Kuntilanak Berdaster episode 1

Chapter 1

‘Kejadian ini sudah beberapa tahun lamanya, tetapi kisah ini sangat membekas di ingatan.’

Sebut saja namanya Simbah Ruwati. Malam itu Simbah sedang ‘rewang’ (membantu tetangga hajatan). Beliau yang umurnya setengah abad lebih tak mau bermalas-malasan di rumah untuk sekadar minta uang pada anaknya. Beliau menjadi buruh cuci piring khusus pas ada hajatan saja. Senangnya Simbah itu bukan dari hasilnya saja, tetapi dapat bercengkerama dengan tetangga yang jauh dari rumahnya.

Pas hajatan di rumah Ning Ndok’ini sudah selesai. Simbah Ruwati masih membersihkan baskom atau panci yang kotor di belakang. Baru jam 11 malam baru pulang. Jarak rumah Simbah dari rumah Ning Ndok cuma 400 meter saja. Namun, ada kebun kosong yang harus dilewatinya.

Simbah pulang saat pekerjaannya selesai. Setelah berpamitan pada Ning Ndok, kemudian beliau di beri beberapa makanan yang di taruh dalam kresek. Setelah itu, kakinya melangkah ke luar menuju jalan pulang. Jam segitu memang sangat sunyi, apalagi semua orang pasti meringkuk di peraduannya. Akan tetapi, Simbah Ruwati terlihat tidak ada rasa takut. Meskipun melewati kebun kosong yang gelap, tetapi masih ada lampu yang bisa menerangi di sisi kiri jalan. Kalau tidak terbiasa lewat jalan itu memang sebagian orang banyak yang takut.

Beliau tak sengaja melihat seorang wanita yang sedang berdiri di samping pohon mentaos. Hanya berdiri mematung tak bergerak sedikit pun. Sedang apa wanita itu pada jam hampir tengah malam begini?

“Hey, kenapa kamu berdiri di situ! Sudah malam. Pulanglah!”

Tiba-tiba Simbah Ruwati meneriaki perempuan berambut panjang di samping pohon mentaos. Tidak tampak mukanya karena tertutupi helai rambut yang tergerai. Hanya saja pakaian yang dipakainya terlihat kumal.

Perempuan yang dipanggilnya hanya terdiam saja. Lalu, Simbah Ruwati berkata lagi.

“Kamu sedang apa di situ? Mau makanan ini?” Seraya menyodorkan makanan di kresek yang dari tadi dipegangnya.

Perempuan itu tetap bergeming. Akhirnya, dengan perasaan dongkol, Simbah Ruwati melanjutkan perjalanannya.

Keesokan harinya, saat Simbah berangkat ke ladang melewati rumah Simbah Pi’ah. Beliau bertanya pada saudaranya.

“Pi’ah, kemarin aku pulang hampir tengah malam. Aku lihat ada perempuan rambutnya panjang, dasternya kotor. Dia berdiri pohon mentaos,” kata Simbah Ruwati dengan tangannya menunjuk ke arah kebun kosong.

“Mungkin itu kuntilanak, Ti. Masa’ berdaster? Apa tadi kamu ndak tanya, kenapa dasternya kotor?” jawab Simbah Pi’ah sedikit tersenyum.

“Laah … kayak ndak ada kerjaan tanya pakaiannya. Aku suruh pulang dia diam. Aku tawari makanan tetap diam. Ya aku langsung pulang. Ndak ngurusi perempuan tuli!”

“Sampeyan juga tuli, malah bilang perempuan itu tuli. Ndak boleh, Ti.” Nasehat Simbah Pi’ah.

Karena kesal, Simbah Ruwati pergi ke ladang. Lumayan lama obrolan mereka tadi, sampai matahari sudah tinggi.

Memang Simbah Ruwati tunarungu, bukan karena Simbah Pi’ah sengaja mengolok. Apalagi kata Simbah Ruwati perempuan itu pakai daster. Bukannya kuntilanak pakai baju putih dari dulu. Ah, memang usia senja menjadikan beliau matanya ikut buram.

Setelah kejadian itu, banyak orang yang bertanya-tanya tentang kebenaran cerita tersebut. Memang cerita tentang hal mistis menarik pendengaran mereka. Sampai sebulan lebih tetap bercerita tentang hal yang sama.

Kebun kosong tersebut memang dari dulu ada penghuninya. Ada yang bilang, kuntilanak berdaster tersebut sudah tidak ada di situ.

End.

cerbung.net

Kuntilanak Berdaster

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
'Kejadian ini sudah beberapa tahun lamanya, tetapi kisah ini sangat membekas di ingatan.'Sebut saja namanya Simbah Ruwati. Malam itu Simbah sedang 'rewang' (membantu tetangga hajatan). Beliau yang umurnya setengah abad lebih tak mau bermalas-malasan di rumah untuk sekadar minta uang pada anaknya. Beliau menjadi buruh cuci piring khusus pas ada hajatan saja. Senangnya Simbah itu bukan dari hasilnya saja, tetapi dapat bercengkerama dengan tetangga yang jauh dari rumahnya.Pas hajatan di rumah Ning Ndok'ini sudah selesai. Simbah Ruwati masih membersihkan baskom atau panci yang kotor di belakang. Baru jam 11 malam baru pulang. Jarak rumah Simbah dari rumah Ning Ndok cuma 400 meter saja. Namun, ada kebun kosong yang harus dilewatinya.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak kisah nyata berikut ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset