Menuju Awal Semula episode 1

Chapter 1

Aku terjaga dari tidurku. Seketika mataku terbuka, nafasku sesak dan bercampur perasaan kaget. Mimpi barusan seperti sebuah shock therapy buatku, amit-amit jabang bayi kenapa tiba-tiba aku mimpiin dia??? Seseorang dari masa lalu…

“Pagi, Ma!” sapa suamiku diiringi kecupan di keningku yang mampu menyadarkanku dari perasaan kacau yang baru saja menyerang.

Kebiasaan suamiku belum berubah, sejak hari pertama kami berumah tangga dia akan selalu menungguku bangun hanya untuk mengucapkan selamat pagi dan mengecup keningku. Setelah ritual itu dilakukan barulah dia mulai beraktivitas. Kalaupun kadang aku bangun kesiangan dan dia harus segera berangkat ke kantor dia pasti akan menitipkan ucapan selamat paginya itu via bbm setelah bertanya “Udah bangun, Ma?” terlebih dahulu.

Aku tersenyum melihat suamiku masih duduk bersandar di sampingku sambil asyik membaca tabloid berita online dengan tabletnya. Sementara si Rangga, anak kami, sudah bermain di ruang TV sambil ngoceh nggak jelas ditemani pengasuhnya. Untuk bayi usia 11 bulan seperti anak kami, emang dia lagi getol-getolnya ngomong dengan bahasa yang bahkan di google pun belum ada terjemahannya. Jadi kalo Rangga ngomong sesuatu, cuma dia dan Tuhan yang tau apa artinya. Haha.

“Jadi dianter ke pasar nggak? Dari tadi ditungguin nggak bangun-bangun,” tanya suamiku saat aku menggeliatkan badanku.

“Iya jadi. Masih pagi ini, pasarnya belum mau tutup koq,” jawabku.

Aku bergegas menuju kamar mandi untuk menuntaskan rutinitas perihal zat-zat sekresi dalam tubuhku yang memang biasa kulakukan di pagi hari sebangun tidur. Dan kebiasaanku selalu buang hajat sambil bawa hape. Entah kenapa, sejak dulu boker sambil mainan handphone dan merokok itu seolah sudah tersugesti kuat dalam diriku. Kalo nggak ada hape sama rokok, rasanya mampet euy!!! Tapi syukurlah beberapa waktu belakangan ini, mungkin setelah menikah tepatnya, aku nggak merokok lagi dan nggak pernah lagi boker sambil ngasep. Tapi kalo mainan hape? Tetep, hehe.

Sambil mainin candy crush saga, tiba-tiba sekelebat bayangan itu muncul lagi. Oiya, mimpi tadi bener-bener aneh dan bikin jantungku masih deg-degan kalo diinget lagi. Adalah Effendi Havidz, aku biasa memanggilnya Mas Endi, seorang dokter yang selain bisa ngobatin penyakit juga bisa ngobatin hati. Haha. Dulu kalimat itu yang selalu kulekatkan padanya, hingga dia kujuluki “Dokter Cinta”. Sudah lama rasanya kami nggak kontak, bahkan update-nya di sosmed pun udah lama nggak kulihat, sampai akhirnya tiba-tiba kami bertemu beberapa minggu lalu, di resepsi pernikahan teman sekantorku.

***

Nggak sengaja aku melihatnya berjalan menuju pelaminan untuk bersalaman dengan mempelai. Aku yang saat itu sedang sibuk menggendong Rangga sempat merasa dia juga melihatku. Tapi entah kenapa dia tidak tersenyum padaku saat mata kami bertemu pandang? Atau mungkin aku ke-GR-an padahal sebenarnya dia nggak melihatku ya? Nggak yakin juga sih sebenernya, karena waktu itu aku nggak memakai kacamataku dan jarak kami memang lumayan jauh untuk dapat dijangkau oleh lensa mataku yang minus setengah.

Sampai saat aku hendak bertolak, suamiku menyarankan agar aku dan Rangga menunggu saja di lobby gedung sementara dia mengambil mobil di parkiran basement. Good idea menurutku, karena basementnya lumayan bikin kaki gempor, apalagi aku juga sedang menggendong anakku yang beratnya saat itu udah 8 kg lebih. Dan alasan lain, karena aku melihat sosok itu lagi di lobby, jadi mungkin aku punya kesempatan untuk say “hay” padanya. Mas Endi.

Aku tau dia sudah melihatku dari awal aku dan suamiku berdiskusi tentang menunggu di lobby, sampai akhirnya suamiku menghilang ke arah basement. Setelah itu aku berjalan mendekatinya masih dengan menggendong Rangga. Sepertinya aku melihat ekspresi kikuk di wajahnya saat aku mendekat.

“Hai Mas, hai Den,” sapaku pada Mas Endi sekaligus pada Denny, teman sekantorku. Kalo Denny datang di acara ini aku nggak heran, secara yang lagi hajatan itu temen sekantor kita. Tapi kalo Mas Endi??? Emang dia kenal sama pengantinnya??? Batinku. Oiya, mungkin Mas Endi datang mewakili Mbak Muti, istrinya yang juga teman sekantorku. Dan dia datang bersama Denny yang seruangan dengan Mbak Muti??? Mungkin saja.

“Hai, Ra!” balas Denny sambil menjabat tanganku.

“Rara,” Mas Endi membalas sambil tersenyum dan menoyor kepalaku.

“Hei!!! Nggak berubah juga, masih suka noyor kepala orang,” bentakku kesal.

“Nggak semua orang koq, cuma kepalamu aja,” jawab Mas Endi sambil tergelak.

Aku merengut masih kesal. Tiba-tiba Mas Endi menjulurkan tangan untuk mengambil Rangga dari gendonganku. Dan berhubung anakku sepertinya mau-mau aja digendong orang asing ya akupun nggak keberatan. Dan nggak perlu hitungan menit, Rangga sudah berpindah ke pelukan Mas Endi.

“Halo, Rangga…” ujarnya pada anakku sambil mencium pipinya.

Aku takjub dengan pemandangan di hadapanku. Mas Endi seolah begitu menyayangi anakku. Padahal sejak Rangga lahir ini pertama kalinya mereka bertemu. Mas Endi tau kabar tentang kehamilanku, persalinanku, wajah bahkan nama anakku cuma dari sosmed!!! Kan udah kubilang tadi kalo kami udah lama nggak kontak, dan pertemuan kali ini bener-bener sebuah kebetulan. Tapi di pertemuan pertama Mas Endi dengan anakku, mereka keliatan saling menyukai.

“Itu Pakde, Dek!” ujarku pada Rangga yang masih menatap Mas Endi.

“Enak aja Pakde, emangnya Mas udah setua itu ya?” protesnya.

“Terus maunya dipanggil apaan? Oom??? Idiiih…” balasku.

Denny tertawa mendengarkan pembicaraan kami. “Endi bisa banget ya ngegendong anak kecil, padahal baru kenal. Kalo gue, anak sendiri aja gue belum berani megang, apalagi anak orang?!” ujarnya.

“Yaaa Mas Endi kan udah lebih berpengalaman, Den!” balasku menyindirnya yang udah punya anak usia 2 taunan. “Tapi serius lo belum pernah gendong anak lo ndiri?” tanyaku yang udah tau kalo istri Denny memang baru melahirkan sekitar sebulan lalu. Aku aja belum sempet ngejenguk ampe sekarang.

“Gue ngeri, Ra. Bayi umur segitu rasanya masih ringkih banget badannya. Ntaran aja deh gue gendong kalo dia udah agak gedean,” jawab Denny.

“Iya, tapi nanti pas lo udah bisa gendong anak lo, dia nanya ‘oom siapa ya?'” celetuk Mas Endi menggoda Denny.

“Haha. Ya jangan ampe segitunya lah,” balas Denny geli.

Kami pun tertawa. Dan lagi-lagi kulihat Mas Endi mencium pipi Rangga yang emang chubby dari baru lahir.

“Matanya bagus, kayak matamu, Ra!” ujarnya pelan.

“Oya???” balasku gitu doank. Mas Endi mengangguk meyakinkan, setelah itu dia menggumamkan kalimat untuk menggoda anakku yang menegaskan bahwa dia mewarisi mataku, mamanya. Rangga pun tertawa geli dalam pelukan Mas Endi.

“Koq Mas bisa dateng kesini sih? Emang kenal sama Hendri?” tanyaku yang sejak tadi udah heran melihatnya di acara ini.

“Kan sekampung sama Hendri?! Dia dulu temen SMA Mas,” jawabnya.

Aku cuma mengangguk-angguk sambil mengingat-ingat bahwa Hendri memang orang Yogya, sama seperti Mas Endi.

“Terus istri-istri kalian mana? Koq berdua pada bujang-bujangan gini datengnya? Janjian yaaa???” godaku.

“Bini gue masih ribet lah bawa bayi umur sebulan ke acara ginian, Ra!” jawab Denny.

“Terus, Mas???” aku ganti menoleh Mas Endi setelah mendengar jawaban Denny. “Mbak Muti kemana?” tanyaku lagi.

“Ada di rumah, lagi jaga Vian,” jawabnya. Setelah itu Mas Endi menyerahkan Rangga padaku sambil memberi kode bahwa suamiku sudah datang.

“Yaudah, gue cabut dulu ya, Den?!” pamitku.

“Oke, Ra. Bye, Rangga!” balas Denny sambil mencium kening Rangga.

Mas Endi juga, sempat mencium kening Rangga sebelum berpesan “Ati-ati ya, Ra!” padaku.

***

Setelah pertemuan itu nggak ada hal penting lain yang terjadi. Suamiku juga nggak nanya apa-apa karena emang dia nggak tau apa-apa soal Mas Endi dan cerita kami dulu. Sempat dia melihat anak kami digendong Mas Endi, tapi tentu saja dia berfikir bahwa Mas Endi adalah teman sekantorku.

Cuman emang dasar akunya yang iseng aja kali ya, setelah pertemuan itu kutulis status di twitterku:
“Yaelah si mamas, saking sygnya sm gw, sampe2 jg syg sm anak gw. Haha.”

Aku nggak perlu kuatir tweet seperti itu akan membuat suamiku marah atau gimana-gimana. Pertama, karena suamiku nggak punya twitter. Dan kedua karena emang dia nggak suka ngeksis di sosmed, makanya ampe akun twitter aja dia nggak punya. Haha. Tapi kalo Mas Endi, kami saling memfollow di twitter, jadi ada kemungkinan dia baca kicauanku seandainya dia emang masih suka online sekedar buat kepoin status orang. Dan kalopun dia emang baca tweetku, aku yakin dia pasti akan bereaksi.

Dan ternyata tweetku waktu itu memang benar-benar menimbulkan reaksi dari pihak Mas Endi!!!

Aku ingat betul mimpiku semalam, tiba-tiba dia mendekatiku, memelukku dan membisikkan kata-kata yang membuatku merasakan sedih dan penyesalan yang mendalam. Sedih karena aku melihatnya tak sebahagia aku, dan menyesal karena aku tak mampu membuatnya bahagia.

“Mas apa kabar?” tanyaku saat dia tiba-tiba berlari mendekatiku dan langsung memelukku.

Mas Endi diam.

“Udah lama nggak ketemu ya?” tanyaku lagi.

Mas Endi masih tak bersuara, hanya sibuk menciumi wajahku seolah ingin meluapkan rindu yang terlalu dalam.

“Mas… Ada apa??? Cerita donk sama Rara,” tanyaku lagi. Kali ini dengan nada sedikit terisak karena kurasa dia mulai menciumiku sambil menangis.

“Mas? Gimana kabar Mbak Muti?” aku bertanya lagi.

Mas Endi melepaskan pelukannya lalu menatapku. “Setengah Rara dikurangi Muti, sama dengan Rara,” jawabnya.

Aku menatapnya sambil menangis dan kemudian memeluknya lagi. Kalo di dunia nyata mungkin kalimat “Setengah Rara dikurangi Muti, sama dengan Rara” terdengar lucu ya? Itu matematika yang nggak jelas banget kayaknya. Tapi berhubung semua itu terjadi di alam mimpi yang mungkin menggambarkan kerinduanku pada Mas Endi, jadi pengakuan Mas Endi itu justru membuatku galau saat aku terbangun dari tidurku. Benarkah Mas Endi nggak bahagia? Benarkah bahkan sampe detik ini dia masih mencintaiku sebegitunya? Benarkah aku wanita terbaik baginya, bahkan melebihi istrinya sendiri??? Ah, aku nggak mau berandai-andai. Dan jujur aku nggak pengen mikirin mimpi itu sebenernya. Nggak ada angin nggak ada ujan ujug-ujug mimpi kayak gitu, dasarnya apa???

Tapi aku tak mampu juga menyembunyikan rasa rinduku pada Mas Endi gara-gara mimpi itu. Kubuka kontak bbmku dan mencari nama Mas Endi untuk chat dengannya. Tapi hey!!! Nama Mas Endi hilang dari kontak bbmku!!! Apa dia delcon aku? Atau dua udah nggak pake bbm lagi? Sejak kapan namanya hilang dari kontak bbmku akupun nggak pernah ngeh karena kita emang udah lama nggak kontak, dan dia bukan tipe orang yang suka update status kayak aku, hehe.

Aku berfikir lama tentang kontak bbm Mas Endi. Kulihat beranda twitter dan FBnya, nggak ada pembaruan sejak beberapa bulan terakhir. Nggak sengaja jempolku menekan nama Mutiara, istrinya dan terbukalah beranda FB Mbak Muti yang kebetulan juga berteman denganku. Statusnya yang paling update sekitar sebulan yang lalu adalah:
“Wajar bila aku cemburu, karena rasanya aku tak pernah bisa jadi seperti dia, wanita di masa lalumu.”


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset