Love Magnitude episode 5

Chapter 5

Aku duduk sendirian di sebuah kursi di tengah taman yang kosong, hanya pohon-pohon yang mengelilingi taman ini seperti hutan. Tidak lama datanglah seorang kakek, dengan pakaian berwarna putih dan celana hitam berjalan mendekatiku. Kemudian dia duduk di sebelahku menatap ke arah yang sama.

“Sedang apa kamu di sini?” tanyanya dan aku sedikit menoleh ke arahnya.
“Aku tidak tahu, kek.” jawabku kebingungan.
“Jangan kau sia-siakan hidupmu nak.” dia lalu menunjuk ke suatu arah, lalu tidak lama burung-burung berwarna hitam terbang dari tempat itu.
“Cepat kabari orang-orang yang kamu sayangi.” lanjutnya.

Setelah burung-burung itu menghilang, aku menengok ke arah kakek tersebut, dan diapun hilang. Lalu, terasa olehku sebuah getaran kuat sekali, dan tanah di depanku mulai terbelah menuju ke arahku, namun aku tidak bisa bergerak dan tetap duduk. Lalu …

“AAAAAGGGGGHHHHHHH!!!!” aku terperanjat diatas tempat tidur. Nafasku terengah-engah, dan sedikit aku berfikir apa yang telah terjadi.

Ponselku berbunyi, namun tak lama kembali berhenti. Lalu aku melihatnya, sekarang jam empat sore dan terdapat enam kali misscall dan sepuluh pesan. Kemudian aku membukanya, tiga kali pacarku mencoba menelponku, satu kali dari nomer orang tuaku, dan dua kali lagi dari nomer tidak aku kenal.

Pesanpun hanya dari pacarku, menjelaskan mengapa tadi handphonenya mati dan menanyakan kabarku. Kemudian aku pergi mandi untuk menyegarkan fikiranku dan membersihkan badanku karena sudah basah oleh keringat walau AC dikamarku sudah menyala dari tadi.

Dinginnya air membasahi tubuhku, aku lalu teringat dengan apa yang telah terjadi dan aku menyadari bahwa itu hanya mimpi.

“Tapi kenapa aku bermimpi seperti itu ya? Mungkin aku terlalu kecapean.” pikirku.

Setelah selesai, aku kemudian ke minimarket membeli makan malam, cemilan dan kopi panas. Saat dijalan tidak ada yang aneh, dan aku berfikir itu hanyalah mimpi belaka, namun getarannya sangat nyata.

“Maaf sayang, aku baru bales, tadi habis tidur jadi ngg kedengeran.” aku mengirim pesan ke pacarku.
“ … nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan…” jawaban yang aku terima ketiga kali berusaha menelpon orang tuaku, tapi tak ada jawaban.
“ … nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan…” dan begitu pula jawaban saat aku mencoba menelpon nomer yang aku tidak mengenalnya.

Setelah itu aku menyalakan televisi, lalu aku menyiapkan dokumen dan mempelajarinya di kamar hotel, aku pisahkan kembali dokumen yang akan dibawa di esok dan mengeceknya kembali. Aku membuka laptop dan mengetik beberapa dokumen untuk aku jadikan draft agar saat esok, aku tidak terlalu kerepotan saat akan aku kirim ke Andy yang siap di Jakarta.

Sesekali aku melihat berita di tv karena penat juga terlalu lama membaca dan mengetik dokumen. Aku lalu mengganti ke saluran yang lebih santai karena beritanya tidak jauh dari kasus-kasus di negeri ini. Lalu aku mengganti ke saluran yang sedang menayangkan film. Beberapa menit kemudian ponselku berbunyi, dan ternyata orang tuaku menelponku.

“Halo, Rud.” Suara mamaku.
“Iya, Ma. Ada apa?” tanyaku.
“Kamu sudah sampai?”
“Udah, ma. Tadi pagi sih nyampenya, cuma belum sempet ngabarin aja.” jelasku.
“oh, yasudah, syukur kalau sudah sampai, kamu hati-hati ya disana.” ucapnya.
“Iyah ma.” lalu panggilan diakhiri mamaku.

Film yang ditayangkan di tv sudah berganti, dan pekerjaanku sudah selesai, tinggal aku cek kembali saja. Pekerjaan ku selesai tepat jam delapan, aku kembali melihat ponsel, namun tidak ada pesan atau panggilan. Aku kemudian memakan makanan yang aku beli tadi sore sambil menonton film sampai aku tertidur kembali.

Aku terbangun saat jam dua pagi, lalu aku mencoba tidur kembali namun sampai setengah jam berlalu aku tidak bisa tertidur. Lalu, aku mengecek ponselku, dan kulihat dua pesan masuk dari pacarku. pesan itu masuk jam setengah dua, “pasti begadang lagi nih orang.” pikirku kesal.

“Sayang, maaf aku lagi sibuk, jadinya baru bales jam segini.” isi pesan yang pertama.
“Aku mau tidur lagi, kamu juga pasti udah tidur. ILU♥” pesan kedua.

“Apa maksudnya dengan tidur lagi? Dan dia bilang dia lagi sibuk.” pikirku bingung.

Aku lalu mencoba tertidur kembali, namun saat aku mencoba tidur, ponselku berdering tanda panggilan masuk. Aku lihat dan aku tidak tahu nomernya, lalu aku angkat.

“Halo.” ucapku, namun hanya keheningan yang menjawab, lalu aku matikan kembali telponnya dan mencoba tertidur kembali.

***

Suara alarm membangunkanku pagi ini, aku lalu pergi mandi. Selepas itu, aku memasukan dokumen-dokumen dan laptop, tak terlalu banyak dokumen yang aku bawa hari ini.

Aku lalu pergi mencari sarapan, karena di hotel ini tidak memberikan sarapan “gratis”. Aku lalu pergi ke tukang bubur kemarin.

“Mas, buburnya satu.” ucapku.
“Enggeh mas, duduk dulu monggoh.” dia mempersilahkanku duduk.
“Lagi banyak yang mesen mas?” tanyaku karena dia sibuk namun hanya aku yang ada ditempat ini.
“Iya mas, biasa kalau pagi-pagi gini banyak yang mesen dari hotel yang mas itu, jadi kalau mas mesen bubur disitu, ya itu bubur dari saya.” jelasnya.
“Oh gitu, tau gitu saya mesen di hotel aja.” candaku.
“Si mas bisa aja, saya di sini kesepian mas.”
“Mas, udah naik haji belum.” candaku
“Lah itu kan sinetron mas, ya wong kaya saya pasti susah mas. Ini juga pas-pasan. Tapi ya itu namanya rezeki mas, ngg ada yang tau, saya kan cuma berusaha.” jelasnya serius.
“Saya ajak bercanda juga mas, malah dijawab serius.” jawabku.
“Oh bercanda toh. Mas semalem tidurnya pules?” tanyanya.
“Pules sih semalem, cuma waktu siang aja saya tidur mimpinya ngg enak mas.” jelas.
“Iyalah ora enak, la wong bukan bubur saya.” jelasnya bercanda.
“Emangnya kenapa mas?” tanyaku.
“Mas kayanya beruntung deh.” sembari memberikan semangkuk bubur kepadaku. “Biasanya mas, kalau orang pendatang dari luar jawa timur, suka ada yang ganggu gitu mas.” lanjutnya.
“Udah mas, ngg usah diterusin, nanti malah jadi cerita horror si mas.” ucapku.
“haha, iya mas, saya cuma ngasih tau saja, cuma biar ngg kaget.” jelasnya. “Saya nganter dulu pesanan ya.” sambil berlalu.

Aku lalu terduduk sendiri sembari menikmati bubur pagi ini, terasa kurang bernafsu setelah mendengarkan cerita tukang bubur. Aku bukanlah orang penakut, tapi di titik tertentu aku pasti merasakan ketakutan, apalagi setelah aku mengalami mimpi kemarin siang.

“Mas, malah bengong, itu buburnya sudah dingin.” tukang bubur mengagetkanku dari lamunan.
“Si mas, ngagetin aja. Tapi saya penasaran loh mas, sama mimpi kemaren siang.” ucapku.
“Memang bagaimana mimpinya.” tanyanya dan lalu aku menjelaskan. “ya mungkin itu ada yang khawatir sama mas aja, masnya kan jauh-jauh cuma pake motor.” jelasnya.
“iya juga sih mas.” ucapku lalu melanjutkan kembali memakan bubur.
“masnya aja kabari keluarganya, biar tenang.” nasihatnya.

Lalu datang seorang pembeli dibarengi ponselku yang berbunyi. Sudah bisa ditebak olehku siapa yang menghubungiku, tapi tebakanku salah.

“Halo selamat siang pak Rudi, saya Ibu Mita dari perusahaan yang akan bapak kunjungi.” kembali dengan suara lembutnya aku dengar.
“Oh, iya bu selamat pagi, ada yang bisa saya bantu bu?” tanyaku.
“Tidak, saya hanya memastikan pak Rudi sudah sampai disini.” ucapnya.
“Oh, iya saya sudah sampai bu.” jawabku.
“Baiklah, nanti saya tunggu dikantor.” lalu panggilan dia akhiri.

Aneh juga pikirku, biasanya klien tidak ada yang se”care” ini. Tak bingung terlalu lama, lalu aku kembali ke hotelku.

“Saya masuk lagi ya mas.” ucapku.
“Iya mas, tapi jangan lupa mas.” dengan wajah serius.
“Mas jangan nakut-nakutin lagi deh.” kesalku.
“Masnya belum bayar bubur saya.” senyumnya mulai merekah.
“Oh iya, maaf mas, hehe. Ini mas, makasih ya.” aku lalu berlalu kembali ke kamar.

Di kamar aku hanya menonton film sambil menunggu sekitar satu setengah jam lagi, semua dokumen yang aku akan bawapun sudah aku siapkan. Selagi aku menonton film, lalu pacarku menelpon.

“Halo sayang, kangen.” ucapnya.
“Halo juga. Kemana aja kamu? Begadang lagi ya?” tanyaku.
“Aku kemarin sibuk, jam sembilan kalau ngg salah aku ketiduran, terus aku chat kamu jam dua pagi. Maaf ya.” jelasnya.
“Iya ngg apa-apa.” ucapku.
“Eh, besok kita anniversary yang pertama loh sayang, tapi kamunya malah jauh sih.“ jelasnya.
“Iya, tapi nanti tanggal tujuh belas aku ajak kamu jalan deh, sambil upacara sekalian.” hiburku.
“Yaudah deh, aku mau mandi dulu yang, kamu mulai jam berapa kerjanya?”
“Bentar lagi jam sepuluh.” jelasku.
“Yaudah, bye, Love you.”
“Love you too.” lalu panggilan berakhir.

Kemudian aku sempatkan mengechat Andy yang akan menjadi partnerku seminggu ini.

“Woy, udah siap lu bro?”
“Udah bro. Males nih, sialan lagi lu.” jawabnya.
“Haha, udah nikmatin aja bro. Lu enak disitu, lah gue disini.” bercandaku.
“Lu yang enak, palingan sekarang masih molor, kalau gue udah ngetik aje lagi. Mana masih ngantuk nih.” balasnya.
“Yaudah, siap-siap aja gue kirim e-mail, jam sebelas sama jam tiga.” jelasku.
“Oke deh bro.” dengan nada malas dan telpon diakhiri.


cerbung.net

Love Magnitude

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Kehidupan kesehariaan seorang pria yang dipenuhi warna warni percikan cinta , namun tidak lama warna itu berubah menjadi kehitaman yang dipenuhi kesedihan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset