Mahasiswa Toilet yang Matre episode 6

Part 6 : FINISH : Lantunan Puisi Untuk Andin

Alim tahu, keberadaannya disamping Andin ditentang keras oleh keluarga Andin. Dia pun tak ingin Andin menjadi anak yang pembangkang hanya karena bergaul dengan mahasiswa tengil dengan banyak goresan masa lalu yang suram. Alim pun menjalani hubungan ini tanpa ada beban apapun, karena sejak awal mereka memang tidak mengikrarkan janji atau komitmen apapun.

Setelah tamat kuliah, Alim berangkat ke Jakarta, meneruskan pekerjaannya di PH besar. Jarak antara Bandung dan Jakarta memang dekat, tapi dia tidak ingin selalu pulang kesana dengan mengharap sesuatu yang tak pasti.

Andin pun demikian, walau perasaannya sungguh dalam terhadap Alim, namun dia menyerahkan semuanya kepada yang diatas. Mereka saling berkomunikasi jika ada waktu luang seluang-luangnya. Dalam satu minggu, terkadang hanya dua atau tiga hari mereka intens berkomunikasi dan begitulah seterusnya.

Namun, jauh dilubuk hati Alim terdalam, ada perasaan berbeda terhadap Andin. Sosok wanita berhijab dengan lesung pipi yang manis inilah yang membuat Alim bangkit dari keterpurukannya di masa lalu, semangat mengejar cita-citanya memakai toga dan berkarir sesuai dengan hobinya.

Dan kini, sembari bekerja di Jakarta, Alim juga sedang berjibaku meraih gelar Magister Ilmu Sastra. Dia ingin masa lalunya menjadi pengalaman dan masa depannya bisa diraih semudah membalikkan telapak tangan. Karena prestasi akademik dan non akademik yang bagus, kehadiran Alim pun sudah ditunggu di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Provinsi Bangka Belitung. Bukan sebagai mahasiswa, bukan sebagai orator, bukan sebagai pemain teater dan bukan sebagai Playboy. Alim ditunjuk sebagai salah satu calon dosen yang akan membagi ilmunya kepada generasi muda lainnya.

Kesempatan ini rupanya didapatkannya tidak hanya dari keahliannya dalam menguasai materi saja, tapi rekan-rekan sejawatnya dari kota yang pernah disambanginya saat orasi itulah yang merekomendasikannya untuk menjadi tenaga pengajar di kampus tersebut.

Untuk Puisi Alim ke Andin, puisi sederhana yang menggambarkan betapa dia ingin bersama Andin walau dari kejauhan. Puisi yang membawa jiwa Alim berengkuh erat tangan Andin melalui angin. Puisi rindu yang nyaris tak tersampaikan..

Rembulan itu tersenyum manis kepadaku
Lalu, Bintang malam berbisik mesra ditelingaku
Dan Angin pun membelai seluruh ragaku

Namun.. Hatiku mati
Ragaku kaku dan membeku dalam keindahan ini..

Bukan.. bukan mereka tidak menawan..
Bukan juga godaan itu tak merangsang..
Atau aku yang tak lagi jadI kumbang yang jantan..

Senandung yang selalu kau dengungkan..
Kata yang selalu kau sampaikan..
Lubang di pipimu yang selalu kau hadiahkan..

Ya.. itulah yang membuatku tetap bertahan

Bertahan dari semua hembusan mesra
Dari rayuan yang membuatku nyaris tergoda
Dan.. tetap bertahan untuk melihat binar matamu, bidadariku..

-aLim-

cerbung.net

Mahasiswa Toilet yang Matre

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Alim berasal dari keluarga miskin yang bercita-cita jadi orang sukses, bertahan hidup di ibukota mulai jadi loper koran sampai jadi mahasiswa yang tinggal didalam kamar toilet. Dia orangnya pintar dan lantang dalam berorasi, tapi dia juga pujangga dan puitis. Sayangnya.. Dia MATREEE... Dan kisahnya ini kocak plus ngenes abis kisah asmaranya..

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset