Love Magnitude episode 10

Chapter 10

Pagi jam empat aku terbangun oleh alarmku, aku lupa semalam tidur jam berapa karena tv pun masih menyala. Aku lalu bangun dan pergi mandi.
Selesai itu aku pergi sarapan karena sudah janji dengan mas tukang bubur.

“Pagi mas.” Ucapku sembari duduk di bangku.
“Pagi juga mas.” Sepetinya dia sudah tahu maksudku.

Semangkuk bubur lalu disimpan di meja depanku, dan aku menyantapnya. Kami tidak terlalu banyak mengobrol.

“Mas, ngomong-ngomong nama mas siapa?” tanyaku.
“Oh, kenapa emangnya mas?” balik bertanya.
“Ya tak kenal tak sayang lah, mas.” Ucapku.
“Maaf mas, saya masih suka perempuan.” Ucapnya bercanda.
“Lah saya juga sama. Nih mas saya bayar, mau balik lagi ke kamar.”
“Gitu aja marah mas, nanti kalau mas balik lagi saya kasih tau.” Ucapnya dan aku pun berlalu.

Tepat jam setengah enam aku pun check out, dan aku mendorong motorku sampai tukang bubur seberang jalan.

“Nah, udah ketemu lagi nih mas. Namanya siapa?” Bercandaku.
“Lah, bukan hari ini mas. Besok-besok. Lagian ngebet amat mas pengen tahu.” Jawabnya.
“Yaudah saya numpang manasin motor ya mas.” Aku lalu menyalakan motorku.

Aku takut mengganggu bila aku panaskan motorku di tempat parkir karena berisik.
Selang lima menit aku, aku berpamitan dan mulai memacu sepeda motorku, tak lupa aku mengisi bahan bakarku di saat aku menemukan SPBU terdekat.
Rute yang aku tempuh hanya membalikan rute yang kemarin. Lamongan, Tuban, Rembang, Semarang, Pekalongan, Cirebon, mungkin dari sini aku akan lanjut terus sampai Jakarta tanpa beristirahat.

***

“Sialan, banku bocor lagi.” Kesalku.

Perjalananku harus terhenti karena ban yang tiba-tiba kempes, dan aku harus mencari tukang tambal ban atau bengkel untuk mengganti banku, karena aku selalu membawa ban dalam cadangan.
Tak jauh dari tempat awal aku menuntun motorku terlihat sebuah bengkel dan aku menepi ke sana.

“Mas, bisa minta gantiin ban ngg mas?, saya bawa ban cadangannya koq mas.” Ucapku.
“Oh, bannya bocor di sana mas?.” Tanyanya.
“Iyah mas, emangnya kenapa?” tanyaku kembali.
“Iyah di sana suka ada tukang tambal ban yang jail, mungkin sekarang lagi tutup mas, jadi mas ke bengkel ini.” Lalu dia mengambil ban cadanganku dan memulai memasangnya.

Aku hanya duduk menunggu di ruang tunggu sambil sejenak beristirahat. Saat itu sekitar jam dua siang dan aku rasa sekarang aku sudah berada di Semarang.

“Ini mas sudah selesai.” Petugas bengkel memberitahuku.
“Oh iya makasih mas, jadi berapa?.” Aku bertanya karena ini bukan bengkel resmi.
“Seikhlasnya aja mas, sekedar buat ro**k.” Ucapnya.

Beruntung aku bisa bertemu dengan bengkel sebaik ini.
Saat aku menyalakan motorku dan hendak akan meninggalkan bengkel tersebut, tiba-tiba guncangan cukup kencang seperti gempa aku rasakan.
Petugas bengkel terlihat panik dan aku pun mengikuti mereka mencari tempat yang aman dengan membawa motorku.
Sekiranya satu menit berselang, goyangan yang kami rasa gempa sudah mulai mereda. Aku lalu sejenak kembali masuk ke bengkel untuk melihat berita di tv apa yang sebenarnya sudah terjadi.

“Gempa dengan kekuatan lima skala richter telah mengguncang Semarang, BMKG Semarang memperkirakan pusat gempa berada di Teluk
Jakarta dengan kekuatan delapan skala richter.” Berita yang aku dengar dari tv.

Sontak aku menelpon orang tuaku dan tidak bisa tersambung, aku mengecek sinyal di ponselku dan masih ada walau tidak full.
Dengan rasa khawatir, aku lalu kembali memacu sepeda motorku menuju Jakarta. Pikiranku terbang berpacu dalam kekhawatiran akan kabar orang tuaku. Tanpa istirahat aku memasuki bekasi tepat pukul satu malam, rasa kantuk dan lelah tak aku rasakan.

Namun sayang, saat di Bekasi, banyak kendaraan tanpa orang dibiarkan ditengah jalan. Aku sedikit pelan saat di sini, karena aku harus selip menyelip melewati kendaraan tanpa manusia.
Memang saat di sini, kerusakan cukup terlihat, dari jalan yang terbelah, benteng pembatas sungai banyak yang roboh, jembatan penyeberang orang pun banyak yang hancur.

Aku terkejut, karena jalan Kalimalang saat itu dipenuhi oleh air, aku lihat tanggul dari sungai yang berada tepat di depan sebuah mall, hancur. Aku lalu berbelok ke kiri melewati jalan Ahmad Yani dan aku paksakan masuk menuju jalan tol.
Aku melihat jalan tol memang padat dengan kendaraan, namun aku bisa melihat celah yang cukup dan bisa aku lewati.
Saat itu jam setengah tiga pagi saat aku memasuki tol, rasa takut akan ditilang polisi mungkin kalah daripada rasa khawatir terhadap orang tua..

Aku saat itu mungkin tidak sadar akan beberapa bangunan yang hancur, jalanan yang rusak serta banyaknya mobil yang aku lewati, karena yang aku harapkan aku bisa bertemu dengan orang tuaku dan memastikan mereka selamat.
Aku memacu kendaraan melewati gerbang tol cikunir lalu mengambil arah ke jalan tol lingkar timur, aku memacu kencang sepeda motorku di lajur darurat melewati truk yang sangat besar dan ada beberapa truk yang terguling.

Tepat jam setengah empat aku keluar dari jalan tol di daerah Lenteng Agung dan aku mengambil jalan menuju flyover melewati jalur kereta.
Tak lama dari situ aku sudah memasuki jalan perumahan yang menuju rumahku. Dan, perasaanku semakin khawatir, karena bangunan di sini sudah tidak ada yang utuh lagi, paling ringan beberapa bagian saja yang roboh dan yang paling berat adalah sudah rata dengan tanah.

Setelah aku sampai depan rumahku, aku sedikit bernafas lega. Rumah yang aku tinggali, mungkin hanya sekitar tiga puluh persen saja yang hancur, dan yang membuat aku bahagia adalah, mobil orang tuaku terparkir tepat didepan rumah.

“Mah, Pah.” Aku mengetuk kaca jendela mobil.
“Rudi, kamu ngg apa-apa?” Mamaku lalu turun dari mobil, disusul oleh ayahku.
“Kamu ngg apa-apa, Rud?” Papaku pun menanyakan keadaanku.
“Yang harusnya bertanya kan aku, kalian ngg apa-apa, mah ,pah?”
“Kami ngg apa-apa koq, Rud.” Jawab mamaku.
“Iya, Kami kemaren sengaja pulang cepet, soalnya kamu mau pulang nih kata mama kamu.” Jawab papaku.
“Waktu kemaren kejadian, kami udah masuk jalan perumahan ini, Rud. Jadinya puji Tuhan kita selamat.” Ucap mamaku.

Aku lalu masuk ke mobil belakang, aku lalu rebahkan badanku, sejenak aku ingin tertidur karena dari kemarin aku tidak tidur.
Aku tidak tahu apa ada gempa susulan, atau ada bencana lain yang datang, karena aku tertidur pulas sampai aku terbangun …


cerbung.net

Love Magnitude

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Kehidupan kesehariaan seorang pria yang dipenuhi warna warni percikan cinta , namun tidak lama warna itu berubah menjadi kehitaman yang dipenuhi kesedihan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset