, termasuk aku haha…. maaf, aku hanya tidak ingin menjadi orang yang munafik.

“Bagaimana dengan Rico?” Yolla mengeluarkan pendapatnya, ia menunjuk seorang pria yang sedang duduk sambil membaca majalah playboy, Rico gemar sekali membaca majalah itu.

“Tidak.” tolakku mentah-mentah, iiiiiihh… Rico itu kan mesum bisa kubayangkan setelah ia menciumku dia pasti meniduriku juga,hiperseks. Yolla membuang Rico jauh-jauh dari daftar targetnya setelah mendengar penolakanku.

“Desta.” ujar Vita. Aku melirik kearah Desta, kulihat desta sedang mengupil lalu memakan makanannya tanpa mencuci tangannya terlebih dahulu.

“Iiiiihhh…. Desta itu kan pria paling jorok di sekolah ini, aku yakin ia jarang mengosok giginya.” kataku yang merasa jijik dengan tingkah Desta yang super jorok.

“Evan.” Yolla memainkan jemarinya dengan mengosok-gosok kukunya agar terlihat mengkilap, aku hanya menggelengkan kepalaku tanda aku tidak setuju, jangan Evan please…

Aku takut ketika aku bilang cium aku Evan pasti gugup lalu penyakit sesak nafasnya kambuh yang akan membuatku harus berlari mencari apotik terdekat untuk membeli tabung oksigen, aku tidak ingin Evan mati karena kehabisan oksigen.

“Adam.” kini Vita tersenyum melihat Adam yang juga tersenyum pada Vita. Aku menggelengkan kepalaku lagi, yang benar saja masa Adam. Adam itu pria paling alim di sekolah ini, akan kupastikan jika aku memintanya untuk menciumku dia pasti akan beristighfar 33x lalu menceramahiku panjang lebar. Melihat ekspresiku yang jelas sekali tidak menyukai semua pria yang masuk ke dalam daftar Vita dan Yolla mereka memutar bola mata secara bersamaan.

“Reza.” ujar mereka kompak.

“Itu yang terakhir, kau sudah menolak 10 pria yang aku tawarkan.” tambah Yolla yang nampaknya kesal dengan semua penolakanku.

“Maaf kali ini aku menolaknya lagi.” ujarku menyesal karena mengecewakan kedua sahabatku ini dengan penolakanku yang terakhir. Reza memang tampan dia juga pintar hanya saja dia itu pria ilmiah. Aku yakin sebelum ia menciumku, ia akan membuat metode ilmiah terlebih dahulu, pertama ia akan merumuskan masalah, masalah kenapa aku ingin ia menciumku. Setelah itu dia akan mengumpulkan data informasi sebanyak-banyaknya tentang berciuman. Melakukan observasi yang akan membuatnya mendapatkan data berkaitan dengan permasalahan yang aku ajukan, kenapa aku ingin dia menciumku. Lalu setelah itu Reza akan menyusun hipotesis sebagai dugaan sementaranya bahwa ajuan Diaz adalah pengaruh masa pubertas seorang remaja gadis yang ingin tahu apa itu berciuman. Lalu pengujian hipotesis mengadakan percobaan menciumku untuk menguji hipotesisnya benar atau tidak, habis itu ia baru akan menarik kesimpulan sehubung dengan hipotesis yang dirumuskannya bahwa wajar seorang gadis seperti aku memiliki keingintahuan bagaimana rasanya dicium dan terakhir Reza akan menguji kesimpulan dengan percobaan ulang menciumku sekali lagi. Uppsss… sepertinya aku berlebihan haha…

Kini mataku tertuju pada seorang pria yang sedang bersandar di sebuah kursi paling ujung dekat jendela kantin. Kantin sekolah ini cukup luas dengan gaya semodern mungkin pastinya.

Pria itu memejamkan kedua matanya dengan earphone yang menempel di telinganya sepertinya Vita dan Yolla mengikuti arah mataku mereka berteriak bersamaan menyebutkan nama Leo sehingga membuatku sedikit terkejut.

“Pilihan yang bagus Diaz.” Ujar Yolla senang.

“Apa?” aku bingung dengan apa yang dikatakan Yolla.

“Leo sepertinya pria yang tepat untuk menciummu.” lanjut Vita yang memiliki pemikiran yang sama dengan Yolla.

“Lalu?” kataku yang memang tidak tahu harus apa.

“Ajak dia agar mau menjadi kekasihmu.” Yolla menjawab pertanyaanku, Vita hanya tersenyum setuju.

“Bagaimana caranya?” tanyaku lagi.mengertilah aku tidak punya pengalaman memulai lebih dulu.

“Itu mudah, bukankah kalian sempat dekat sebelumnya.”

“Tapi itu dulu, dan hanya sebagai teman.” ya Leo memang pernah dekat denganku ketika kami masih duduk di bangku kelas x, dia teman sebangkuku,just it.

“Yasudah katakan saja padanya mau tidak ia menjadi kekasihmu,” ujar Yolla sambil menyeruput jus yang sedari tadi hanya diaduk-aduknya dengan sedotan.huft kurasa tidak semudah itu (-.-)

“Yang benar saja masa aku duluan yang mengatakannya,” protesku tidak setuju, mengatakan cinta pada seorang pria itu tidak ada di kamusku dan bukan gayaku.

“Hey, sekarang kutanya siapa yang berevolusi disini?” tanya Yolla yang membuatku bingung apa hubungannya dengan evolusi.

“Aku” huh pertanyaan apa itu, tentu saja aku yang berevolusi, semua manusia pasti berevolusi.

“Apa kau pernah dengar apa itu zaman emansipasi wanita,” aku hanya menganggukkan kepala, memangnya aku bodoh tentu saja tahu.

“So, di zaman modern ini wanita yang mengatakan cintanya terlebih dahulu itu wajar-wajar saja, secara logika pria dan wanita hampir sejajar, apapun yang dilakukan pria bisa dilakukan wanita, tapi itu hanya berdasarkan logika lain halnya jika berdasarkan keyakinan pria tetap makhluk diatas wanita, karena pria adalah imam bagi kaum wanita,” aku dan Vita sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Yolla dari mana Yolla dapat kata-kata sebagus itu, tidak bisa kupungkiri Yolla memang benar.

“Apa lagi yang kau tunggu, cepat katakan padanya,” lanjut Yolla menarikku agar bangun dari kursi yang ku duduki. Apakah yang kulakukan ini benar? Mengikuti semua perkataan kedua sahabatku yang konyol itu, ahkk…. persetan dengan apa yang kulakukan sekarang, demi memuaskan rasa penasaranku dan keingintahuanku bagaimana rasanya berciuman akan kulakukan apapun itu. Aku melangkahkan kakiku hampir dekat dengan tujuanku, kakiku ini membawaku tepat di hadapan Leo.

“Hai Leo,” sapaku yang membuat Leo membuka matanya. Ia tersenyum padaku, senyuman yang sangat manis yang baru aku sadari kalau leo ternyata juga bisa tersenyum seperti itu.jika kuingat-ingat senyumnya dulu semahal mobil lamborghini,jika dia pikir kau bukan mahluk special untuknya jangan harap senyum itu akan muncul.

“Boleh aku duduk di sini,” pintaku sedikit mengeluarkan pesona kurasa bisa membantu mempermudah

“Ya tentu,” ujarnya singkat,mmm….sebenarnya agak aneh tapi  Oh Tuhan, apa aku baru sadar bahwa Leo itu tampan?

“Sepertinya sudah lama sekali aku tidak melihatmu.”

“Benarkah? Bukankah kau yang tidak pernah menyempatkan diri untuk melihatku,” ucapnya, Leo terus saja menatapku membuatku sedikit gugup dan tatapannya tiba-tiba saja membuat jantungku seperti musik di club malam.oh baiklah kurasa sudah cukup basa-basinya kulihat Vita dan Yolla sudah tidak sabar ingin aku cepat-cepat mengatakannya. Yolla menunjuk jam tangan yang dikenakannya padaku mengingatkanku pada durasi waktuku.

Kutatap mata Leo lekat-lekat, kucoba untuk mengatur nafas sebentar, kau tau kan aku belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.

“Leo” ucapku,leo tetap menatapku dengan ekspresi menunggu dan mungkin dia bingung dengan tingkahku yang gugup ini. “Kau mau menjadi kekasihku?” lanjutku yang membuat wajah Leo benar-benar terkejut, bukannya menjawab Leo hanya menatapku tanpa ekspresi,1 detik…2 detik… 3…. kumohon Leo jawablah

“Y-ya,” hanya itu yang keluar dari mulutnya, oouuuhh… terima kasih tuhan, menjawab itu saja dia lama sekali,membuatku frustasi untuk beberapa detik,menyebalkan  -.-

“So, hari ini kita resmi menjadi sepasang kekasih?” tanyaku yang hanya dijawab dengan anggukan saja. “Baiklah kalau begitu nanti malam kau harus menelfonku ok, bye Leo,” lanjutku lalu meninggalkan Leo yang masih diam,entah apa yang sedang dia pikirkan karena mendengar ucapanku tadi,sebenarnya memalukan tapi aku tidak peduli mungkin Leo menganggapku gila sekarang.

***

“Bagiamana, kau sudah merasakannya?” tanya Yolla yang sangat ingin sekali tahu. Aku hanya menggelengkan kepalaku, kulihat Vita dan Yolla nampak kecewa dengan jawabanku.

“Ahh… kenapa bisa belum merasakannya, kalian kan sudah satu bulan berpacaran, kau payah Diaz.” kini Vita seperti menyalahkanku.

“Jangan salahkan aku, Leo yang tidak menciumku,” memang benar sampai sekarang Leo tidak juga menciumku semenjak aku berpacaran dengan Leo dia selalu menjaga jarak denganku.

“Apa? Kau dan Leo Diaz, kalian berpacaran.” ujar Amanda terkejut. Maaf Amanda aku lupa memberitahumu, aku menatap Amanda dengan tatapan meminta maaf, Amanda sepertinya marah padaku mungkin dia merasa menjadi orang terakhir yang tahu hubunganku dengan Leo.

Sebelum aku mendengar ocehan Amanda lagi, Yolla memberikan tatapan isyarat pada Vita agar menutup mulut Amanda, dan Vita melakukan hal itu menutup mulut Amanda lalu mengajaknya pergi meninggalkan aku dan Yolla di dalam kelas.

“Jadi Leo belum menciummu?” tanya Yolla memastikan sekali lagi

“Belum” jawabku.

“Memang apa yang kalian lakukan selama berpacaran?”

“Jalan-jalan, nonton, makan.” kataku jujur.

“Hah! Itu saja?” ujarnya lagi-lagi aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Tapi tidak hanya itu saja kok, Leo selalu menggandeng tanganku,” aku membela diri agar tidak terlalu payah dalam berpacaran.

“Payah, bergandengan tangan itu hanya untuk anak TK Diaz, kau tahu? Kau tidak akan terlihat seperti sepasang kekasih kau lebih mirip anak kecil yang ingin menyebrang jalan, bergandengan tangan, huh payah sekali.” Yolla benar masa aku dan Leo hanya sampai tahapan bergandengan, semenjak berpacaran dengan Leo aku jadi lupa tujuanku yang sebenarnya.

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Katakan padanya,” Yolla berbisik di telingaku membuatku geli dan tertawa.

“Heh bodoh, jangan tertawa.” ujar Yolla kesal.

“Ya maaf, kau membuatku geli Yolla.”

“Begini saja ancam Leo agar mao menciummu, jika ia tidak mau menciummu, putuskan saja dia.” Apa?!! Putus??? Tidak mau, aku mulai menyukai Leo sekarang.

“Kenapa? Kau menyukainya? Lalu mau kau apakan tujuanmu sebelumnya, bukankah kau sangat menginginkan ciuman Diaz.” Ahhkk… lagi-lagi Yolla benar, aku kan ingin sekali merasakan ciuman, tapi aku tidak yakin ingin memintanya pada Leo, dia pasti berfikir aku ini wanita yang agresif.

“Diaz, percayalah padaku.” Yolla meyakinkanku dengan menepuk dadanya sendiri.”Mobilku jadi taruhannya,” lanjutnya. Apa iya harus kuikuti kata-kata Yolla untuk mengancam Leo agar menciumku, tapi itu sangat berlebihan kurasa.aku pikir apakah harus seperti itu

” Tunggu apa lagi katakan sekarang.”

Aku tidak yakin ingin mengatakan seperti itu pada Leo, tapi aku ingin Leo yang menciumku arrgghh… aku bingung. Duukkk…, sepertinya aku menabrak sesuatu, maksudku aku sudah menabrak sesuatu, dan ternyata Leo yang aku tabrak. Deg… ahk jantungku kenapa berdetak kencang seperti ini?

“Lain kali gunakan matamu, untung saja aku yang kau tabrak bukan orang lain.”

“Maaf,” ujarku. Leo menatapku, tatapan sayangnya yang selalu ia perlihatkan padaku, tatapan seperti itu yang tidak bisa kuhindari, begitu lembut dan aku menyukainya.

“Ayo pulang.” Leo memegang tanganku dengan lembut, tapi aku menarik tanganku dari genggamannya, sehingga membuat Leo terkejut dan menatapku dengan tatapan bertanya. Huuff… haruskah kukatakan sekarang?

“Le, Leo.” ujarku terbata.

“Ya,” jawabnya menunggu.

“Ci-cium aku.” Aku menatap wajah Leo, wajah Leo nampak benar-benar terkejut, tapi kulihat Leo tidak merespon ucapanku, dia hanya berdiri mematung menatapku seakan aku ini pohon tumbang yang jatuh di hadapannya. “Leo, cium aku cepat!” lanjutku. Leo lakukanlah cepat jangan membuatku merengek memintanya.

“Tidak.” What !!! Apa kau bilang, apa aku tidak salah dengar tadi, Leo tidak mau menciumku? Yang benar saja, apa itu suatu penolakan? Seumur hidupku tidak ada satu orangpun yang akan menolak keinginanku. Oh Tuhan, perasaan apa ini? Apa Leo tidak mencintaiku, aku kan kekasihnya seharusnya ia mau jika aku memintanya untuk menciumku.

“Tapi kenapa?” tanyaku. Aku menundukkan wajahku dalam-dalam, aku tidak ingin leo melihat mataku yang mulai basah karna sekarang aku merasa malu dan menyesal mengatakannya.

“Maaf, tapi aku tidak mau menciummu.”

“Tapi kenapa? Apa kau tidak mencintaiku?” kataku yang mulai kesal dengan penolakan Leo, aku yakin Leo tidak mencintaiku makanya ia tidak mau menciumku.

“Kau ingin tahu alasannya?” Leo mengangkat wajahku yang tertunduk. Lalu menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajahku. “Itu karena kau terlalu berharga untuk kusentuh,” lanjutnya. Lagi-lagi ia menatapku dengan penuh kasih sayang. “Kau tahu Diaz, kau sangat berharga bagiku, kau seperti perhiasan yang hanya bisa kupandangi keindahannya tanpa mau aku sentuh, karena aku tahu jika aku menyentuhnya aku akan menggores keindahannya.” Deg… jantungku serasa berhenti berdetak, ucapan Leo sangat menyentuh hatiku, apa aku seberharga itu dimatanya? Sehingga ia tidak berani menyentuhku karena takut aku akan tergores olehnya, itu kata-kata terindah yang pernah aku dengar,aku benar-benar ingin menangis,tangisan bahagia karna leo mencintaiku.

Leo memelukku, bisa kurasakan detak jantungnya brdetak sangat pelan, aku merasa nyaman di dalam pelukannya, air mata yang sudah tidak bisa kutahan keluar membasahi seragam sekolah yang dikenakannya. “Kumohon cium aku,” ujarku disela-sela isak tangisku, entah kenapa aku ingin tetap Leo menciumku meskipun Leo sudah mengatakan padaku kalau aku sangat berharga untuk disentuhnya, tapi aku ingin Leo menciumku, aku hanya ingin dia menciumku, itu saja. Apakah sulit???

Leo mendekatkan wajahnya, sangat dekat lalu… ia menciumku, bisa kurasakan bibirnya menyentuh bibirku, entah belajar dari mana aku membalas ciumannya. Ia melumat bibirku sampai habis, sensasi apa ini? Ternyata benar rasanya sangat menyenangkan apalagi jika orang yang kau cium adalah kekasih yang sangat kau cintai. Leo memeluk pinggulku dengan erat, menarikku agar aku lebih dekat lagi dengannya, sedangkan aku tanpa kusuruh kedua tanganku melingkar di leher Leo, perlahan-lahan Leo melepaskan tangannya yang melingkar di pinggulku, lalu mendorongku dengan lembut dan melepaskan ciumannya. Kenapa ia berhenti menciumku padahal aku masih menginginkannya. Leo menatap kedua bola mataku lekat-lekat.

“Maaf.” Ada rasa bersalah ketika ia mengatakan maaf, tapi seharusnya Leo tidak perlu meminta maaf.

“Untuk apa?” tanyaku.

“Kau yang memintaku untuk menciummu Diaz, jadi maaf dan jangan salahkan aku, jika tak akan kubiarkan orang lain menyentuhmu, terutama bibir mungilmu ini.” Leo menyentuh bibirku dengan jemarinya membuat gerakan menelusuri bentuk lekuk bibirku.

“Karena hanya aku yang boleh memiliki bibirmu,” ujarnya lagi.


cerbung.net

Kiss Me Please

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Kisah anak abg yang ngebet sekaligus penasaran dengan bagaimana rasanya melakukan ciuman di bibir.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset