Love Magnitude episode 11

Chapter 11

Aku merasakan seperti ada yang menggoyang-goyangkan tubuhku, begitu lama sampai aku terbangun dari mimpi.

“Rud, Rudi, bangun kamu, udah sore.” Suara yang aku dengar.

Aku lalu terbangun dan melihat bahwa yang membangunkan itu adalah mamaku dan aku disuruh untuk masuk kerumah.
Akupun bangun dan masuk kerumah, dan aku merasa tidak enak badan, badanku seperti melayang.
Aku lalu duduk diruang tengah, dan menyalakan tv, aku bersyukur listrik tidak padam, namun hanya air saja yang tidak mengalir karena mungkin salurannya sudah banyak yang rusak.

“Mandi dulu sana, Rud.” Ucap papaku.
“Emang ada airnya, pah?” tanyaku.
“Masih ada koq, tangki airnya masih penuh, kemarin papa sengaja sebelum kerja penuhin dulu.” Jawabnya.

Aku lalu pergi mandi, rasa air yang menyentuh tubuh begitu enak aku rasa, menghilangkan sejenak kesedihan karena bencana ini.
Namun, aku teringat sesuatu, aku belum tahu kabar dari Ika. Sejak kemarin dia belum mengabariku.

Selesai mandi dan menggunakan pakaian, aku lalu bergegas menuju rumahnya Ika.
Aku berjalan kaki, karena bensin di motorku sudah mau habis. Mungkin sekitar lima belas menit aku sampai kerumahnya.

Dan, aku terkejut dan sedikit lemas, karena rumah Ika sekitar setengahnya sudah hancur, termasuk kamarnya.
Pikiranku melayang membayangkan sejuta kesedihan, dan aku hanya berharap Ika selamat.

Aku lalu memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumahnya, berharap ada seseorang yang memberikan kepastian kabar.
Namun hasilnya nihil, akupun sepertinya buntu, karena ponsel aku pun tidak menunjukan satu batang sinyal pun.

“Bang, saudaranya Ika ya?” teriak seorang tetangga.
“Iya pak, bapak tahu keluarga yang di sini pergi kemana?” tanyaku.
“Kemarin si bapaknya nitip pesen, kalau ada yang tamu kerumahnya suruh nyusul ke rumah sakit.” Jawabnya.
“Siapa yang sakit, pak?” tanyaku.
“Saya juga tidak tahu bang, kemaren soalnya si bapak sendiri, terus pergi lagi pake motor.”

Mendengar jawaban itu, aku berterima kasih dan bergegas pergi ke rumah sakit.
Aku tidak mungkin untuk pergi ke sana dengan berjalan kaki, karena cukup jauh. Dan mungkin aku tidak bisa menggunakan motorku, karena bahan bakarnya yang tinggal sedikit.

Lalu terbersit fikiran untuk aku pinjam bahan bakar dari mobil orang tuaku.
Aku lalu bergegas pulang dan meminta izinnya, dan syukur mereka mengizinkannya.
Aku hanya meminta sedikit saja, karena aku lihat sisa bahan bakar di mobil orang tua ku tidak sampai penuh.
Setelah selesai, aku lalu bergegas menuju rumah sakit tersebut.
Aku lihat, rumah sakit masih kokoh berdiri, namun dengan beberapa retakan yang jelas terlihat dan penuh sesak oleh banyak pasien.

“Mbak, saya cari pasien nama Ika, ada ngg mbak?” tanyaku.
“Sebentar ya mas.” Jawabnya. “Ngg ada yang namanya Ika, mas.” Terusnya.
“Ngg ada?, eh Riska, mbak, ada?” tanyaku kembali.
“Ada mas, Riska siapa ya?, ada enam orang yang namanya Riska.” Jawabnya membuat aku bingung.

Jujur, aku lupa nama panjangnya siapa, karena aku jarang memanggil dengan nama panjangnya.

“Riska siapa aja, mbak? Bisa disebutin satu-satu?.” Mintaku.

Dia lalu menyebutkan satu-persatu sampai …

“Nah, itu mbak, Riska Wulandari.” Jawabku.
“Kalau Riska Wulandari ada di lantai 2 kamar Mawar, mas. Maaf, mas siapanya ya?” kembali bertanya.
“Saya kakaknya mbak.” Jawabku.
“Ouh kakaknya, Soalnya kalau bukan anggota keluarga, Cuma boleh pas jam tertentu mas.” Jelasnya membuat aku lega.

Aku lalu dipersilahkan untuk menuju kamar yang disebutkan tadi. Berjalan melewati lorong yang penuh dengan pasien, kemudian menapaki anak tangga satu demi satu, rasa khawatirku semakin menjadi saat semakin dekat dengan kamar yang aku tuju.
Aku lalu mengetuk pintu, dengan harap-harap cemas aku menunggu dibukanya pintu.

“Rudi.” Mama dari Ika menyapaku.
“Eh, tante.” Jawabku menyapa.
“Ngapain kamu di sini?” tanyanya.
“Ngg tante, aku tadi ke rumah, kata tetangga di sana, kalau ada apa-apa suruh ke RS ini.” Jawabku.
“Keluarga kamu ngg apa-apa kan, Rud?” Tanyanya.
“Puji Tuhan, pada sehat koq tante. Emang kenapa ya?” ucapku.
“Yaudah, sini masuk.” Ajaknya.

Aku lalu mengikutinya masuk, di dalam aku melihat papanya Ika sedang duduk di sofa, dan aku melihat Ika, Iya Ika, dia tertidur nyenyak dengan banyak selang terhubung ke tubuhnya.
Aku lalu menyapa papanya Ika dan sejenak mengobrol untuk memastikan apa yang terjadi.

“Kamu yang sabar ya, Rud.” Papahnya Ika menepuk-nepuk pundakku.
“Om juga yang sabar.” Kataku.
“Katanya dia nyusul kamu ke Surabaya ya, Rud?” tanya papanya Ika.
“Iya, om. Rudi juga kaget om, soalnya Ika ngg bilang dulu.” Jawabku.
“Ya mungkin dia pingin bikin kejutan buat kamu.”
“Ika juga maunya pulang bareng saya om, tapi saya kasian dia pake motor, mana jauhkan om. Tapi kalau tahu begini, mungkin saya ajak dia pakai motor om.”
“Iya sudah, sudah terjadi juga koq, jangan disesali.”

Aku lalu sedikit mendekat ke tubuh Ika yang terbaring, aku genggam tangannya yang dingin waktu itu, kepala dan bahunya di perban, dan ada sedikit luka di wajahnya.
Aku lalu kembali duduk dan berbincang kembali dengan orang tuanya Ika.

“Maaf om, saya ngg bawa oleh-oleh.” Ucapku.
“Iya tidak apa-apa, kamu datang saja, Ika pasti seneng koq.” Ucap papanya Ika menyemangati.
“Waktu di Surabaya gimana kerjaannya, Rud?” Tanya mamanya Ika.
“Ya, gitu aja tante, kliennya juga enak waktu di sana.” Jawabku.
“Kamu belum ngabarin lagi dong ya sama bos kamu?”
“Belum tante, ngg ada sinyal di sini, mungkin nanti senin saya ke kantor, lagian bensin saya juga mau habis.” Jelasku.
“Oh bensin kamu mau habis? Beli aja di daerah sini, dia masih buka koq, dan kayanya ngg ada masalah, tadi om beli dari sana, cuma mungkin stoknya aja yang ngg bakal lama lagi habis.”

Aku pun melihat jam, dan memang sudah jam sepuluh malam, aku lalu pamit dan sebentar aku akan mengisi bensinku, semoga masih ada tersisa.

“Yaudah om, tante, Rudi pamit pulang dulu.” Ijinku.

Aku lalu keluar menuju parkiran, dan aku pergi ke tempat isi bensin. Mungkin memang ini jatahku, aku bisa mendapatkan bensin sampai tangki motorku penuh.

“Kayanya seminggu kedepan, ngg ada kiriman dulu mas.” Ucap petugas SPBU.

Aku lalu pulang kerumah, dan aku tidur di ruang tamu, karena aku masih takut akan kondisi rumah ini, jika sewaktu-waktu ada hal yang tidak di inginkan.


cerbung.net

Love Magnitude

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Kehidupan kesehariaan seorang pria yang dipenuhi warna warni percikan cinta , namun tidak lama warna itu berubah menjadi kehitaman yang dipenuhi kesedihan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset