Menuju Awal Semula episode 18-1

Chapter 18-1

“Hai, Mbak. Udah lama?” sapaku sambil mendaratkan pantatku di kursi kantin, pagi ini.

“Haiiii… Baru aja koq. Kamu udah pesen makan?” jawab perempuan berjilbab yang duduk di depanku.

Aku menggeleng. “Masih kepagian, Mbak. Rara nggak biasa sarapan jam segini,” jawabku.

“Aku jadi makan sendiri nih…” balasnya.

“Nggak papa, kalo keisi makanan pagi-pagi perutku suka mules, Mbak. Serius ini,” jawabku lagi berusaha meyakinkan Mbak Muti bahwa aku memang nggak bisa makan di bawah jam 9 pagi. Entah penyakit apa namanya ini, aku mengidapnya sejak aku sah jadi anak kost beberapa tahun lalu. Derita anak kost yang harus menyiapkan segalanya sendiri termasuk makanan, bikin aku jadi nggak terbiasa mengisi perut pagi-pagi. Paling banternya aku baru sarapan jam 9an, selepas kuliah pagi di kampus. Dan pola makan yang kayak gitu kebawa terus ampe sekarang.

Tapi tunggu dulu! Did I say “Mbak Muti”??? Yup, pagi ini aku sedang duduk di kantin kantor berdua dengannya. Mbak Muti yang mana lagi kalo bukan Mbak Mutiara, istri Mas Endi??? Lantas, ngapain pake acara ketemuan di kantin di Senin pagi yang cerah, yang notabene membuatku harus sudah di kantor sepagi ini gara-gara Senin pagi jam 8 teng adalah hari apel sekantor?! Nah soal itu aku pun masih bertanya-tanya dalam hati, ada urusan apaan nih si Mbak tiba-tiba kangen sama gue? Soal Mas Endi kah???

“Jadi aku makan sendiri nggak papa nih ya?” tanya Mbak Muti lagi memastikan, sebelum menyuapkan sesendok bubur ayam ke mulutnya.

“Iya, Mbak… Silahkan…” jawabku rada geregetan. I don’t like repeating my words.

“Jadi… Ada apaan nih? Tumben tiba-tiba ngajakin ketemu?” tembakku langsung dengan nada hati-hati.

“Oh… Itu, Mbak mau nanya, Ra. Boleh?” tanya Mbak Muti sambil tetep konsen sama bubur ayamnya.

“Hu uh. Nanya apa?” balasku.

“Kamu kapan terakhir ketemuan sama Endi?” tanya Mbak Muti lagi di tengah-tengah lahapnya. Nggak ada intonasi atau ekspresi yang berbeda yang dia tunjukkan padaku saat menanyakan perihal suaminya itu.

Tapi aku yang tiba-tiba tercekat. Darahku serasa berhenti mengalir, kepalaku berdenyut-denyut, jantungku sepertinya berdetak 10x lebih cepat dari interval normalnya. Aku bingung mesti ngejawab apa, dan kenapa tiba-tiba Mbak Muti nanyain itu? Jangan-jangan dia udah mulai curiga.

“Ehmm… Emang… Kenapa, Mbak?” tanyaku dengan nada yang kuusahakan terdengar senormal mungkin.

“Nggak papa sih, Ra. Aku cuma pengen tau aja, hehe. Aku kepo ya, Ra?” jawabnya sambil cengengesan, natural banget.

“Ng… Kepo… Kepoin apaan sih, Mbak?” balasku gelagapan tanpa berani menatap wajahnya. Aku bener-bener bingung kalo seandainya arah pembicaraan Mbak Muti kali ini adalah tentang hubunganku dengan Mas Endi.

“Kepo soal hubungan kalian,” jawabnya lagi.

“Kalian itu maksudnya? Rara sama Mas Endi gitu?” tanyaku pura-pura bego. Asli gue gemeteran.

“Iya. Sebelum ini aku udah pernah nanya-nanya koq. Yaa… Ada lah beberapa sumber yang pernah cerita soal hubunganmu sama suamiku dulu, sebelum dia nikah sama aku,” jawab Mbak Muti. Kali ini kayaknya dia udah males sama makanannya, udah beneran pengen ngomong serius kali dia.

Aku manggut-manggut. “Hubungan Rara sama Mas Endi sebelum dia nikah sama Mbak? Okey… Terus, Mbak?” balasku dengan nada masih hati-hati.

“Terus ya… Sekarang kan dia udah nikah sama Mbak nih…” Mbak Muti sengaja menggantung kalimatnya.

Aku masih diam dan menunggunya bicara lagi.

“Jadi Mbak minta kamu jauhi Endi, kalian jangan lagi ada hubungan kayak dulu!” lanjutnya, kali ini dengan nada yang udah mulai emosi.

“Koq Mbak tiba-tiba ngomong gitu sama Rara?” tanyaku.

Mbak Muti terlihat mengambil sesuatu dari dalam dompetnya, lalu melemparkannya ke arahku. Nggak sampe kena muke gue sih, cuma kan gue kaget aja, dan aku penasaran apa yang dilempar Mbak Muti itu???

Selembar kertas berwarna kekuningan yang terlipat 4, dengan kondisi lecek disana-sini, tapi saat melihatnya aku masih bisa membaca dengan jelas ada namaku dan nama Mas Endi disitu. Tiket kereta Jakarta-Purwokerto!!!

“Mbak nemuin tiket itu. Bener itu nama kamu kan yang disitu?” tanya Mbak Muti sambil melotot padaku. Ini kantin kantor cuy! Kalo ni cewek ngajakin ribut disini gimana jadinya???

“Iya, Mbak… Itu nama Rara. Tapi…”

“Tapi apa???” potong Mbak Muti cepat.

“Tapi sebelum nanya Rara, Mbak udah nanya ke suami Mbak belum?” lanjutku, kali ini sambil menatap matanya.

Mbak Muti tak menjawab. Jadi kesimpulanku kayaknya dia belum nanya apa-apa ke suaminya.

“Maaf Mbak soal hubungan Rara sama suami Mbak di masa lalu, memang dulu kami pernah dekat. Tapi sekarang kan kami sama-sama udah menikah dan punya kehidupan masing-masing, masa Mbak masih ngerasa keganggu sih?” tanyaku lagi.

“Iya donk, Mbak keganggu banget, Ra! Karena menurut Mbak sampe sekarang si Endi tu masih aja mikirin kamu,” jawab Mbak Muti mulai nyolot.

Aku tersenyum sambil menaikkan sebelah alisku dan berkata “Oya???” dalam hati mendengar jawaban itu. “Kalo emang masalahnya kayak gitu ya baeknya Mbak ngomongnya sama suami Mbak aja, jangan sama Rara!” balasku.

Mbak Muti lagi-lagi diam. Yakin deh gue, dia sama sekali belom berantem sama suaminya nih, tapi udah mo ngajakin gue ribut.

Aku berdiri. “Kalo Mbak udah dapet penjelasan dari Mas Endi, baru ntar Rara mo ngebahas soal tiket ini!” ujarku sebelum berjalan meninggalkan Mbak Muti.

***

“Wo, kopi donk satu!” ujarku pelan pada Jarwo yang sedang duduk berdua Paul di pantry.

Aku mengibaskan kaki Paul yang sedang selonjoran di atas kursi di depannya, lalu menempati kursi itu.

“Bete amat sih pagi-pagi, Buk?!” komentar Paul melihat tingkahku yang nggak cukup itu aja, tapi kali ini aku nyomot bungkus rokok Paul yang tergeletak di meja dan menyulutnya sebatang.

“Huuuuuufff…” kuhembuskan asap dari hisapan pertamaku. Ternyata aku masih inget caranya merokok setelah hampir 2 tahun menghindar dari keinginan untuk menyulut batang nikotin itu. Dan efek dari hisapan pertamaku itu, badanku rasanya enteng, darah seperti meluncur deras dari tubuh bagian atas ke bawah, dan kepalaku agak “goyang” dikit. Tapi kondisi yang seperti itu berangsur-angsur hilang setelah kulanjutkan dengan beberapa kali isapan.

“Waaaah kalo lagi begini dijamin Mbak Rara lagi bete kuadrat nih, Mas!” sambung Jarwo mengomentariku.

“Sotoy lu, Wo!” balasku dengan nada lemas.

“Kenapa, Ra?” tanya Paul sambil menarik rokok di tanganku dan meletakkannya di pinggiran asbak yang ada di atas meja.

“Gue udah lama nggak ngasep, kangen!” jawabku sambil nyengir. Gila ya, ngerokok belum ada sebatang gue udah mabok. Baru denger kan ada orang mabok gara-gara ngerokok M*rlboro L*ghts?!

“Lu tuh ada-ada aja. Kangen sama gue kek, sama Jarwo kek. Ini kangen sama rokok,” balas Paul sambil menoyor kepalaku.

Aku nggak protes, malah mengambil kembali batang rokokku yang masih menyala dan lanjut mengisapnya lagi. “Ya kan gue anti mainstream, Ul?!” jawabku lagi yang diikuti tawa Jarwo.

“Kopinya diminum dulu, Mbak. Biar nggak pusing,” ujar Jarwo sembari menyuguhkan secangkir kopi di depanku.

“Makasih. Eh, tolong beliin gue yang biasa deh ya, punya Paul ngga enak nih!” perintahku pada Jarwo sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan dari saku seragamku.

“M*rlboro black menthol kan, Mbak?” tanya Jarwo sebelum pergi.

“Iyah. Kalo bisa juga lu belinya di Irak atau di Kutub Utara aja sekalian, biar lama ya!” lanjutku.

“Siap, Mbaaaak…” balas Jarwo yang mengerti maksudku.

Paul terkekeh melihat tingkahku dengan Jarwo.

“Jadi ada apa nih? Cerita donk biar enakan,” tanya Paul setelah Jarwo menghilang dan tinggal kami berdua di pantry.

“Tapi nggak pake bocor ya?” balasku sambil mendelik ke arah Paul.

“Yaelah, Ra… Masih kaku aja sih lo?! Kayak nggak kenal gue aja,” protesnya berasa nggak dipercaya.

Iya sih, dipikir-pikir masa iya sama si Paul aku masih kaku?! Kami teman seangkatan masuk di kantor ini. Selain karena seangkatan dan seumuran, yang mungkin membuat kami cocok berteman selama ini adalah kesamaan idealisme. Tapi udah deh kalo ngebahas soal idealisme disini bakalan panjang ceritanya. Intinya, di kantor ini hubunganku dan Paul cukup dekat dan kami sering sharing atau curhat masalah kerjaan sampe keluarga.

Aku menyeruput kopi di cangkirku setelah membenamkan puntung rokokku di asbak. Sementara Paul masih diam dan hanya memandangiku, menungguku bicara. Mungkin dia udah hafal beginilah gayaku kalo mo curhat, haha.

“Atu lagi boleh ya???” tanyaku ke arah Paul sambil nyomot lagi sebatang rokok miliknya.

Paul pun mengangguk, dan tetap diam menungguku bicara.

“Lu masih inget Mas Endi nggak, Ul?” tanyaku setelah menyalakan rokok keduaku.

Here we go!!! Itu kali ya yang ada di pikiran Paul?! Dari tadi dia nungguin aku mulai cerita, dan akhirnya aku siap untuk bercerita.

“Dokter Endi?” balas Paul. Aku mengangguk.

“Kenapa emang? Kangen lo ama dia?” lanjutnya.

“Setaaaaan!!! Koq kangen sih?” protesku cepat.

Paul terkekeh. “Ya kali, Ra… Dulu kan yang namanya Rara tu sayang banget sama Mas Endi,” jawab Paul meledekku.

“Enak aja! Pernah gue bilang gitu yee??? Dia kali yang sayang banget sama gue,” bantahku.

“Halah tinggal ngaku saling menyayangi aja gengsi amat lo, Ra!” ledeknya lagi. Paul tau benar kedekatanku dengan Mas Endi jaman dulu.

“Udah ah, serius niiii…” potongku sedikit merajuk.

“Iyaaa, gue serius, Ra! Emangnya si Endi kenapa?” tanya Paul lagi.

“Barusan bininya ketemu gue tau nggak sih, terus dia suruh gue jauhin lakinya,” jawabku sambil masih menikmati isapan demi isapan rokok di tanganku.

“Lah emang lo deket lagi gitu sama lakinya?” tanya Paul to the point.

Aku mengangguk pelan.

“Gebleeek!!! Ya iyalah wajaaaar bininya ngomong gitu sama lo, Raraaaa!!!” balas Paul sambil lagi-lagi menoyor kepalaku. Aku diam saja tak bereaksi. Kata “Geblek” yang Paul ucapkan dengan nada becanda itu cukup menegaskan bahwa aku memang bodoh karena berani main api dengan suami orang.

“Lagian, koq lo berdua bisa deket lagi sih? Sejak kapan?” tanya Paul.

“Belum lama sih. Awalnya ketemuan nggak sengaja, terus janjian ketemuan lagi, terus yaa ampe sekarang,” jawabku.

“Laki lo masalah nggak kalo tau lo sering ketemuan sama mantan?”

“Laki gue nggak tau kalo gue sering ketemuan sama mantan, dan dia juga nggak tau kalo Mas Endi itu mantan gue. Lagian kapan gue pernah jadiannya sih? Koq lo sebut dia mantan gue?!” cerocosku.

“Mantan soulmate kan?” goda Paul lagi. Aku cuma mencibir.

“Gini deh, Ra. Sekarang gue tanya sama lo. Menurut lo kedekatan lo sama Endi yang sekarang ini bener apa nggak?” tanya Paul dengan nada yang dibikin serius lagi.

“Kalo salah tuh salah di mananya sih?” tanyaku balik.

“Kalo pas lagi ketemuan sama Endi berani nggak lo ajakin laki lo? Atau minimal lo pamit aja sama laki lo kalo lo lagi mau ketemuan sama Endi, berani nggak?”

“Ya nggak berani lah, Ul… Pengen digorok leher gue?!” jawabku.

“Kenapa nggak berani? Berarti ada yang salah dengan hubungan lo sama Endi kan?” lanjut Paul.

Aku diam. Ya, aku sudah cukup cerdas untuk menyimpulkan maksud dari pertanyaan-pertanyaan Paul tentang true or false alias benar atau salah tadi.

“Kalo emang hubungan kalian ini salah, wajar kan kalo bininya Endi marah sama lo?!” lanjut Paul lagi, semakin membuatku terdiam.

“Lu masih cinta nggak sih sama laki lo, Ra?” tanya Paul setelah itu.

“Masih lah. Ngaco lo nanyanya!” jawabku.

“Terus Endi gimana? Lo cinta juga sama dia? Dulu? Sekarang?” Paul masih mengejarku dengan pertanyaan.

Aku menggeleng, nggak tau mesti jawab apaan. Padahal biasanya merokok mampu membantuku berfikir, tapi sepertinya tidak untuk kali ini.

“Ya udah sih kalo soal ati mah itu cuma lo yang paling tau. Saran gue cuma satu, apa yang udah mulai salah sebaiknya lo perbaiki dulu, Ra! Sebelum kesalahan yang lo bikin makin gede ntar lo makin pusing benerinnya.”

Tuhan… Benarkah selama ini aku telah membuat kesalahan pada suamiku? Pada rumah tanggaku? Pada rumah tangga Mas Endi?

“Gue rasa si Endi itu udah sableng, otaknya udah gak waras gara-gara cinta mati sama lo,” lanjut Paul lagi memaki-maki Mas Endi.

“Jadi maksud lo selama ini gue jalan sama orang gila?!” balasku sambil tertawa.

“Udah ketebak dari jaman dulu pas dia tiba-tiba nikah. Ternyata dia belum move on dari lo, dan sekarang dia udah mulai gak tahan kan? Jadi sableng otaknya, nggak bisa mikir!” Paul masih saja dengan lancarnya mengomentari Mas Endi .

Aku cuma meringis, miris. Apa iya Mas Endi segitu jatuh cintanya sama aku? Terus dia cinta nggak sih sama istrinya? Kalo dia nggak cinta, gimana bisa ada manusia kecil bernama Vian? Karena dari sudut pandangku, hubungan intim itu bisa terjadi kalo ada cinta. Aku nggak pernah berani ngebayangin gimana rasanya bercinta sama orang yang nggak aku cintai.

Aku menghembuskan asap terakhirku sambil membenamkan puntung rokok di asbak.

“Menurut lo gue perlu cerita masalah ini ke Mas Endi nggak?” tanyaku sambil melihat Paul, berharap dia bisa ngasi saran yang tepat.

“Harus! Lo berdua harus ngomong, dan bikin komitmen buat nggak terlalu deket lagi. Lo tu udah punya suami sama anak, jangan sampe kehidupan rumah tangga lo berantakan gara-gara masalah ini,” jawab Paul dengan berapi-api.

“Rumah tangga dia juga kali, Ul…” sambungku.

“Rumah tangga dia sih gue gak peduli. Yang perlu gue urusin tuh elu, dan sebagai temen ini gue udah ngingetin ya, Ra. Lu tuh jangan terlalu kebawa perasaan, realistis dikit lah, Ra…” jawab Paul lagi.

Aku mengangguk pelan, lalu memijat pelan keningku yang rasanya nyut-nyutan. Tiba-tiba Ayu, sekretaris si bos muncul di pintu.

“Mas Paul, dipanggil Mbak Intan tuh!” ujarnya.

Paul pun langsung beranjak. Tapi sebelum pergi dia sempat mengambil sebatang rokok dari bungkus yang akan dia masukkan kantong celananya. Rokok itu diletakkannya di atas meja sambil berpesan, “Lu pikirin dulu semuanya disini, mudah-mudahan pas ini udah abis kebakar lu juga udah nggak galau lagi.”

Aku tersenyum kecil.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset