Menuju Awal Semula episode 5

Chapter 5

Hari ini rasanya sibuk banget. Dari pagi aku sudah berkutat dengan autocad untuk menyelesaikan gambar desain jalan tol yang dipesan atasanku harus selesai sebelum akhir minggu ini.

“Sibuk ya?” tiba-tiba sebuah suara dari depanku mengagetkanku.

“Sejak kapan lo disitu?” balasku setelah mengatasi rasa kagetku. Ni orang udah kayak setan aja tiba-tiba berdiri bersandar di balik dinding cubicle-ku.

Dia tersenyum dan tak menjawab, tapi tangannya berusaha meraih monitorku dan memutarnya ke arahnya.

“Gambar apaan nih?” tanyanya. Secara dokter mana tau gambar teknik sih?! Kalo gambar anatomi tubuh wanita dia udah hafal kali.

“Want to know aja!” jawabku sambil melet dan memutar kembali monitor ke arahku.

“Udah jam makan siang nih, istirahat sebentar yuk! Jangan kerja mulu,” ujarnya sok perhatian.

Aku meliriknya sebentar, lalu kembali fokus dengan gambarku.

“Yaaah… Dicuekin lagiii… Kemaren udah ditinggal tidur, sekarang ditinggal ngegambar,” gumamnya menyindirku.

Aku tersenyum geli mengingat kejadian kemaren. Pasti dia bingung saat kembali dari dapur dan menemukanku sedang mengunci diri di kamar. Sengaja kuputar MP3 pengantar tidur di telingaku agar aku tak mendengar seandainya dia mengetuk pintu kamar atau memanggil-manggilku dari luar.

“Eh, ada pak dokter,” sapa Mbak Intan, atasanku. Rupanya dia sudah kembali dari lantai 10 untuk menghadiri rapat di Bagian Perencanaan.

Endi tersenyum dan mengikuti Mbak Intan ke mejanya yang nggak jauh dari cubicle-ku. Di ruangan ini antara staf yang satu dan yang lain dipisahkan oleh dinding-dinding cubicle yang kesemuanya menghadap meja kepala seksi, dalam hal ini Mbak Intan yang mejanya terletak di pojok ruangan.

“Emang siapa yang sakit disini? Tumben kamu kesini?” tanya Mbak Intan setelah mempersilahkan Endi duduk di kursi tamunya.

“Nggak ada koq, Mbak. Cuma mohon ijin mo pinjem staf Mbak sebentar,” jawab Endi dengan nada sopan.

“Oya? Siapa?” tanya Mbak Intan lagi.

“Rara, Mbak. Sekarang kan udah waktunya makan siang, takutnya maag-nya Rara kumat kalo dia telat makan,” jawab Endi.

Bisaaaaa banget dia speak-speak ke bos gue ya???

Aku yang menguping pembicaraan itu langsung membenamkan kepalaku di balik monitor agar Mbak Intan tak melihatku. Kampret juga ni cowok ya, bikin gue malu depan bos gue.

Mbak Intan tertawa kecil. “Kamu tu bisa aja ya modusnya?!” komentarnya pada Endi yang menurutku nggak tau malu!

“Hehe, jadi gimana, Mbak? Diijinkan nggak?” tanya Endi memastikan.

“Yaudah gih, tapi nanti dibalikin lagi kesini ya!” jawab Mbak Intan. Aku yang mendengar jawaban itu langsung berasa lemes. Ini si bos kenapa nggak bisa belain gue sih???

“Siap, Mbak. Aman terkendali lah pokoknya,” jawab Endi.

“Rara, buruan jalan. Diajakin Endi makan siang nih,” teriak Mbak Intan ke arahku sambil tersenyum menggodaku. Untung aja ruangan sepi, kalo yang laen pada tau bisa ribut ni ruangan.

“Saya nggak bisa, Mbak. Nanti jam 2 kan mo nemenin Mbak rapat sama J*sa Mar*a?!” jawabku. Tak lupa aku melotot geram ke arah Endi yang lagi senyum-senyum penuh kemenangan, berasa punya backingan dia.

“Iya, gampang lah itu. Kalopun kamu belum balik nanti saya rapatnya ngajak yang lain aja,” balas Mbak Intan sambil memberi kode pada Endi untuk segera membawaku pergi.

“Tapi kan bahan rapatnya di komputer saya, Mbak?” tawarku.

Endi sudah bergerak ke arahku dan menenteng jaketku yang kusematkan di kursi. Kemudian dia langsung menarik tanganku.

“Udah gak usah dipikirin, yang penting sekarang kamu makan siang aja dulu. Ati-ati yaa!” balas Mbak Intan lagi, sambil tertawa geli melihat aku berlalu bersama Endi.

***

Kami berdua berjalan keluar kantor melalui pintu belakang. Sampainya di ujung gerbang kantor Endi langsung menyetop taxi dan menyebutkan lokasi tujuan kami.

Di dalam taxi aku tak bersuara sama sekali. Aku masih BT dengan tingkahnya tadi, lebih BT lagi mengingat Mbak Intan yang mendukungnya.

“Diculik si dokter sinting. Jangan2 gue mo dibawa ke ruang operasi?! Hiii…” begitulah isi status yang baru saja kubuat di FBku.

“Kamu marah sama aku?” tanyanya pelan karena sudah hampir 10 menit ini di dalam taxi aku sama sekali tak bicara.

Aku tetap diam, dan memilih menyibukkan diri dengan berbalas komen di FB.

“Kamu tu kalo mo marah mending bentakin aku kayak biasanya deh, Ra, daripada diem nyuekin aku kayak gini,” ujarnya lagi sambil mendengus.

“Sebenernya lo tu mau apa sih dari gue?” akhirnya aku buka suara sambil menoleh padanya.

“Emang salah ya aku ngajakin kamu makan siang? Kalo aku nggak seret kamu kayak gini yakin deh kamu pasti masih sibuk sama kerjaanmu dan lupa sama waktunya makan,” jawab Endi mencoba menjelaskan.

Sekarang giliran aku yang mendengus, karena kuakui omongannya emang bener. Aku seringkali tak memperhatikan jadwal makanku.

“Come on, Ra! Jangan benci aku cuma karena aku melakukan hal yang benar ke kamu. Aku tuh care sama kamu!” lanjutnya sambil menatapku.

Aku tak berkomentar lagi, cuma memalingkan pandanganku ke arah jendela.

***

Dan hari berikutnya seperti itu lagi. Rutin setiap jam makan siang Endi selalu membuat janji denganku untuk makan bareng di luar. Herannya Mbak Intan nggak pernah protes! Emangnya dia udah disogok apaan sih sama si Endi gila itu???

Pagi ini sekitar jam 9, aku berusaha menuntaskan konsep suratku sebelum jam makan siang. Aku paling nggak suka ninggalin kerjaan dalam kondisi belum 100%, bikin nggak enak makan!

Dan handphoneku pun berdering. Ada nama “Ayahku Chayank” tertera di layarnya.

“Ya, Ayah?” sapaku saat mengangkat telfon.

“Sibuk nggak, Ra?” tanya ayahku dari seberang telfon.

“Nggak koq. Kenapa, Yah?” balasku. Sebetulnya aku dan ayah bisa dibilang jarang banget telfonan, makanya kalo sekarang tiba-tiba ayah menelfonku kan pasti ada sesuatu.

“Cuma mo ngasi tau, Ayah lagi di Gambir ini,” jawab ayah.

“Sekarang??? Ayah mo kemana? Koq nggak ngabarin dulu kalo mo ke Jakarta? Aku jemput aja ya?” tanyaku exciting. Stasiun Gambir kan deket banget dari kantorku.

“Nggak usah, Ra! Justru ini ayah di kereta mau pulang ke Surabaya,” balas ayahku cepat.

Aku masih bingung. Sejak kapan ayahku di Jakarta? Koq sekarang udah mau balik aja? Kenapa aku nggak dikabarin kalo dia di Jakarta?

“Maaf ayah nggak ngabarin, jadi 3 hari kemaren ayah ada acara di Bogor. Ini udah selesai dan mau pulang,” lanjut ayah yang pasti tau aku sedang penasaran.

“Udah 3 hari disini koq nggak ngabarin Rara? Biar di Bogor kan Rara juga bisa nyamperin ayah. Lagian buru-buru amat, nggak pengen mampir ketemu anak barang bentaran?” balasku dengan nada kesal. Sumpah, aku kesal!

“Maunya sih gitu, tapi ibumu minta ayah cepet-cepet pulang, kasian kan ibu ditinggal berdua sama adikmu?!” jawab ayah.

Dan jawaban itu bikin aku makin kesal. Ayah macam apa yang nggak kangen pengen ketemu anak kandungnya?! Aku berusaha menahan air mataku agar tidak sampai jatuh, aku nggak mau menarik perhatian orang-orang seruangan.

“Ra? Maaf yaa…” panggil ayah yang sepertinya menyadari aku terdiam agak lama.

“Yaudah ati-ati aja, Yah! Emang keretanya jam berapa?” balasku sambil berusaha menjaga nada suaraku.

“Jam 10. Ini ayah udah di dalem kereta,” jawab ayah. Kulirik jam weker kecil berwarna merah di samping monitorku, 15 menit lagi kereta ayah berangkat. Dadaku rasanya makin sesak.

“Ayah, udah dulu ya? Rara dipanggil bos nih,” ujarku berbohong. Ayah pun mengerti dan akhirnya sambungan telfon kami terputus.

Kubuka daftar kontak dan menghubungi nomer Angga.

“Din? Sori aku lagi meeting. Nanti kutelfon balik ya?” jawab Angga sambil berbisik tanpa bertanya dulu kenapa aku menghubunginya.

Pikiranku jadi kalut kalo lagi kesel kayak gini. Tapi aku nggak boleh menangis. Segera kusambar jaketku dan berlari keluar ruangan. Air mata ini rasanya udah makin maksa untuk mengalir keluar kalo aku nggak bisa bertemu ayahku sekarang.

Begitu pintu lift yang membawaku ke lantai dasar terbuka, aku langsung berlari menuju parkiran basement sambil memasang jaketku. Entahlah, saat ini tak ada hal lain lagi yang kupikirkan selain ingin bertemu ayahku sebelum keretanya berangkat.

Aku tiba di Stasiun Gambir tepat saat kereta Argo Anggrek mulai berangkat dengan ayahku di dalamnya. Selesai memarkir motor aku berjalan menuju peron dan selesai membayar aku naik ke jalur kereta di lantai 2 stasiun. Disana ada smoking area.

Aku masih terduduk lemas sambil menikmati sebatang rokokku saat tiba-tiba seseorang menyapaku.

“Ngapain disini, Ra?” tanya seseorang dengan suara yang sudah sangat kuhafal.

“Gue yang mestinya nanya, lo ngapain disini? Ngikutin gue?” balasku tanpa menolehnya.

Endi mengambil posisi di sampingku. “Nggak maksud sih, cuma kalo liat kamu buru-buru ngebut keluar kantor kayak tadi jelas aku mikir pasti terjadi sesuatu,” sindirnya pelan.

“Lo pasang CCTV ya di ruangan gue? Atau nempelin alat pelacak di badan gue?” tanyaku yang keheranan koq dia bisa tau dan ngikutin aku kesini???

“Pake feeling aja,” jawabnya santai.

Aku tersenyum kecil.

“So… Kamu kesini cuma nyari smoking area?” tanya Endi lagi.

Aku menarik nafas cepat.

“Gue mo balik ke kost. Lo mo balik ke kantor apa tetep disini?” balasku sambil membenamkan puntung rokokku di asbak raksasa yang ada di depanku, lalu berjalan meninggalkan Endi.

***

Aku baru saja tiba di kost dan terkejut melihat sosok Endi sedang duduk di teras kostku. Rupanya 2 opsi dariku tadi, kembali ke kantor atau tetap di stasiun tak ada satu pun yang dipilihnya. Dia malah menyusulku ke kost. Dari stasiun tadi aku mampir dulu ke swalayan, makanya Endi yang nyampe duluan kesini.

“Ngapain lo disini? Bukannya ngurusin pasien di kantor?!” tanyaku setelah memarkir motor dan meletakkan belanjaanku di meja. Lalu kunyalakan sebatang rokok dan duduk di samping Endi.

“Pasien di kantor biarin aja nunggu, aku ngurusin pasien yang disini dulu,” jawabnya.

“Emangnya gue sakit?!” balasku sebelum menghisap rokokku.

“Secara lahiriah sih nggak. Tapi kayaknya batiniahnya sakit parah,” jawab Endi sambil memandangiku.

Aku jadi salah tingkah.

“Kenapa sih, Ra? Kalo ada masalah kamu bisa cerita sama aku,” tanyanya pelan.

Aku tak menjawab, masih sibuk dengan isapan demi isapan batang rokokku. Dan Endi masih saja memandangiku. Entah apa yang dia cari di wajahku yang cuma bisa dia lihat dari sisi kanan.

“Ra?” panggilnya lagi. Berharap aku sudah mau bicara setelah membenamkan puntung rokokku di asbak.

Aku menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan cepat. Endi masih memandangiku.

“Boleh pinjem bahunya?” tanyaku pelan.

Tak menjawab, Endi langsung menarik kepalaku dan membenamkan di dadanya. Seketika itu juga aku tak mampu lagi membendung tangisku. Kurasa saat ini aku terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang mengadu.

Cukup lama aku menangis di pelukan Endi, dan aku merasa nyaman seperti itu. Meski tak bicara apa-apa tapi aku merasakan ada hangatnya perhatian yang dia salurkan lewat pelukannya. Mungkin aku memang bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan perasaan, tapi aku yakin dia mengerti bahwa saat ini hatiku terasa sedih dan perih.

Aku terbangun dan menyadari sekelilingku. Kenapa tiba-tiba aku bisa tidur di kamarku? Dan Endi duduk di samping tempat tidurku, sedang menonton TV.

“Udah bangun, Tuan Putri???” godanya saat melihatku sudah bisa duduk.

Kulirik jam dinding di atas TV, jam 2 siang.

“Gue tidurnya lama ya?” tanyaku sambil meraih rokok dan asbak di atas meja.

“Lumayan. Ampe bikin aku bingung mesti ngapain disini. Yaaa at least kali ini pintu kamarmu terbuka, jadi aku bisa nonton TV sambil nunggu kamu bangun,” jawabnya lagi-lagi menyindirku soal kejadian minggu lalu.

Aku tersenyum kecil. “Lo berapa bersaudara, Pak? Eh, Mas? Aduh, enaknya gue manggil lo apa ya? Masa Endi aja? Gue nggak biasa begitu kalo sama yang lebih tua,” tanyaku gelagapan, berasa bego. Diinget-inget dari awal kenal aku memang belum pernah sekalipun menyapanya, makanya jadi bingung enaknya manggil dia apaan.

Endi tertawa geli. “Elo-gue-an sama yang lebih tua juga kayaknya nggak sopan ya?” sindirnya.

Aku mendengus pelan. “Orang jawa kan? Yaudah manggilnya mas aja ya?” tawarku.

“Boleh… Terus aku panggil kamu dek, gitu?!” balasnya.

“Najis!!!” tolakku cepat, sambil tertawa.

“Tadi nanya apa?” tanya Mas Endi.

“Mas berapa bersaudara?” ulangku.

“Berdua. Adekku cewek. Kenapa?” dia nanya balik.

“Nggak papa sih,” jawabku pelan.

“Nanya lagi donk. Aku kan suka ditanya-tanya sama kamu,” pintanya.

“Diiih… Penting ya???” balasku jijay.

“Yaudah kalo nggak mo nanya aku ceritain aja. Ayah ibuku asli Jogja, aku juga lahir disana. Ayah PNS di salah 1 instansi disana, ibu sih nggak kerja, ngurus anak aja. Adekku masih kuliah akuntansi di Jogja. Mmm… Apalagi ya?” cerocosnya sambil mikir.

Aku tergelak melihatnya berusaha memberi tahuku tentang keluarganya.

“Giliran kamu deh. Kalo keluargamu gimana?” tanyanya seperti kehabisan bahan cerita.

“Kalo keluargaku complicated,” jawabku.

Terlihat tatapan penasaran di matanya.

“Ayah bundaku guru, udah bercerai sejak aku kelas 2 SMA. Aku anak tunggal dan selama ini tinggal sama bunda dan suami barunya di Batu. Ayah dan ibu tiriku di Surabaya, mereka punya 1 anak cowok, masih kelas 1 SD,” lanjutku.

“Terus bunda sm ayah tirimu punya anak lagi?” tanyanya penasaran.

Aku menggeleng. “Ayah tiriku bawa anak dari pernikahan sebelumnya, cowok, lagi kuliah di Malang,” jawabku.

“Oooh…” komentarnya pelan.

“Adek tiriku itu trouble maker, ada aja tingkahnya yang sering bikin bunda pusing. Kalo ketemu dia bawaannya aku pengen remes-remes aja kepalanya terus tendang dia keluar dari rumah,” lanjutku emosi mengingat adik tiriku yang nggak pernah akur denganku.

“Terus ayahmu di Surabaya, kalian sering ketemu?” tanyanya lagi.

Ngebahas soal ayah rasanya aku jadi pengen nangis lagi. Cepat-cepat kusulut lagi sebatang rokok agar aku lupa untuk menangis.

“Tadi ayah di Gambir, tapi kami nggak sempet ketemu,” jawabku.

“Jadi itu yang bikin kamu galau?” tebaknya sambil terus menatapku.

“Entahlah, kadang aku merasa ayah terlalu sibuk dengan keluarga barunya dan nggak pernah peduli lagi sama aku,” jawabku dengan nada mulai emosi.

“Jangan mikir jelek dulu, mungkin ayahmu merasa kamu sudah dewasa. Sementara adikmu kan masih kecil, jadi lebih butuh perhatian. Kalo kamu ingin diperlakukan sama kayak adikmu sekarang, apa bedanya kamu sama anak kelas 1 SD?!” ujarnya halus tapi cukup membuatku berfikir agak logis untuk membenarkan kata-katanya.

“Entahlah… Yang jelas sekarang ini Rara cuma ngerasa kangen banget sama ayah,” jawabku pelan sambil mulai meneteskan air mata.

Tiba-tiba suara dering handphone-ku memecah kediaman antara aku dan Mas Endi.

“Ya, Nda?” sapaku saat mengangkat telfon yang di layarnya terbaca dari Angga.

“Tadi kenapa, Din?” tanya Angga dari seberang.

“Nggak papa koq, cuma mo cerita kalo tadi tu ayah telfon aku pas di Gambir,” jawabku sambil mengisyaratkan pada Mas Endi untuk telfonan di luar. Dia mengangguk mengijinkan.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset