Love Magnitude episode 1

Chapter 1

Jalanan ibukota berbeda hari ini tak seperti biasanya, walau kepadatan sudah menjadi keseharian, namun perasaanku hari ini berbeda. Sekitar tiga puluh menit aku menghabiskan waktu berangkat ke kantor dengan sepeda motor. Aku kerja disalah satu perusahaan di bidang consulting di daerah Jakarta Selatan. Tidak terlalu besar memang, namun memiliki klien seluruh Indonesia.

Setelah aku absen, lalu aku ke meja kerjaku, menyalakan komputer dan mengecek tugas serta e-mail. Beberapa teman kantorku memang sudah datang lebih dulu, yah walaupun belum masuk jam kerja, tapi mereka tergolong rajin atau datang lebih pagi menghidari macetnya ibukota.

“Pagi sob, kenapa lu?” sambil melihat mukaku yang memang sedikit murung.
“Eh, ngg apa-apa, tau nih perasaan gue beda hari ini.” jawabku.
“Lagi marahan ye sama cewek lu?” sedikit senyum.
“Kagaklah, baik-baik aja gue sama dia.”
“Kirain lagi marahan lu, gue siap nampung koq kalau lu putus.” dengan wajah senang.
“Sialan!.” lalu aku pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi.

Sembari menyeduh kopi aku teringat memang aku belum memberi kabar kepada pacarku, ya tapi memang dia pengertian dan tidak terlalu menuntut pula untuk dichat pagi-pagi. Aku lalu kembali ke meja kerjaku dan mengecek tugas yang sudah aku selesaikan kemarin sebelum aku kirim ke atasanku. Di perusahaanku ini peraturannya tidak terlalu ketat, hanya tugas harus sesuai dengan deadline saja bebannya.

Setengah sepuluh aku kirimkan melalui e-mail dan aku sedikit bebas karena belum ada tugas yang masuk lagi kepadaku. Dan aku mengambil ponselku untuk chatting dengan pacarku sampai ada tugas masuk, ya walaupun tidak akan lama lagi tugas pasti akan masuk.

“Pagi sayang, eh masih pagi atau udah siang ya setengah sepuluh?” candaku memulai obrolan.
“Pagi juga Rudi sayang, kayanya masih pagi deh, soalnya aku baru bangun jam sembilan :P.” balasnya.
“Begadang lagi semalem? Aku bilang ngerjain tugasnya siang aja bisa kali.” dengan sedikit kesal.
“Iyah maaf, kemarin soalnya aku pulang dari kampus langsung tidur, terus bangun jam delapanan, jadinya baru ngerjain tugas sama ngg sempet balas chat kamu, sayang.” balasnya lagi.
“Oh yaudah ngg apa-apa, seminggu kemarin kamu begadang teruskan, jadinya kecapean, makannya jangan suka begadang ngerjain tugas.” tegasku.
“Iyah, soalnya tugas numpuk banget semester akhir. Eh, nanti malem kamu main ke rumahkan sayang?” tanyanya.
“Sekarang hari jum’at yah? Lupa :P. Mana belum gajian lagi ngg bisa beliin martabak buat camer nih :P” balasku.
“Ngg apa-apa kali sayang, main yah, kangen.” balasnya dibarengi e-mail masuk dengan pengirim dari atasanku.
“Eh, udah dulu yah, ada tugas masuk lagi nih, bye, love you, see you tonight.” balasku dan membuka e-mail.

Aku lalu membaca e-mail dari atasan, dan satu chat dari pacarku masuk, namun tidak aku buka. Aku baca e-mailnya dan ternyata isinya adalah surat tugas keluar kota, dan kotanya adalah Surabaya. Aku ditugaskan disana selama seminggu, untuk mensurvei dan mengumpulkan data dari klien perusahaan ini di sana. Tugasku mulai dari tanggal 13-16 Agustus 2018, itu artinya hari minggu besok aku sudah harus berangkat.

Aku lalu mempersiapkan berkas-berkas yang akan dibawa dan menemui atasanku untuk briefing beberapa hal saat jam istirahat makan siang selesai. Sejam tersisa sebelum istirahat makan siang, aku bereskan berkas-berkas yang akan dibawa serta data yang atasan kirimkan padaku melalui e-mail.

Tak terasa satu jam berlalu, dan dimejaku sekarang penuh dengan kertas-kertas berkas yang telah aku cetak, beberapa dokumen ada yang harus ditanda-tangani dan beberapa dokumen ada yang harus diterima oleh klien.

“Rud, mau makan siang di mana?” tanya temanku sambil menepuk pundak.
“Di tempat biasa aja, emang udah jam istirahat sekarang?” tanyaku.
“Belum sih, masih ada sepuluh menit lagi, tapi tugas gue udah beres barusan, jadi belum dikasih tugas lagi.” jelasnya.
“Jangan-jangan lu bakal ikut sama gue tugas keluar kota.” ucapku.
“Keluar kota ke mana? Pantes aja meja lu banyak dokumen gini, ngg seperti biasa.” sambil mengambil satu dokumen dan membacanya.
“Ke Surabaya bro, sialan jauh banget, kagak tau nih gue disuruh pake apaan ke sana.”
“Oh Surabaya.” jawabnya sambil membaca dokumen yang dia pegang dengan serius.

Tak lama jam istirahat pun tiba, beberapa dokumen belum selesai tercetak, namun bisa aku tinggalkan istirahat walau cetakan terus berjalan. Temanku lalu menyimpan dokumen yang dia baca lalu mengajakku makan siang.

Tempat biasa kami makan siang adalah warung angkringan, tidak seperti pekerja kantoran lain dengan memilih kafe atau mall, kami hanya memilih warung angkringan dengan porsi yang pas dan harga yang wajar. Sampai di warung sudah banyak teman kantorku di sana, dan setelah memesan makanan kami pun bergabung.

“Woy, udah pada makan aja lu pada.” sentakku sedikit mencairkan suasana.
“Biarin, tugas gue udah mau beres, nih si Toni doang yang malah istirahat cepet padahal jam tiga deadlinenya.” jelas temanku sambil menunjuk Toni yang ada di sebelahnya.
“wah nih bocah emang suka mepet ya.” celetuk Andy, teman yang bersamaku datang ke sini.

Makananku datang dan mulai menghabiskan sambil mendengarkan ocehan-ocehan kocak dari teman-temanku. Ya walau kami dikejar deadline, namun tidak memupuskan kebahagiaan kami.

“Pada tau ngg bro, nih si Rudi mau liburan ke Surabaya.” Andy memulai membuka pembicaraan lagi.
“Wah yang bener lu Rud? Kagak ngajak-ngajak kita sih.” tanya temanku
“Iyah abis gajian dong hari ini , gue ajak mau lu?, tapi ntar bawain dokumen gue.” sontak tawa sedikit pecah.
“Sialan, gue kira beneran liburan, taunya liburan bersyarat.” sambil menepuk jidat, temanku tertawa.
“Tugas berapa hari lu, Rud?” tanya Toni.
“Empat harian kayanya Ton, hari minggu kayanya gue pergi, ngg tau gue naik pesawat atau helikopter, belum dikasih tau sama bos.” jawabku.
“Paling naik odong-odong.” ucapan Andy sontak membuat tertawa.
“Sialan lu, naik odong-odong ma sampe nih perusahaan gulung tikar juga ngg bakal nyampe.” celetukku menutup percakapan karena sudah waktunya masuk kantor lagi. “udah ah, gue balik ke kantor, lagi sibuk beresin berkas” lanjutku.
“yaudah gue juga ikut ke kantor duluan, soalnya deadline gue udah mepet” jelas Toni.

Lalu kami membayar makanan kami dan kembali ke kantor. Sampai di mejaku, berkas yang tadi aku cetak telah selesai semua, lalu aku merapikan dan menumpuknya. Karena memang masih ada sekitar lima menit waktu istirahat, akhirnya aku duduk dan melihat chat dari pacarku walaupun tak aku balas.

 

isi pesan*

“iyah, semangat sayang, love you, miss you :*”


cerbung.net

Love Magnitude

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Kehidupan kesehariaan seorang pria yang dipenuhi warna warni percikan cinta , namun tidak lama warna itu berubah menjadi kehitaman yang dipenuhi kesedihan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset