Menuju Awal Semula episode 15

Chapter 15

Kadang aku mikir, antara cinta dan komitmen, apakah itu dua hal yang selalu mempunyai hubungan sebab-akibat? Bisakah dua orang anak manusia terikat komitmen bila tidak saling mencintai? Atau pernahkah kita mencintai seseorang tapi membiarkan perasaan itu begitu saja tanpa sebuah komitmen? Untuk yang kedua ini mungkin banyak terjadi, banyak orang yang punya rasa tapi karena satu dan lain hal akhirnya menyerah dan sependapat dengan Dr. PM bahwa cinta tak harus memiliki. Tapi kalo kita terjebak dalam sebuah komitmen tanpa cinta, bisakah berujung bahagia? Sementara bagiku dalam pasang surut sebuah hubungan penawarnya adalah rasa cinta itu sendiri.

Aku masih ingat betul gimana surprise-nya aku saat Mas Endi tiba-tiba mengabarkan rencana pernikahannya dengan Mbak Muti. Sejak Angga pulang, hampir setiap saat di kantor aku selalu menghindarinya. Aku benar-benar meminimalisir kesempatan untuk bertemu Mas Endi meski saat itu hubunganku dengan Angga masih LDR juga. Bukan apa-apa, sekembalinya Angga ke Indonesia dia berniat meneruskan rencana masa depan kami dengan mengurus kepindahannya ke Jakarta sebelum dia menikahiku. Dan itu bukan perkara enteng, aku dan Angga sama-sama nggak main-main dengan rencana kami. Makanya aku nggak pengen ada duri dalam hubungan kami yang akhirnya mengacaukan semuanya. Lalu Mas Endi? Kurasa aku harus mulai memperbaiki semuanya, dengan menata kembali hatiku hanya untuk Angga seorang, dan menghindari tumbuh suburnya rasa untuk Mas Endi. Makin hari aku makin nggak mengenalnya, bahkan sampai akhirnya aku tak sadar dia telah hengkang dari kantor, begitu pun kostnya udah pindah kemana. Aku nggak tau lagi kabarnya untuk beberapa waktu, sampai akhirnya dia menghubungiku via telfon hanya beberapa jam setelah aku menerima undangan pernikahannya yang dititipkan ke Dian.

“Mas mau nikah, boleh?” itu yang pertama kali dia tanyakan padaku.

“Lah? Mo nikah kenapa minta ijin sama Rara?” balasku seolah tak peduli, padahal asli sejak kubaca undangan pernikahannya yang menuliskan nama calon istrinya disitu, aku dan Dian sama-sama berteriak “Hah??? Mbak Muti???” lantaran kami memang sama-sama nggak tau sejak kapan mereka punya hubungan. Dan kenapa juga sih Mas Endi harus memilih perempuan yang masih sekantor denganku untuk jadi pendamping hidupnya??? Kayak udah nggak ada stok aja di tempat laen.

“Nggak papa, cuma takut kamu nggak terima aja,” jawabnya datar tapi berasa ke-PD-an di telingaku.

“Seingatku aku nggak punya hak buat melarang, jadi kenapa Mas minta pendapatku?” jawabku yang udah mulai nyesek. Nyesek karena cemburu atau karena tau calon istrinya adalah temen sekantorku? Entahlah…

“……”

“Kalo Mas udah yakin silahkan aja, nggak lama lagi juga kan aku sama Angga mau nikah,” lanjutku.

“Aku tau aku nggak bisa begini terus ke kamu, Ra. Hidupmu terus berjalan, dan aku juga harus melanjutkan hidupku,” ujarnya pelan.

“Iya, emang mestinya begitu kan?” sahutku cepat, sambil mulai menyulut rokok buat sedikit meredakan sesak di dadaku.

“Tapi aku pengen kamu tau kalo aku tetap sayang sama kamu, sampe kapanpun,” ujarnya lagi, mantap.

“Kalo Mas udah nikah sayangnya buat Rara dikasiin aja ke istri sama anak-anak Mas ntar, jangan buat Rara lagi donk!” balasku. Gila nih cowok, masa ngomongnya gitu??? Emang dia nggak sayang sama calon istrinya apa?

“Buat Rara bakalan tetap ada, pasti masih ada,” jawabnya dengan nada bercanda.

Aku pun sedikit tersenyum, tapi banyakan kuatirnya. Sebenernya apa sih yang terjadi padanya? Tiba-tiba mau nikah, tapi masih ngaku demen sama cewek lain. Kalo calon istrinya tau gue bisa dimutilasi kali.

“Mas ngomongnya jangan ngasal ah. Kalo emang nggak yakin dan nggak cinta sama Mbak Muti mending nggak usah nikah deh,” cerocosku akhirnya.

“Yakin, Ra… Yakin… Tenang aja,” jawabnya.

“Ya udah, selamat menempuh hidup baru kalo gitu. Mudah-mudahan sakinah, mawaddah, warohmah,” ujarku dengan kata-kata yang udah biasa diucapkan di hari pernikahan seseorang.

“Kamu mau dateng kan?” tanyanya.

Aku tercekat ditanya begitu. Nggak yakin deh aku bisa berdamai dengan perasaanku dan melihatnya bersanding dengan orang lain. Terus kalo besok aku nikah kira-kira Mas Endi perasaannya begitu juga nggak ya?

“Kayaknya nggak deh, Mas. Jauuuuh!!!” jawabku mengingat pernikahannya diadakan di kampung istrinya di Palembang.

“Yaah… Padahal Mas pengen kamu dateng,” ujarnya kecewa.

“Terus nikahan Rara ntar Mas berani dateng nggak?” tantangku.

“……”

“Mas?” panggilku di tengah kediamannya.

“Ya udah deh gak papa kalo kamu nggak bisa dateng. Nikahanmu ntar juga Mas pasti nggak akan dateng,” jawabnya akhirnya.

“Kenapa nggak dateng?” cecarku.

“Nggak pengen aja,” jawabnya.

“Ya udah deh kalo gitu alesanku juga sama, nggak pengen dateng,” balasku sambil ngikik.

Mas Endi pun terdengar sedang tertawa geli. Ya sudahlah kita habiskan saja pulsa kita kali ini buat ngobrol nggak jelas, karena setelah ini kami sama-sama nggak tau apakah suasana hangat seperti ini masih akan ada saat kami sudah sama-sama menjalani hidup baru dengan pasangan masing-masing. Dalam hati aku cuma berharap keputusannya untuk menikah nggak main-main, meski ada rasa nggak rela di hatiku tapi biarlah semua perasaanku tentang Mas Endi menguap setelah ini. Toh life must goes on. Nggak semua mimpi bisa jadi kenyataan, dan nggak semua rasa bisa diwujudkan.

***

“Ma… Mamamaaa!!!” teriak Rangga sambil menggelayut di leher suamiku yang sedang duduk bersila di depan TV.

“Eeh, ini Papa. Kalo Mama yang itu,” ujar suamiku sambil mengajari Rangga yang mana Papa dan yang mana Mamanya. Anakku masih belajar ngomong dan belajar segalanya, jadi kadang dia masih salah manggil orang tuanya.

“Adek, sini kalo mau sama Mama!” sahutku dari arah kamar. Hari Minggu ini nggak ada planning kemana-mana, suamiku lebih pengen menghabiskan waktu di rumah dengan tiduran atau menonton TV lantaran kemaren dia abis lembur.

Rangga pun berjalan pelan-pelan ke arahku yang sedang tiduran sambil mainan hp di kamar. Melihat anakku datang aku langsung mematikan layar hapeku dan membantunya naik ke tempat tidur.

“Coba, papa mana papa?” tanyaku pada Rangga. Diapun menunjuk ke arah pintu kamar sambil berucap, “Pa… Pa…”

“Papa nggak denger, Nak. Panggil yang keras donk. Pa… Papaaa!!!!” ujarku sambil mengajarinya.

Anakku pun menirukan volume suaraku dengan sedikit berteriak, “Pa… Papaaa!!!”

“Woooy???!!” balas suamiku dari arah ruang TV.

Rangga pun menatapku, lalu kami berdua sama-sama tergelak. Canda tawaku bersama anakku terhenti sebentar oleh suara notifikasi bbm dari hapeku. Segera kubaca, ternyata bbm dari Mas Endi.

“Sibuk, Ra?”
“Nggak, lagi maen sm Rangga aja. Kenapa, Mas?”
“Mas lg di daerah deket rumahmu nih.”
“Oya? Terus???”
“Yaa kalo km gak sibuk kita ketemuan skrg.”
“Mas sendirian?”
“Iya. Km ada waktu skrg?”

Aku melihat ke arah Angga yang kali ini udah nggak duduk di bawah lagi, tapi sudah merebahkan tubuhnya di sofa panjang di depan TV.

“Pa? Pengen burger nih, aku ajak Rangga ke BK bentar boleh?” tanyaku ke arah suamiku. Anakku yang di otaknya sedang menyala alarm “Mama mau pergi” ini langsung berteriak-teriak girang, yakin kalo dia pasti diajak. Kebiasaan anakku suka sadar kalo orang tuanya mo keluar rumah, dan dia selalu merengek minta ikut. Kalo nggak lagi mo ke kantor sih aku nggak masalah, tapi kalo pas aku atau suamiku mau kerja kan jadi panjang urusannya? Aku harus kejar-kejaran dulu sama jarum panjang jam dinding, demi merayu Rangga dulu sampe akhirnya dia nggak merengek minta ikut lagi.

“Ya udah, beliin buat aku yang biasanya ya?” jawab suamiku.

Sip!!! Dapet ijin buat keluar sama Rangga nih. Aku pun segera membalas bbm Mas Endi yang terakhir. “Di BK deket tempat kita ketemu waktu itu aja ya, Mas?”

“Okeh. See ya!” balas Mas Endi lagi.

Aku pun segera turun dari tempat tidur dan mengganti pakaian Rangga. Setelah selesai mengurus anakku, kusuruh dia menungguku yang masih mengisi tasku dengan barang-barang kebutuhannya. Diapers, tisu basah, minyak telon, apron dan setelan baju ganti. Ini adalah barang wajib yang harus kubawa bila aku mengajak Rangga keluar rumah, tentunya ditambah dompet dan hapeku juga. Setelah berpamitan pada suamiku, aku pun membawa Rangga menuju mobil dan kami berangkat ke daerah Duren Sawit.

***

“Udah lama nunggunya?” sapaku pada Mas Endi yang sedang duduk di salah satu sudut di areal restoran penjual burger ini.

“Nggak koq,” jawabnya sambil tersenyum. “Halo, Rangga…” sapanya pada anakku yang sedang kugandeng.

Mas Endi pun mengulurkan tangannya untuk mengangkat Rangga dan mendudukkannya di sofa yang sama dengannya.

“Aku order dulu ya. Titip Rangga,” ujarku meninggalkan mereka berdua.

Nggak lama aku kembali dan melihat Rangga sedang tertawa digoda Mas Endi. Aku pun tersenyum sendiri melihatnya. Dan keakraban antara temanku dengan anakku itu terus berlanjut sambil aku sesekali menyuapi Rangga dengan kentang goreng. Sekitar setengah jam kemudian anakku terlihat sudah kelelahan. Aku pun segera memangkunya, memasang apron lalu menyusuinya sampe dia tertidur.

“Cepet banget ya tidurnya?” komentar Mas Endi yang melihat anakku sudah tertidur pulas di pelukanku.

“Capek banget kali. Mas sih ngajak becandanya nggak kira-kira. Awas aja kalo ntar malem dia tidurnya sambil nangis-nangis,” jawabku.

Mas Endi tersenyum. “Suamimu di rumah?” tanyanya kemudian.

“Iya, kemaren abis ngelembur, jadi dia males kemana-mana,” jawabku.

“Sering dia lembur?” tanyanya lagi.

“Sesering aku keluar kota,” jawabku sambil mulai melahap burgerku. Dari tadi kan aku belom bisa makan, secara anakku masih on.

“Oiya, terus kalo kamu keluar kota Rangga gimana?” tanya Mas Endi yang sudah paham dengan seluk-beluk pekerjaanku.

“Ya sama mbaknya, sama bapaknya juga,” jawabku.

Mas Endi manggut-manggut.

“Mas tadi darimana?” tanyaku mengingat dari awal dateng tadi aku belum menanyakan hal itu. Dari tadi kami memang sama-sama sibuk dengan Rangga sampe belum ngobrol basa-basi. Haha.

“Ada urusan, terus inget kamu bilang rumahmu di daerah situ makanya terus ngajak ketemu,” jawabnya sambil memandangiku yang masih sibuk dengan burgerku.

“Sori ya agak jauh, soalnya kalo di deket rumah aku bingung enaknya ketemuan dimana,” ujarku sambil nyengir mengingat di sekitar kompleks perumahanku cuma ada M*D dan nggak mungkin banget aku ketemuan sama Mas Endi disana. Kalo ada tetangga ngeliat gimana???

“Nggak papa, Mas sih nggak masalah mau dimana aja kapan aja,” jawabnya sambil nyengir.

“Diiih… Masih ngarep kita bisa sering-sering ketemu ya?” godaku. Mas Endi mengangguk masih sambil nyengir.

“Situ mah enak nggak ngurusin anak, pergi-pergi pake sopir tinggal perintah mo kemana kapan aja. Lah saya???” balasku sengaja menggantung kalimatku. Karena kalo dipikir-pikir emang jarak rumah kami berjauhan, tapi kalo Mas Endi bisa anytime anywhere berada di dekatku, itu kan saking gampangnya dia jadi juragan yang punya sopir.

Mas Endi tersenyum geli melihat protesku.

“Betewe, kenapa Vian dititipin di Jogja, Mas?” tanyaku teringat soal anak Mas Endi yang kemaren kulihat di rumah ibunya. Di pertemuan kali ini aku merasa udah berani kepoin dia, beda sama kemaren saat kami makan siang, obrolan kami cuma basa-basi saling membahas yang lalu-lalu lantaran sudah lama kami nggak ketemu.

“Koq kamu tau Vian di Jogja?” tanya Mas Endi sedikit terkejut.

Aku heran mendengar ekspresinya, kayaknya ibunya belum cerita kali ya kalo kemaren aku datang ke rumahnya?

“Kan informannya banyak,” jawabku bangga, menirukan ucapannya yang biasanya.

“Nggak ada yang megang, Ra. Istriku lagi tugas belajar,” jawabnya. Aku pun pernah denger berita di kantor kalo Mbak Muti sedang menempuh beasiswa S2 di salah satu kampus yang punya program kerjasama dengan kantor.

“Emangnya situ nggak bisa handle bentar kalo ibunya lagi kuliah?” tanyaku lagi. Dan kenapa orang kayak dia bisa bayar sopir tapi nggak bisa nyari babysitter?

Mas Endi menggeleng sambil nyengir.

“Yaelaaaah, sini deh biar Rara yang ngurus Vian aja!” lanjutku.

“Kalo kamu yang ngurus Vian ntar Mas gak mampu bayarnya,” candanya.

“Iya lah, mahal loh tarifnya. Sehari sejuta,” balasku sambil mencibir ke arahnya.

“Mungkin lebih baik Vian diurus neneknya aja daripada aku cari orang lain, Ra. Lagian nggak lama lagi aku juga mau sekolah,” ujarnya mulai memberi penjelasan.

“Mas mau sekolah di Filipin?” tembakku.

Mas Endi mulai mengernyitkan kedua alisnya. Aku pun tergelak melihatnya.

“Tempo hari aku ke Jogja, ketemu ibu, Mas,” lanjutku menjawab keheranannya.

“Oya? Koq ibu nggak bilang ya?” balasnya sedikit surprise. Aku tersenyum kecil.

“Jadi kamu udah tau semuanya dari ibu?” tanyanya.

“Semuanya?” tanyaku balik.

“Ibu juga cerita soal masalah rumah tanggaku?” tanyanya lagi.

“Nah kalo yang itu kayaknya nggak deh, Rara nggak tau. Emang rumah tangga Mas kenapa?” aku makin kepo. Mungkin sikap ibunya yang cuma cerita soal rencana sekolah Mas Endi dan istrinya sudah tepat, nggak pantes rasanya kalo masalah rumah tangga anaknya dia umbar ke orang lain. Lah tapi ini yang bersangkutan yang ngomong koq.

“Nggak papa koq,” jawabnya singkat. Kulihat raut mukanya mulai berubah.

“Oke kalo nggak bisa cerita nggak papa, nggak pantes juga masalah kayak gitu diomongin sama Rara. Mas kan udah dewasa, pasti bisa ngatasin berdua istri kan?” ujarku pelan mencoba sedikit menghiburnya.

Mas Endi diam dan cuma memandangiku.

Aku jadi salah tingkah. “Kenapa sih?” tanyaku.

Dia lagi-lagi nggak menjawab, cuma tersenyum sambil geleng-geleng.

“Emang mo ngambil spesialis apa di Filipin?” tanyaku lagi berusaha mengembalikan suasana yang mulai kikuk.

“Bedah tulang,” jawabnya.

Wew. Aku yang sama sekali nggak paham urusan dokter-dokteran begitu cuma melongo sambil menunggu dia menjelaskan lebih banyak soal rencana sekolahnya.

“Kenapa?” tanyanya setelah itu.

“Nggak papa. Emang nggak ada tempat laen buat sekolah ya? Nanggung bener di Filipin?! Di Inggris gitu kek, Amerika kek, kan lebih bagus-bagus tempatnya?” cerocosku.

“Mas kan mau sekolah, bukan mau jalan-jalan,” jawabnya sambil menoyor kepalaku.

Aku yang nggak bisa melawan karena sedang memegang anakku cuma bisa manyun karena lagi-lagi harus menerima perlakuan nggak sopannya terhadap kepalaku.

“Yaa kan sekalian jalan-jalan gitu. Emang nggak pusing sekolah mulu,” balasku setelah mulutku nggak manyun lagi.

“Pilihannya cuma 2, di Filipina atau Amerika. Di Indonesia juga ada di Surabaya, cuma Mas pernah nggak lolos tes yang disana. Ikut yang di Filipina ternyata lolos,” ujarnya.

“Gila ya, tes di Indonesia ditolak, malah diterima yang di luar negeri,” komentarku. Agak aneh juga sih dengernya, apakah mutu pendidikan dan proses seleksi di Indonesia lebih tinggi standarnya dari di luar negeri? Atau mungkin di Indonesia kebanyakan tetek bengek sampe-sampe Mas Endi malah nggak lolos tes di tanah airnya sendiri?

“Yaaah… Itulah Indonesia,” balasnya sambil tersenyum.

“Terus berapa lama sekolahnya?”

“Paling lama 4 tahun,” jawabnya.

“Empat tahun???” teriakku sambil membelalakkan kedua bola mataku.

Mas Endi mengangguk.

“Terus anak istri Mas gimana kabarnya ditinggal 4 taun?” tanyaku.

Mas Endi mendengus pelan tanpa menjawab pertanyaanku. Kali ini dia hanya mengambil gelas softdrink-nya lalu menyeruputnya pelan.

“Kenapa nggak diajak aja, Mas? Mbak Muti bisa kali nyari beasiswa disana,” lanjutku sambil mikirin kemungkinan-kemungkinan yang bisa jadi alasan agar istrinya bisa ikut.

“Dia kan udah dapet beasiswa disini,” jawab Mas Endi.

“Iya juga sih ya, yang ini baru mulai masa ditinggal,” gumamku tetep sambil mikir.

Mas Endi memandangiku lagi.

“Atau Mas sekolahnya nunggu dia kelarin S2 nya dulu aja, terus baru deh dia nyari beasiswa di Filipin,” lanjutku.

“Mas juga ini kejar-kejaran sama waktu, Ra. Keburu bermasalah sama batasan usia buat ambil sekolah disana,” jawabnya lagi.

“Oh gitu ya? Iya ding situ udah mulai menua,” ujarku, kali ini sambil tergelak menggodanya.

Lagi-lagi Mas Endi menoyor kepalaku, tapi kali ini pake tambahan menarik hidungku. Aku makin mencak-mencak nggak terima.

“Ya udah lah, Mas juga belum dapet solusi yang terbaik soal ini,” ujarnya lemas, kayak mo nyerah gitu sama keadaan.

“Tapi kan nggak bener kalo ambisi Mas sama Mbak Muti ampe bikin Vian jadi korbannya,” balasku.

Mas Endi tak menjawab, dan beralih memandangi Rangga yang masih tertidur dalam pelukanku. Dalam hati aku merasa beruntung, sesibuk-sibuknya aku dan suamiku dalam pekerjaan nyatanya kami selalu bisa menemukan solusi yang terbaik dalam menjaga keutuhan waktu dan perhatian kami untuk Rangga. Dan memang seharusnya seperti itu kan, karena dipikir-pikir segala yang kami cari dan kami kejar dalam hidup buat siapa lagi kalo bukan buat anak kami? Nggak boleh lagi ada cerita kami mengejar sesuatu hanya untuk kepentingan kami pribadi, apalagi sampe ngorbanin anak. Mudah-mudahan Mas Endi dan istrinya bisa mikirin lagi solusi untuk masalah mereka saat ini.

“Jadi, rencananya kapan mulai sekolahnya?” tanyaku seolah belum puas ngobrolin soal “masalah rumah tangga” Mas Endi.

“Mungkin dalam sebulan dua bulan ini. Sekarang Mas juga masih kursus di daerah Juanda buat persiapan sekolah ntar,” jawabnya.

“Oooh… Jadi situ udah nggak kerja? Pantesan kerjaannya keluyuran mulu,” ledekku.

Mas Endi tersenyum. “Kalo keluyurannya sama kamu kan gak papa, itung-itung kangen-kangenan sebelum Mas ninggalin Indonesia,” balasnya menggodaku.

“Diiih… Ngareeep…” ledekku lagi.

“Kenapa? Kamu keberatan?” tanyanya cepat.

“Nggak sih… Cuma Rara kan beda sama Mas. Kalo mo pergi-pergi juga nggak gampang, punya tanggungan bocah nih,” jawabku sambil menunjuk ke arah anakku.

“Ra, kalo boleh jujur, aku seneng banget bisa ketemu lagi sama kamu. Dan aku harap setelah ini aku nggak kehilangan kamu lagi,” ujarnya, kali ini sambil menatapku yang lagi-lagi bikin aku jadi salting. Helloooow… Sadar diri dooonk, gue tuh risih diliatin kayak gitu!!!

“Siapa juga yang menghilang?! Situ kali,” bantahku.

“Mas kan nggak pernah menghindari kamu, tapi kamu yang menghindar dari Mas,” tolaknya.

Aku terdiam. Emang iya ya? Gue gitu yang ngindar sejak beberapa tahun lalu? Tapi memang keadaan kan yang bikin kami harus berkompromi dengan hati, apalagi sekarang semuanya sudah berbeda, jangan sampe lah kali ini di kesempatan kedua kami bisa berhubungan kami masih pake hati. Bisa rempong 17 setan ntar urusannya.

“Koq diem? Bener kan berarti?” tanyanya lagi.

“Whatever you say. Males ah bahas yang lalu-lalu!” balasku ketus.

“Ya udah maaf. Tapi serius deh, kamu nggak keberatan kan kalo kita sering-sering ketemu?”

“Kan Rara udah bilang, asal ada waktu sih bisa. Tapi Mas juga harus ngerti kesibukanku sebagai karyawan, istri juga ibu buat anakku,” jawabku sedikit ngomel.

“Iya iya Mas tau itu,” jawabnya.

Tiba-tiba suara ring tone hapenya yang lagi-lagi mendendangkan lagu Seize The Day menganggu obrolan kami dan membuatnya harus pamit sebentar untuk menerima telfon.

Aku memandangi sosok Mas Endi yang sedang menerima telfon dari jauh sambil bersenandung sendiri.

I’ll do anything for a smile
Holding you till our time is done
We both know the day will come
But I don’t wanna leave you

Aah… Lagi-lagi lirik lagu itu merasuk dalam hati dan pikiranku. Kemaren-kemaren kurasa lagu itu udah basi, meski sering denger tapi udah nggak ada feel-nya lagi. Tapi kenapa sejak ketemu Mas Endi lagi itu lagu bikin aku galau lagi ya??? Gosh!!! Jangan-jangan gue mulai CLBK nih.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset