Lost In Love episode 5

Part 5
Awalnya, perjalanan itu menyenangkan, sampai matahari berada tepat di atas kepala, barulah kusadar aku memilih mobil yang salah.

Mulai dari panasnya matahari yang menyengat, sampai abu vulkanis gunung Sinabung pun ikut meramaikan suasana di dalam mobil pick up. Aku tidak yakin kalau abu vulaknis itu tidak ikut masuk ke dalam mulutku yang tertutup 2 lapis masker berwarna hijau yang sudah kubasahi sedikit dengan air.

Sumpah, terlalu panas mobil pick up itu, baik di luar maupun di dalam, dan tanganku pun mendadak berubah warna menjadi belang seperti zebra.

Sesampainya di pengungsian, aku buru-buru keluar dari mobil karena hawa di dalam mobil yang sangat panas tak dapat lagi diajak kompromi.

Kuperhatikan sekeliling tanpa berkedip. Sungguh sangat memprihatinkan kondisi para pengungsi di situ.

Ternyata bukan hanya kami para relawan yang mengantarkan bantuan ke sini. Banyak juga relawan-relawan lain yang sudah datang dan sudah pulang.

Kedatangan kami disambut hangat oleh warga pengungsi. Suasana pengungsian yang ramai oleh para pengungsi, mereka harus saling berbagi tempat tidur, walau sedikit berdesak-desakan. Kamar mandi yang hanya ada sedikit, dan terbatasnya air bersih. Yah, kita semua bersedih melihat kondisi itu, dan mereka terlihat sangat bahagia ketika melihat kedatangan kami. Aku bersyukur dan sangat bahagia, karena kami bisa menjembatani pemberian bantuan ini.

Setelah semua bantuan telah diturunkan, dan mengucapkan sepatah dua patah kata untuk para pengungsi dan dibalas ucapan terima kasih oleh panitia yang mewakili mereka semua, akhirnya kami pun pulang.

Kembali menyapa sang mentari yang masih bersemangat bersinar aku pun berkata “Haiii, om Matahari, jumpa lagi kita, hehehe….”

Setiap ada mobil yang berpas-pasan atau mendahului mobil kami aku merasa kalau aku sedang berada di gurun pasir yang sedang diterjang badai pasir, tapi kali ini badai abu. Supir kami pun terpaksa memelankan laju mobilnya bahkan memberhentikkan mobilnya ketika abu berhasil menutup pandangan.

Di perjalanan pulang, aku selalu mencuri-curi waktu menyempatkan diri untuk mendokumentasikan beberapa daerah yang terkena dampak erupsi Sinabung, baik dalam format foto maupun video menggunakan handphoneku. Kita juga menyempatkan diri berfoto di 3 Kilometer dari kaki Sinabung, yang merupakan daerah yang termasuk parah mendapat dampak dari erupsi Gunung Sinabung sebagai bukti kalau kita pernah kesana.

Dengan berlapiskan dua buah masker, aku keluar dari mobil pick up. Abu vulkanis langsung membanjiri kakiku ketika kukeluarkan kakiku, saat itu ketinggian abu sampai menutupi mata kakiku. Aku berkeliling melihat apa saja yang bisa didokumentasikan, yang kemudian kami ditelpon oleh pak Boy dan direpetin alias dimarahin. Untungnya bukan handphoneku yang ditelpon. Hehehe…

Sepanjang perjalanan kami, pak Boy menjelaskan dia terus berdoa di Medan untuk keselamatan semua relawan. Pantas kalau dia memarahi kami.

“Maaf pak, kami segera pulang,” jawab Martin ketika ditelpon, aku mendengarnya dari jarak yang tidak begitu jauh darinya.

“Hahaha… untung bukan aku yang ditelpon,” yang kemudian aku masuk kembali ke mobil pick up.

Dari dalam mobil kuteriakin teman-temanku yang sedang asik berfoto-foto untuk segera pulang. Kulihat Pelisoul sudah terlelap dalam capeknya aku pun mencoba untuk mengistirahatkan tubuhku di kursi depan mobil pick up itu, dan mulai memejamkan mataku.

Terjadi insiden kecil ketika kami bertolak kembali ke Medan, salah satu mobil dari rombongan kehabisan bahan bakar. Kami pun memberhentikan laju mobil kami dan kemudian menunggu mereka di pinggir jalan, di saat mobil ke tiga kami pergi membeli bahan bakar di galon/pombensin terdekat.

Dalam diam dan bingungku di pinggir jalan aku tiba-tiba teringat dengan permintaan iseng Vira.

“Eh, kemarin Vira ada minta aku makan daun,” mendadak ingatan ini seperti mengetuk kepalaku.

Tanpa pikir panjang lagi aku segera meminta tolong kepada temanku si Pelisoul untuk mengambil fotoku dengan pose seolah-olah ingin memakan daun di pinggir jalan. Hanya seolah-olah, tidak beneran dimakan, soalnya aku tidak tahu mana tumbuhan yang bisa atau tidak bisa untuk dikonsumsi. Kan gak lucu kalau aku mati konyol gara-gara makan daun. Hahaha….

Kukirimkan foto tadi ke grup, yang kemudian ditertawain oleh Vira.

“Kamu kok mau sih ngelakuin itu Mes? Aku kan cuman bercanda, hahaha…,” tulisnya

“Aku suka sama kamu, Vir,” aku hanya bisa menjawab di dalam hatiku.

Tak lama mobil ketiga tadi sudah tiba dengan membawa bahan bakar, tanpa membuang waktu lagi kami bertolak kembali ke Medan.

Misi pemberian bantuan pun berjalan dengan lancar, kami sampai ke rumah Martin dengan keadaan selamat tanpa kekurangan apapun.

http://www.kaskus.co.id/post/52e530c…8b46ae3b8b46f1

Efek dari capeknya hari ini adalah, aku pulang mengendarai motorku dengan sesekali tertidur di atas motorku sambil memacu gas motorku dengan pelan. Dinginnya angin malam ini pun seolah-olah menina bobokku di atas revo bututku.

cerbung.net

Lost In Love

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: , Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Namaku Mesachi, margaku Sarumaha dan aku Seratus persen seorang pria, dan tidak mempunyai bakat menulis.Tidak ada keturunan Jepang sama sekali, aku adalah anak dari pasangan Bapak Nias dan Mamak Tiong Hua. Dan sekarang tinggal di Medan tepatnya di Sunggal.Harusnya aku adalah anak ke dua dari 3 bersaudara. Kakak pertamaku sudah menikah, dan aku hampir mempunyai seorang adik wanita yang sayangnya tidak berhasil diselamatkan oleh pihak rumah sakit, sehingga aku menjadi anak bungsu sekarang ini (menurut cerita Mamakku).Dari awal sekolah aku sangat menyukai kegiatan ekstrakurikuler, contohnya pramuka, walaupun aku hanya sempat naik pangkat menjadi ‘penggalang ramu’, hehe… Aku juga mengikuti drumband di sekolahku dulu, aku lupa hari itu memperingati hari apa, tapi seingatku aku ikut pawai dari jalan Setia Budi sampai ke Istana Maimoon sambil meniup trompet (orang Medan harusnya tahu seberapa jauh jaraknya ini).Sekarang aku bekerja sebagai admin di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan, tempat aku menamatkan S1 komputerku tahun 2013 dulu. Di kantorku/kampusku hanya ada 4 orang termasuk 1 orang OB. Sangat hening di sini kalau pagi hari, aku hanya berdua dengan seorang OB, hingga siang nanti 2 teman kerja lain datang, mereka masuk kerjanya siang. Perkuliahan di sini di mulai jam 17:30 WIB dan berakhir jam 20:00 bersamaan dengan jam pulang kerjaku.Aku suka mendaki gunung, aku juga suka kegiatan sosial.Aku beberapa kali ikut kegiatan sosial bersama teman-teman RPM kaskus. Buat yang gak tahu RPM itu apa, RPM adalah salah satu regional yang ada di kaskus, Regional Profesional Medan
Ohyah, cerita ini tentang cerita cinta LDR penulis dengan seorang wanita yang tinggal di Jakarta.Tahu LDR kan?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset