Menuju Awal Semula episode 19-1

Chapter 19-1

Aku masuk ke dalam kamar, lalu melemparkan tas dan kunci mobilku di atas meja di sudut ruangan sebelum menjatuhkan badanku ke atas tempat tidur. Pusing, itulah yang kurasakan di kepalaku saat ini. Kejadian sekitar sejam yang lalu bener-bener bikin aku shock. Gimana bisa suami dan mantanku ada di satu frame yang sama? Emang mereka janjian?!

Aku masih mencoba menganalisa gimana caranya tadi suamiku bisa ada di restoran yang sama denganku dan Mas Endi. Kalo untuk makan siang juga koq rasanya nggak mungkin ya, kantor suamiku kan jauh dari Jakarta Pusat. Kalopun dia lagi kepengen makan seafood juga kan d’c**t dimana-mana ada, kenapa dia pilih yang di deket kantorku? Biar bisa sekalian nyamperin atau jemput aku? Ngapain??? Kan dia tau hari ini aku bawa mobil sendiri?! Makin dipikirin aku makin pusing. Apalagi kalo mikirin sebuah kemungkinan bahwa suamiku sudah mulai curiga atau ekstrimnya malah udah tau soal kedekatanku sama Mas Endi.

Daaan… Di tengah-tengah kerja otakku yang sedang berfikir keras rupanya otot-otot perutku mulai memberikan sinyal negatif. Panik mulai menyerang, makanya perut gue mules! Segera kubongkar isi tasku untuk mencari 2 benda paling keramat yang harus jadi temanku saat bongkar muatan, yaitu hape dan rokok. Hmmmph… Suamiku bahkan belum tau kalo aku mulai merokok lagi. Kejadian demi kejadian yang menimpaku sejak aku kembali dekat dengan Mas Endi cukup membuatku agak… Apa ya namanya? Tertekan? Galau? I don’t know for sure, yang jelas merokok ternyata mampu membuatku lebih tenang. Meski untuk saat ini aku harus lebih sering menghitung dan membatasi berapa batang yang kuhabiskan dalam sehari. Pertama, karena aku masih menyusui Rangga dan ibu menyusui yang merokok itu meskipun masih lebih baik daripada ibu yang sama sekali tidak menyusui anaknya, itu juga bukan sesuatu yang recommended to do. Dan alasan kedua adalah karena suamiku nggak boleh sampe mencium bau asap rokok yang tertinggal di baju atau rambutku. Agak sungkan gitu kalo aku kembali ke bad habitku tanpa ijinnya terlebih dahulu.

Kaki ini rasanya sudah lemas, kepalaku rasanya udah kepengen digeletakin aja, dan kuhitung sudah 3 batang yang kuhisap secara maraton, tapi rasa mulas di perutku tak kunjung mereda. Aku benar-benar sedang panik ini. Amat sangat panik sekali. Tapi aku bisa sedikit bersyukur karena sampai detik ini di hapeku belum ada satupun panggilan ataupun notifikasi pesan dari Angga maupun Mas Endi. Baguslah, at least aku bisa menghindar sejenak dari 2 laki-laki itu dan menenangkan diri dulu sebelum menyelesaikan masalah dengan mereka. Ya, ini semua harus diselesaikan. Akhirnya, kubuang puntung rokokku ke dalam lubang kloset dan setelah membersihkan diri aku kembali ke tempat tidur, mematikan ponsel dan terpejam.

******

Mataku terbuka. Kutarik pergelangan tangan kananku, sambil memicingkan mata kulihat angka di jam tanganku menunjukkan pukul 8 malam. Lumayan lama juga aku tertidur rupanya. Segera aku bangun dan seketika itu juga kurasakan nyeri di bagian dadaku. Gimana nggak nyeri kalo seharian ini aku belum mengeluarkan asiku sama sekali. Biasanya jam segini Rangga sudah menyusu padaku sampai tertidur, tapi malam ini dimana Ranggaku???

Aku masih bingung mesti gimana setelah ini. Kuambil ponselku yang tergeletak tanpa daya karena emang ku-switch off sejak tadi siang. Ragu-ragu kunyalakan kembali, dan sambil menunggu bootingnya kubakar lagi sebatang rokok black mentholku. Belum lama ponselku dalam mode stand by, udah kedengeran aja segala notifikasi pesan-pesan yang masuk.

“Rara km dimana?” Bbm dari Mas Endi.

“Ra, are you oke???” Bbm dari Mas Endi lagi.

“Ra, call me please. So worry about you.” Bbm itu lagi-lagi dari Mas Endi.

“Rara km dimana? Dian bilang km ngga pulang ke rumah?” Guess what?! Itu bbm keempat dari Mas Endi.
Dian??? Darimana Dian tau aku nggak di rumah? Gimana juga ceritanya Dian bisa disebut-sebut sama Mas Endi??? Selanjutnya ada notifikasi sms, kubuka yang pertama dari suamiku.

“Kamu pulang nggak? Anaknya nyariin mulu nih.” Gitu doank??? Iyaa gitu doank pertanyaan dari seorang suami yang istrinya baru aja kepergok lagi sama cowok lain dan belum pulang ke rumah ampe jam segini. Selain sms itu nggak ada tu pesan-pesan lain dari suamiku via sms atau bbm.

“Ra, cepetan hubungi aku kalo hpmu udah aktif!” Yang ini isi sms dari Mas Endi.

Kubenamkan puntung rokokku di asbak dan aku pun segera menekan tanda search di kontak untuk menemukan nomer hape Dian.

“Raraaaa!!!” teriak Dian begitu panggilan tersambung.

“Buset, bisa nggak sih nggak pake teriak gitu, Yan? Berisik tau?!” protesku.

“Bodo amat! Lo tuh bikin orang pusing aja sih, lo dimana sekarang?” tembaknya langsung.

“Gue masih di Jakarta koq, lo pikir gue bakalan kemana?” candaku.

“Serius, Raraaaa!!! Mas Endi nyariin lo mulu dari tadi tau?!” balas Dian mulai geregetan.

“Mo ngapain dia bilang?” tanyaku.

“Ya mana gue tau??? Mo ngajakin lo kimpoi lari kali? Lagian lo ya, lo sadar nggak sih kalo lagi main api? Gue dari yang awalnya nggak tau apa-apa soal lo berdua lama-lama jadi ngerasa harus ikut campur juga buat selesain ini masalah,” cerocos Dian.

“Ngapain lo harus ikut campur?” tanyaku lagi.

“Ya iyalah, gue harus ikut campur buat ngegampar lo berdua, biar pada sadar!!! Apa sih CLBK-CLBK segala, nggak inget umur, Buk? Nggak inget anak di rumah?!” omel Dian lagi.

“Apa sih lo ngomel-ngomel, Yan??? Siapa juga yang CLBK?” balasku sambil ketawa maksa.

“Udah sekarang lo lagi dimana? Cepetan pulang deh, tadi abis magrib gue telfon si Angga katanya lo belom pulang,” si Dian masih dengan omelan ala emak-emaknya.

“Gue lagi ngamar di tempat honeymoon gue dulu, nostalgila…” jawabku dengan nada bercanda.

“Stres lu!!! Ngamar sendirian? Di hotel yang pernah lo datengin sama laki lo pula, masa ati lo nggak nyesek pengen cepet pulang sih?” komentarnya masih ketus.

Aku tergelak, tapi ada rasa perih di lubuk hatiku. Mungkin Dian benar, mestinya saat kembali ke hotel ini aku teringat kenangan bersama suamiku dulu. Mestinya aku pulang ke rumah, bukan menyendiri di kamar ini.

“Gue tadi pusing banget pengen istirahat, makanya melipir dulu disini,” jawabku. Agak menggelitik juga kalo inget dulu setelah menikah aku dan Angga bahkan nggak punya waktu buat honeymoon ke Bali, ke Lombok atau Singapura. Dan saat itu, kami masih tinggal di kostku. Namanya pengantin baru, koq agak kurang nyaman gitu ya kalo tinggal di kost yang rame lantaran harus berbagi rumah dengan penghuni lainnya?! Akhirnya di sebuah weekend yang ceria, kami memutuskan untuk check in di sebuah hotel di tengah kota, hanya untuk sekedar bisa lebih leluasa menghabiskan waktu berdua. Dan kami memutuskan untuk menyebutnya sebagai “honeymoon” saat Dian atau Dimas bertanya kami abis darimana. Haha.

“Ehm… Ra, lo mo balik jam berapa dari situ?” tiba-tiba Dian mengubah nada bicaranya.

“Kenapa emang?” tanyaku menyadari ada yang nggak beres.

“Lo tau nggak, dari tadi tu Mas Endi lagi di apartemen gue, dia nyariin lo mulu, nungguin kabar dari lo,” jawab Dian.

“Iya tau, pesen-pesennya juga baru gue baca, dari tadi hape gue mati soalnya. Terus kenapa?”

“Nah terus barusan pas udah tau posisi lo sekarang dia… otewe… kesono…” jawab Dian lagi dengan nada pelan.

“Oowh…” cuma itu yang terucap dari mulutku sebelum akhirnya kuputuskan sambungan telfon dengan Dian. Mati gue! Mas Endi otewe kesini? Bakalan ngomongin apa ni kita ntar? Dan yang penting sebenarnya, darimana Mas Endi tau kalo hotel ini yang dari tadi disebut-sebut Dian sebagai tempatku pernah honeymoon??? Apa Dimas yang kasi tau?


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset