Love Magnitude episode 3

Chapter 3

Suara deru motor berhenti di depan rumah Ika. Sontak pelukan yang begitu erat mulai melemah.

“Itu liat siapa yang pulang.” suruhku.

Lalu Ika beranjak dari hadapanku, dan mengintip dari balik tirai jendela. Memang saat itu aku hanya berada di ruang tamu, namun sedikit tertutup oleh tirai.

“Itu mama papa aku udah pulang, yang.” ucapnya seraya membuka pintu.

Lalu aku beranjak ke depan pintu untuk menyapa orang tuanya Ika.

“Sore om, tante.” dengan senyum aku pasang di wajahku.

Memang aku sudah tidak terlalu canggung lagi, karena sudah beberapa kali aku bertemu dan mengobrol dengan mereka.

“Eh ada Rudi, udah lama Rud?” Tanya papanya Ika.
“Baru dateng om, itu martabaknya juga masih anget.” jawabku.
“Wah asyik mah ada martabak, kebetulan papa lagi laper.” sambil mengelus-ngelus perutnya.

Lalu kami masuk ke dalam rumah, tak lupa martabak yang aku bawa mereka ambil dan dibawa ke dapur, mungkin untuk disajikan kembali kepadaku karena sudah bukan hal aneh lagi hal seperti itu. Akupun duduk kembali dengan Ika di ruang tamu, lalu aku sedikit memainkan sebuah lagu dari ponselku untuk mehilangkan kesunyian.

“Lagu Apaan sih ini yang?” pacarku mengeluh.
“Ini lagu waktu kamu baru lahir kayanya.” jawabku.
“Udah lama banget dong.”
“Iyahlah, tapi kata aku enak sih, irama sama gitarnya enak menurutku.”
“yaudah aku denger.” lalu dia menyenderkan kepalanya dipundakku.

Sebenarnya aku agak risih sih saat seperti ini, takut dilihat oleh orang tuanya Ika, tapi dia seperti biasa saja. Aku baru ingat, aku belum mengatakan bahwa aku akan pergi untuk tugas keluar kota, mungkin selesai lagu ini toh masih sore juga.

“Ini siapa yang nyanyi yang?” tanya pacarku memecah lamunan.
“Itu liat aja di listnya, aku ngg hapal. :P” sambil menunjuk handphoneku.
“Ah mager yang.” keluhnya.
“Oh iyah, ada yang mau aku bicarain nih, jadi nanti hari senin sampai kamis aku ada tugas diluar kota gitu.” terangku.
“Dimana yang?” tanyanya sambil mengangkat kepalanya.
“Di Surabaya, jadi mungkin seminggu ngg bisa ketemu, aku mungkin berangkat besok atau lusa.” jelasku.
“Yah ngg bisa ketemu dong, eh anniversary kitakan hari selasa.” wajahnya mulai cemberut.
“Oh, iyah juga ya, yang pertamakan. Ngg kerasa kita udah setahun.”
“Yah, gimana dong sayang, kan aku mau sama kamu ngerayain.” ucapnya disusul dengan mata yang mulai memerah.
“Yaudah nanti hari Jum’at aja, kan tanggal tujuh belas bisa kita sekalian upacara sayang.” candaku mencoba menghibur.
“Tapi tanggal jadian kita bukan tanggal tujuh belas.” mulai menangis lalu menyandarkan wajahnya kepundakku.
“Ya mau gimana lagi dong, aku juga ngg bisa pulang dulu.” mencoba menjelaskan.
“Rud, ini dimakan yah.” tawar mama Ika sambil menaruh makanan di meja. “Ika, kamu kenapa? Rud ada apa?” tanya mama ika penasaran.
“Ngg tante, aku tadi bilang mau tugas diluar kota seminggu, jadinya nangis tante.” menjawab dengan senyuman.
“Alah kamu jangan nangislah Ka, mama aja sama papa dulu belum ada ponsel, mama bisa kuat koq, nangis dikit sih pas malem-malem.”

Mendengar itu Ika lalu mengangkat wajahnya dan sedikit tersenyum.

“Mamah, orang lagi sedih malah diajak bercanda.”

sontak aku dan mamanya Ika sedikit tertawa. “hebat juga nih mamanya.” pikirku.

“Oh iya rud, kamu mau tugas kemana emang?” tanya mama
“Mau ke Surabaya, tante.” jawabku
“Jauh dong yah, kamu kesana pake apa?”
“belum kepikiran tante, tadi sih baru cuma dikasih uang untuk ongkos sama makan, tapi saya belum hitung.”
“Yaudah hitungnya dirumah aja, nanti diminta sama si Ika, yaudah tante ke dapur dulu ya.” lalu pergi, aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum.

Suasana lalu hening, aku kemudian sedikit mengambil makanan yang dihidangkan tadi. Ika lalu menepuk pundakku mengisyaratkan dia butuh pundakku, tapi aku memberanikan diri memeluknya.

“Uwdawh yah Sawyang jangawn nangis lagi.” ucapku dengan makanan yang belum aku telan. Ika pun tertawa.
“Sayang ih, telen dulu makanannya baru ngomong.” melepas pelukan. Lalu aku coba menelan namun karna terlalu banyak, aku sedikit tersedak.
“Ya ampun yang, mana airnya, ngg ada air disini, MAMAH!!! AIRNYA MANA?!” teriaknya lalu lari kedapur.

Aku hanya bisa bertahan sekuat tenaga sampai akhirnya airpun datang.

“Ini yang cepet abisin, ih kamu ma, makannya kalau makan sedikit-sedikit”.

Aku hanya melihat wajah tulus seorang wanita saat itu, tak ada kesedihan seperti beberapa menit yang lalu, hanya wajah yang begitu indah yang bisa menyadarkanku begitu nikmatnya hidupku ini.

Mungkin bertemu dengannya adalah sebuah kebetulan. Setahun lalu adalah pertama aku masuk kerja, saat itu aku masih ditugaskan di divisi lapangan. Kebetulan aku menjadi panitia saat ada seminar di Universitasnya dan diapun menjadi panitia saat itu. Kami adalah perwakilan dari pihak masing-masing sehingga waktu itu komunikasi memang sangat intens. Sampai-sampai kita masih tetap berkomunikasi walau acara seminar sudah selesai.

“Yang, sayang, heh, malah bengong.” pacarku menyadarkanku.
“Hehe iyah maaf, udah ngg nangiskan sekarang.” tanyaku.
“Kamu tuh udah ngg keseretkan?” cemasnya.
“Iyah, udah, makasih yah. Eh, aku pulang dulu yah, udah jam setengah lima.” jawabku buru-buru.
“ih, baru juga setengah lima sayang, masih sore.” cegahnya.
“Iya aku mau siap-siap dulu, sekalian mau mandi, betah banget kamu dipundak aku, ngg kecium emang bau badan?” sedikit menggoda.
“Aku tadi bukan nangis, tapi pingsan, :P. Yaudah kalau mau pulang, hati-hati yah disana. Awas jangan nakal!”
“Sialan. Iyah aku ngg akan nakal disana koq. :*” jawabku.
“Mah, Pah, Rudy mau pulang nih.” Ucap Ika memanggil kedua orang tuanya.

Akupun lalu berpamitan dan segera memacu kendaraanku untuk sampai kerumah, mungkin hanya sekitar lima menit saja. Aku masih tinggal bersama orang tuaku juga. Sesampainya dirumah, seperti biasa, tidak ada siapa-siapa, karena orang tuaku termasuk orang yang sibuk. Biasanya hari Jum’at, mereka pulang paling cepat jam enam.

Aku lalu meletakan tasku, lalu membuka amplop yang diberikan ibu Indri. Isinya memang hanya tiket, map dan uang sebesar Rp.700.000,-. Lalu aku mengambil ponsel dan mencari tahu kisaran ongkos yang aku butuhkan. Aku tidak mencari tiket pesawat, karena jelas sudah tidak cukup. Lalu aku lihat tiket kereta api, “sialan, harga paling murahnya Rp.450.000,-” kesalku.

Lalu aku melihat harga tiket bus, yah lumayan murah tapi kalau pulang-pergi tak akan ada sisa. “Bagaimana kalau aku pake motor aja ya? mungkin tidak akan sampai Rp.300.000 ongkos bensin yang aku keluarkan.” pikirku. Memang aku belum pernah mengendarai motor sejauh ini, tapi tak apalah kali ini aku pakai motorku saja.

Motorku memang motor untuk touring dengan tangki bensin yang besar didepan, karena aku malas bulak-balik SPBU untuk mengisi bensin. Tak pikir panjang, aku lalu memasang kotak motor yang biasa ditaruh dibelakang dan teman-temanku sering menyebutnya magic jar, karena itulah aku jarang memasangnya. Aku membawa pakaian untuk enam hari dan perlengkapan mandi yang aku masukan ke dalam kotak motor dan dokumen-dokumen serta laptop aku bawa di tas punggung.

Selesai memasang dan merapikan semua itu, lalu aku melihat kedua orang tuaku pulang, dengan mobil sedan tahun 90an yang setia mengantar mereka ke kantor. Kami bukan keluarga yang kaya, hanya sederhana namun puji tuhan kehidupanku bahagia.

“Mau kemana kamu dek? Magic jarnya pake dipasang.” mamaku bertanya sembari keluar dari mobil.
“Mau tugas keluar kota ma, ke Surabaya sampai Jum’at minggu depan.” jelasku.
“Pake motor ini? Emang kamu kuat?” tanya mamaku.
“Iya ma, mudah-mudahan kuat ma.” jawabku.
“Sudah pake mobil ini saja kamu, ngg apa-apa nanti papa pake motor kamu ke kantor.” Ayahku mencoba menawar.
“Emang mobil papa kuat sampai ke Surabaya? Nanti mogok lagi dijalan.” candaku.
“Jangan ngeremehin ini mobil, dasar. Nanti kamu kualat loh.” lalu papaku masuk ke dalam rumah.

Akupun ikut masuk kedalam rumah, karena kerjaanku sudah beres. Setelah beres mandi lalu aku membuka maps online, ya hanya untuk memperlajari rute yang akan aku ambil, serta jarak dan waktu tempuh pun aku perhitungkan.

“785 kilometer, delapan belas jam, sialan, sebulan gue bulak-balik kantor ini ma.” keluhku. “yasudahlah, lumayan juga sih bensin mungkin tak akan sampai Rp.300.000,-.”. “Jakarta,Bekasi,Pamanukan,Indramayu, Cirebon, Lalu dari Jawa Tengah sampai Surabaya tidak terlalu rumit sepertinya.” pikirku.

Kulihat Jam, sudah jam setengah sembilan lagi saja. Mungkin aku akan sampai hari minggu jika aku coba paksakan besok untuk berangkat. Lalu aku beranjak untuk tidur karena rencanaku, jam enam pagi aku harus sudah jalan dan aku paling telat tiba di Surabaya hari minggu.

“Sayang aku pergi besok pagi, jaga diri ya selama aku disana. Love you :*”.


cerbung.net

Love Magnitude

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Kehidupan kesehariaan seorang pria yang dipenuhi warna warni percikan cinta , namun tidak lama warna itu berubah menjadi kehitaman yang dipenuhi kesedihan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset