Love Magnitude episode 9

Chapter 9

Aku terbangun dan melihat paras cantik seorang wanita di hadapanku, benar saja kata orang kalau wanita itu cantik bila dia tertidur. Lalu aku bangun dan melihat jam, saat itu jam setengah enam pagi. Aku lalu keluar kamar untuk pergi ke minimarket membeli beberapa cemilan dan sarapan.

Aku keluar hotel, kebetulan aku melihat mas tukang bubur baru saja datang dan sedang membereskan tempatnya, aku lalu mendekatinya.

“Pagi mas, udah dateng aja jam segini.” Sapaku.
“Oh si mas, pacarnya kemana mas, udah pulang?” tanyanya.
“Ada mas, di kamar, masih tidur.” Jawabku.
“Waduh, bahaya nih si masnya.” Sambil tersenyum.
“Bahaya kenapa mas? Saya ngg ngapa-ngapain koq, beneran mas.” Jelasku.
“Iya mas, saya bercanda koq, mau mesen bubur ngg mas buat sarapan?” tawarnya.
“mmm, yaudah deh mas, dua yah, saya ke minimarket dulu, mau beli kopi mas.”
“Oh yaudah mas, monggo.”

Aku lalu pergi ke minimarket sebentar dan kembali lagi ke kamar dengan membawa dua mangkuk bubur.

“Sayang, Bangun, sarapan dulu.” Aku mencoba membangunkan Ika.
“Masih pagi sayang, masih ngantuk.” Ucapnya.
“Cepetan biar kita bisa main lagi.”
“Tapi masih ngantuk ih.”
“Emang kamu semalem tidur jam berapa?” tanyaku.
“Aku tidur jam dua belas kayanya, yang.” Jawabnya.
“Kenapa tidur jam segitu?” tanyaku penasaran.
“Iya soalnya kamu tidur duluan, aku liatin muka kamu dulu, eh taunya kamu tidurnya berisik yang.” Jawabnya dengan tertawa.
“Maksud kamu aku ngorok?”
“Iyah, kenceng lagi.” Tawanya semakin menjadi.
“Hmm, yaudah sana tidur lagi, aku jalan-jalan sendiri aja.” Ancamku.

Aku lalu beranjak dan pergi ke meja untuk memakan sarapanku. Tak lama, Ika menyusul dan duduk di sebelahku.

“Suapin dong yang, aaaa” dia membuka mulutnya.
“Buset, mulut kamu bau banget, sayang.” Candaku sambil menutup hidung.
“Masa sih, hah.” Dia lalu mencium bau mulutnya sendiri, “iya, yah bau.” Lanjutnya sambil tertawa.
“Aku bercanda loh barusan, eh taunya beneran.” Aku pun tertawa lepas.
“Ah kamu nyebelin, yaudah aku sikat gigi dulu.” Dan pergi ke kamar mandi.

Aku lalu memakan buburku sembari menonton tv, walau di hotel sudah tersedia channel luar negeri, tapi aku tetap menonton siaran lokal, memang sayang juga sebenarnya.

“Sayang, udah wangi nih, hah, hah, hah.” Dengan percaya dirinya dia mendekatkan mulutnya ke wajahku.
“Masih bau sayang.” Isyarat tubuhku suruh menjauh.
“Ih, nyebelin.” Dia lalu duduk di samping kasur.
“Sini makan dulu.” Ucapku.
“Mau disuapin. Sini.” Jawabnya.
“Manja banget sih.” Aku lalu mendekat sambil membawa mangkuk buburnya.

Aku lalu menyuapinya sesendok demi sesendok. Aku suka sifat manjanya, tapi kadang untuk beberapa hal, aku tidak menyukai sifat manjanya.

Satu mangkuk bubur pun habis, lalu aku memberikan teh tawar.

“Kenyang?” tanyaku.
“Iya udah.”
“Sepuluh ribu bayar sini.” Candaku.
“Ngg mau.” Dia lalu kembali menuju balik selimut.

Aku secara sepontan ikut melompat dan kami seperti kucing yang sedang bertengkar dibawah selimut, sampai akhirnya kami kelelahan.

“Seneng banget deh bisa hidup sama kamu.” Ucapnya.
“Aku juga seneng, apalagi kita udah setahun.” Jawabku.
“Kamu mau terus sama aku kan?” tanyanya.
“mmm, aku sebenernya pengen cepet-cepet jadi mantan pacar kamu.”
“Ih, koq gitu, terus buat apa kita setahun pacaran.” Ucapnya ngambek.
“Iya, mantan pacar, istri itu kan mantan pacar.” Jawabku bercanda.

Aku lihat wajahnya mulai memerah, dia lalu memelukku erat di bawah selimut itu, aku pun membalas pelukannya. Rasanya aku tidak ingin beranjak hari ini, rasanya ingin waktu tidak lagi berdetik, rasanya ingin aku selalu memeluknya seperti ini.

“Ayok bangun yang, kita jalan-jalan lagi.” Ajakku.
“Ngg mau, aku masih mau kaya gini.” Ucapnya sambil tetap memelukku.
“Hmmm, yaudah sampai jam tujuh yah.” Ucapku dan dibalas anggukan.

***

“Yang, sayang, bangun, katanya mau main.” Aku dibangunkan Ika.
“Jam berapa sekarang? Maaf ketiduran.” Ucapku.
“Jam delapan nih, yang.” Jawabnya.
“Yaudah kamu mandi dulu aja.” Ucapku.
“Udah, nih aku udah dandan sama udah pake baju buat jalan-jalan.” Ucapnya.

Aku lalu membuka selimutku dan melihatnya, dan benar saja, aku tidak menyangka dia sudah berubah bak seorang putri yang terdampar di hotel ini.

Aku lalu bergegas mandi dan persiapkan diriku untuk jalan-jalan.

“Tada, pangeran sudah siap tuan putri.” Candaku.
“Yaudah ayok jalan, keburu siang.” Ucapnya.
“Ke mall yang kemaren lagi?” tawarku.
“Yaudah deh yuk.” Setujunya.

Kami lalu keluar dan tak lupa aku meminjam helm dari resepsionis. Aku menyalakan motorku dan ku pacu hingga mall.
Sampai di sana, seperti kemarin, kami membeli tiket film dahulu lalu berangkat makan.

“Yang, I love you.” Ucapnya.
“Iyah, love you more.” Balasku.
“Mau mesen makan apa?” tanyanya.
“Yang kemaren lagi aja deh.” Jawabku.
“Ngg bosen?”
“Ngg, murah soalnya, tempatku kan bukan disini.” Jawabku.
“hmmm, yaudah.”

Kami lalu mengobrol sambil makan dan setelah itu pergi menonton tepat pukul sepuluh.
Selesai film pun kami duduk sebentar.

“Oh iya, kamu balik jam berapa yang? Sekarang udah jam dua belas lebih.” Tanyaku.
“Ngg mau pulang, mau bareng sama kamu.” Jawabnya.
“Ngg ah, kamu naik kereta aja yah, aku liat dulu deh di webnya. Tuh jam tiga.”
“Yah, ngg mau.”
“Ayok pulang, kita beres-beres dulu barang kamu di kamar.” Ajakku.

Kami lalu pulang ke hotel dan segera membereskan barang yang Ika bawa.

“Eh, yang. Kamu tau jalan ke stasiunnya ngg?” tanyaku.
“Ngg yang.” Jawabnya singkat.
“Hmmm, yaudah.” Aku pun membuka map.

Perjalanan aku lalui dengan melihat map, tak ada sepatah kata pun kami mengobrol, karena Ika terus memelukku erat saat aku bonceng. Perjalanan cukup jauh memang.

“Yang, udah sampe, lepas, daritadi meluk terus sih.” Ucapku.
“Ngg mau lepas, aku ngg mau pulang.”
“Heh, ini udah di parkiran, malu diliatin orang, cepet turun.”

Dan, dia melepaskan pelukannya dengan terpaksa. Aku parkirkan motorku dan menuju loket tiket, cukup panjang antriannya. Dia terus bersandar ke tubuhku tanpa sepatah kata pun berucap.

“Siang mas, mau ke Jakarta.” Ucapku ke petugas loket.
“Boleh mas, bisa pinjam ktpnya.”

Aku lalu meminta ktp Ika, dan dia segera memberikannya. Setelah itu dia masuk ke peron dan aku hanya bisa mengantar sampai pintu masuk pemeriksaan tiket. Aku rasa dia sudah kesal karena aku suruh dia pulang, karena tanpa pelukan dia langsung masuk, namun tak lupa dia mengucapkan terima kasih.

Aku kembali ke parkiran motor dan beranjak kembali ke hotel, aku akan istirahat karena besok aku akan pulang kembali ke Jakarta dengan motorku. Lelah selalu menemaniku pasti.

“Sayang, kalau udah sampai Jakarta kabarin yah. Aku besok pagi pulangnya, nanti aku sabtu main kerumah.” Pesanku yang aku kirim saat sampai hotel.
“Iya sayang, jangan lupa bawa oleh-olehnya.” Balasnya cepat.
“Iyah aku bawain, ntar aku beli sekalian pulang.” Dan pesanku tak dibalas lagi.

Aku lalu menelpon mbak Mita sekedar berterima kasih dan berpamitan kembali ke Jakarta, Aku pun mengabari orang tuaku bahwa aku besok akan pulang.

Aku lalu ke minimarket untuk membeli makanan untuk malam hari, dan saat di jalan aku melihat mas tukang bubur sedang beres-beres dan akan pulang.

“Mas.” Teriakku.
“Ada apa mas? Mau bubur? Sudah habis mas.” Teriaknya membalas.
“Ngg mas, saya cuma mau pamitan aja, besok mau balik ke Jakarta.” Jelasku.
“Oh, hati-hati yo mas, mau bekel bubur ngg besok pagi?” tanyanya.
“Paling saya sarapan aja di sini mas, jam setengah lima sudah jualankan?”
“Oke lah mas, saya sudah “sten bai” di sini dari jam empat lewat lima belas.” Dengan logat Jawanya.
“Yaudah mas aku permisi dulu.” Aku berlalu menuju minimarket.

Setelah sampai hotel, aku berbaring dan menonton tv seperti biasa, hal yang jarang aku lakukan di Jakarta.


cerbung.net

Love Magnitude

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Kehidupan kesehariaan seorang pria yang dipenuhi warna warni percikan cinta , namun tidak lama warna itu berubah menjadi kehitaman yang dipenuhi kesedihan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset