Kontrakan Kampung Leyangan episide 9

Yayasan Abdi Negara

Susi menerima email dari Putra Papua yang meminta persyaratan mengikuti Pelatihan Satpam dari Abdi Negara beserta administrasinya dan meminta untuk mencarikan kontrakan sekalian, Susi membalasnya kalau pendidikan dan pelatihannya dua bulan lagi dimulai. Putra Papua akan mengirimkan tenaga 25 orang sementara klas kapasitas 50 orang, Susi harus membuat kosan atau asrama sederhana untuk pemukiman single khususnya pendidikan satpam.

Rencana asrama ada disebelah kontrakan kampung Leyangan yang berisikan 35 kamar  dan berlantai 2 dengan tempat tidur susun, Susiyati menghubungi pemilik tanah yang sudah lama akan dijual dan belum laku-laku yang bernama Bu Prapto dia juga pemilik Kontrakan Kampung Leyangan karena sakit yang belum sembuh-sembuh juga untuk merenovasi kontrakan mengalami hambatan keuangan. Susi menghubungi anggota kepolisian untuk pendanaan asrama dan mendapat lampu hijau karena bisa menyerap tenaga kerja dan melakukan kerja sama dalam mendirikan asrama dan menambah tenaga pengajar atau mentor agar lebik meningkatkan mutu pendidikan.

Susiyati SH,MM merubah akte pendirian bersama Ka Polsek Ungaran sebagai Yayasan Abdi Negara dan segera membangunnya asrama tersebut yang memiliki luas tanah 750m2 cukup luas dan memiliki halaman serta ruang praktek juga ruang pengajar yang cukup. Di waktu pagi Susiati di Pabrik dan sore hari di Yayasan Abdi Negara, jam 17 sudah berada di rumah sedangkan Sugeng sepulang dari Rumah Sakit langsung mengajar di Yayasan pulangnya jam 19.00, untuk hari Sabtu dan Minggu mereka libur khusus untuk anak-anak.

Sugeng dicalonkan menjadi ketua umum Beladiri Gagak Rimang, menggantikan Megandana yang tutup usia 68 tahun karena kecelakaan.

Susiyati         : ” Ayah…. bagaimana membagi jam kerjanya….aku tak mau ayah kecapaian “.

Sugeng        : ”  Gak apa cuma mendidik asisten dulu setelah mantab baru aku lepas  , dik jangan cemaskan ayah…ayah bisa atur jam dan tak mengurangi kesejakteraan keluarga kok..”.

Susiyati         : ” Baiklah kalau bisa mengaturnya….tapi kalau ada suatu masalah akan cepat teratasi….?”

Sugeng berfikir sebentar, karena betul juga kata istrinya dan Sugeng meminta maaf akan klarifikasi dengan Gagak Rimang, Susiyati menanti secepatnya klarifikasi tersebut.

Susiyati          : ” Kalau aku tak ikut campur usaha ini terserah ayah, tapi Susi sudah menyepakati usaha ini dan tak mau mengecewakan pak Ka Polsek Ungaran. Jadi jangan terlalu merasa mampu ngayahi semua  kegiatan dipegang…sak madyo sajalah Yah….?!”

Sugeng khawatir Susi sudah bicara banyak dan akan meninggalkan usaha yang dirintisnya, tapi ternyata Susi hanya mengingatkan karena Susi mengetahui seluk beluk hukum dan tatanan negara.

Susiyati          : ” Jangan mumpung ada kesempatan untuk mendapatkan uang terus ayah menerima tawaran, itu akan merusak kinerja ayah sehingga ayah bisa kurang konsentrasi diusaha kita…….

Susi tak mau ada apa-apa dengan ayah..” Susi menangis sambil memeluk suaminya.

Sugeng        : ” Iya dik….ayah tak mau menerima pencalonan ketua umum  Gagak Rimang kalau dik Susi keberatan “. Lalu Sugeng menelepon temannya dan mengundurkan diri dikarenakan ingin konsentrasi kepada keluarga dan Yayasan Abdi Negara dan temennya bisa menerima.

Susiyati sedang memeriksa bagian pengadaan juga bagian gudang , itu Ia lakukan tiap dua minggu sekali untuk meminimalis penyimpangan di dampingi  Guntur , Pak Andrean sedang keluar dengan Bu Paula yang akan menyekolahkan putri angkatnya di Singapore agar bisa meneruskan usaha rotinya. Mince amat tertarik di dunia makanan dan mulai sering membantu membuat roti yang dibantu Bu Paula, dan roti buatannya laku karena sama resepnya.

Bu Paula alias Cik Lan tak memiliki anak kandung dan mengambil anak yatim piatu tiga orang, anak pertamanya Guntur sarjana ekonomi yang sedang digodog  sebagai asisten manajer mendampingi mbak Rosa berada di pabrik dan mempelajari seluk beluk pabrik, anak keduanya Ananta sedang kuliah di Jerman yang mengambil teknik mesin dan anak ketiganya Mince mengambil jurusan Bisnis di Singapore

Guntur dan Ananta yang direncanakan pewaris pabrik di siapkan Susiyati agar kedepan lebih maju di sini Susi bertindak sebagai konsultan hukum  yang mengawasi anak anak angkat Pak Andrean , dan bu Paula yang mulai sakit-sakitan karena sudah tua tapi masih bersedia mengecek perusahaan bila Susiyati membutuhkannya. Ketiga anak angkat pak Andrean yang diambilnya waktu itu mereka  berusia 10,9 dan 7 tahun di pertanggung jawabkan Susiyati untuk pendidikannya dan disesuaikan pendapatan pabrik dan pak Andrean mengetahuinya.

Bu Paula akhirnya meninggal dunia karena kadar gulanya tinggi, pak Andrean mendampingi pemakamannya di Ambarawa untuk dikremasi, Bu Paula meninggal pada usia 78 tahun sedangkan pak Andrean masih berusia 70 tahun lebih tua 8 tahun bu Paula dan pak Andrean masih lumayan gesit karena selalu olah raga setiap harinya sehingga tampak masih bersemangat.

Putra putri angkatnya mendengarkan Susiyati yang membaca keseluruhan warisan Bu Paula dan meminta anak-anak angkatnya melindungi pak Andrean selagi masih hidup begitu pesan almarhum bu Paula dan meminta maaf pada suaminya pak Andrean agar mengampuni semua dosa-dosanya.

” Maaaa…selamat tinggal istriku semoga engkau damai di surga beserta keluarga dan handai tolan mu, aku menyayangimu dan selalu mendoakanmu…Aamiin..” . Pak Andrean menangis melepas jenasah untuk di kremasi, jiwanya terasa hancur. Guntur memeluk ayahnya dan mengajak masuk di mobil tapi pak Andrean ingin menyaksikan sampai selesai. Dan petugas kremasi menyuruhnya pulang karena amat lama dan akan dikabari esok hari. Akhirnya semua pulang ke Leyangan, Susiyati dan mbak Rosa mohon diri pada pak Andrean karena sudah malam dan besok pagi akan kembali ke rumah pak Andrean lagi.

Seminggu kemudian Ananta balik lagi ke Jerman melanjutkan kuliahnya dan keseharian pak Andrean ditemani Guntur di pabrik maupun di rumah, Mince mengurusi toko rotinya dan mengangkat asistennya untuk mengolah roti dengan pengawasan Susi. Tugas Susi mulai berlebih tapi untung kuliah Mince tinggal satu tahun dan dibuatnya enjoy sambil belajar membuat roti.Alhasil Susipun bisa membuat roti sendiri di rumah.

Pembangunan asrama  hampir selesai masih dalam tahapan finishing tapi pendidikan  harus segera dimulai dua minggu lagi , Susi menggenjotnya dengan menambah tenaga kerja dan memfokuskan kamar-kamar sejumlah 35 kamar.

Tukang       : ” Bu kamar lantai satu kurang 5 kamar tinggal memasang tempat tidur dan dan meja belajar, lantai dua juga sama cuma jumlahnya 9 kamar perlu diisi tempat tidur dan meja belajar”.

Susiyati       : ” Bagus cepat selesaikan lantai satu dulu dan lantai dua akan ibu tambahin 2 tenaga kerja borong biar selesai esok hari”. Tukang itu amat senang karena akan ditambah tenaga borong dan menambah percepatan karena akan pulang ke kampung.

Abbas membawa dua orang tenaga angkat junjung untuk menyelesaikan kamar-kamar, dia belum pulang dan menyuruh istrinya mengantarkan makan malamnya, Sugeng dan Susi meninjau kelengkapan kamar sambil membawakan makan malam titipan istri Abbas dan makanan Padang untuk tukang dan Susi langsung membayarnya dan besok pagi mereka sisuruh datang lagi siapa tahu masih ada perbaikan dan akan dibayar harian .

Abbas lega selesai sudah pekerjaannya dan besok mulai menyambut para peserta pelatihan, jam 10 malam Susi dan Sugeng pulang ke rumah, Abbas pun mengikutinya dari belakang . Atun membukakan pintu gerbang.

Susiyati       : ” Kak Rustiana dan dik Bagus sudah tidur Tun…?”

Atun             : ” Kak Rustiana belum tidur dan dik Bagus barusan tidur buk..”

Susiyati       : ” Mas Abbas ayo masuk….”. Abbas masuk rumah dan pak Sugeng memberikan uang 300.000 sebagai jasa penyelesaian dan besok pagi mulai tugas di kantor yang baru , Abbas senang sekali mendapat rizeki dari pak Sugeng dan Abbas segera pamit pulang ke rumahnya. Susiyati masuk kekamar Anna dilihatnya Anna masih belajar lalu ke kamar Bagus Sasongko yang sudah tidur sambil menghafal bacaan sebelum tidur. Susi membetulkan selimutnya dan mencium kening Bagus Sasongko.

Abbas memberikan uang dari Sugeng pada istrinya dan menyimpannya lalu memberikan sebungkus nasi rendang dan dimakan berdua, Angga sudah tidur sambil memeluk gulingnya.

Safitri          : ” Pak Sugeng baik sekali ya mas…amat perhatian sama kita “.

Abbas          : ” Iya dik…ini juga ada kabar baik untuk Angga semoga mau menerimanya besok pagi”.

Safitri          : ” Kabar apa sih mas….?”

Abbas          : ” Biar besok pagi saja dik…aku sudah ngantuk banget…”

Safitri          : ” Iya mas, aku juga sudah ngantuk….met istirahat mas semoga bangun dengan segar kembali “.


cerbung.net

Kontrakan Kampung Leyangan

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2019 Native Language: Indonesia
Susi membuat kopi untuk Sugeng suaminya, yang baru saja pulang jaga malam di Rumah Sakit Umum Ungaran. " Kok gak manis dik...." " Maaf gulanya habis yah, jadi cuma sedikit gula yang ada..." "Maaf ya istriku ...ayah baru bisa kasih ini , tapi untuk makan masih amankah...?" . Dengan menunjukkan ekspresi muka sedih Susi mengatakan: " Ayah..untuk makan masih terjaga, cuma kalau seperti ini terus pendapatannya kita akan jadi orang susah yah...Susi akan bekerja bareng mbak Rosa di pabrik tepung boleh gak yah..?" " Benar yang ajak mbak Rosa..? bukan yang lainnya..? " Bener Yah, emang kenapa kalau bukan mbak Rosa..?" " Karena mbak Rosa orangnya jujur dan lurus..." " Jadi boleh dong Yah, aku diajak kerja bareng mbak Rosa..?" mata Susi berbinar - binar senang tapi sekejap diam lagi karena bingung siapa yang akan memasak dan membersihkan rumah, karena Susi dan Sugeng adalah penganten baru tiga bulan dan masih kontrak rumah di Dukuh Beji Ungaran Timur. " Pikirkanlah dulu, ayah ingin kamu bekerja di rumah agar nanti anak-anak kita tak kelantar pendidikkannya, ayah tak melarang dik Susi bekerja". "Yah.. tapi itukan masih lama apa salahnya Susi bantu ayah bekerja, trima kasih ya Yah sudah menyetujuinya ". Jawab Susiati dengan senang sambil mencium pipi suaminya dengan manja. Sugeng kasihan juga kalau melihat istrinya sendirian di rumah makanya dia menyetujuinya. Ketika jelang sore mbak Rosa main ke rumah Susi sepulang kerja, dan menanyakan keputusannya, " Piye...sido melu kerjo po ra..( bagaimana...jadi ikut kerja 'gak ..?) Iki butuh tenaga loro tinggal siji lo Sus...?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset