Love Magnitude episode 2

Chapter 2

“Siang bu.” memasuki ruangan meeting dengan wajah tersenyum.
“Oh, siang rud, silahkan duduk disitu, saya sedang menyusun dokumen-dokumen sebentar.” jawabnya sambil sibuk membaca dan menyusun dokumen.

Tak lama berselang, ada yang mengetuk pintu ruangan dan masuk.

“Siang bu, ada apa saya dipanggil kesini?” dengan wajah bingung Andy masuk.
“Siang dy, silahkan duduk dulu sebelah Rudi.” lalu merapikan dokumen yang ada ditangannya dan mulai membuka pembicaraan. “baik, sekarang kita mulai. Rudi, dokumen yang tadi saya kirim melalui e-mail kamu bawa?”
“Ini saya bawa bu.” aku menyerahkan dokumen tersebut.
“Baik, Terima Kasih.” menerima dokumenku lalu memisahkan beberapa dokumen. “Ini nanti kamu bawa ke Surabaya, ada beberapa yang harus ditanda tangani dan kamu bawa kembali, lalu sebagiannya lagi kamu serahkan.”
“Baik bu.” Aku menerima dokumen lalu aku baca beberapa poin.
“Dan kamu Andy, kamu yang membantu membuat laporan, nanti data-datanya Rudy yang akan kirimkan dan ini dokumen sebagai draft, nanti kamu ketik dan rapikan lagi.”
“Baik bu.” Andy menerima dokumen yang cukup tebal, mungkin untuk seminggu tugas dia.
“Andy sekarang kamu boleh meninggalkan ruangan ini, sementara kamu Rudi masih ada yang saya akan bicarakan.”

Lalu Andy pergi meninggalkan ruangan.

“Baik, sekarang saya akan bicarakan sedikit tentang perusahaan klien kita, perusahaan ini bergerak di bidang perkapalan dan memang masih tergolong perusahaan baru, jadi disitu ada beberapa dokumen yang mereka minta, nanti kamu pelajari saja dulu.”
“Baik bu.”
“Nanti kamu disana bertemu dengan Ibu Mita, lalu untuk penginapan kamu tinggal di Hotel Alpa untuk empat hari dari hari minggu sampai hari rabu, kamu bisa langsung kembali hari kamisnya dan hari Jum’at kamu boleh libur. Dan untuk transportasi, kamu hanya akan diberi uang saja, jadi kamu mau naik transportasi apapun, terserah kamu.” Jelasnya kemudian.
“Baik bu.”
“Oh iya, deadlinenya hari Jum’at beri tahu juga Andy, tadi saya lupa.”ucapnya.

Lalu dering ponsel atasanku berbunyi dan dia pergi sebentar, aku yang ditinggalkan sendiri hanya bisa membaca dokumen-dokumen yang ada ditangan. Sambil memikirkan transportasi apa yang akan aku gunakan, pakai bis, kereta, atau pesawat. Tak lama berselang, atasanku kembali dengan membawa amplop coklat.

“Maaf menunggu lama ya Rud.” sambil duduk kembali.
“Iya, tidak apa-apa bu.”
“Oh iya, ini amplop buat kamu bawa, itu isinya tiket hotel, map dan uang transport serta makan disana. Dari hotel ke kantor cukup dekat, tapi itu map untuk jaga-jaga saja.” jelas Ibu Indri.
“Baik bu, terima kasih.” ucapku.
“Iya, sama-sama, mohon kerja samanya ya, hati-hati disana.” lalu berdiri dan meninggalkan ruangan. “Oh iya Rud, sekarang kamu sampai jam tiga bantu Andy mengerjakan tugasnya ya, selesai jam tiga kamu mau pulang duluan juga silahkan.” ucapnya seraya menutup pintu.

Enaknya kerja di perusahaan seperti ini pikirku, kerjaan hanya dikejar deadline dan atasannya ramah. Aku lalu kembali ke mejaku untuk merapikan dokumen ke dalam tas dan sejenak mengirim pesan ke pacarku.

“Aku pulang langsung kerumah yah. Mau martabak rasa apa? :P.” pesanku terkirim.

Lalu aku pergi ke meja Andy yang sedang sibuk mengetik.

“Mau dibantu pak Andy?” candaku.
“Sialan lu, gara-gara lu tugas gue banyak banget.” berhenti mengetik.
“Ya terima aja bro udah nasip lu emoticon-Big Grin. Sini gue bantuin ngetik, bagi lima lembar aja yak, gue mau pulang cepet nih.” dengan wajah tersenyum.
“Sialan lu pake pulang cepet, yaudah tuh kerjain sana.” dan memberikan beberapa dokumen.
“Siap bos, nanti gue kirim ke email lu, ini dokumen gue balikin pas gue mau balik juga.” Aku lalu kembali ke mejaku.

Sejenak aku membaca dan mengambil intisari dari dokumen itu lalu mulai mengetik. Memang tidak semudah yang dibayangkan menulis kembali draft karena isi dari dokumen draft belum sepenuhnya benar dan lengkap, jadi ini lah tugas kami, mengkoreksi dan melengkapi dokumen serta memeriksa kembali.

Dalam konsentrasiku, aku merasakan ponselku bergetar, sekali, dua kali, lalu aku lihat ponselku, ternyata ada panggilan masuk.

“Halo selamat siang pak Rudi, saya Ibu Mita dari perusahaan yang akan bapak kunjungi.” dengan suara perempuan yang lembut.
“Oh iyah selamat siang bu, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku.
“Saya hanya ingin memberitahukan bahwa nanti hari senin saya tunggu pukul sepuluh, nanti bapak bisa menanyakan ke security untuk bertemu saya.”
“Oh baik bu, terima kasih.”
“iya baik, terima kasih.” seraya menutup panggilan.

Aku lalu melanjutkan pekerjaanku yang hanya tinggal sedikit lagi, mungkin bagi yang sudah terbiasa dalam suatu pekerjaan, mereka akan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Dan setelah aku selesai mengetik dan memeriksa kembali, aku kirim melalui e-mail dan kembali menemui Andy di mejanya.

“Sudah beres bos, nih dokumen yang gue pinjem, gue balikin.” tersenyum seraya memberikan dokumen.
“Enak banget sih lu, habis gajian terus jalan-jalan.” ucapnya bercanda.
“Namanya juga rezeki bro, eh tau ngg lu, tadi kliennya telpon gue, suaranya lembut banget, kayanya cewek cantik bro.” ucapku menggoda.
“Ah yang bener lu? Yaudah pacar lu buat gue aja, yang itu buat elu, gue ngg kuat LDR bro.” tawanya pecah sehingga beberapa karyawan melihat ke arah kami.
“Sialan lu, gue ma setia bro orangnya, tuh gara-gara lu jadi pada liatin kesini, bukannya kerja malah ketawa-ketawa lu.”
“Ya elu yang mulai duluan, udah sono kalau mau balik lu, jangan lupa oleh-olehnya ya sama photo klien kita.” sedikit menggerakan alis matanya.
“Siap bos, kalo boleh gue fotoin doi. Gue duluan yak, selamat weekend bro.” lalu aku mengambil tas di mejaku dan absen.

Berjalan ke parkiran motor dengan sedikit membuka ponsel dan melihat pesan dari pacarku.

“Iya sayang, terserah kamu. Hati-hati dijalan.”.

Setelah aku sampai di motorku, aku pakai helm dan langsung memacu sepeda motorku kearah rumah pacarku, ya sebentar mampir ke tukang martabak langganan. Mungkin sekitar dua puluh menit aku sampai, karena satu arah dengan arah rumahku.

“Bang martabak biasa dua, yak!” teriakku sambil memarkirkan motor.
“Siap bos, baru gajian yak.” senyuman hangat menyambut.
“Iyalah bang, kerja mulu kagak gajian ma buat apa, gue ke atm dulu yak bentar, gue balik harus udah dikotakin tuh martabak.” sambil berlalu.
“Siap bos!”

ATM tidak terlalu jauh dari tukang martabak tadi, tapi jika tanggal-tanggal gajian mendadak ramai. Benar saja, setelah aku sampai, sudah ada empat orang yang mengantri. Sambil menunggu, aku chat pacarku.

“Sayang, aku sebentar lagi sampai, lagi beli martabak. :*” pesan terkirim. Tak berselang lama datang balasan.
“Udah beli martabak? Aku kira kamu pulang jam lima kaya biasa, yaudah aku mandi dulu yah sayang, see you. :*”

Tak terasa sekarang giliranku, aku lalu mengambil sekitar Rp.200.000,- dan kembali ke tukang martabak. Dalam perjalanan aku sedikit terfikir belum membuka amplop dari ibu Indri, berapa ongkos yang aku terima.

“Bos, ini bos udah jadi siap dibawa kerumah mertua.” memberikanku bungkusan berisi dua kotak martabak.
“Tau aja lu bang, inikan bukan malam minggu.” lalu aku memberikan sejumlah uang.
“Kaya ngg sering beli di gue aja lu.” sambil memberikan kembalian.
“Makasih bang.” kemudian aku menyalakan motor dan pergi dari tempat itu.

Hanya berjarak sekitar lima menit aku menuju rumah Riska,ya nama pacarku Riska tapi aku sering memanggilnya Ika. Setelah sampai, aku parkir motorku di halaman rumahnya. Lalu, aku mengetuk pintu rumahnya.

“Iya, Sebentar!” terdengar jawaban dari dalam.

Pintu kemudian dibuka begitu cepat, kemudian aku ditarik kedalam dan “BRAKKK!!” suara pintu ditutup dengan dibanting. Kemudian aku merasakan hangatnya pelukan seorang wanita yang aku sayangi.

“Sayang, nanti mama kamu tau loh kita pelukan.” ucapku khawatir.
“Biarin sayang, ngg ada orang dirumah.” Jawabnya dibarengi tambah erat pelukannya.


cerbung.net

Love Magnitude

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Kehidupan kesehariaan seorang pria yang dipenuhi warna warni percikan cinta , namun tidak lama warna itu berubah menjadi kehitaman yang dipenuhi kesedihan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset