Menuju Awal Semula episode 14-2

Chapter 14-2

Tadinya aku dan Mas Endi berniat buat nonton di bioskop yang ada di mall depan hotel kami sepulang acara makan ini. Tapi udah hampir jam 10 malam kayaknya orang-orang belom kepengen bubar jalan nih, masih pada ngobrol dan becandaan nggak jelas. Ada juga beberapa orang yang jalan-jalan muterin kawasan Oceans cuma buat cuci mata. Sementara aku dan Mas Endi memilih mojok di tempat yang agak jauh dari dermaga, daripada gue masuk angin beneran?!

“Kalo udah jam segini belom balik juga nggak bakalan bisa nonton kita, Mas. Tadi Rara cek jadwal midnight-nya mulai jam 10-an,” ujarku sambil menonton keseruan teman-temanku dari jauh.

“Yaudah nggak papa, nontonnya kan bisa besok aja di Jakarta,” jawab Mas Endi.

“Di Jakarta? Kapan???” tanyaku cepat sambil menoleh padanya.

Mas Endi tersentak dan tak menjawab, seolah tersadar bahwa dia baru aja salah ngomong.

“Mas tau nggak yang aku rasain sekarang?” tanyaku pelan sambil kembali mengarahkan pandanganku ke depan.

“Apa?” tanyanya.

“Aku bingung,” jawabku singkat.

“Bingung kenapa?”

“Besok pacarku pulang, tapi kenapa aku malah sedih ya?”

“Koq sedih? Bukannya kamu kangen banget sama Angga? Kalo kangen ampe galau menahun,” balas Mas Endi meledekku.

“Mas inget nggak kapan terakhir kali aku galau karena ditinggal Angga?”

Mas Endi menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya cepat. Aku yang sudah mulai gelisah berusaha menyulut sebatang rokok di tengah angin yang bertiup kencang. Agak susah, tapi akhirnya bisa juga.

“Rara, sekarang bilang sama Mas, apa yang akan bikin kamu seneng kalo seandainya kepulangan Angga nggak cukup buat nyenengin kamu?” tanyanya sambil melihatku.

“Nggak ada,” jawabku singkat sambil terus menikmati isapan rokokku.

“Nah, terus???”

“Effendi Havidz, besok pacar saya yang tercinta udah balik yaa. Emang situ nggak galau dengernya?” balasku berusaha memancing reaksinya.

“Bohong kalo Mas bilang Mas nggak galau. Cuma apa dengan galau aja bisa nyelesain masalah? Ra, kamu tau Mas sayang banget sama kamu, dan dari awal Mas bilang itu ke kamu, Mas udah tau resikonya. Ya kayak gini ini nih,” cerocosnya dengan sedikit emosi.

Aku diam, makin bingung dengan perasaanku sendiri. Sebenernya gue ni kenapa sih??? Pacar yang dikangenin udah mau balik, kenapa aku malah nggak seneng? Karena takut nggak bisa deket-deket sama Endi lagi? Lah emang kenapa nggak bisa? Angga kan nggak pernah ngelarang-larang aku berteman sama siapa aja? Eh, emangnya Endi cuma sekedar teman?

“Dari awal ampe sekarang, buat Mas semuanya tu terserah kamu, Ra! Mas nggak pernah maksa minta kamu buat sayang sama Mas, apalagi ngarep kamu putus sama pacarmu. Mas cukup tau diri dan tau resikonya jatuh cinta sama cewek orang,” lanjutnya.

“Mas yakin Mas nggak papa?” tanyaku pelan di sela-sela isapan rokokku.

“Mas nggak papa, dan nggak pengen kamu kenapa-kenapa,” jawabnya tegas.

Aku tersenyum kecil mendengarnya. “Dung dung pret, tau nggak?” ledekku ke arahnya. Yah, terasa gombal tapi aku selalu percaya sama gombalannya. Karena emang kenyataannya Mas Endi selalu mengkhawatirkanku melebihi kekhawatirannya pada apapun. Itu kali ya yang namanya cinta? Kayaknya ilmuku tentang cinta ni masih cetek banget dibanding Mas Endi, meskipun aku udah bertahun-tahun mengaku mencintai Angga. Atau Mas Endi itu bukan cinta, tapi bego??? Mungkin emang cinta bisa bikin orang jadi bego.

Dan selesai acara makan malam di tepi laut kami pun mendarat di tempat karaoke. Aku tak terlalu banyak bertingkah lantaran udah mulai mengantuk. Rentetan acara yang kuhandle selama 2 hari mungkin cukup membuatku kelelahan, jadi sejak selesai menamatkan “jatah” menyanyiku, aku pun cuma duduk bersandar di sofa sambil merokok untuk menahan ngantuk. Sampai akhirnya otakku jadi agak “tune” saat mendengarkan Mas Endi menyanyikan sebuah lagu berjudul “Seize The Day”. Aku benar-benar meresapi liriknya, hingga tak terasa air mataku menetes pelan di pipiku.

Seize the day
Or die regretting the time you lost
It’s empty and cold without you here
Too many people to ache over

I see my vision burn
I feel my memories fade with time
But I’m too young to worry
These streets we travelled on
Will undergo our same lost past

I found you here
Now please just stay for a while
I can move on with you around
I hand you my mortal life
But will it be forever?

I’ll do anything for a smile
Holding you till our time is done
We both know the day will come
But I don’t wanna leave you

I see my vision burn
I feel my memories fade with time
But I’m too young to worry
A melody, a memory, or just one picture

Seize the day
Or die regretting the time you lost
It’s empty and cold without you here
Too many people to ache over

Newborn life replacing all of us
Changing this fable we live in
No longer needed here
So where do we go?

Will you take a journey tonight
Follow me past the walls of death
But girl what if there is no eternal life?

I see my vision burn
I feel my memories fade with time
But I’m too young to worry
A melody, a memory, or just one picture

Seize the day
Or die regretting the time you lost
It’s empty and cold without you here
Too many people to ache over

Trials in life
Questions of us existing here
Don’t wanna die alone without you here
Please tell me what we have is real

So what if I never hold you
Or kiss your lips again wooooaaah…
So I never wanna leave you
And the memories of us to see
I beg don’t leave me

Seize the day
Or die regretting the time you lost
It’s empty and cold without you here
Too many people to ache over

Trials in life
Questions of us existing here
Don’t wanna die alone without you here
Please tell me what we have is real

Silence you lost me, no chance for one more day
Silence you lost me, no chance for one more day
I stand here alone
Falling away from you, no chance to get back home
I stand here alone
Falling away from you, no chance to get back home

“Jelek ah kalo nangis,” goda Mas Endi pelan saat sore ini kami dalam perjalanan menuju kost dari bandara.

“Emang gue pikirin?!” balasku cuek sambil menyeka air mataku.

“Udah, kita kan bukannya kayak orang yang lagi pacaran terus putus? Koq kamu jadi lebay gini nangisnya?” ujarnya masih terus menggodaku.

Ya, kami memang nggak pacaran dan karena nggak pacaran jadinya nggak akan mungkin ada kata-kata putus. Cuma kembalinya Angga membuatku benar-benar berfikir bahwa hubunganku dengan Mas Endi hanya akan sampai disini saja. Perasaanku padanya, kedekatan kami selama ini seolah cuma sebuah cerita di alam mimpi yang akhirnya harus menguap saat aku terbangun dari tidur dan kembali ke dunia nyata. Seperti yang Mas Endi bilang, dia nggak pernah memaksaku, tapi aku juga harus tegas mengambil sikap, aku harus memilih antara dua hati yang sedang kujalani. Dan kalo memang Mas Endi cuma tokoh dalam mimpiku, artinya di dunia nyata mestinya aku tetap memilih Angga. Aku mencoba untuk realistis aja, sudah lama aku bersamanya, sudah banyak cita-cita dan harapan masa depan yang kurangkai bersamanya dan aku nggak mau semua itu tiba-tiba hancur cuma karena sebuah mimpi yang membuaikan. Tapi aku nggak pernah menyatakan semua ini pada Mas Endi. Tanpa kubilang pun kurasa dia mengerti bahwa aku akan memilih untuk kembali pada Angga.

Taxi yang kami naiki menurunkanku di depan gerbang kostku. Mas Endi menawarkan diri untuk mampir, tapi aku menolak. Aku harus mulai membiasakan diri untuk menjadikannya hanya sebagai seorang teman kantor, jangan lebih dari itu! Akhirnya dia pun maklum dan hanya menungguku masuk ke kost dulu sebelum dia berjalan pulang ke kostnya.

Kulihat pintu kamarku setengah terbuka. Apa Dian lagi di dalem? Emang dia nggak ngantor? Pikirku. Kudongakkan kepalaku ke dalam saat aku membuka sepatu, dan betapa surprise-nya aku melihat seseorang sedang tiduran di kasurku sambil menonton TV.

“Kanda??? Koq udah dateng?” tanyaku setengah terpekik.

“Iya, udah dari tadi pagi. Kan aku udah bilang hari ini aku pulang,” jawab Angga sambil nyengir dan menghampiriku, lalu mengecup keningku.

***

“Well, nyampe deh,” ujarku saat mobil Mas Endi yang mengantarkanku tiba di jalanan belakang kantor.

“Yaudah, sampe ketemu lagi yaa,” balas Mas Endi yang duduk bersamaku di bangku belakang sopir.

“Eh, nggak sekalian nunggu Mbak Muti pulang?” tanyaku mengingat ini udah hampir jam pulang kantor.

“Nggak, tadi nggak janjian koq,” jawabnya sambil tersenyum. Buset, kalo laki gue yang begini, udah di kantor gue tapi nggak niat nunggu gue buat pulang bareng bisa nangis bombay gue.

“Oh, yaudah. Makasih ya makan siangnya,” lanjutku tanpa bermaksud nanya-nanya lagi soal urusannya dengan istrinya.

“Rara!” panggilnya saat aku sudah turun dari mobil.

“Iyah?”

“Kita bisa ketemu lagi kan next time?” tanyanya dengan tatapan penuh harap.

Aku tercekat mendengar pertanyaan itu. Ngarep sih, tapi…

“Kenapa? Kamu keberatan?” tanya Mas Endi lagi melihat ekspresiku.

“Nggak, nggak koq. Atur ajalah, Mas. Kalo Rara ada waktu pasti bisa koq,” jawabku akhirnya.

Dan mobil Mas Endi pun berlalu dari hadapanku. Aku bergegas masuk ke gedung kantorku untuk kembali melanjutkan kewajibanku yang sempat terabaikan gara-gara acara ngemall tadi. Dalam hati aku berharap nggak ada satu orang pun teman kantor yang mengenali mobil suami Mbak Muti yang menurunkanku tadi.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset