Menuju Awal Semula episode 12

Chapter 12

Jam 4 pagi aku sudah duduk di dalam taxi yang mengantarku ke bandara. Dingin banget pagi ini, sejak tengah malam tadi gerimis membasahi kota ini. Kayak gini ni yang bikin aku parno kalo harus naek pesawat, makanya aku sengaja menahan ngantuk selama di perjalanan biar ntar di pesawat aku bisa tidur pules dan nggak ngerasain kalo-kalo saat aku terbang nanti terjadi turbulence karena cuaca buruk.

Sekitar 45 menit kemudian aku tiba di depan pintu masuk terminal 2F. Nggak lama aku berdiri disitu, saat Mbak Intan memanggilku. Dia baru turun dari sebuah mobil, ditemani seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan rambut hampir setengahnya tertutup uban.

“Udah lama, Ra?” sapa Mbak Intan sambil cupika-cupiki sama aku. Kulihat tangan kirinya memegang handle travel bag berwarna hitam.

“Barusan koq, Mbak!” jawabku.

“Langsung masuk aja, My. Aku mau langsung balik, keburu siang,” ujar laki-laki di samping Mbak Intan yang terlihat gelisah dengan sesekali melihat ke arah mobilnya yang masih parkir di tempat yang sama saat mereka turun. Rupanya ada seorang sopir yang sedang menunggu.

“Yaudah Daddy jangan telat ya ke kantornya,” jawab Mbak Intan sambil mencium tangan laki-laki itu yang kurasa adalah suaminya.

Laki-laki itu mengangguk, lalu mengulurkan tangan padaku. “Titip Mbakmu ini ya, Ra! Kalo ada apa-apa hubungin aku. Nomermu berapa?” ujarnya padaku sambil mengeluarkan hape dari sakunya.

Aku tergagap, bingung, lah aku kan belum pernah kenalan sama suami Mbak Intan ini, kenapa dia udah tau aku??? Akhirnya aku pun cuma menjabat tangannya tanpa mengucapkan apa-apa.

“Nanti aku kirimin nomer hape Rara deh, Dad!” sahut Mbak Intan cepat.

“Oh yaudah kalo gitu. Kalian berdua ati-ati ya!” pesannya sebelum pergi dan berlalu bersama sopirnya.

“Yuk kita masuk, Ra!” ajak Mbak Intan mengingat waktu boarding pesawat kami cuma tinggal 10 menit lagi.

“Mas Anung gimana, Mbak?” tanyaku mengingat waktunya udah mefet gini tapi belum juga melihat batang hidung laki-laki bernama Anung yang juga akan pergi bersama kami.

“Udah biarin aja, ntar juga ketemu di dalem,” jawab Mbak Intan sambil berjalan ke dalam. Aku pun mengikutinya sambil berusaha mengubur dalam-dalam kebingunganku tentang Mbak Intan, suaminya dan Mas Anung.

Untuk menghindari telat check in, maksudnya juga biar kami nggak perlu buru-buru dikejar waktu ke bandara, orang-orang di ruanganku terbiasa menggunakan fasilitas city check in saat akan bepergian. Dan hasil dari city check in kemaren sore si Jarwo menyerahkan boarding pass-ku dan Mbak Intan dengan nomer seat yang jauuuuh berbeda. Aku duduk di front row dekat jendela sementara nomer seat Mbak Intan ada di rear row. Aku sempet protes pada Jarwo kenapa nggak minta kursi yang deketan buat aku dan si bos? Tapi dengan cepat Mbak Intan menjawab mungkin karena udah kesorean jadi kami dapetnya seat sisa, makanya nggak bisa jejeran.

Dan sebenarnya memang inilah yang sangat aku butuhkan. Duduk di deretan yang berbeda dengan Mbak Intan bikin aku jadi bisa tidur dengan lelapnya saat di pesawat. Aku bahkan nggak lagi mikirin “Mas Anung dimana” saat aku sudah masuk pesawat tapi belum juga melihatnya. Yang kuinginkan setelah memasang seat belt-ku adalah tidur! Aku bahkan tak menyentuh snack yang disuguhkan pramugari. Hingga sekitar sejam kemudian aku terbangun saat pesawat sudah landing di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Di terminal kedatangan barulah aku melihat sosok Mas Anung sedang berjalan turun dari pintu belakang pesawat bersama Mbak Intan. Aku pun dengan sabarnya menunggu mereka menghampiriku.

“Rara, rekanan yang tempatnya mau kita survey udah nunggu di luar,” ujar Mbak Intan halus saat mereka berdua sudah berdiri di depanku. Agenda kerja kami disini adalah mensurvey lokasi perusahaan yang mengajukan perijinan di kantorku. Dan survey seperti ini sudah menjadi bagian dari prosedur teknis, kan nggak lucu kalo ijin perusahaannya sudah terbit tapi ternyata perusahaannya fiktif?!

Aku mengikuti langkah Mbak Intan menuju pintu keluar. Kulihat dia sedang menerima telfon, mungkin dari orang yang menjemput kami.

Di areal depan bandara kami bertemu seseorang yang memperkenalkan diri sebagai Pak Arif, Direktur dari perusahaan yang akan kami kunjungi. Aku masih tetap mengikuti langkah Mbak Intan yang berjalan dengan Pak Arif menuju mobilnya, mereka terlihat sedang berbasa-basi ngobrolin soal perusahaan. Dan tau Mas Anung kemana??? Kami berpisah di pintu keluar bandara. Rupanya Mas Anung nggak ikutan survey!!! Aku juga dari awal udah merasa aneh perihal keikutsertaannya dalam kunjungan ini, karena dia sama sekali nggak berkepentingan dalam pekerjaan ini.

Sekitar setengah jam kemudian kami tiba di depan sebuah bangunan berbentuk seperti ruko dengan halaman parkir yang bisa dibilang luas sekali untuk ukuran bangunan di tengah kota. Kami berdua langsung diajak masuk oleh Pak Arif, dan kami duduk di lobby kantor itu. Mbak Intan menginstruksikan aku untuk melihat-lihat seisi kantor sambil jeprat-jepret segala yang kami butuhkan untuk dokumentasi kunjungan kami. Ruang administrasi kantor ini nggak seberapa besar, tapi saat aku berjalan ke bagian belakang kantor, disitu ada sebuah ruangan yang lebih mirip gudang dengan beberapa perlengkapan yang aku nggak tau namanya. Di dalam gudang ini nafasku jadi sedikit sesak, karena banyak debu sisa proses produksi. Pak Arif ini mengajukan perijinan di bidang produksi bahan marka jalan, jadi wajar kalo di dalam gudang yang penuh material kimiawi ini agak “putih” dan bikin nafas sesak. Disitu aku cuma foto-fotoin aja apa yang kulihat seperti yang disuruh Mbak Intan. Dan setelah tugasku selesai aku kembali ke lobby tempat Mbak Intan sedang ngobrol dengan Pak Arif.

“Gimana, Ra? Udah difoto-fotoin semua?” tanya Mbak Intan padaku yang baru saja duduk di sampingnya.

Aku mengangguk dan menunjukkan hasil foto di kamera saku yang kubawa. Lantas Mbak Intan memberiku selembar kertas yang ternyata adalah check list dari alat dan bahan apa saja yang harus ada jika perusahaan Pak Arif ingin mendapat surat rekomendasi sebagai produsen bahan marka dari kantor kami. Aku pun mengisinya sambil sesekali bertanya pada Mbak Intan dan Pak Arif tentang hal-hal yang belum kupahami. Maklum, ini pertama kalinya aku bertugas seperti ini. Selesai mengisi check list yang hampir semuanya terpenuhi di perusahaan Pak Arif, Mbak Intan pun mengisi berita acara pemeriksaan sambil sesekali menginterview Pak Arif, dan di lembar terakhirnya terisi tanda tangan kami bertiga.

Tugas pun selesai. Pak Arif mengajak kami berdua makan siang di sebuah restoran penjual gudeg sebelum akhirnya menurunkan kami di lobby sebuah hotel yang lokasinya kulihat di Jalan Jenderal Sudirman.

“Ini kunci kamarnya, Ra!” ujar Mbak Intan padaku yang sedang duduk menikmati welcome drink hotel ini.

Aku pun beranjak dan bermaksud membawakan travel bag Mbak Intan saat tiba-tiba dia menolak.

“Kamu masuk kamar aja, abis ini gue ada yang ngejemput,” kata Mbak Intan.

“Lah? Mbak mau kemana?” tanyaku dengan ekspresi terkejut.

Mbak Intan tersenyum membalas keherananku. “Ntar lo nginep disini aja, gue di tempat laen ya,” jawabnya.

Hadeeeh… Jadi ceritanya gue sendirian di negri orang nih??? Keluhku dalam hati.

Nggak lama orang yang katanya ngejemput Mbak Intan pun datang. Mas Anung!!! Ngerti lah gue sekarang. Mbak Intan pamit, dan aku pun langsung berjalan menuju kamar. Pikirku bakalan BT nih aku sendirian di hotel. Sisa waktuku di kota ini masih ada dua hari lagi, dan kalo selama disini Mbak Intan punya acara sendiri, kayaknya gue juga harus bergerak nyari temen. Kan nggak asik kalo jalan-jalan sendirian?! Aku pun teringat si Putri, teman sekolahku yang pindah ke kota ini sejak kelas 2 SMA. Beruntungnya aku, Putri bersedia menemuiku meski baru besok dia bisa menjemputku di hotel. Jadi lah sisa hari ini kuhabiskan dengan tidur saja.

***

Rasanya aku baru saja terbuai di alam mimpi, saat tiba-tiba terdengar suara bel kamarku yang sepertinya ditekan dengan interval cepat, bikin berisik!!! Aku pun berjalan dengan gontai ke arah pintu.

“Mas???” pekikku kaget melihat manusia yang berdiri di depanku setelah kubuka pintu.

Cowok itu pun nyengir kuda, yang bikin aku malah bereaksi negatif. Pengen ngamuk!!!

“Koq Mas tau Rara disini?” tanyaku sambil berjalan kembali ke arah tempat tidur dan mengurungkan niatku untuk marah karena dia telah mengganggu tidurku.

“Kan informannya banyak,” jawabnya singkat sambil menutup pintu dan mengikutiku ke dalam.

“Pasti Mbak Intan yang bilang ya?” tebakku lagi, kali ini sambil menatapnya yang sedang duduk di tepi kasur sebelah kasurku.

“Bagus donk Mbak Intan ngasi tau aku, daripada kamu yang sama sekali nggak ada ngabarin kalo lagi di Jogja,” jawabnya menyindirku.

“Masa tiap aku mo kemana-mana harus lapor Mas? Penting ya?” balasku yang kali ini mulai mendaratkan kepalaku kembali ke bantal dan menarik selimut.

“Ya penting lah, biar aku nggak bingung nyariin kamu,” jawabnya lagi.

“Diiih… Siapa juga yang suruh situ nyariin saya,” balasku lagi.

Mas Endi cuma tersenyum kecil dan terlihat sedang mencari-cari remote TV. Aku pun menyerahkan remote yang terselip di samping bantalku. Dan setelah itu, untuk beberapa saat kami sama-sama terdiam, Mas Endi sibuk memindah-mindah channel TV sedangkan aku bingung mesti ngomong apa lagi. Ngapain ni cowok ngejar gue ampe kesini ya? Tanyaku dalam hati. Dan keheningan itu pun terhenti saat tiba-tiba secara spontan tangan kami mendarat di tempat yang sama, pada sebotol air mineral yang ada di atas meja di samping tempat tidur kami.

Aku tersentak, tak menyangka dia juga lagi pengen minum sepertiku. Aku pun mengalah dan membiarkan dia mengambil botol air mineral itu.

“Kamu duluan deh,” ujarnya sambil menjulurkan botol di tangannya.

“Yeee… Emang ini punyaku kan? Mas minum yang itu aja,” balasku sambil menunjuk botol lain yang masih tersegel di samping TV.

Kulihat ekspresi Mas Endi sedikit berubah. Lama dia memperhatikanku sebelum akhirnya berkata, “Kamu bau alkohol, Ra?”

Aku tercekat selama beberapa saat. Nggak pas banget timingnya dia muncul di depanku nih, semalem aku baru menenggak beberapa gelas koktail tanpa sempat mandi atau kumur-kumur dulu sebelum dia dateng. Mampus lah gue ntar diceramahin sama dia.

“Hmmm… Masa sih?!” balasku pura-pura bego.

Mas Endi masih menatapku seolah berkata “what did you do last night?” dan aku yang ditatap begitu langsung salah tingkah. Kuurungkan niatku untuk minum dan aku pun segera bangun untuk membuat kopi, padahal sih maksudnya buat ngindar deket-deket dia.

“Mas kesini mo pulang kampung? Atau ngapain?” tanyaku sambil meracik kopi, berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Kamu semalem main kemana?” tanyanya balik.

Aku tak menjawab pertanyaannya, malah melontarkan pertanyaan lain. “Emang tadi pesawat jam berapa dari Jakarta?” tanyaku lagi karena kulihat dia kesini masih dengan tas ranselnya, berarti dari bandara tadi dia langsung kesini.

“Kamu semalem main kemana, Ra?” dia masih kekeuh sama pertanyaannya.

Aku mendengus pelan. “Cuma makan malam, terus nyanyi-nyanyi bentar sama si bos,” jawabku akhirnya.

“Terus ini Mbak Intan mana?” tanyanya lagi.

“Tau deh, semalem dia nggak tidur disini,” jawabku yang langsung dimengerti oleh Mas Endi. Dia lebih dulu bekerja di kantor kami, jadi kalo soal kelakuan si bos aku yakin dia pasti lebih paham dan lebih kenal siapa Mbak Intan. Terbukti, setelah itu dia nggak nanya-nanya lagi.

“Abis ini mandi ya, terus ikut Mas,” titahnya.

“Kemana?”

“Ke rumah.”

“Heh??? Emang ada apa di rumah Mas???” tanyaku terpekik.

“Kukenalin sama ayah ibuku,” jawabnya mantap.

“Kalo bos nyariin gimana?”

“Udah ntar aku yang bilang sama dia kalo kamu pergi sama aku.”

Aku diam sebentar, lalu akhirnya mengangguk. Meskipun sebenarnya aku agak ragu, ikut ke rumah Mas Endi? Dikenalin sama ortunya? Apa kata mereka nanti tentang aku? Kira-kira mereka bakalan nganggep aku siapanya Mas Endi? Tapi aku pun segera menepis segala pikiran-pikiran itu. Nggak masalah kan main ke rumah temen, daripada aku ngendon di hotel ampe jamuran?! Pikirku.

***

Dan siang itu akhirnya tiba juga aku di rumah Mas Endi. Sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Yogyakarta, nggak jauh dari lokasi Candi Prambanan. Mas Endi terlihat semangat sekali mengajakku ke rumahnya, bahkan saat tadi aku minta buat wisata dulu ke candi dia bilang, “Ntar aja, deket ini. Kita ke rumahku aja dulu.” Aku pun lagi-lagi menurut meski harus menahan ekspresi manyunku yang segera berubah jadi sumringah saat dia bilang ibunya udah masakin gudeg Jogja buat kami. Yaelah, tumben gue gampang banget sih disogok makanan sama dia.

Suasana di rumah Mas Endi sangat tenang, berbeda jauh dengan yang biasa kurasakan di Jakarta. Lingkungan rumah dengan halaman yang luas dan terkesan teduh karena pohon-pohon mangga yang menaungi, meski tak berpagar tapi relatif aman karena tetangga samping kanan kiri rumah Mas Endi ceritanya sih juga masih sodara-sodaranya juga. Nggak jauh dari kawasan rumah Mas Endi terhampar sawah yang hijau dan bikin mata seger. Meski sekarang udah menjelang siang tapi sama sekali nggak berasa panas. Keangkuhan matahari seolah dikalahkan oleh buaian angin yang berhembus menenangkan. Asli, rumah gue di Malang juga nggak senyaman ini lingkungannya.

“Tambah lagi nasinya, Nduk?” ibu Mas Endi sudah bersiap menyendokkan nasi lagi ke piringku. Saat ini aku, Mas Endi serta ayah dan ibunya sedang makan siang bersama di salah satu sudut rumah Mas Endi yang menyajikan kolam ikan sebagai pemandangan sembari makan.

“Udah, Bu, udah cukup,” tolakku cepat sebelum itu nasi mendarat di piringku. Kalo udah terlanjur ditambah gimana ceritanya gue bisa ngabisin ntar?!

“Lhooo koq dikit sekali makannya? Masakan ibu nggak enak tha?” ujarnya kecewa.

Aku jadi nggak enak. “Enak banget koq, Bu. Saya suka gudeg, cuman emang udah cukup koq makannya, udah kenyang,” jawabku basa-basi.

“Rara emang makannya dikit, Bu!” sambung Mas Endi seolah membelaku. Aku pun nyengir ke arah ibu.

Selesai makan kami pun melanjutkan ngobrol di teras rumah. Sang ayah yang dari perawakannya keliatan galak ternyata banyak juga ngomongnya. Cerita tentang pekerjaannya, sampe hobinya membaca buku. Keliatan sih dari dua rak berisi koleksi bukunya yang tadi sempat kukomentari saat aku masuk ke ruang tengah rumah ini. Buku-buku yang dibaca ayah Mas Endi rata-rata buku sejarah dalam dan luar negeri. Jadi rada berat rasanya aku ngikutin arah obrolan beliau kalo aja si ibu nggak mengalihkan pembicaraan tentang cerita masa kecil anak-anaknya.

Dan suasana “homey” itu baru kerasa sedikit garing saat tiba-tiba ibu bertanya, “Kalo Rara berapa bersaudara?”

Aku langsung merasa kikuk dan agak nggak nyaman. Aku memang paling males kalo ada orang nanya-nanya soal keluargaku.

“Rara anak tunggal, Bu!” sahut Mas Endi sebelum aku sempat menjawab. Setelah itu Mas Endi mengajakku berjalan-jalan. Aku pun langsung pamit pada orang tua Mas Endi, meski keliatan ibunya masih kepengen ngobrol sama aku.

“Orang tuamu baek ya, Mas?” ujarku yang berjalan mengikuti Mas Endi menyusuri pematang sawah nggak jauh dari rumahnya.

“Syukurlah kalo kamu suka sama mereka,” jawabnya tanpa menolehku.

“Iya, padahal awalnya aku agak ngeri liat ayah, mukanya keliatan galak sih,” komentarku sambil ngikik.

Mas Endi juga sepertinya sedang terkikik. “Ayah jarang banget bisa bersikap ramah gitu sama temenku, Ra!”

“Masa sih???” tanyaku cepat.

Mas Endi mengangguk. “Mungkin malah baru kamu ya temenku yang pernah ngobrol sama ayah,” jawabnya sambil tertawa.

“Yaaah… Gue gitu loh!” balasku bangga sambil nyengir.

Mas Endi pun menoyor kepalaku dengan gemas, dan seperti biasa aku selalu menampakkan wajah BT-ku tiap kali dia melakukan itu. Tangannya nggak pernah disekolahin kali ya, nggak sopan banget maen toyor kepala orang. Tawa kami sejenak terhenti saat aku merasa ponsel di saku celanaku bergetar, ada panggilan.

“Ya, Put?” sapaku setelah melihat si penelfon ternyata Putri, sahabatku yang tadinya janjian untuk menemaniku di hotel.

“Ra aku udah mau jalan ke hotelmu nih. Kangen banget aku,” balas Putri semangat saat mengucapkan kata “kangen”. Maklum, udah bertahun-tahun rasanya kami tak bersua.

“Oh gitu, sabar ya Say, pelan-pelan aja di jalannya. Aku soalnya masih di luar,” jawabku.

“Kamu lagi dimana sekarang? Sama siapa? Eh, si Angga apa kabarnya?” Putri memberondongiku dengan pertanyaan. Angga??? Tiba-tiba aku teringat, aku punya pacar bernama Angga.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset