Menuju Awal Semula episode 3

Chapter 3

Hari ketiga orientasi di kantor, artinya ini hari terakhir kami bertiga puluh dikumpulkan di ruang rapat Bagian Kepegawaian untuk mendengarkan presentasi dari tiap-tiap unit kerja yang ada di kantor ini. Sudah bosan rasanya aku tiga hari ini hanya duduk dan mendengarkan paparan, bikin ngantuk!!! Sepertinya kami semua anak baru disini punya pikiran sama, ingin cepat-cepat ditempatkan di unit kerja masing-masing untuk mulai mengerjakan tugas dan pekerjaan kami.

Dan materi terakhir siang ini adalah presentasi dari bagian Poliklinik. Kurasa diantara kami hanya Dian yang tertarik, karena Poliklinik nantinya akan jadi rumahnya di kantor ini.

Seorang berjas putih ala dokter masuk ke ruangan dan duduk di meja pemateri di depan kami. Masih muda, tapi dari pembawaannya keliatan dia cukup dewasa. Dian yang duduk di sebelah kananku menyenggol lenganku sambil berbisik, “Calon partner kerja gue ganteng banget ya?” sambil senyum-senyum genit.

Aku tak menjawab, cuma mengernyitkan alis. Dian ini emang tipikal yang cewek banget menurutku. Selama beberapa hari ini aku tinggal serumah dengannya aku jadi tau kalo hidupnya seperti Barbie. Dari dandanannya, kebiasaannya, sampe kebawelannya bener-bener cewek banget. Barbie girl banget deh! Bedanya sama aku bener-bener 180 derajat. Aku, yang meski dengan rambut panjangku sepunggung ternyata masih suka dicap tomboy olehnya. Beberapa kali Dian bilang iri dengan rambutku yang panjang dan lembut. Padahal aku nggak pernah sekalipun creambath atau merawat rambut di salon seperti yang dia bilang sering dia lakukan pada rambutnya yang cuma sebahu.

Dokter di depan kami bernama Effendi Havidz. Dia pegawai magang di Poliklinik, dan cuma satu-satunya dokter umum yang ada saat ini. Dokter yang PNS baru saja purna tugas alias pensiun. Yang aku heran kalau memang posisi dokter lagi kosong, kenapa di seleksi CPNS kemarin nggak ada formasi untuk mengisinya? Karena setauku dari kami bertiga puluh yang CPNS baru di sini, nggak ada satu pun yang dokter. Formasi untuk Poliklinik hanya 1 yang kebetulan diisi oleh Dian, itupun dia cuma perawat yang nantinya bertugas mendampingi dokter.

Kulanjutkan soal dokter muda di depan kami yang menurut Dian ganteng banget. Dokter Effendi Havidz sudah magang disini hampir 2 tahun setelah lulus dari Fakultas Kedokteran di salah satu Universitas negeri di Yogyakarta, kota asalnya. Selain magang disini, seminggu 2x dia juga praktek di salah satu rumah sakit swasta di kota ini. Kalo dari nama RS yang dia bilang tadi sepertinya nggak jauh dari kostku. Usianya 26 tahun. Pantesan mukanya keliatan udah mateng banget, batinku. Dan masih single. Pengakuannya soal ke-single-annya tadi sempet bikin cewek-cewek di ruangan ini pada ribut. Please deh, dasar cewek!!!

Aku tak begitu tertarik dengan apa yang dokter itu bicarakan di depan. Tentang fasilitas kesehatan di Poliklinik, obat-obatan, medical check up dan lain-lain. Biarkan Dian saja yang menguasai semuanya dan kalaupun aku butuh jasa Poliklinik nanti dia bisa menghandle urusanku. Aku sedang melihat-lihat beranda FBku saat tiba-tiba kudengar namaku disebut.

“Aurora Lovalia.”

“Ya?” spontan aku menjawab sambil mengacungkan tangan. Karena kurasa dokter itu memang sedang membaca daftar absensi kami untuk mengenal wajah kami satu-persatu seperti yang sebelumnya dilakukan mentor-mentor lain sejak kemarin. Setelah menjawab aku mengalihkan lagi kedua mataku ke beranda FBku tanpa sedikitpun memperhatikan Dokter Effendi.

“D3 Teknik Sipil. Tempat tanggal lahir Surabaya, 16 Januari 1986. Penempatan di direktorat teknis,” ujarnya lagi.

Mendengar dia membaca komplit sebaris dataku di daftar absensi, aku langsung memalingkan pandanganku ke arahnya. Kulihat dia tersenyum padaku, dan aku tidak membalasnya sedikitpun. Aku punya bad feeling, ni cowok kayaknya mo ngajakin ribut. Ngapain dia baca semuanya, bukannya cukup namanya aja seperti yang lain???

“Nanti ruangannya di lantai 8 ya? Selantai koq sama Poliklinik,” lanjutnya.

“Weitsss… Modus nih kayaknya,” celetuk salah seorang cowok dari arah kiriku yang tentu saja aku lupa namanya.

“Yaaa lumayan lah, kalo ada sakit kan berobatnya nggak perlu naik turun lift,” balasku ke arah cowok yang nyeletuk tadi.

“Asli Jawa Timur ya?” tanya dokter itu padaku. Aku mengangguk.

“Jawa Timurnya mana?”

“Kota Batu,” jawabku.

“Sipilnya lulusan mana?” tanyanya lagi.

“Malang,” jawabku lagi.

“Maksud saya, kampus mana?” ulangnya.

“Pak dokter, gimana kalo nanti selesai ini Bapak minta berkas lamaran saya aja di Kepegawaian?! Disitu ada lengkap koq dari akte kelahiran sampe ijazah terakhir saya, silahkan dibaca sendiri!” balasku yang otomatis bikin seisi ruangan tertawa.

Wajah dokter itupun memerah karena malu, ditambah lagi dengan celetukan-celetukan teman-teman yang lain, makin gaduh lah ruangan ini.

“Tapi kalo buku nikah di berkasnya belum ada kan?” celetuk seseorang entah dari arah mana.

“Kalo nomer sepatu di berkas lo ada nggak, Ra? Kali-kali gue mo kadoin lo sepatu pas ultah,” sambung cowok di depanku yang kukenal bernama Rico. Langsung kulempar Rico dengan korek api gas dari saku seragamku.

Suasana masih gaduh sampai akhirnya Dokter Effendi memberi kode pada kami untuk tenang. Kulihat dia juga masih tertawa geli dan berusaha untuk kembali berkonsentrasi pada daftar absensi di tangannya dan meneruskan pada nama yang lain.

***

Jam 7 malam, aku baru saja selesai mandi. Kulirik mug berisi kopi yang kubuat sebelum mandi tadi agaknya sudah tak terlalu berasap lagi. Akupun melangkah menuju kursi di teras sambil membawa sebungkus rokok, korek api gas dan mug kopiku.

Kusulut sebatang rokok dengan korek api bergambar Manchester United di tanganku. Kupandangi sejenak gambar itu, dan tiba-tiba saja dadaku terasa sesak. Ada segumpal air mata yang ingin mengalir, tapi aku segera mendongakkan kepala dan mengedip-ngedipkan kedua mataku agar air mata itu tidak sampai jatuh. Kuhisap rokokku lalu kuhembuskan asapnya pelan-pelan, sampai akhirnya aku bisa tenang lagi, dan batal menangis!!!

“Hei, lo baru kan? Yang di kamar ini bukan?” sapa seorang cowok dari arah pintu.

Aku menoleh ke arahnya.

“Kenalin, gue Dimas,” ujarnya sambil mengulurkan tangan.

Kuletakkan dulu rokokku di tepi asbak sebelum menjabat tangan Dimas.

“Aurora. Panggil aja Rara,” balasku.

“Lo yang pake S*tria Fu ini kan?” tanyanya sambil menunjuk motorku yang terparkir di halaman.

Aku mengangguk lalu melanjutkan acara “ngasep” ku.

“Dari kapan tu gue udah kepengen kenalan, cuma kita baru sempet ketemu sekarang ya?” ujarnya lagi.

Aku tersenyum. “Kenapa kepengen kenalan?” tanyaku sambil menawarkan rokok yang tak ditolak olehnya.

“Motor lo itu cuy! Bikin gue kangen sama motor gue dulu,” jawabnya.

“Ooh… Emang sekarang kemana motornya?” tanyaku lagi.

“Ilang. Pas mo beli lagi gue pikir-pikir bikin sakit ati kalo beli sama kayak yang ilang,” jawabnya lagi di sela-sela hisapan rokoknya.

“Terus? Sekarang pake apaan kalo nggak beli S*tria lagi?” kejarku.

“Tuh yang warna merah,” jawabnya sambil menunjuk sebuah motor K***saki N**ja 250 cc berwarna merah nggak jauh dari motorku.

“Kampret!!! Ilang S*tria dapet N**ja 250 aja galau lo!” umpatku sambil tertawa.

Dimas pun ikut tertawa. “Namanya juga sayang, Ra!” jawabnya di sela-sela tawanya.

“Eh, lo anak mana?” tanya Dimas saat kami sudah berhenti tertawa.

“Malang. Elo?” balasku.

“Gue sih anak sini-sini aja. Priuk cuy!!!” jawabnya sambil tergelak.

“Buset, anak Jakarta aja ngekost?!” komentarku.

“Gue males jauh-jauh ke kantor,” jawabnya.

Aku mengangguk-angguk sambil membentuk huruf “Ooo…” di mulutku.

“Emang kerja dimana?” tanya Dimas lagi.

“Deket monas situ,” jawabku tanpa menyebutkan nama instansi tempatku bekerja.

“PNS ya?” tebaknya. Aku mengangguk.

“Kalo lo?” tanyaku balik.

“Gue di konsultan hukum, di Menteng sini,” jawabnya.

Aku ber-“Ooo…” ria lagi sampai akhirnya teriakan cempreng Dian terdengar.

“Raraaaa!!!”

“Gue di depan!” balasku setengah teriak.

Dian pun muncul dengan tank top dan rok pendeknya. “Mo beli makan jam berapa?” tanyanya saat melihatku di kursi teras.

“Terserah sih. Tapi gue belum laper,” jawabku sambil memberi kode pada Dian untuk menyapa Dimas.

Mereka pun berkenalan.

Kudengar hapeku berbunyi, lalu aku pamit pada Dimas dan Dian untuk menjawab telfon di kamar.

“Ya, Nda???” sapaku saat menjawab telfon dari Angga, pacarku yang biasa kupanggil Kanda.

“Ngapain, Din? Udah makan?” balas Angga.

“Belom, baru mo beli. Eh, bentar ya?” pamitku pada Angga. Aku kembali ke teras tanpa memutus sambungan telfon di tanganku.

“Dim lo udah makan belum?” tanyaku pada Dimas yang nampaknya mulai ngobrol dengan Dian.

“Belum juga. Kenapa? Mo barengan?” balas Dimas.

“Temenin Dian beli makan dulu deh, gue lagi sibuk,” jawabku sambil menunjukkan hapeku pada mereka.

Dimas pun mengerti. “Yaudah. Yuk, Yan!” ajaknya pada Dian.

“Lo nitip apa, Ra?” tanya Dian padaku.

“Samain aja sama lo, tapi porsi penuh. Nggak pake setengah-setengah kayak lo!” jawabku sebelum akhirnya kembali ke kamar dan merebahkan badanku di kasur sambil melanjutkan telfon.

“Tadi pulang jam berapa, Nda?” aku kembali membuka obrolan dengan Angga di telfon.

“Siapa bilang udah pulang? Ini masih di kantor koq,” jawab Angga.

“Serius??? Masih ngapain sih?” tanyaku.

“Ada temen ulang taun, terus mo makan-makan sepulang kantor. Cuma ampe jam segini masih pada sibuk ni belum jalan juga. Tau deh apa yang diributin,” jawab Angga. Suaranya agak kalah dengan suara berisik di belakangnya. Mungkin dia sempat-sempatin hubungi aku di tengah-tengah acara ngumpulnya dengan teman-teman sekantornya.

“Owh…” balasku singkat.

“Buruan makan ya, Din! Kalo telat-telat terus ntar sakit loh!” pesannya.

“Iya… Itu juga lagi dibeliin sama temen,” jawabku.

“Yaudah tu kayaknya udah pada mo jalan. Udah dulu ya, Din?!”

“Oke, ati-ati, Nda!”

“Love you,” ujarnya lagi mengakhiri telfon.

“Too,” balasku sebelum sambungan terputus.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset