Menuju Awal Semula episode 20-1

Chapter 20-1

Hujan menemani perjalananku pulang malam ini. Aku memutuskan untuk pulang setelah bergelut dengan perasaan rinduku pada anakku, dan sakit hati karena perpisahanku dengan Mas Endi tadi. Aku bukan lagi remaja labil yang dikit-dikit kabur, menyendiri dan menikmati kegalauan yang melanda hatiku. Aku sadar ada dua laki-laki di rumah yang sangat membutuhkan kehadiranku, jadi aku harus berubah! Perkara Angga mau marah atau gimana nanti setelah melihatku, aku nggak peduli, yang jelas sekarang aku harus pulang.

Jalanan basah oleh hujan, wajahku pun sudah basah oleh air mataku sejak tadi. Kadang aku ingin marah pada Tuhan, kenapa Dia menciptakan perasaan cinta dalam hati manusia, tapi membiarkan jalan hidup menuntun perasaan itu pada kata “sakit”. Aku sakit, sejak aku menyadari perpisahan kedua orang tuaku. Aku sakit, saat pekerjaan menciptakan jarak antara aku dan Angga. Aku sakit, saat aku sadar aku mulai mencintai Mas Endi beberapa tahun lalu tapi aku harus memilih untuk tetap bersama Angga. Dan sekarang aku sakit lagi, saat kusadari cinta yang masih ada untuk Mas Endi harus kukubur dalam-dalam demi keutuhan rumah tanggaku. Kalo emang harus selalu seperti itu ngapain aku punya perasaan?

Aku tiba di rumah lewat tengah malam. Setelah kuketuk pintu beberapa kali, terdengar suara dari balik pintu and guess what? Angga yang membukakan pintu untukku. Mungkin pembantuku sudah tidur.

“Udah inget pulang?” Kalimat pertamanya saat melihatku cukup menohok buatku.

Aku tersenyum kecil dan langsung menyerbu masuk. Aku harus menata asi perahku dulu di kulkas. Setelah itu aku berlari ke arah kamar, dan mendapati malaikat kecilku sudah tertidur pulas sambil memeluk guling kesayangannya. Di dekat bantalnya kulihat sebuah botol dot kosong bekas minumnya tadi. Aku mendengus pelan, mestinya sebelum tidur tadi dia menyusu padaku seperti biasanya, tapi kali ini dia menyusu pada botol.

Kulihat Angga sedang duduk di meja makan sambil menyulut rokok ditemani segelas softdrink yang baru saja diambilnya dari kulkas. Kubuka seragam kerjaku dan menukarnya dengan baju rumahan yang biasa kupake. Setelah cuci muka sebentar aku pun berjalan ke arah Angga.

Aku duduk di sampingnya sambil tersenyum, tapi belum berani bicara. Akhirnya Angga membuka omongan duluan.

“Dari mana aja?” tanyanya tanpa melihatku. Dia sok sibuk memperhatikan buih-buih yang melayang di gelas softdrinknya.

“Tadi buka kamar buat tidur siang, pusing banget kepalaku,” jawabku. Tanpa kusebutkan nama hotelnya, Angga sudah mengerti maksudku karena hotel tempat kami honeymoon dulu memang selalu jadi satu-satunya hotel di Jakarta yang menjadi tujuan kami untuk check in, sekedar untuk “pacaran” atau menginap saat ada urusan lain. Kalo duit gue banyak udah gue beli deh tu hotel, biar tiap kesana nggak pake bayar.

“Aku mo nanya…”

“Aku mo cerita…”

Kami membuka mulut bersamaan, hingga akhirnya kami sama-sama diam, dan aku melanjutkan omonganku duluan.

“Aku mo cerita soal Mas Endi,” lanjutku.

“Siapa itu?”

“Cowok yang tadi siang kamu liat,” jawabku.

“Oooh…” Angga menjawab singkat sambil mempersilahkan aku bicara.

“Mas Endi itu… Kami pernah dekat di awal-awal aku kerja disini.”

Angga diam, masih mendengarkan. Disulutnya lagi sebatang rokok menggantikan batang yang sebelumnya sudah habis.

“Dia pernah suka aku, aku juga…” Lanjutku dengan nada hati-hati sambil menunggu reaksi Angga. Salah-salah itu gelas di depannya bisa melayang kalo dia marah. Aku pernah tau gimana marahnya Angga, meski waktu itu dia bukannya lagi marah sama aku.

“…Tapi akhirnya waktu itu aku abaikan perasaanku sama dia dan tetep milih kamu.”

Angga masih belum bereaksi.

“Beberapa minggu lalu nggak sengaja kami ketemu lagi, dan setelah beberapa kali pertemuan aku jadi tau kalo ternyata pernikahannya nggak bahagia.”

“Dia masih suka kamu ya?” Akhirnya Angga membuka mulut, dan sambil menoleh ke arahku.

“Soal itu nggak penting dibahas. Yang jelas tadi itu terakhir aku ketemu sama dia karena minggu depan dia mau pindah ke Filipin,” jawabku.

“Kamu masih cinta sama dia?” tanya Angga lagi.

Aku bingung nyari jawaban yang pas atas pertanyaan Angga itu.

“Kemaren waktu hapemu dipake mainan anakmu, nggak sengaja aku baca semua message dari dia. Makanya aku tau kalo hari ini kamu janji ketemuan sama dia di d’c**t dekat kantormu,” lanjutnya yang otomatis bikin aku agak shock.

Kucomot rokoknya di atas meja dan mulai membakarnya. Jantungku rasanya berdetak cepet banget, tapi mungkin lebih cepet lagi detak jantung Angga yang berusaha untuk terlihat tenang di depanku sementara hatinya pasti udah kebakar emosi sejak tadi.

“Kamu merokok lagi bukan karena dia kan?” tembaknya saat melihatku mulai mengisap batang nikotin di tanganku.

Aku tak menjawab.

“Din, dari awal kita pacaran dulu udah berapa cowok sih yang naksir kamu? Udah berapa kali sih aku harus pasang badan di depan cowok-cowok yang deketin kamu biar mereka tau kalo kamu udah punya aku dan berenti ngejar-ngejar kamu?”

Aku masih diam.

“Aku nggak pernah jealous karena aku tau kamu nggak minat sama orang lain. Aku malah bangga pacarku cantik ditaksir banyak orang tapi aku selalu jadi satu-satunya cowok yang kamu cinta. Tapi dokter itu, kamu nggak pernah cerita apa-apa soal dia sampe akhirnya tadi Dian nyeritain semuanya, untuk pertama kalinya aku sakit hati karena cemburu, tau kamu?!” lanjutnya dengan penekanan pada kata “tau”.

“Dari isi bbm-bbmnya di hapemu aku udah ngerasa hubungan kalian nggak cuma sekedar teman, dan kamu nggak pernah cerita sama aku, di situlah aku mikir kalo dia pasti special buat kamu.”

“Jangan diem aja, Din!” lanjutnya kali ini dengan sedikit membentak.

Aku mengangguk pelan. “Aku pernah jatuh cinta sama dia, pernah sayang banget sama dia. Tapi kan akhirnya kamu tau siapa yang kupilih?” jawabku tanpa melihatnya.

“Kamu pilih aku bukan berarti perasaanmu sama dia udah mati kan?” tawarnya.

“Soal perasaan udah nggak penting lagi, Nda…”

“Jelas penting buat aku! Gimana tidurku bisa nyenyak kalo istriku lagi mikirin orang lain, mimpiin orang lain, dan ngebayangin orang lain?”

“Aku nggak pernah lagi mikirin dia sampe akhirnya kami ketemu lagi!” balasku mengelak.

“Dan kalo kamu mau tau, aku selalu berusaha ngindarin dia, I always stay on my line. Tadi siang aku mau ketemu dia justru buat bilang ke dia kalo aku nggak pengen ketemu dia lagi. Is it enough for you?” cerocosku.

Angga diam dan meneguk sedikit minumannya.

“Aku nggak mau hidup kita yang udah indah ini berantakan, Nda. Kamu nggak usah kuatirin soal perasaanku ke dia, aku bakalan kubur dalam-dalam. Yang aku pengen sekarang ini cuma lanjutin semua yang kita punya, terserah dia mo menduda kek, mo bunuh diri kek, mo ngapain kek!” lanjutku, kali ini aku mulai menangis. Sakiiiit rasanya.

Nggak kuduga Angga memelukku, dan aku merasa bebas meluapkan semua perasaan yang berkecamuk di hati dan pikiranku. Suami macam apa dia ini? Tau istrinya lagi galau karena laki-laki lain tapi dia masih bersedia jadi tempat sampah untukku meluapkan perasaan dengan memelukku.

“Dari dulu sampe sekarang cuma kamu satu-satunya perempuan yang aku cinta,” ujarnya pelan sambil mencoba menenangkanku.

“Maaf…” balasku di sela-sela tangisku.

Cukup lama kami berpelukan, dan saat aku sudah mulai tenang aku beranjak ke kamar mencari ponselku. Kubuka sebuah file dan meminta Angga menekan tombol play.

“Mungkin setelah dengerin rekaman ini kamu bakalan lebih yakin kalo aku udah memilih sesuatu yang benar,” ujarku pelan. Dan Angga pun larut dalam pikirannya sendiri sambil mendengarkan rekaman percakapanku dengan Mas Endi saat di restoran hotel tadi. Aku menemaninya sambil merokok, tanpa sedikitpun bicara. Aku hanya memandanginya lekat-lekat, memandangi ciptaan Tuhan yang berhati lembut dan selalu jadi malaikat dalam hidupku ini.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset