Menuju Awal Semula episode 19-2

Chapter 19-2

Aku baru saja kembali dari basement parkiran untuk mengambil peralatan pompa asiku saat menginjakkan kaki di lobby hotel dan melihat Mas Endi sedang berdiri disana. Dia terlihat sibuk dengan ponselnya dan aku yakin kesibukannya itu dalam rangka menghubungi ponselku yang kutinggalkan di kamar.

“Nyari siapa, Mas?” tanyaku berusaha setenang mungkin saat sudah berdiri di dekatnya.

Mas Endi kelihatan terkejut, tapi langsung berubah sumringah saat menyadari kehadiranku.

“Kamu ngapain kabur gini?” tanyanya.

“Kabur???” aku nanya balik.

“Ngapain kamu disini? Bukannya pulang?!” dia bertanya lagi.

“Nah Mas ngapain sibuk nyari aku disini?” balasku lagi.

“Ra, soal yang tadi. Kita harus ngomong!”

Aku pun mengangguk, tapi aku minta ijin untuk kembali ke kamar dulu. Dadaku sudah sekeras batu, cairan emas jatah anakku harus segera kukeluarkan sebelum dadaku makin sesak dan berefek high temperamenku bisa kumat. Mas Endi pun bersedia memberiku waktu dan menunggu di lobby.

Sesampainya di kamar, segera kusetting peralatan yang kugunakan untuk memompa asi. Sementara pompa asi bekerja menyedot isi dadaku, pikiranku melayang. Tiba-tiba saja aku merindukan Rangga, anak semata wayangku. Anak laki-laki buah cintaku bersama Angga yang selalu terlihat menggemaskan. Kehadirannya ke dunia ini sukses membuatku merasa menjadi perempuan sempurna yang paling bahagia. Ya, aku bahagia meski di awal-awal kehadirannya aku harus begadang tiap malam demi menemaninya yang terbiasa melek di malam hari. Aku bahagia meski tulang-tulangku berasa kayak mau rontok karena tiap harinya aku masih harus menyelesaikan pekerjaan rumah dan memasak untuk suamiku padahal malemnya aku kurang tidur banget. Aku bahagia meski sejak kehadirannya aku jadi minim waktu untuk memanjakan diri di salon, padahal apa yang namanya “mata panda” udah tercetak jelas di wajahku. Aku bahagia memiliki Rangga, meski sejak ada dia aku nggak lagi bisa tidur di pelukan suamiku karena Rangga seringkali rewel jika kutempatkan dia di box bayi, sehingga dia pun selalu tidur di tengah-tengah antara aku dan suamiku. Rangga adalah harta yang paling kujaga dan kulindungi, bahkan dari ayahnya sendiri. Aku pernah memarahi suamiku yang nggak sengaja menyikut pipi Rangga saat dia tidur, hingga membuat anakku menangis, dan aku pun ikut menangis waktu itu, karena sedih melihat anakku menangis. Dan mestinya nggak cuma fisiknya saja yang kujaga, tapi juga hati dan perasaannya kelak.

Aku tumbuh sebagai seorang anak yang tidak sedikitpun memiliki kebanggaan pada kedua orang tuaku, terlebih ibuku. Kalo biasanya seorang anak mengidolakan ayah atau ibunya, aku sama sekali tidak pernah akan mengidolakan Bundaku, meskipun aku tau aku berdosa jika mengingkari bahwa aku yang seperti ini sekarang juga karena jasa dan perjuangan kedua orang tuaku yang membesarkan dan memberiku penghidupan yang layak. Semua cuma karena satu hal, karena Bunda selingkuh dari Ayah! Aku sudah tau bagaimana rasanya tumbuh menjadi seorang anak yang broken home, aku merasakan sendiri bagaimana situasinya jika tinggal serumah dengan orang lain yang notabene adalah ayah tiriku, aku bahkan muak dengan kondisi di rumahku sendiri. Lantas, apa aku akan membuat anakku merasakan hal yang sama denganku? Rasanya aku berfikir terlalu jauh ya? Belum tentu juga suamiku akan menceraikanku setelah kejadian ini, tapi kehadiran Mas Endi dalam hidupku kali ini memang harus secepatnya kuatasi, sebelum terjadi hal-hal yang lebih besar dalam rumah tanggaku dan akan berefek besar pula pada masa depan anakku. Aku bukan Bunda yang telah berhasil membalik duniaku lewat surat perceraiannya dengan Ayah, aku juga bukan Mbak Intan yang hobi ngelaba di belakang suaminya. Aku masih waras, aku masih sangat mencintai suami dan anakku meski mungkin aku juga masih mencintai Mas Endi, tapi aku masih cukup punya otak untuk menghentikan kegilaan ini.

Tanpa terasa air mataku mengalir deras, dan tetesan-tetesan asi dari botol pompa membuatku tersadar dari lamunan. Rupanya aku memompa sampe kepenuhan, dan beberapa tetes asiku merembes dari sela-sela mulut botol. Segera kubersihkan segala tumpahan-tumpahan asi, termasuk juga tumpahan air mataku. Setelah membereskan semuanya, aku mengambil ponselku dan bergegas menuju lobby dimana Mas Endi tengah menungguku.

Sampai di lobby aku nggak melihat Mas Endi, sampe akhirnya saat aku celingak-celinguk, Mas Endi menelfonku dan bilang kalo dia nungguin di resto yang ada di samping lobby. Aku pun menuju ke arahnya.

“Kamu pasti belum makan malem kan?” tebaknya saat aku sudah mengambil posisi duduk berhadapan dengannya.

“Nanti aja. Rara mo ngomong dulu sama Mas,” tolakku.

“Mas juga kepengen ngomong sama kamu,” sahutnya cepat.

Setelah mengutak-atik hape sebentar, kuletakkan ponselku di atas meja dan mulai bicara.

“Mas tau yang tadi itu suamiku?” tanyaku. Mas Endi mengangguk pelan sambil menatapku.

“Mas liat nggak reaksinya tadi?” Mas Endi mengangguk lagi.

“Terus soal Mbak Muti, apa yang kira-kira mau Mas jelasin ke dia?” Aku memberondong Mas Endi dengan pertanyaan-pertanyaan yang kuharap bikin dia mau bicara panjang lebar denganku malam ini, sebelum aku bilang “case closed”.

Mas Endi berdehem sebentar.

“Soal istriku, Mas minta maaf kalo ada sikap atau omongannya yang menyinggung perasaanmu. Nanti di rumah Mas pasti akan selesain masalah ini sama dia.”

“What would you do?”

“Terserah dia,” jawabnya sambil mengangkat bahu.

“Maksudnya?” tanyaku cepat.

“Yaaa… Kalo dia pengen pisah Mas akan mengurus surat cerainya,” jawabnya polos. What??? Ni cowok udah gila apa sinting sih? Bisa-bisanya mikirin ke arah situ. Gimana bisa dia menduga istrinya kepengen cerai, nah kemaren kan istrinya malah suruh aku jauhin dia demi keutuhan rumah tangganya?! Bego bego bego!

“Jadi Mas pengen cerai sama Mbak Muti? Kenapa?” tanyaku berusaha tenang, padahal asli gue gedeg banget.

“Sebelum ini istriku udah pernah ada rencana buat pisah, makanya Vian kusuruh titipin di rumah ibu aja. Rumah tanggaku nggak pernah berjalan harmonis, Ra!”

What??? Lagi-lagi aku cuma bisa gedeg dalem hati. Karena rumah tangga nggak bahagia makanya yang satu sekolah dimana, yang satu lagi mau sekolah dimana, trus anak dititipin nyokap, gitu??? Bisa banget ya mereka hidup kayak gitu?

“Rumah tangga nggak harmonis trus Mas mau ngabur sekolah di luar negeri, gitu? Emang Mas nggak pernah nyari solusi biar rumah tangga Mas jadi lebih baik? Emang Mas nggak mikirin perasaan Vian?” cecarku emosi.

“Rumah tanggaku nggak akan harmonis selama istriku masih selalu bawa-bawa nama kamu dalam kehidupan kami, Ra!”

Aku tercekat. Maksudnya apa? Ada apa sama namaku? Di akte kelahiran gue ortu gue ngasi nama Aurora Lovalia. Apanya yang salah?

“Sejak awal istriku seringkali ngungkit-ngungkit masa laluku. Dia selalu merasa aku menikahinya cuma sebagai pelarian karena kamu ninggalin aku sama Angga. Aku nggak tahan dicurigai terus-terusan, dianggap aku masih mikirin kamu terus, padahal aku bener-bener sudah bisa hidup tanpa bayang-bayangmu lagi dan berniat untuk membahagiakan dia.”

Aku masih diam, mencoba mencerna penyebab ketidakharmonisan hubungan Mas Endi dan istrinya.

Mas Endi menghela nafas sebentar, lalu melanjutkan. “Aku laki-laki, Ra. Punya harga diri! Diintimidasi terus-terusan sama istri sendiri bikin aku jengah, padahal aku selalu berusaha membahagiakan dia. Sampai akhirnya Tuhan mempertemukan kita lagi, saat itu aku mulai merasa bersemangat lagi. Sayangnya kita ketemu lagi dalam kondisi yang udah sangat berbeda, lebih-lebih pertemuan kita bisa jadi akan sangat singkat karena aku mau ke luar negeri. Aku jadi mikir untuk nggak ingin melewatkan sedetik pun waktu yang kita punya, sambil aku nunggu apa yang akan istriku lakukan untuk kelanjutan hubungan kami.”

“Jadi Mas pikir istri Mas bakalan nyerah dan mundur aja gitu? Tempo hari dia marahin aku, nyuruh aku jauhin Mas menurut Mas itu apa artinya? Lagian apa yang Mas harapkan dari hubungan kita sekarang? Rara nggak mungkin membunuh kebahagiaan rumah tangga Rara cuma demi Mas. Rara udah cukup bahagia sama suami dan anak Rara,” balasku.

“Iya Mas ngerti. Mas juga tau kamu bahagia, dan ngeliat itu Mas seneng banget. Beneran!”

“Nah kalo udah tau, kenapa masih ngarepin lebih? Sekarang kejadiannya kayak gini, Rara malah ribet urusan sama Angga ntar.”

Mas Endi diam dan menunduk.

“Minggu depan aku terbang ke Manila,” ujarnya pelan setelah kami agak lama terdiam.

“Soal rumah tangga Mas, aku nggak bisa dan nggak mau ikut campur. Yang jelas Mbak Muti harus tau dan yakin kalo sekarang kita nggak ada hubungan lebih dari teman. Dan Rara mau mulai sekarang kita nggak usah ketemu atau kontak lagi, karena itu pasti akan mengganggu perasaan Angga,” balasku tanpa mempedulikan informasinya soal keberangkatannya ke negeri orang.

“Kalo itu udah maumu, Mas mo bilang apalagi? Be happy, Ra!”

“I will,” jawabku.

“Tapi Rara mau Mas juga bahagia, perbaiki hubungan sama istri Mas. Dan jangan sekali-sekali nyalahin Rara kalo Mas nggak bisa bahagia kayak Rara!” lanjutku sambil menatapnya tajam. Ya, aku sudah yakin, semua ini harus diakhiri.

“Well, setelah ini Mas nggak boleh ketemu kamu lagi?” tanyanya sambil balas menatapku.

“Nggak!” jawabku tegas.

“Even for saying goodbye? Or say sorry to your husband, maybe?”

Aku langsung melotot. “Emang Mas mau ketemu suamiku?” tanyaku.

“Yaaa… Kalo kamu mau Mas tanggung jawab atas masalah yang kamu dapat sama suamimu? Everything I’ll do, I do it for you.”

“Udah deh nggak usah nyanyi kayak Saiful Jamil!” balasku.

“Eh, aku serius ini, Ra!”

“Nggak usah deh, pokoknya janji ini pertemuan kita yang terakhir!”

“Tapi kalo Mas stalking kamu di sosmedmu masih boleh kan?” tawarnya.

“Terserah situ, derita situ!” jawabku ketus.

Mas Endi tersenyum. “Makasih ya, Ra!”

“Buat apa?” tanyaku cepat.

“Buat selalu ada di hati dan pikiranku, dan buat kebahagiaan yang kurasain di masa lalu dan beberapa waktu ini,” jawabnya sambil menatapku.

Aku jadi salah tingkah, tapi masih mampu menguasai diri mendengar gombalannya.

“Move on donk, Mas. Please… Kalo Mas bilang akan ngelakuin apapun buat Rara, sekarang Rara minta Mas lupain perasaan buat Rara dan perbaiki hubungan Mas sama istri dan anak Mas. Karena cuma itu yang mungkin bisa bikin Rara tenang,” ujarku pelan, sedikit merajuk.

Mas Endi mengangguk pelan. “Iyaaa…” jawabnya pelan.
“Sekarang kamu udah mau pulang? Udah beres kan urusan sama aku? Kasian suami sama anakmu ntar nungguin,” lanjutnya.

Aku mengangguk dan berniat pamitan padanya. Tapi saat aku berdiri tiba-tiba Mas Endi mendahuluiku dan memelukku, erat sekali. Aku tak berkomentar, dan tak bergerak sama sekali. Biarin aja kali ini dia meluapkan perasaannya yang entah apalah itu. Kalo dulu kami berpisah karena pelan-pelan aku menghindarinya, at least biarlah kali ini kami berpisah baik-baik, dan semoga nanti juga pelan-pelan kami akan saling melupakan, selamanya.

Silence you lost me, no chance for one more day…

******

Aku meringkuk di lantai sambil lagi-lagi mengisap black mentholku. Perasaanku sedikit lega, urusan dengan Mas Endi sudah kubereskan meski harus kuakui semua hal tentangnya menyisakan luka menganga di hatiku. Periiiih rasanya melihat punggungnya berjalan menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandanganku, dan setelah ini aku tak akan melihatnya lagi. Tapi perasaanku akan lebih perih dan lebih kacau lagi jika aku harus kehilangan suami dan anakku hanya demi rasa yang tertinggal untuk Mas Endi.

Kubaca lagi sebaris sms dari suamiku tadi sore. Hendak kutekan tombol reply, tapi akhirnya kuurungkan niatku. Aku belum memutuskan untuk pulang atau tidak malam ini, biar aja aku menikmati dulu kesendirianku disini, dan kurasa Angga juga sudah cukup paham dengan tabiatku yang suka minggat begini saat aku bermasalah. Terbukti, sejak tadi dia sama sekali tak mengganggu atau mencariku, selain sebuah sms untuk menanyakan aku pulang atau tidak.

Tiba-tiba masuk notifikasi sms balasan dari Rico yang berisi sebaris nomer hape yang segera kubalas dengan ucapan “Thanx”.

Kusentuh layar di atas barisan nomer itu, dan panggilan pun segera tersambung.

“Assalamualaikum,” sapa dari seberang saat menjawab telfonku.

“Waalaikumsalam. Mbak, ini Rara. Sori ganggu malem-malem,” jawabku pelan.

“Ooh, kamu. Kenapa, Ra?”

“Bisa minta alamat email? Rara mo kirim file,” jawabku.

“Email? Oke, ntar aku smsin ya? File apaan sih, Ra?”

“Ntar Mbak tau sendiri deh. Maafin Rara kalo sempet ganggu kehidupan Mbak sama Mas Endi ya, mudah-mudahan setelah ini rumah tangga Mbak sama Mas bisa berjalan lebih baik,” jawabku.

“…..”

“Mbak?” tanyaku saat Mbak Muti tak menjawab.

“Iya, Ra? Oke aku tunggu emailnya.”

Akupun menutup telfon dan tak lama muncul sms dari Mbak Muti berisi alamat email. Kubuka aplikasi file manager di hapeku, dan mengirim sebuah file berformat .ogg ke email Mbak Muti.

Email sent.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset