Love Magnitude episode 6

Chapter 6

Langkahku terhenti di depan pintu sebuah ruko, lalu aku membuka pintunya dan menuju meja security.

“Siang pak, saya mau bertemu dengan ibu mita.” ucapku
“Oh, pak Rudi yah? Ayo ikut saya pak.” lalu beranjak dan akupun mengikutinya.

Kami melewati beberapa ruangan, dan naik ke lantai tiga, sungguh tidak ada lift disini. “Tahu gini aku naik motor tadi.” gumamku. Setelah sampai diruangan yang dituju, lalu dia mengetuk pintu dan setelah ada jawaban dari dalam aku dipersilahkan masuk.

“Siang Ibu Mita.” salamku sambil tersenyum.
“Siang juga Pak Rudi, silahkan duduk.” ucapnya.
“Terima kasih, bu.” aku duduk di kursi yang berada di hadapannya.
Lalu aku mengeluarkan berkas-berkas yang akan aku berikan dan beberapa dokumen yang harus ditanda tangan.
“Pake apa mas ke Surabayanya?” tanya Ibu Mita membuka pembicaraan.
“Saya naik motor sendiri, bu.” jawabku sambil memilih berkas-berkas.
“Hah, pake motor, ngg capek mas?” kulihat wajah yang sedikit kaget.
“Ya capek sih bu, tapi mau gimana lagi.” ucapku.
“Kalau sama saya jangan panggil ibu, mas, panggil mbak aja, biar ngg terlalu formal.” ucapnya.
“Oh baik mbak, maaf ini ada berkas yang harus ditanda tangan, dan ini berkas untuk disimpan sama mbak.” terangku.
“Tanda tangan yah, kalau gitu tunggu dulu disini ya mas, saya minta dulu tanda tangan.” dia lalu pergi meninggalkan ruangan ini.

Wajahnya memang terbilang cantik, aku taksir mungkin umurnya lebih tua dua atau tiga tahun dari umurku. Mungkin wajahnya bisa dibilang sudah dewasa, aku rasa dia sudah menikah, tapi itu tidak penting bagiku.
Saat aku melamun terdengar suara ketukan pintu.

“Maaf mas permisi, ini minumnya.” seorang OB datang dan memberikan aku minum.
“Makasih mas.” lalu dia kembali pergi.

Tak berapa lama Ibu Mita datang kembali, dengan membawa sebuah laptop. Memang saat aku datang tidak terdapat komputer di meja ini, mungkin ini ruangan meeting sehingga tidak disediakan komputer.

“Ini dokumennya mas, sudah ditanda tangani. Oh iya mas, saya minta alamat e-mailnya, soalnya biar ngg kerja dua kali juga masnya.” ucapnya.

Setelah aku memberikan alamat e-mailku, aku lalu membuka laptopku dan melihat e-mailku, dan tak beberapa lama muncul sebuah dokumen dari alamat e-mail nama mbak Mita, namun dengan domain nama perusahaan ini. Lalu aku membukanya, dokumen yang cukup besar menurutku dengan ukuran 50 MB. Aku lalu mengunduh dan melihat isi dokumen tersebut.

“Oh, iya mas, kalau ada yang mau ditanyakan mas bisa hubungi nomer saya yang kemarin, mas bisa nanya dua puluh empat jam.” ucapnya.
“Oh iya baik mbak.”

Lalu aku serius melihat isi dokumen itu dan sedikit aku mengerjakannya di tempat itu. Aku mengerjakannya dengan mengobrol dengan Ibu Mita, ya awal obrolan aku membahas kerjaan ini, hingga akhirnya Ibu Mita memulai obrolan ringan.

“Mas, kalau boleh tau mas umur berapa?” tanyanya.
“Umur saya dua puluh dua tahun mbak.” jawabku malu.
“Ouh, kita cuma beda dua tahun dong mas.” sedikit tersenyum.
“Saya kira saya yang lebih tua mbak.”
“Udah nikah mas?” tanyanya serius.
“Belum mbak, mbak sendiri?” tanyaku balik.
“Belum mas, saya belum nemu yang pas.”
“Yang pas gimana mbak?” tanyaku lalu melihat Ibu Mita.
“Ya ngg tau juga mas, belum waktunya kali mas.” jawabnya.
“Mbak kan udah enak, umur juga udah pas mbak.” pendapatku.
“Ya ngg tau mas, kalau belum ada yang cocok ya gmn ya mas.” sedikit tersenyum.
“Ya saya saranin mbak nikahnya jangan di nanti-nanti mbak.” ucapku.
“Kalau boleh tau rencana mas nikah umur berapa yah?” tanyanya serius.
“Ya kalau saya mungkin sekitar setahun atau dua tahun lagi mbak, nunggu pacar saya lulus kuliah, mungkin dia ngg akan kerja kaya saya mbak.” jawabku.
“Oh pacarnya udah semester berapa memangnya mas?” terlihat sedikit muka kecewa.
“Semester akhir katanya mbak, tapi saya juga ngg tau yang pastinya.” memang aku kurang tau akan hal itu.

Obrolanpun sedikit terhenti, lalu aku mengirim e-mail kerjaan ke Andy karna memang sudah hampir jam setengah dua belas. Isinya pun hanya aku salin dari dokumen yang Ibu Mita berikan kepadaku tadi.

“Oh iya mas, besok kita kerjanya di caffe sebelah situ ya mas. Bosen juga mas saya kerja di kantoran gini.” membuka obrolan kembali.
“Baik mbak, jam berapa ya?” tanyaku.
“Ya mungkin jam sepuluh lagi saja mas.” jawabnya.

Lalu satu panggilan telpon masuk ke hpnya, kemudian mbak Mita keluar ruangan untuk menjawab teleponnya. Aku hanya bisa mengerjakan tugasku seorang diri waktu itu, ya memang hanya tinggal menyalin, namun aku tetap harus memilih mana data yang memang dibutuhkan. Sekitar setengah jam, mbak Mita kembali dan mengajakku untuk makan siang.

“Ayo mas kita makan siang dulu.” ajaknya.
“Oh iya sebentar mbak, saya beresin dulu.” sambil merapikan laptop dan dokumen.
“Gpp mas, simpen aja dulu disitu, ruang ini belum mau dipake, sama bisa dikunci. Jadi simpen aja disitu, aman koq.” terangnya.
Akupun mengangguk dan mengikutinya pergi ke luar untuk makan siang.
“Mau makan dimana mas?” tanyanya.
“Terserah mbak, saya kan orang baru disini.” jawabku.
“Mau di restoran atau angkringan mas?”
“di angkringan aja mbak.”
“Ngg apa apa? Cuacanya panas loh.”
“Yaudah deh terserah mbak aja.” ucapku pasrah.
“Kita makan di restoran sebelah caffe aja ya mas, caffe yang besok kita kerja disitu.” tawarnya.

Aku hanya mengangguk lalu mengikutinya dari belakang.mungkin sekitar sepuluh menit kita sampai. “Restoran seafood” adalah tulisan yang pertama kali aku baca sebelum masuk kedalam. Suasananya masih agak sepi karena kita curi start makan siang.
Kami lalu mencari tempat duduk, dia sengaja memilih tempat duduk untuk empat orang, karena akan ada temannya yang menyusul.

“Silahkan mas, kalo mau pesen bebas, nanti kantor yang bayar.” ucapnya.
“Kasbon mbak?” sontak dia tertawa karena pertanyaanku.
“Ngg lah mas, bisa aja si masnya.” lalu melihat menu sambil sedikit tersenyum.
Aku mengambil ponselku untuk mengabari Ika, pacarku.
“Halo sayang, lagi ngapain?” pesanku singkat.

Lalu kami memesan makan siang, dan kembali menunggu pesanan dibuatkan. Tak seorang lelaki datang, dia seperti pegawai dari kantor yang sama, lalu dia duduk di sebelah mbak Mita.

“Kenalin nih mas Rudi, ini mas Bayu, dia kerja di bagian yang lain jadi tadi ngg keliatan.” ucapnya dibarengi dengan kami memperkenalkan diri.
“Oh ini Rudi itu yah, pake apa ke Surabaya?” tanya Bayu.
“Pake motor mas.” jawabku.
“Pake Motor?” dengan wajah kaget. “Terus sekarang motornya dimana?” tanyanya.
“Di hotel mas, deket ini jadi saya jalan.” jawabku.
“Mas Bayu ini penyuka motor loh mas, kalau lagi ngobrol pasti dia bawa hal tentang motor.” jelas mbak Mita.
“Oh gitu mas, saya bukan anak motor koq mas, cuma buat transportasi aja bukan hobi.” jelasku.
“Hati-hati mas motornya hilang.” canda mbak Mita.

Pesanan aku dan mbak Mita pun tiba, dan mas Bayu baru memesan makanan. Aku dan mbak Mita pun memulai makan duluan. Saat makan, aku melihat sesuatu di wajah mas Bayu, seperti dia menahan kesal, tapi aku tidak tahu.
Ponselku bergetar dan aku membukanya.

“Halo juga sayang, lagi ngapain? Maaf aku habis beres kuliah.” pesan dari pacarku.
“Lagi makan siang, kamu udah makan?.” jawabku.
“Belum, tapi nanti aja aku makan di rumah, takut ngg keburu, soalnya ujan juga di sini.” jawabnya.
“Oh yaudah kalau mau pulang, hati-hati, love you.” pesanku terkirim.

Aku lalu melanjutkan makanku dan melihat mbak Mita dan mas Bayu ngobrol dengan suara pelan, namun dari ekspresi yang aku lihat sepertia ada masalah.

“Kenapa mbak Mita, mas Bayu?” tanyaku.
“Ngg ada apa-apa koq.” jawab mas Bayu.

Aku tidak sadar bahwa makanan mas Bayu sudah datang, dan kami bertiga pun melanjutkan makan dengan sedikit mengobrol.
Tak terasa, waktu istirahat tinggal 10 menit dan mas Bayu pamit kembali duluan karena ada tugas yang belum diselesaikan.
Dengan sedikit penasaran, aku mencoba bertanya kepada mbak Mita.

“Mbak, itu pacarnya ya?” ucapku.
“Kenapa mas?” balik bertanya.
“Ngg apa-apa mbak, cuma tadi saya lihat koq ngobrolnya serius banget.” jawabku.
“Dia sebenernya suka sama saya mas, cuma saya kurang suka aja sama dia.” jawabnya
“oh gitu, terus kalau boleh tau kenapa mbak?” tanyaku
“Dia tadi nanya, “saya suka ngg sama mas Rudi?” ya saya bilang aja ngg ada urusan sama dia.” jawabnya.
“Maaf mbak saya ke sini cuma buat kerja, bukan mau nyari masalah.” ucapku.

Tepat jam satu, kami berdua kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan.


cerbung.net

Love Magnitude

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Kehidupan kesehariaan seorang pria yang dipenuhi warna warni percikan cinta , namun tidak lama warna itu berubah menjadi kehitaman yang dipenuhi kesedihan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset