Menuju Awal Semula episode 13

Chapter 13

Aku duduk di lobi hotel menunggu Putri, sahabatku. Sejak SMP kami selalu sekelas, bahkan duduk sebangku. Jadi bisa dibilang kami sangat dekat sekali. Sayangnya sejak kenaikan kelas menjelang kelas 2 SMA dia harus mengikuti orang tuanya pindah ke kota ini. Dan kehilangan sahabat seperti dia membuatku cukup sulit untuk mendapatkan penggantinya. Putri bilang aku orangnya susah move on, haha. Yah, aku memang nggak pandai bergaul apalagi bisa sangat dekat dengan orang lain.

“Raraaa!!!” teriak Putri saat melihatku. Kami pun berpelukan melepas rindu.

“Apa kabar, Put? Abi mana?” tanyaku yang melihatnya datang sendiri tanpa suaminya.

“Oiya sori banget ya Abi nggak bisa ikut, dia masih ada kerjaan,” jawab Putri dengan tampang menyesal.

Aku tersenyum menyiratkan kata “it’s oke” lalu mengajaknya duduk.

“Angga gimana kabanya? Terus Rangga sekarang udah bisa apa aja?” dari jaman bebek belum bisa ngomong emang si Putri ini kalo nanya sesuatu selalu borongan, nggak terima satu-satu!

“Angga baik, masih suka sibuk sama kerjaannya. Rangga baru bisa jalan, masih belajar a-i-u-e-o sekarang,” jawabku menceritakan keadaan suami dan anakku.

“Waaah pasti lucuuu… Aku kangen banget sama Rangga,” ujarnya sambil senyum-senyum mengingat kelucuan anakku. Terakhir Putri melihat anakku adalah saat beberapa bulan lalu dia mengikuti suaminya bertugas ke Jakarta, dan waktu itu kami sempat puas ketemuan seharian.

Obrolan kami masih berlanjut sampai saat si Fitri yang terlihat baru keluar dari lift memanggilku.

“Ra, ntar makan malem jam 7 yaa,” ujarnya mengingatkanku. Kulirik jam di pergelangan tangan kananku, sekarang udah jam 5 rupanya.

“Kamu mau makan malem bareng temen-temenmu ya?” tanya Putri kemudian.

“Tradisinya sih gitu, cuma kayaknya aku nggak ikutan deh, mo ketemu orang,” jawabku.

“Siapa? Mo kuanter nggak?” tanya Putri lagi, karena dia bawa mobil kesininya tadi.

“Ada deh,” jawabku singkat.

Putri pun memonyongkan bibirnya tanda nggak suka aku main rahasia-rahasiaan dengannya. “Yakin nggak mo dianter? Kalo nyasar gimana?”

“Kalo nyasar jitak aja supir taksinya,” jawabku yang diikuti tawa kami berdua. Nggak lama Putri pun pamit. Yah, begitulah kami. Jalan hidup memisahkan kami di tempat yang jauh, bahkan sudah lama sekali kami berjauhan, tapi sampai detik ini komunikasi kami masih berjalan lancar.

Selesai ketemuan sama Putri aku pun kembali ke kamar. Kulihat Mbak Intan baru selesai mandi.

“Mbak nanti makan malam saya nggak ikut ya?” ujarku pelan dengan nada hati-hati, takut nggak dapet ijin dari bos.

“Loh? Gue juga rencananya nggak ikut, Ra” balas Mbak Intan.

“Mmm… Jadi gimana, Mbak? Pak Agus keberatan nggak ya?” tanyaku mengingat atasan kami yang selevel di atas Mbak Intan.

“Yaudah ntar gue yang bilang ke Pak Agus kalo kita nggak ikutan. Emangnya lo mo kemana?” bales Mbak Intan.

“Ada mo ketemu orang, Mbak!” jawabku sambil senyum semanis mungkin. Dan aku tau si bos nggak bakalan sekepo itu buat nanya siapa dan dimana orang yang bakalan kutemui.

“Okey. Gue juga ntar malem mungkin nggak balik ya, kalo ada yang nanya bilang aja gue di rumah sodara,” pesan si bos.

“Trus besok pulang gimana?” tanyaku mengingatkan Mbak Intan kalo besok tu pesawat kita balik ke Jakarta jam 10 pagi. Kali aja gara-gara keasyikan maen dia jadi lupa sama jadwal pesawatnya.

“Iya, besok gue langsung nyusul ke bandara. Ini barang-barang gue mau gue packingin sekarang, besok tolong dibawain ke bandara ya,” titahnya.

“Siap, Mbak…” jawabku malas. Yaelaaah… Gue lagi deh yang kena. Disuruh bawain travel bag si bos. Dari jaman dulu gue masih single sampe sekarang status gue udah triple, si bos nih masiiiih aja suka bawa-bawa gue dalam urusan “pribadi”-nya. Dan begitu juga kelakuannya tiap kali sedang dinas keluar kota, tetep nggak berubah. Yang ada di benakku cuma 1, koq kayaknya si bos ni belom pernah ketauan suaminya ya? Padahal udah bertahun-tahun loh dia main-main kayak gini. Gue saksi hidupnya!!!

***

Aku turun dari taksi yang mengantarkanku sampai ke depan pekarangan sebuah rumah yang pernah kudatangi beberapa tahun lalu. Dan saat kuarahkan pandanganku ke rumah itu, tiba-tiba ada sebuah perasaan ragu dalam hatiku. Masuk nggak ya???

Setelah berfikir beberapa saat akhirnya kulangkahkan juga kakiku mendekati pintu rumah itu, dan mengetuknya sambil mengucapkan salam. Nggak lama seorang ibu setengah baya menjawab salamku sambil membuka pintu.

“Lho, Nduk???” ujar ibu itu setengah terpekik melihatku.

“Ibu, apa kabar?” sapaku sambil pasang senyum semanis mungkin.

Sang ibu langsung memelukku girang. “Mimpi apa ibu semalem tiba-tiba kamu kesini, Nduk???” ujarnya di tengah-tengah erat pelukannya.

“Maaf bu ganggu malem-malem,” balasku.

“Nggak koq, sama sekali nggak ngganggu. Ayo masuk,” ajaknya.

Aku pun menuruti ajakan sang ibu, lalu duduk di kursi ruang tamu. Kujelaskan kedatanganku ke rumahnya kali ini sekalian mampir karena sejak dua hari lalu aku lagi ada acara bimbingan teknis di salah satu hotel di kota ini.

“Loh, Vian disini, Bu?” tanyaku saat melihat seorang balita berlari menghampiri ibu, dan tak menolak saat aku menciumnya. Vian adalah anak Mas Endi dan Mbak Muti.

“Iya, sekarang dia disini dulu, sama Mbahnya,” jawab ibu.

Aku mengangguk-angguk sambil mulutku membentuk huruf “O” mendengar penjelasan ibu.

“Mamanya kan lagi sibuk S2 sekarang, terus bulan depan juga rencananya Papanya mau berangkat ke Filipina,” lanjut ibu menjelaskan.

“Filipin???” tanyaku heran.

“Iya, Endi mau ngambil spesialis disana,” jawab ibu lagi.

“Jauh amat ya, Bu? Kasian Vian donk ya ditinggal,” komentarku.

Ibu tersenyum kecil sambil membelai rambut Vian. Mungkin dalam hatinya juga menyesali nasib cucunya yang seolah terabaikan oleh kesibukan orang tuanya mencari ijazah.

“Kamu udah punya anak, Nduk?” tanya Ibu seolah mulai ingin tau tentang kehidupanku sekarang.

Aku mengangguk. “Anak saya cowok juga, udah setaun lebih,” jawabku.

“Dulu tu ibu pikir kalian berjodoh, tapi ternyata Endi nikahnya malah sama Muti,” ujar si ibu pelan sambil memandangiku.

“Ibu koq bisa mikir gitu? Saya sama Mas Endi dulu kan cuma temenan,” balasku dengan nada agak kikuk karena si ibu mulai ngebahas masa lalu.

“Ya ibu kan udah seneng sama kamu, Nduk. Lagian juga Endi nggak pernah bawa temen cewek kemari, makanya waktu kamu diajak kesini ibu pikir kamu calonnya Endi,” jawab si ibu semangat.

Aku tersenyum kecut mendengar pengakuan si ibu, lalu berusaha mengalihkan pembicaraan ke hal-hal lain seperti kabar ayah dan ibu selama ini, dan cerita-cerita tentang tingkah lucu si Vian. Aku pun sesekali menceritakan tentang anak dan suamiku. Kurang beruntungnya aku, saat ini ayah Mas Endi sedang keluar kota jadi kami nggak bisa ketemu.

“Ibu, Rara pamit ya. Ibu baik-baik, sehat terus yaa,” ujarku setelah mengecup tangannya dan bermaksud untuk kembali ke hotel setelah jarum jam di tanganku menunjuk angka 9.

“Makasih ya, Nduk sudah mau kesini dan mengobati perasaan kangen ibu sama kamu,” balas si ibu dengan mata berkaca-kaca.

Aku tersenyum, lalu menghilang dari pandangan si ibu. Dalam hatiku ada sebuah perasaan yang berkecamuk. Aku rindu, rindu sekali dengan Mas Endi. Dan segala cerita ibu tentang Mas Endi tadi membuatku semakin ingin menemuinya. Tapi apa pantas aku mencarinya, lalu berkata “I miss you so much” sementara saat ini kami sudah memiliki pasangan masing-masing??? Apa nggak bahaya kalo aku menemuinya sementara beberapa waktu lalu aku sempat membaca status FB istri Mas Endi yang sepertinya menyiratkan kecemburuannya padaku??? Ah, aku nggak mau terlalu banyak berharap, setidaknya pertemuanku dengan ibunya malam ini sudah cukup membuatku sedikit tau tentang kehidupan Mas Endi sekarang.

***

Menjelang siang pesawat yang membawaku dan rombongan mendarat di bandara Sukarno-Hatta Jakarta. Setelah membereskan bagasi masing-masing plus basa-basi dikit buat saling nanya “Lo pulang naek apaan?” akhirnya aku berpisah dengan teman-temanku di pintu keluar terminal kedatangan. Aku pun bergegas berjalan menuju parkiran tempat mobilku menginap sejak kemaren lusa. Kalo abis dinas luar kota begini rasanya aku nggak pengem kebanyakan acara lagi, begitu kerjaan kelar aku selalu pengen cepetan nyampe rumah deh. Alasannya apalagi kalo bukan karena kangen Rangga, anak semata wayangku yang masih hobi minum asiku selain makanan padat yang sudah dikonsumsinya. Alasan lain yang lebih kuat dan membuatku butuh segera sampai di rumah adalah beberapa botol asi perah yang kubawa di cooler bag, hasil pumping selama dia jauh dariku. Kalo nggak buru-buru disimpen di kulkas di rumah bisa basi ini asi. Dan kegiatan “membuang asi basi” adalah hal yang sangat menyakitkan bagi busui sepertiku. Ya iyalah, di toko mana juga ngga ada yang jualan asi, jadi kalo cairan emas ini sampe harus dibuang rasa sakit hatinya melebihi apapun. Gue ngomong ini bukannya lebay ya, silahkan ditanya ke semua ibu-ibu menyusui sepertiku, pasti pikiran dan perasaannya sama.

Tapi namanya juga Jakarta, tiada hari tanpa macet. Jalan tol aja yang pengertian harfiahnya adalah jalan bebas hambatan, khusus di Jakarta istilah itu nggak berlaku! Mo jalan tol kek, jalan kota atau jalanan kampung sekalipun tetep aja ada macetnya. Kalo pake rumus IPA SD sederhana, t= s/v dengan asumsi kecepatan rata-rata adalah 80 km/jam mestinya dari rumahku ke bandara cukup ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Itu kalo bisa jalan kecepatan 80 loh, kalo jalannya mindik-mindik 20-30 km/jam??? Silahkan agan itung sendiri kira-kira kapan gue baru bisa nyampe rumah. Padahal jalan tol kan didesain untuk kecepatan minimal 60 km/jam, coba aja kalo tol lagi lancar agan jalan cuma 20 km/jam, bisa disemprit pak pol kali.

Di tengah-tengah kemacetan tol keluar bandara aku memasang headset untuk kemudian menekan nomer telfon suamiku.

“Mama? Udah nyampe Jakarta?” tanya suamiku begitu dia menerima panggilanku.

“Baru keluar bandara. Macet ni, jam makan siang soalnya,” jawabku.

“Oh yaudah ati-ati aja kalo gitu,” pesannya.

“Papa nanti pulang jam berapa?” tanyaku yang tak lagi memanggil Angga dengan sebutan “Kanda” sejak kami memiliki anak. Palingan panggilan sayang Kanda-Dinda cuma kami sebut kalo kami lagi pengen mesra-mesraan aja, hehe. Kami nggak pengen si Rangga yang sedang mengalami perkembangan otak dengan pesat itu tiba-tiba menirukan ayah ibunya dengan panggilan “Nda” atau “Din” kan nggak lucu?!

“Nanti abis asar udah bisa pulang, males ah lama-lama di kantor, kan kangen Mama,” jawab suamiku menggodaku.

Aku tersenyum digoda begitu.

“Udah makan?” tanyaku.

“Belum, bentar lagi aja sekalian nunggu tamu dari Belgia dateng. Aku cuma nyambut dia dateng, ngajakin makan siang, nyariin hotel terus bisa langsung pulang,” jawab suamiku. Kalo dia bilang ada bule dateng berarti biasanya akan ada inspeksi pekerjaan dari tenaga ahli perusahaannya, dan biasanya juga kalo udah kedatengan inspektor gitu besoknya dia bakalan sibuk meeting meeting dan meeting. Tapi nggak papalah yang penting hari ini dia masih punya waktu buatku.

“Yaudah pokoknya jangan lupa makan. Udah dulu ya, Pa? Macet ni bikin BT, makanya beli mobil matic donk biar nggak pegel ni kaki,” cerocosku.

“Emang bisa bawa matic?!” goda suamiku lagi mengingat aku memang belum pernah bawa mobil matic.

“Ya makanya mobilnya ada dulu, baru belajar,” jawabku sambil tertawa.

Kudengar suamiku juga sedang tertawa. Setelah itu kami pun memutus hubungan telfon. Tinggal aku yang masih harus spaneng melewati jalanan untuk bisa sampe rumah.

Aku memutuskan untuk keluar tol menuju Pulogadung, karena kalo kondisi kayak gini harus pinter-pinter milih rute yang baik dan benar. Salah rute bisa makin lama nih nyampe rumahnya. Aku terus saja melarikan mobilku ke arah Cakung, lalu belok kanan ke arah Plaza Buaran, niatnya aku mau keluar Duren Sawit aja. Dan sampe di simpang 4 samping M*D yang mestinya aku bisa belok kiri langsung, rupanya di depanku ada sebuah mobil dengan label Ma*da Bi**te berwarna putih sedang berhenti dengan santainya menunggu lampu merah dan menutupi sisi kiri jalan yang mestinya jadi hakku buat bisa belok kiri.

Kutekan klakson beberapa kali sambil mengumpat. Itu sopir nggak pernah sekolah apa ya? Nggak ngerti apa kalo dia nggak boleh nutup lajur kiri jalan dan menghalangi pengendara lain yang mau langsung belok kiri? Sementara countdown timer masih menunjukkan angka 100-an lebih, artinya kalo aku harus nunggu dia maju jalan dulu bisa keburu ambeien pantatku.

Aku nggak bisa lebih bersabar lagi untuk menunggu. Ngeliat kelakuan orang nggak tau aturan gitu aja aku udah keburu emosi, boro-boro nunggu. Segera aku turun dan menghantam bagian belakang mobil itu dengan telapak tanganku.

“Woooy!!! Lo nggak liat lampu sign gue mo belok kiri???” teriakku pada orang yang baru saja menurunkan kaca jendela samping pengemudi dan mendongakkan kepalanya ke arahku.

Laki-laki itu terlihat terkejut atas reaksiku. Kalo mo ribut sekalian ribut aja deh, biar gue ajarin dulu aturan-aturan berkendara sesuai Undang-Undang. Dia nggak menjawab, cuma plonga-plongo dan melihat ekspresi bego kayak gitu aku pun jadi makin emosi.

Tiba-tiba seseorang turun dari bangku penumpang di belakang.

“Rara???” ujarnya pelan tapi dengan raut muka yang campur aduk, antara kaget, seneng, malu atau apalah namanya.

Dan aku pun lebih terkejut lagi melihatnya, seseorang yang saat ini sudah berdiri di depanku, penumpang mobil yang tadi ku-cap sebagai “mobil nggak tau aturan”.

“Mas???” dan cuma kata itu yang bisa terlontar dari mulutku.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset