Menuju Awal Semula episode 2

Chapter 2

Pertengahan Desember 2008

Aku baru saja pindah ke kota ini beberapa hari yang lalu. Sebagai fresh graduate yang umumnya getol mencari pekerjaan pasca wisuda aku bisa dibilang sangat beruntung. Beberapa tahapan rekrutmen perusahaan swasta sampe BUMN telah kuikuti dan ternyata nasib membawaku ke kota ini setelah aku dinyatakan lolos tes CPNS di salah satu kementerian disini. Dan sebagai manusia normal tentunya pekerjaan ini nggak kutolak meskipun resikonya aku harus hidup beribu kilometer jauhnya dari kota asalku di Jawa Timur.

Hari pertama masuk kerja masih kurang 2 hari lagi dan aku memang sengaja pindahan untuk menata kamar kost seminggu sebelum hari-H, sekalian buat adaptasi dan mengenal lingkungan dulu. Jujur aku bukan tipe orang yang mudah bergaul atau beradaptasi dengan lingkungan baru, tapi aku termasuk orang yang berani dan mandiri. Bahkan hidup jauh dari rumah memang menjadi impianku sejak dulu. Dan siang ini, setelah mengisi perut aku berencana untuk jalan-jalan muterin kota ini sekalian belanja kebutuhan kost di mall terdekat.

Aku baru saja menginjak gigi kedua motorku setelah melewati tikungan keluar gang kostku saat tiba-tiba sebuah mobil Dai***su Xe**a menyambarku dari belakang. Nggak sempat lagi aku mempertahankan keseimbangan dan akhirnya aku terguling.

Rasanya waktu sempat terhenti sepersekian detik, sampai akhirnya aku sadar bahwa badanku sudah di atas aspal. Kulihat mobil yang menyenggol motorku tadi berhenti beberapa meter di depanku. Kampret!!! Umpatku. Dalam kondisi seperti itu selain shock tentu saja aku juga emosi dan segera berdiri mengembalikan keseimbangan tubuhku. Aku berjalan menuju mobil itu sambil membuka helm full face-ku dan dengan begitu saja menghantamkan helm di tanganku ke arah spion sebelah kanan mobil itu.

Prak!!! Spion mobil itu pun kupatahkan. Dan hal itu membuat pengemudi sekaligus orang di sampingnya menghambur keluar.

“Sorry mbak. Ehm… Mbak nggak papa?” tanya cowok yang rupanya tadi menjadi driver yang menabrakku sambil gelagapan. Dia juga sempat melihat spion mobilnya yang patah dengan tatapan nelangsa.

“Bisa bawa mobil yang bener nggak?” bentakku emosi.

“I… Iya Mbak, maaf. Mbak nggak papa?” tanyanya lagi sambil mengamatiku dari atas sampai bawah dengan nada gugup.

Tiba-tiba temannya yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku memegang tangan kananku yang masih menggenggam helmku. “Tangan kamu berdarah,” ujarnya.

Aku tersentak dan langsung menarik tanganku. Nggak sopan banget ni cowok main pegang-pegang aja. Aku juga sempat melirik punggung tanganku yang tanpa sadar ternyata memang lecet dan mengeluarkan sedikit darah. Mungkin tadi punggung tanganku sempat bersinggungan dengan aspal.

“Gue nggak papa. Spion lo yang kenapa-kenapa tuh,” balasku datar pada cowok yang tadi memegang tanganku.

“Saya obatin dulu ya? Ada kotak P3K di mobil,” katanya lagi, sambil mencoba meraih tanganku lagi.

Aku lagi-lagi langsung menarik tanganku cepat sambil menatapnya dengan galak.

“Nggak papa, saya dokter,” ujarnya lagi.

Sementara temannya yang tadi menyetir mobil langsung masuk mobil lagi dan mencari sesuatu di dasbor. Nggak lama dia keluar membawa sebuah kotak kecil berwarna putih.

“Gue nggak butuh dokter!” balasku dan lalu balik kanan.

Aku memakai helmku lagi, mengambil motorku yang masih tergeletak di aspal kemudian pergi.

***

Hari pertama masuk kerja, aku sudah tiba di kantor setengah jam sebelum waktunya. Pelan-pelan kunaiki satu demi satu anak tangga dari basement tempatku memarkir motor untuk menuju lantai dasar gedung yang akan menjadi tempatku mencari nafkah mulai hari ini. Sampai di lantai dasar kutemukan 8 buah lift dan sebuah meja recepsionist.

“Ruang rapat kepegawaian dimana, Mbak?” tanyaku pada Mbak-Mbak yang duduk disitu.

“Lantai 9, Mbak!” jawabnya.

Aku mengangguk sambil tersenyum kemudian masuk lift dan menekan angka 9. Nggak lama pintu lift terbuka dan kulihat di dinding seberang pintu liftku tertempel angka 9 dengan ukuran relatif besar.

Aku melangkah keluar lift sampai kemudian sebuah suara mengejutkanku. “Anak baru juga ya?” tanya suara itu.

Aku menoleh ke kiri, ternyata di situ ada sederetan kursi dan beberapa orang sedang duduk disitu. Suara cewek yang menyapaku ternyata juga berasal dari situ. Aku langsung tau orangnya saat dia menyunggingkan senyumnya padaku.

“Halo, aku Dian!” sapanya menyambutku sambil mengulurkan tangan.

“Aurora,” balasku. Lalu aku duduk di sebelahnya. Selain kami berdua kurasa cowok cewek yang juga ada disitu juga sama seperti kami, anak baru yang menunggu entah akan ada acara apa setelah ini untuk menyambut hari pertama kami bekerja.

Sekitar pukul 8 ada pegawai yang berseragam sama seperti yang kupakai hari ini menginstruksikan kami untuk masuk ke ruang rapat. Ternyata lantai 9 adalah lantai khusus untuk Bagian Kepegawaian dan kehadiran kami di kantor baru tentu saja pertama kali harus disambut oleh Bagian Kepegawaian kantor ini.

Di dalam ruang rapat kami yang kuhitung ada sekitar 30-an orang duduk dan berkumpul sambil saling berkenalan. Ceweknya lebih sedikit, cuma sekitar 10 orang termasuk aku. Dan moment seperti ini seringkali membuatku pusing. Aku agak susah menghafal wajah dan nama orang dalam waktu singkat. Yah, mungkin nanti seiring waktu saat kami sudah terbiasa bekerja bersama dan sering bertemu akan membuatku hafal dengan semua teman-teman seangkatanku.

Hari pertama ini kami belum diberi meja dan ruangan kerja, tapi baru diajak berjalan-jalan berkeliling untuk mengenal wajah kantor ini. Selanjutnya di ruang rapat kami disajikan presentasi mengenai unit-unit kerja yang ada dan tugasnya masing-masing. Ternyata aku dan Dian ditempatkan di unit kerja yang berbeda. Kalo aku lulusan teknik sipil nanti ditempatkan di direktorat teknis, sedangkan Dian yang lulusan keperawatan akan menghuni Poliklinik kantor. Yah, lumayan bisa berobat gratis kalo-kalo ada sakit, karena Poliklinik adalah fasilitas gratis untuk pegawai.

***

Jam setengah 5 sore aku sudah pulang ke kost. Jarak kantor ke kost yang nggak terlalu jauh cukup kutempuh dalam waktu 15 menit dengan motorku. Dan sore ini Dian ikut aku ke kost untuk melihat-lihat, karena Dian yang asli Bandung emang belum dapet tempat kost. Dia tiba di kota ini pagi tadi dan langsung ke kantor, tentu saja dengan tas besar berisi pakaian ganti. Kebetulan di rumah kostku masih ada 1 kamar kosong dan saat kutawarkan padanya Dian sama sekali tidak menolak. Maklum, ternyata kami sama-sama perantauan yang nggak punya siapa-siapa di kota ini.

“Jadi disini ada 8 kamar, tinggal 1 kamar yang di tengah itu yang kosong,” ujarku sambil membuka pintu kamarku.

Tanpa komando Dian langsung bergerak menuju kamar yang kubilang kosong tadi. “Lumayan lah, gak papa gue mau disini, Ra!” ujarnya antusias.

“Bentar gue telfon yang punya rumah dulu. Dia tinggalnya sederetan gang sini juga koq,” balasku sambil membuka kontak di hp kemudian bicara dengan orang yang kutelfon.

Nggak lama orang yang kupanggil Encik, pemilik rumah kostku datang. Setelah mendapat kesepakatan harga dengan Dian diapun pergi dan Dian kubiarkan sibuk menata kamar barunya.

Kusulut sebatang rokok black menthol favoritku untuk kunikmati sambil duduk di kursi yang kupasangkan dengan sebuah meja di dekat jendela kamarku. Jadi jika aku duduk disini view-nya adalah halaman depan kost. Kebetulan memang aku mendapat kamar di deretan paling depan dengan jendela yang langsung terhubung pada teras rumah kost. Rumah ini tak seberapa besarnya, hanya ada 4 deret kamar yang saling berhadapan dan di ujung koridor antar kamar ada dapur umum dengan kompor gas dan lemari es di dalamnya. Tak ada ruang TV atau kamar mandi umum, karena kamar mandi sudah ada di masing-masing kamar dan satu-satunya tempat bila menerima tamu ya di teras. Disana disediakan kursi tamu dan mejanya juga. Halaman depan rumah difungsikan sebagai tempat jemuran sekaligus parkiran motor. Ukuran kamar di rumah ini tak seberapa besar, cuma 4×5 meter persegi yang ruang di dalamnya terbagi oleh sebuah kamar mandi kecil. Cukup lumayan lah menurutku, cukup private. Dan semua penghuni kost disini adalah karyawan yang biasa pergi pagi pulang malam sehingga suasananya nggak terlalu gaduh.

“Raaaa!!!” teriak Dian sambil mengetuk pintu kamarku.

“Nggak usah teriak-teriak! Masuk aja!” jawabku. Dan tak lama kulihat kepalanya nongol dari balik pintu sambil nyengir.

Tanpa kuduga sebelumnya, tiba-tiba Dian menjerit histeris.

“Ya ampun, Raraaa… Elo smoker???” teriaknya lagi, sambil mendelik melihatku sedang menghisap rokok di tanganku.

Aku membalasnya dengan tatapan “So what gitu loh?!” tapi hal itu nggak membuat Dian berhenti berisikin aku. Dia malah mendekat dan langsung merebut rokok di tanganku yang masih setengah batang, lalu membenamkannya di asbak.

“Lo tau nggak kalo rokok itu nggak baik buat kesehatan?” tanyanya.

“Tau,” jawabku singkat.

“Lo tau nggak kalo selain merusak kesehatan lo ndiri, rokok juga merusak kesehatan perokok pasif yang kena asep dari perokok aktif kayak lo? In this case, that’s me?!” tanyanya lagi sambil menunjuk batang hidungnya.

“Kalo gitu lo jangan deket-deket gue biar gak kena asepnya. Gampang kan?” jawabku.

“Terus??? Ngebiarin elo sakit and mati sendiri gitu?!” tanyanya lagi.

Buset ni anak, baru juga kenal sehari udah berani bawelin gue. Batinku rasanya pengen ngamuk saat ini.

“Lo ngerokok udah sejak kapan?” tanyanya lagi tanpa peduli ekspresi BTku.

“Lo tu ternyata berisik banget ya, Yan?” balasku jutek.

Dian menghela nafas sejenak, lalu duduk di atas tempat tidurku.

“Oke, sori kalo lo ngerasa gue terlalu ikut campur urusan pribadi lo. Cuma kan lo tau gue ni perawat, orang yang idupnya di dunia kesehatan. Dan ngeliat temen gue idupnya bakalan nggak sehat, jelas aja gue sewot,” ujarnya agak panjang sambil memandangku.

“Darimana lo tau kalo gue nggak sehat? Seger buger gini,” balasku.

“Kalopun bukan sekarang, tapi jangka panjangnya nanti, Raaaa…” balasnya lagi dengan nada mulai geregetan.

“Udah gak usah berdebat. Kalopun gue bakalan sakit tapi sakitnya masih besok-besok nggak usahlah dibahas sekarang. Trus gimana kamar lo, udah diberesin?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan biar ceramahan Dian soal rokok nggak makin panjang lagi.

“Udah. Cuma gue mo ke swalayan depan dulu nih, mo nyari tetek bengek kebutuhan di kamar. Lo mo ikut?” balasnya.

“Nggak ah, males. Mo nonton TV aja,” jawabku.

“Okey, mo nitip sesuatu mungkin?!” tawarnya.

Aku menggeleng. “Lo beli helm aja, Yan! Kalo ngeboncengin orang ga pake helm gue rada ngeri,” saranku mengingat mulai besok dan mungkin seterusnya Dian akan selalu berangkat dan pulang kantor berboncengan denganku.

“Oiya gue belum ada helm. Oke deh ntar gue beli,” ujarnya sambil berjalan keluar kamarku.

Kupikir percakapan kami sudah berakhir, makanya kuambil lagi sebatang rokok dari bungkusnya. Belum sempat aku menyulutnya, Dian kembali nongolin kepala dari pintu sambil setengah berteriak, “Rara!!! Ngasep mulu sih lo??? Kan barusan tadi udah?!”

“Berisik lo! Tutup pintunya!” balasku diikuti decakan bibir Dian yang lagi geleng-geleng kepala. Tapi akhirnya dia menurut juga untuk menutup pintu kamarku sebelum benar-benar pergi dari pandanganku.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset