Kontrakan Kampung Leyangan episode 5

Hadiah Kejujuran

Farida sedang menyapu teras pagi ini dilanjut ke dapur menyiapkan sarapan, pak Zul sedang bergurau dengan Zuraida mereka tertawa-tawa sungguh menyenangkan sekali. Secangkir kopi susu hangat membasahi tenggorokan pak Zul, telur dadar dan nasi goreng sudah membau harum di ruangan kontrakannya segera pak Zul mandi dan menyerahkan Rida ke istrinya. Farida memandikan Rida di emperan sambil mainan sabun selesainya bareng sama bapaknya, bau harum minyak telon Rida membuat pak Zul ingin ngusel-usel anaknya tapi Farida melarang :

” Eeehh gak boleh ntar kusam seragam nya pak” Zulkarna nyengingis dan mencium putrinya . Susi dan Sugeng persiapan berangkat melihat Rida sedang digendong ibunya Susi menghampiri dan mencium Rida yang sudah berumur 14 bulan itu dengan rambutnya dikuncir kanan kiri dan bersepatu berbunyi encit-encit lucu pokoknya. Sugeng mengklakson istrinya agar segera berangkat, Susi berlari kecil menuju suaminya dan segera berangkat ke pabrik. Zulkarna memanasi motornya sambil sarapan ditemani Rida dan istrinya.

” Kenapa tadi mbak Susi ma… ” Tanya Zulkarna.

” O.. biasa gemes lihat Rida pak. ” Farida menjawab sambil nyuapin Rida dengan bubur instan bayi. Rida tertawa sambil blepotan makannya .

” Aku brangkat dulu dik… ” Zulkarna mencium Rida sambil pamitan , Farida memberikan tas kerjanya tahu bapaknya akan berangkat kerja Rida menangis ingin ikut.. kenceng tangisannya Zulkarna tak tega meninggalkan lalu membawa Rida mutar-mutar dan meninggalkan Rida dalam keadaan tertawa.

Jam istirahat Susi diajak pak Andrean belanja keperluan kantor di toko buku dan alat tulis kantor , Susi mengambil buku kas dan yang lainnya termasuk kalkulator karena Dia butuh yang lebih lengkap. Makan siangnya mereka berada di warung Gado-gado pojok pertigaan Undaris tempat ngetem semasa kuliah, Pak Andrean melanjutkan lagi ke toko emas Bagong Kembar dekat pasar Ungaran.

Susi disuruh memilih kalung 10 gram, Susi bingung.. ” Untuk siapa ini pak…? Saya takut nanti orang mengira ada apa-apa dengan saya dan bapak..?! ” Susi agak bingung pak Andrean menjelaskan,

” Ini untuk karyawan yang rajin kerjanya kamu tak usah kawatir relasi dan pendapatan pabrik sekarang bertambah kamu kan tahu itu karena kerajinan kamu mengawasi pekerjaan pabrik sehingga pabrik pendapatannya melonjak, apakah kamu tidak merasakannya? Kamu pandai menganalisa dan membagi waktu secara pasti sehingga pabrik tidak boros, terima kasih Sus sudah menolong perusahaan yang hampir pailit menjadi berkembang mungkin Cik Lan akan memberikan hadiah lebih dari ini , terima kasih saya untuk kamu.. dan kamu nanti akan mendapat piagam penghargaan dari kantor dalam acara ulang tahun ke 7 pabruk tepung tapioka  Melati ” Susi membungkukkan badannya dan mengucapkan terima kasih pada pak Andrean.

” Hadiah ini adalah pribadi dari saya sebagai manager di pabrik tepung tapioka melati jadi kamu gak usah ragu lagi, tapi tak usah kamu ceritakan teman kantor karena nanti biar Bu Paula sendiri yang menjelaskannya kalau suami kamu gak apa.. okey..?! ” . Susi akhirnya memilih kalung dan pak Andrean memilihkan liontinnya.

Pak Andrean senang sekali melihat Susi tak takut lagi dan mereka segera kembali ke pabrik. Susi memasukkan kalung tersebut di dalam tasnya dan menuju ke toko roti Paula milik istri pak Andrean untuk membawa roti ke pabrik sekalian bu Paula/ Cik Lan ikut suaminya ke pabrik tepung tapioka melati.

Di pabrik Susiati menerima piagam yang di berikan ibu Paula saat meeting sambil merayakan Ulang Tahun Pabrik ke-7 tahun atas kemajuan pendapatan pabrik tepung tapioka melati. Dihadapan karyawan Susi menerima hadiah sepeda motor beserta STNK dan BPKBnya. Susi benar-benar gak nyangka akan mendapat rizki nomplok atas prestasi kerjanya. Mbak Rosa mengucapkan selamat pada Susi yang begitu jujur dalam bekerja juga rajin serta teliti padahal baru satu tahun Susiyati bekerja lagian masih sangat muda.

” Waw keren sekali anak didikku yang satu ini , selamat ya Sus atas kesuksesan kamu dan besok sudah tak bonceng motorku lagi tentunya”. Sambil memeluk Susi mbak Rosa mencium pipi dan membisikkan sesuatu

” Pabrik ini sudah dirombak, pak Andrean jadi direktur dan kamu sekretarisnya untuk manajernya aku belum tahu, soalnya notaris kemarin sedang berbicara sama pak Andrean lewat telepon dan aku dengar Sus “. Susi termangu dan mengucapkan terima kasih untuk informasinya. Susi keliling pabrik dan mendapat ucapan dari anak buahnya karena kesuksesannya, mereka mengusulkan agar Susi memperhatikan gaji mereka, Susi menerima semua usulan dari bawahannya dan berusaha semampunya asal mereka bekerja lebih rajin lagi.

Sugeng menelepon Susi kalau telat jemput karena teman penggantinya izin terlambat sampai kantor berhubung ada pengajian dan selesainya sorean. Susi akan pulang bareng mbak Rosa jadi mas Sugeng langsung menuju rumah saja begitu Susi mengabarkan dan Sugeng tenang hatinya. Mbak Rosa menemani Susi mengendarai motor barunya dari mengisi BBM sampai belanja di pasar Babatan, Susi membuka amplop pemberian pak Andrean ternyata uang tunai sebesar 5 juta lalu Ia berbagi untuk mbak Rosa sebesar 1juta dan membelikan bandu untuk Rida juga membelikan sepatu untuk suaminya.

Persis maghrib Susi sampai dirumah dan motor suaminya sudah parkir didepan kamar. Sugeng keluar kontrakan melihat istrinya mengendarai motor baru Sugeng merasa heran.

” Motor siapa itu dik..? ” . Tanya Sugeng, Susi senyum-senyum dan akan menceritakan nanti kalau sudah selesai shollat.

” Sabar ya yah …. aku mandi dulu dan shollat bersama terus makan dan kita mulai mengobrol, sambil menunggu Susi mandi Sugeng mengeringkan motor baru istrinya dan memeriksa STNKnya karena Sugeng khawatir istrinya ambil motor dengan mengkredit, Sugeng mencari tas kerja Susi tapi tak ketemu-ketemu, akhirnya Sugeng nyerah dan membaca buku panduan dan segera mengambil air wudhu menunggu istrinya untuk shollat berjamaah. Selesai makan Susi mengambil tas kerjanya dan mengeluarkan piagam penghargaan lalu menceritakan semua yang ia peroleh saat kerja tadi. Sugeng memeluk istrinya

” Maafkan ayah dik hampir saja ayah shoudzon padamu, ayah kira kamu ambil motor kredit… ternyata semua ini rezeki halal dari Allah untukmu dik” Susi memeluknya

” Aku tak mau bohong sedikitpun pada ayah, rezeki ini untuk kita yah bukan untukku saja dan ada juga untuk orang lain makanya Susi memberikan uang untuk mbak Rosa dan kita harus syukuran juga untuk kampung ini Dan menyumbang masjid juga menyantuni anak yatim yah, ini uangnya sudah Susi siapkan”.

Cantik Dan lucu sekali Rida memakai pita di pinggir telinga wajahnya yang bulat menggemaskan , membuat siapa saja yang memandang ingin mencium dan memeluknya. Susiati membenarkan posisi pita dan Zuraida duduk sendiri ketika makan makan bersama di dampingi Susiyati, Farida, Arnold dan mbak Yeti.

Sukuran Susi sederhana sekali dengan mengajak makan di restoran bersama tetangga dan esok harinya menyantuni yatim piatu pada hari Minggu. Susi amat bahagia sekali sampai lupa memakai kalung pemberian pak Andrean, dan ketika sampai di kontrakan Susi memperlihatkan kalungnya dan meminta suaminya memasangkan di leher. Begitulah hasil dari kejujuran membuahkan kebahagiaan Yang tak terduga


cerbung.net

Kontrakan Kampung Leyangan

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2019 Native Language: Indonesia
Susi membuat kopi untuk Sugeng suaminya, yang baru saja pulang jaga malam di Rumah Sakit Umum Ungaran. " Kok gak manis dik...." " Maaf gulanya habis yah, jadi cuma sedikit gula yang ada..." "Maaf ya istriku ...ayah baru bisa kasih ini , tapi untuk makan masih amankah...?" . Dengan menunjukkan ekspresi muka sedih Susi mengatakan: " Ayah..untuk makan masih terjaga, cuma kalau seperti ini terus pendapatannya kita akan jadi orang susah yah...Susi akan bekerja bareng mbak Rosa di pabrik tepung boleh gak yah..?" " Benar yang ajak mbak Rosa..? bukan yang lainnya..? " Bener Yah, emang kenapa kalau bukan mbak Rosa..?" " Karena mbak Rosa orangnya jujur dan lurus..." " Jadi boleh dong Yah, aku diajak kerja bareng mbak Rosa..?" mata Susi berbinar - binar senang tapi sekejap diam lagi karena bingung siapa yang akan memasak dan membersihkan rumah, karena Susi dan Sugeng adalah penganten baru tiga bulan dan masih kontrak rumah di Dukuh Beji Ungaran Timur. " Pikirkanlah dulu, ayah ingin kamu bekerja di rumah agar nanti anak-anak kita tak kelantar pendidikkannya, ayah tak melarang dik Susi bekerja". "Yah.. tapi itukan masih lama apa salahnya Susi bantu ayah bekerja, trima kasih ya Yah sudah menyetujuinya ". Jawab Susiati dengan senang sambil mencium pipi suaminya dengan manja. Sugeng kasihan juga kalau melihat istrinya sendirian di rumah makanya dia menyetujuinya. Ketika jelang sore mbak Rosa main ke rumah Susi sepulang kerja, dan menanyakan keputusannya, " Piye...sido melu kerjo po ra..( bagaimana...jadi ikut kerja 'gak ..?) Iki butuh tenaga loro tinggal siji lo Sus...?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset