Love Magnitude episode 7

Chapter 7

“Akhirnya pulang juga.” gumamku setelah melihat jam tanganku.

Tepat jam lima aku pun membereskan dokumen-dokumen dan laptopku, bergegas untuk kembali ke hotel.

“Maaf mas dari tadi saya tinggal.” ucap mbak Mita saat masuk kembali ke ruangan ini.
“Oh iya ngg apa-apa mbak, saya juga udah biasa kerja sendiri koq.” jelasku.
“Makasih ya mas untuk hari ini, silahkan kalau mau pulang duluan, saya tinggal lagi ya.” ucapnya.
“Iya mbak sama-sama.” ucapku dan mbak Mita pun kembali pergi dari ruangan ini.
Aku berjalan keluar, menuruni anak tangga yang cukup membuat lelah setelah seharian bekerja.
“Koq kuat amat ya perempuan di sini, kerja naik turun tangga.” gumamku sedikit kelelahan.

Aku pamit ke petugas yang tadi telah mengantarkanku.
Di dalam perjalanan aku pun pergi ke minimarket dulu untuk membeli cemilan dan makan malam. Jalan ini cukup padat saat ini, mungkin karena memang jam pulang kantor.

Sesampainya di kamar hotel, aku lalu membuka ponselku, namun tak ada satu pesan pun yang masuk. Aku lalu menelpon orang tuaku untuk mengabari mereka. Dan setelah itu aku pergi untuk mandi.

Selepas mandi, aku makan malam dan sedikit berbaring di tempat tidur. Jam menunjukan waktu setengah tujuh malam. Satu pesan masuk dari Andy masuk ke ponselku.

“Gimana bro hari pertama ngedate?” tanyanya.
“Seru bro, cantik banget ni cewe, umurnya juga ngg beda jauh bro.” Jawabku.
“Sialan lu, gue di sini cape bikin laporan, lu di sono malah ngedate.” Keluhnya
“Lah tinggal copy aja bro laporan yang gue kirim, paling lu tinggal ngetik draftnya.” Jelasku.
“Iya besok juga beres kayanya, gue belum buka email dari elu.” Jelasnya.
“Sialan lu, gue capek-capek bikin, tau gitu gue mending ngobrol sama mbak Mita.” Jawabku bercanda.
“Nanti aja lah, kalau beres salinnya gue.” Pesan terakhirnya tak aku balas.

Lalu aku menelpon pacarku, karena memang dari siang tidak ada kabar.

“Halo sayang.” Saat telponku diangkatnya.
“Halo Ka, koq berisik banget sih? Kamu lagi pergi?” tanyaku.
“Oh, ngg yang, ini ada tukang sedot WC, emang berisik suaranya.” Jawabnya.
“Oh yaudah, sampai rumah jam berapa tadi?” tanyaku
“Jam setengah dua kayanya yang, lupa tadi ngg liat jam.” Jawabnya dibarengi sebuah suara seperti pemberitahuan yang kurang jelas.
“Itu suara apa sayang?” tanyaku penasaran.
“eh, emmm, paling itu pengumuman dari masjid deket sini, aku juga ngg tau ngg jelas soalnya.” Jawabnya seperti ketakutan.
“oh yaudah yah, aku istirahat dulu. bye, love you.” Ucapku.
“bye, love you too.” Ucapnya dan menutup telponku.

Aku sedikit curiga juga dengannya kali ini, mana mungkin jam segini ada orang yang melakukan hal itu, dan aku rasa itu bukan suara pengumuman dari masjid. Ku simpan curiga ini, aku berfikir positif saja. Dan tak lama aku pun tertidur.

***

Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu di caffe tempat aku dan mbak Mita bertemu, namun dia belum datang. “Koq belum datang ya, apa aku salah tempat?, padahal aku duduk di dekat jendela, sudah pasti langsung terlihat dari luar.” Gumamku dalam hati.

Aku sejenak berhenti mengerjakan pekerjaanku, lalu aku mengambil ponsel dan menelpon mbak Mita.
“Maaf, nomer yang anda tuju sedang sibuk…” hanya itu yang aku dengar.

Aku lalu melanjutkan pekerjaanku dan berfikir akan ke kantornya bila sampai jam makan siang dia belum juga datang.
Halaman demi halaman aku kerjakan sendiri, dan setelah jam setengah dua belas, baru lah tampak paras cantik mbak Mita. Dia masuk lalu duduk di depanku.

“Maaf ya mas, tadi ada kerjaan di Kantor.” Ucapnya.
“oh iya ngg apa-apa mbak, tadi saya telepon ke nomernya katanya sedang sibuk.” Jawabku.
“iya emang.” Dia sedikit tertawa.

Kami pun lalu mengerjakan pekerjaan masing-masing, aku dengan laptopku dan mbak Mita dengan laptopnya.

“Udah jam 12 mas, istirahat dulu.” ucap mbak Mita.
“Iyah mbak, saya panggil pelayannya.” Lalu aku memanggil pelayan disitu.

Pelayan lalu datang dengan membawa dua buku menu, sejenak kami melihat menu yang akan kami pesan.

“Mas, saya mau mesen …” saat aku melihat pelayan itu, dia melihat keluar dengan tatapan aneh. Sontak aku pun melihat keluar, dan betapa kagetnya aku saat itu. Aku melihat sosok lusuh dengan tas punggung cukup besar dan dia menangis di luar, tepat di depan jalan yang langsung menghadap ke arah kami. Aku lari keluar dan dia pun ikut berlari, aku sudah tidak peduli saat itu, aku kejar sekuat tenagaku.

“Ka, Ika, tunggu aku sayang.” Teriakku saat akan menangkapnya.

Lalu tepat di depan hotelku dia berhasil aku tangkap.

“Ka, Ika, sebentar aku bisa jelasin.” Ucapku, dan dia hanya menangis.

Suasana saat itu memang cukup sepi, hanya beberapa orang yang melihat kami, termasuk tukang bubur di seberang jalan, dan dia menghampiri kami.

“Ada apa mas? Pacarnya kenapa nangis, ayok bawa ke sana, duduk biar tenang.” Ucapnya membuatku kaget, bagaimana dia tahu bahwa ini pacarku.

Untung saja pacarku waktu itu mau ikut dibawa menyebrang untuk duduk menenangkan dirinya. Aku pun secara cepat mengambil ponsel dan mengabari mbak Mita bahwa aku sedikit ada masalah dan akan kembali paling lama jam dua siang.

“Ka, kamu ngg apa-apa?, tenang ka, mas minta air teh angket satu.” Ucapku panik.
“enggeh mas, itu pacarnya kenapa mas?” tanyanya.
“Ngg tau saya juga mas, saya lagi ngerjain tugas di caffee sebelah situ tuh.” Ucapku. “eh mas, koq tau dia pacar saya?” tanyaku penasaran.
“Lah wong tadi mbaknya mampir ke sini dulu.” jawabnya sambil memberikan minum kepada Ika.

Ika hanya mendengarkan obrolanku dengan mas tukang bubur. Dan setelah dia sedikit tenang, dia lalu mulai berbicara.

“Kamu JAHAT!, koq bisa sih saat kamu jauh kamu berdua sama cewe lain?” ucapnya.
“Dia mbak Mita, sayang. Dia yang nemenin aku selama tugas di sini, kamu dengerin aku dulu makannya.” Jawabku.

Lalu dia tertunduk, aku lalu memeluknya, cukup lama, sampai dia mengangkat wajahnya dan mengeluarkan ekspresi yang tidak aku duga.

“Selamat Hari Anniversary yang pertama, sayang.” Dengan senyum yang lebar dia mengucapkan itu.
“Koq, barusan kamu nangis, kenapa sekarang langsung senyum-senyum.” Tanyaku.
“Ya hari ini hari Anniversary kita yang pertama, lagian tadi kamu kerja koq di caffee sih, bukannya di kantornya?” jawaban serta pertanyaannya.
“Iya kemarin dia yang minta, sekarang kamu mandi di hotel aja yah, bau.” Aku lalu menutup hidungku.
“Ih, kamu ngeselin banget sih.” Mukanya kembali cemberut.
“Ayo, cepet mandi, biar cantik lagi.” Lalu aku menariknya menuju hotel.

Aku masuk hotel dan kebetulan saat itu resepsionis sedang kosong, aku lalu langsung membawa pacarku ke kamar dan menyuruhnya mandi.
Selagi dia mandi, aku lalu mengecek ponselku, dan terdapat satu pesan dari mbak Mita.

“iya gpp, mas. Tenang aja, kalau saya ngg ada di caffee ini pas mas ke sini lagi, saya tunggu di kantor ya, laptopnya saya yang bawa.” Pesannya.

Lalu Ika keluar dengan pakaian mandinya, dan dia mencari pakaiannya di tas ranselnya.

“eh, aku balik lagi ke sana yah, kamu kalau mau tidur, tidur aja.” Ucapku.
“ngg boleh, temenin aku tidur dulu.” tatapnya tajam.
“Yaudah cepetan pake baju tidurnya.” Jawabku.
“Aku boleh ikut ngg?” tanyanya.
“mmm, mau ikut? yakin? Ntar bosen loh liat aku kerja.” Ucapku.
“Yaudah kalau gitu, sana pergi, selingkuh lagi.” Dia lalu pergi kembali ke kamar mandi.
“Ka, Ika, iya iya kalau mau ikut.” Teriakku.
“Yaudah, sebentar.” Ucapnya dari dalam.


cerbung.net

Love Magnitude

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Kehidupan kesehariaan seorang pria yang dipenuhi warna warni percikan cinta , namun tidak lama warna itu berubah menjadi kehitaman yang dipenuhi kesedihan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset