Menuju Awal Semula episode 17

Chapter 17

Everything changed, everybody changed, and I’ve changed. Kembalinya sosok Mas Endi dalam hari-hariku beberapa waktu ini kusadari atau tidak memang sedikit demi sedikit mempengaruhi kehidupan rumah tanggaku. Seringnya kami bertemu atau berkomunikasi membuat aku seperti addicted. Aku jadi seperti ABG yang baru jatuh cinta, merasakan rindu saat tak bertemu, gelisah saat sehari saja nggak kontak, dan tentunya hal itu membuatku jadi pusing karena harus membagi waktu dan perhatianku selain untuk pekerjaan, suami, dan anakku, juga untuk Mas Endi. Semuanya berubah menjadi sangat complicated.

“Mas? Aku istri orang!” bentakku sambil mendorong tubuh Mas Endi menjauhiku saat dia mendaratkan bibirnya di keningku.

Mas Endi terkejut melihat reaksiku. Aku masih melotot ke arahnya membawa ribuan perasaan nggak terima, marah, kecewa dan takut atas perlakuannya barusan. Nggak kupungkiri, aku juga masih punya rasa untuknya, tapi status kami berdua saat ini menjadi tembok penghalang untuk kami bisa lebih dekat dari sekedar teman, atau bahkan lebih intim dari itu.

“Maaf…” dan cuma kata itu yang dia bilang sambil menatapku sayu.

Aku menghela nafas panjang, sebelum akhirnya aku menangis. Kenapa aku menangis? Aku marah! Tapi bahkan aku pun nggak sanggup meluapkan kemarahanku padanya dengan cara menampar atau menjambak rambutnya. Bahkan kemarahanku pun tak lantas membuatku buru-buru meninggalkannya. Aku malah makin pasrah saat dia memelukku dan menenangkanku.

“Ra, Mas sayang banget sama kamu. Mas nggak pengen kehilangan kamu lagi,” ucapnya di telingaku.

Aku mengangguk pelan. “Rara juga sayang Mas, tapi Rara bingung mo diapain perasaan kita sekarang?” balasku masih dengan nada emosi.

“Maaf kalo aku egois dan perasaanku ke kamu bikin kamu nggak nyaman,” ujarnya lagi.

Kali ini aku menggeleng, karena memang harus kuakui bahwa aku selalu merasa nyaman saat bersamanya, sejak dulu.

“Makin hari Mas makin takut kita bakalan berpisah lagi, Ra. Aku sadar aku punya keluarga, kamu juga, tapi saat ini cuma kamu yang bikin aku seneng dan bersemangat tiap harinya,” tambahnya.

Tuhan… Apa ini??? Cinta yang datang terlambat? Atau sebuah ujian kesetiaan dalam rumah tanggaku? Atau kehadiran Mas Endi saat ini adalah petunjuk bahwa aku telah salah memilih dengan menikahi Angga?

“Rara cuma nggak pengen ada masalah, Mas. Rara sayang sama Mas, juga sama suami dan anakku. Kalo perasaan kita memang salah, sebaiknya jangan diterusin,” jawabku akhirnya.

“Mas nggak bakalan biarin kamu hidup dalam masalah, percaya deh! Mas bakalan lakuin apapun asal kamu seneng,” ujarnya sambil lagi-lagi memelukku erat.

Sekarang gue atau dia yang jadi egois??? Dulu dia membiarkanku pergi dengan mengubur perasaannya padaku demi kelanjutan hubunganku dengan Angga. Laki-laki bodoh ini membiarkan dirinya terjebak dalam sebuah komitmen dengan istrinya yang tak pernah dia cintai sebesar cintanya padaku hanya demi melihatku tetap berjalan pada jalurku yang semestinya. Sekarang dia mulai nggak betah dan bisa merasakan bahagia lagi saat bersamaku, lalu apakah aku bisa begitu saja meninggalkannya lagi? Sendiri menjalani keterpurukannya, membiarkan dia sekali lagi mengalah demi kebahagiaanku?

Kulepas pelukannya lalu menatapnya. “Rara juga bakalan lakuin apapun biar Mas seneng,” ujarku sambil mengusap air mataku. Lalu aku pun turun dari mobilnya setelah melihat sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya.

***

“Papa hari ini kemana?” tanyaku pada suamiku pagi ini, saat dia sedang sibuk merapikan pakaian kerjanya di depan cermin, dan aku dengan riasanku. Aku terbiasa menanyakan rencana kerja suamiku tiap harinya karena nggak jarang juga suamiku keluar kantor untuk meeting atau mengecek pekerjaan di tempat customernya.

“Ada rencana ke Sukabumi, cuma mo liat dulu ada apaan di kantor. Kalo ada yang penting ya palingan aku suruh orang aja yang ke Sukabumi,” jawabnya. Aku manggut-manggut karena sudah cukup mengerti segala tentang pekerjaan suamiku.

“Kalo ketemu Mas Jack salamin yah,” pesanku mengingat salah satu klien suamiku di Sukabumi adalah seniorku di SMA.

“Iya. Terakhir ketemu kapan tu dia bilang pengen liat Rangga, tapi mungkin masih sibuk jadi belum kesampean dia main kesini,” jawab suamiku.

“Alah di sms juga dari kapan taon dia bilang mo maen, palsu mah janjinya!” komentarku mengingat Mas Jack.

Suamiku terkekeh melihatku sewot mengomentari Mas Jack.

“Kamu jadi ke Bogor siang ini?” tanya suamiku sebelum keluar kamar.

Aku mengangguk. Dari kemaren acaraku memang menghadiri rapat finalisasi regulasi yang sebelumnya sempat kubahas bersama teman-teman di kantor. Mestinya sih nginep, cuma aku memilih untuk pulang saja dan hari ini kembali lagi ke hotel lokasi rapat. Aku nggak pernah hobi nginep kalo lokasi pekerjaanku masih memungkinkan untuk aku pulang ke rumah. Sebagus-bagusnya hotel, tetep lah lebih nyaman tidur di rumah sendiri.

“Yaudah ati-ati. Kalo bisa jangan pulang kemaleman,” balas suamiku yang lagi-lagi kuikuti dengan anggukan. Setelah dia berpamitan pada Rangga, aku mengantarnya ke pintu dan menunggunya bersiap berangkat sampai mobilnya menghilang dari pandanganku.

Jam 9-an, setelah puas menemani Rangga bermain dan membiarkannya asik dengan botol asi perahnya sampe dia mulai mengantuk, giliranku yang bersiap berangkat. Agenda rapat yang harus kuhadiri hari ini baru mulai setelah makan siang, dan aku emang nggak perlu ke kantor dulu. Kemaren ada yang protes lantaran nggak dikabarin kalo aku lagi ada acara di Bogor, dan hari ini dia pengen ngajakin aku makan siang dulu di sebuah rumah makan penjual nasi timbel di daerah Kebun Raya yang menurutnya enak, sebelum aku mulai rapat.

“Mas aku otw,” begitulah isi bbmku pada Mas Endi.

“Oke, me too,” balasnya nggak lama kemudian.

Kularikan mobilku ke arah tol Jagorawi, dan sekitar setengah jam kemudian aku tiba di sebuah rest area dimana Mas Endi rupanya sudah tiba duluan dan menungguku di salah satu sudut parkiran.

“Hai, udah lama?” tanyaku saat Mas Endi menghampiri mobilku yang terparkir nggak jauh daru mobilnya.

“Nggak, baru aja koq,” jawabnya.

“Rara ke toilet dulu ya?” ujarku setelah mematikan mesin mobilku.

Mas Endi mengangguk dan aku segera berlari mencari toilet. Kebelet pipis!

Nggak lama setelah aku menuntaskan virus HIV (Hasrat Ingin Vivis) yang menjangkitku, ponselku berdering.

“Ya, Pa?” sapaku saat melihat di layar ada nama suamiku.

“Kamu di rest area?” tanya suamiku langsung.

Deg!!! Koq Angga bisa tau posisiku sekarang?

“I… Iyah, lagi ke toilet. Papa dimana?” tanyaku balik. Tiba-tiba kepalaku jadi nyut-nyutan membayangkan Angga sedang melihat Mas Endi di dalam mobilku. Tadi aku kan cuma matiin mesin, kuncinya aja masih nyangkut di tempatnya karena pikirku Mas Endi pasti bakalan nunggu aku di dalam mobil.

“Lagi isi bensin, terus tadi liat mobilmu di parkiran. Aku kan tadi bilang mau ke Sukabumi,” jawabnya tanpa nada yang aneh sedikitpun.

“Oooh… Terus sekarang dimana?” tanyaku lagi. Penasaran.

“Udah mo jalan lagi nih. Sampe ketemu di rumah ya,” jawab Angga sebelum menutup telfon.

Aku mendengus pelan. Beneran nih Angga udah pergi dari rest area ini? Beneran tadi dia nggak liat Mas Endi? Kalo Mas Endi lagi pake seragam dinas sepertiku mungkin suamiku bisa aja nyangka dia teman sekantorku yang barengan aku jalan ke Bogor. Tapi kan Mas Endi ngga pake seragam?!

Aku bergegas kembali ke mobil dan tak melihat Mas Endi disana. Pintu mobilku pun terkunci.

“Mas dimana?” tanyaku cepat saat Mas Endi menerima telfon dariku.

“Di hatimu,” jawabnya norak sambil ngakak.

Aku yang masih spaneng jadi sama sekali nggak bisa ketawa digodain begitu. Wajahku langsung berubah manyun saat melihat Mas Endi berjalan mendekatiku dengan menenteng kantung plastik di tangannya.

“Kenapa sih panik amat liat Mas ngga ada?” tanyanya heran, campur GR berasa penting.

“Darimana?” tanyaku.

“Beli minum,” jawabnya sambil menyerahkan kunci padaku. Yah, bahkan sampai detik ini pun Mas Endi belom bisa nyetir mobil!

Aku menghela nafas panjang lalu masuk ke mobil.

“Tadi Angga disini,” ujarku setelah agak tenang dan Mas Endi sudah duduk di bangku sampingku.

“Oya? Sempet ketemu?” tanyanya.

“Justru Rara yang mo nanya nih, Mas tadi sempet ketemu dia nggak?” balasku panik.

“Emang dia tau aku?!”

Aku terdiam sebentar. “Emang nggak tau sih, cuma kan kalo dia liat Mas di dalem mobilku dia pasti bakalan nanya,” jawabku dengan sudah agak tenang menyadari suamiku memang belum pernah kenal dan tau apa-apa tentang Mas Endi.

“Tadi kamu ke toilet, Mas mikir buat beli minum aja dulu,” jelasnya yang tetap menyisakan pertanyaan di benakku, “Tadi Angga sempet liat Mas Endi di mobil gue nggak???”

“Ya udahlah, case closed!” ujarku berusaha menghilangkan rasa penasaran dan panik yang tadi sempat menyerangku.

Mobilku pun melaju menuju Bogor. Selama di perjalanan nggak ada hal atau kejadian penting lain sih, isinya cuma candaan dan obrolan kami berdua aja. Emangnya what do you expect, Readers?! Ngarep di tol mobil gue balapan sama mobil Angga??? Haha.

Menjelang jam makan siang kami tiba di sebuah rumah makan di dekat kampus pasca sarjana IPB. Konon nasi timbel disini enak, at least menurut Mas Endi. Aku kan belom pernah makan disini?! Kami pun memilih duduk di salah satu sudut rumah makan.

Tiba-tiba ponselku berdering, telfon dari Ayu mengganggu acara makanku.

“Ya, Ayu?” sapaku saat menerima telfon.

“Mbak, masih di Bogor?” tanya Ayu.

“Iya, kenapa?”

“Rekanan yang di Banjarnegara nih Mbak yang pegang kan?” tanya Ayu lagi tentang pekerjaan yang kuhandle.

“Hu uh. Kenapa?”

“Mbak Intan bilang Jumat besok Mbak survei kesana. Orangnya udah siap,” jawab Ayu.

“Jumat???” tanyaku dengan ekspresi surprise. Jumat berarti besok lusa. Dan tugas survei kayak gini pasti nginep. Nginep berarti aku bakalan kerja sampe hari Sabtu. Dan itu berarti waktu weekend-ku bakalan kepake buat kerja. Kerja di hari libur adalah sesuatu yang paling bikin aku sebel!

“Iya, Mbak. Bisa kan?”

“Gue pergi sama siapa?” tanyaku berusaha tenang.

“Terserah Mbak mo ngajakin siapa,” jawab Ayu.

Aku mikir bentar. Jumat pagi suamiku mo dinas ke Padang, dan kalo aku juga harus dinas itu berarti melanggar peraturan di rumah. Aku dan Angga punya kesepakatan agar kami mengatur jadwal keluar kota jangan sampe barengan, kasian kalo anak kami di rumah cuma sama pembantu nggak ada emak bapaknya.

“Banjarnegara tu dimana sih, Yu?” tanyaku masih belum mudeng.

“Jawa Tengah,” bisik Mas Endi yang sepertinya menyimak obrolanku di telfon.

“Jawa Tengah, Mbak. Dan disana nggak ada bandara,” jawab Ayu yang sepertinya paham kesulitanku kalo ada pekerjaan di kota yang jauh dari bandara.

“Terus bisanya naek apa kesana? Kereta malam?” tanyaku lagi.

“Kereta bisa ke Purwokerto, tapi tetep harus sambung jalan darat lagi sekitar 2 jam,” jawab Ayu. Dia paham banget peta Jawa Tengah karena dia orang Solo kali ya?

“Mampus! Nggak bisa PP donk ya?” balasku.

“Pesawat ada Mbak ke Cilacap,” usulnya.

“Oya?”

“Tapi tetep aja jadwalnya mungkin nggak bisa PP. Lagian pesawatnya kecil, Mbak!”

“Pesawat apa tuh?”

“Su*i Air, Mbak!”

“Itu pesawat boeing apa airbus?” tanyaku.

Ayu tergelak mendengar pertanyaanku. “Ngarep banget ada airbus landing di Cilacap, Mbak? Itu pesawat yang pake baling-baling itu loh!” jawab Ayu.

“Diiih… Amit-amit!” balasku ngeri.

“Hahahaha. Mau? Kalo mau ntar saya bookingin nih,” tawarnya.

“Nggak deh makasih. Kereta aja kalo gitu. Tapi bilang si bos aku mo bawa anak, soalnya suamiku juga lagi keluar kota Jumat besok,” jawabku.

“Lapan enam, Mbak. Ntar saya cariin tiket keretanya dulu. Sendirian aja, Mbak?”

“Iya gak papa sendiri,” jawabku.

Ayu pun mengakhiri telfon. Aku mendengus pelan.

“Mo kemana? Banjarnegara?” tanya Mas Endi setelahnya.

Aku mengangguk.

“Nggak papa bawa Rangga? Kamu sama siapa kesana?” tanyanya lagi.

“Sendiri,” jawabku sambil mencoba konsentrasi dengan makananku.

“Mau Mas temenin? Yaa itung-itung bantuin jagain Rangga, biar kamu nggak kerepotan pas kerja,” tawarnya.

Aku spontan menoleh ke arah Mas Endi. “Nemenin???” tanyaku.

Mas Endi mengangguk.

“Emang nggak papa situ pergi? Bilang apa ntar ke Mbak Muti?”

“Apa kek, ada acara di luar kota kek, istriku nggak bakalan kebanyakan nanya, percaya deh!” jawabnya yakin.

“Hmmm… Boleh…” ujarku sambil nyengir. Lumayan lah kalo Mas Endi bisa nemenin, paling nggak aku nggak bakalan terlalu kerepotan nanti karena harus bekerja membawa Rangga.

“Tiketnya biar ntar Mas suruh orang yang cariin,” ujarnya lagi.

“Eh, tapi yakin Mas mo ikut?” tanyaku sangsi.

“Emang kenapa?”

Aku diam sejenak. “Nggak papa sih,” jawabku akhirnya.

“Takut ketauan suamimu?” godanya.

“Kita booking 2 kamar kan disana?” tanyaku menegaskan agar nggak terjadi hal-hal yang diinginkan selama kami pergi bareng.

“Ya iyalah, Ra… Atau kamu mau kita sekamar?” godanya lagi.

“Diiih… Saru!!!” balasku. Mas Endi tergelak, dan selanjutnya aku menghubungi Ayu untuk menahannya mencarikan tiket untukku.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset