Menuju Awal Semula episode 6

Chapter 6

16 Januari 2009

Hari ini hari ulang tahunku yang ke-23, mestinya jadi hari yang membahagiakan buatku. Tapi ternyata sampai usiaku yang hampir seperempat abad ini sepertinya bahagia itu belum bisa kurasakan sepenuhnya.

Jam 12 malam, alarm hpku berbunyi. Aku yang memang belum tidur meraih hp di meja dan mematikan reminder bertuliskan “ultahku 23” di layarnya. Tak lama kemudian di layar hpku terbaca “My MVP” memanggil.

“Ya, Nda?” sapaku saat mengangkat telfon dari Angga.

“Selamat ulang tahun, Dinda!” balas Angga penuh semangat.

Aku tersenyum kecil. Sudah beberapa tahun ini sejak kami pacaran saat masih sama-sama duduk di bangku kelas 2 SMA, dia selalu jadi orang pertama yang menelfonku untuk mengucapkan selamat ulang tahun.

“Makasih, Kanda…” jawabku lembut.

“Belum tidur ya?” tanyanya yang pasti menebak dari nada suaraku yang terdengar segar bugar, tanda bahwa aku belum mengantuk.

“Belum, kan nungguin telfon dari kamu dulu,” jawabku menggodanya.

Angga tertawa pelan. “Mau kado apa taun ini?” tanyanya lagi.

“Tiket Jakarta-Malang,” jawabku cepat. Aku memang sudah mulai kangen padanya, sudah hampir sebulan kami tidak bertemu sejak kepindahanku ke kota ini.

“Serius??? Mau dibeliin buat kapan?” tanyanya memastikan.

Aku melirik kalender duduk di atas meja. Bulan Januari ini sepertinya nggak ada tanggal berwarna merah di hari kerja yang bisa kusatukan dengan weekend agar aku bisa pulang kampung agak lama.

“Kapan ya???” aku nanya balik sambil mikir.

“Kalo tiketnya aku ganti sama kedatanganku kesana gimana?” tawarnya.

“Maksudnya?” balasku tak mengerti.

Angga terdiam sejenak. Dan aku masih menunggunya bicara lagi sambil menyalakan sebatang rokok.

“Mudah-mudahan kamu ikut senang dengernya. Akhir bulan ini aku dikirim ke China, berangkatnya dari Jakarta jadi sebelum aku pergi kita bisa ketemuan dulu disana,” jelasnya dengan nada hati-hati.

Aku tersentak. China???

“Mmm… Berapa lama, Nda?” tanyaku cepat.

“Mungkin setahun. Tapi bisa juga diperpanjang kalo memang perlu,” jawabnya. Aku terdiam. “Sepulang dari China aku bisa promosi jadi manager, Din!” lanjutnya semangat.

Aku masih diam. Di China setahun??? Tiba-tiba badanku terasa lemas. Aku nggak tau harus senang mendengar prestasi pacarku yang aku yakin semua itu capek-capek dia raih demi masa depan kami juga, atau aku harus sedih dan melarangnya pergi karena aku nggak ingin kehilangan dia?!

“Promosinya bisa di Jakarta aja atau tetep di Malang?” tanyaku hati-hati dengan maksud mengingatkannya tentang impian kami untuk bisa bekerja di kota yang sama agar kami bisa melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih lanjut, yaitu pernikahan. Jujur aku berharap dia bisa menyusulku dan sama-sama tinggal di kota ini karena kalo aku yang harus pindah dalam waktu dekat ini aku belum bisa. Aku terikat perjanjian untuk tidak mengajukan mutasi selama 5 tahun pertama masa kerjaku sebagai PNS di kantorku.

“Yaaa… We’ll see. Tapi percayalah aku pasti akan selalu mengusahakan untuk itu,” jawabnya ragu.

Aku terdiam lagi. Sampai akhirnya kudengar suara Dian mengetuk pintu kamarku.

“Ra???” panggil Dian.

Aku berjalan menuju pintu lalu membukanya sambil tetap menempelkan hp di kupingku.

“Surpriiiiiise!!!!” teriak Dian dibarengi Dimas dan Mas Endi.

Aku terbelalak menyaksikan mereka bertiga sedang tersenyum lebar kepadaku, dengan Dian membawa sebuah kue tart di tangannya.

“Nda, udah dulu ya? Nanti sambung lagi,” ujarku pelan pada Angga.

“Lagi dapet kejutan dari temen-temen kost ya?” tanya Angga yang pasti juga mendengar semuanya di telfon.

“Hu uh,” jawabku sebelum mengijinkan Angga menutup telfon.

Setelah itu aku diam sambil tetap memperhatikan mereka bertiga di depanku.

“Koq malah bengong? Ayo ditiup lilinnya!” titah Dian.

Aku pun menurut, lalu tersenyum kecil. Jujur aku tak pernah menyangka mereka membuat acara kejutan seperti ini untukku. Sejak tadi bahkan aku belum tidur tapi kenapa aku bisa nggak ngeh kalo mereka bertiga udah janjian untuk mempersiapkan semua ini.

“Yeeeayyyy! Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga,” lanjut Dian semangat.

Aku mengajak mereka bertiga masuk ke kamarku lalu menuruti permintaan Dian untuk memotong kue ultahku dengan pisau yang diberikan Mas Endi.

“Siapa nih yang ngarep first cake dari gue?” tanyaku.

“Mas Endi donk, kan dia yang beliin kuenya,” jawab Dian.

Aku sedikit terkejut dan melihat ke arah Mas Endi yang lagi nyengir bangga. Akhirnya kuserahkan juga potongan pertama kue ultahku padanya.

“Makasih. Selamat ulang tahun ya, Ra!” ujarnya senang setelah menerima kue dariku.

“Makasih juga buat kejutannya,” balasku.

Dan acara kejutan tengah malam itu berlanjut sampe subuh dengan obrolan dan candaan kami berempat di kamarku, hingga akhirnya kami semua terkapar kelelahan. Ya, kami berempat akhirnya sama-sama tertidur di lantai kamarku.

***

Ternyata kue ulang tahun hari ini tak hanya kudapat di kost, tapi di kantor juga. Sebagaimana adat di ruanganku, tiap kali ada yang ulang tahun Mbak Intan selalu menyiapkan budget buat beliin kue tart, akhirnya lagi-lagi aku tiup lilin dan potong kue. Cuma nggak enaknya tradisi seperti itu, setelah potong kue yang ulang tahun pasti ditodong buat traktiran. Huwayyah!!! Anak kost sepertiku, yang belum juga gajian lantaran berkas kepengurusan gajiku masih dalam proses di BKN jelas aja langsung berasa sesak nafas kalo harus nraktir orang seruangan. Tapi it’s okelah, at least suntikan dana dari orang tua masih bisa kugunakan untuk menyambung hidup sampai aku mendapat gaji pertamaku nanti. Aku meminta tolong OB di ruanganku untuk memesankan beberapa box pizza.

Selesai acara peringatan ulang tahunku semua orang di ruangan kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tapi tidak denganku. Aku masih harus disibukkan dengan kewajiban membalas ucapan selamat ulang tahun dari teman-temanku via sms ataupun di wall FBku.

Dan betapa terkejutnya aku, saat membuka FB ada sebuah permintaan pertemanan dari Mas Endi. Mo ngapain sih dia? Emangnya berteman di kantor dan kost aja belum cukup baginya? Tapi akhirnya kukonfirm juga permintaan itu.

“Tengah malem dapet ucapan ultah plus kabar kalo mo ditinggal ke China. It’s absolutely a great gift ever!!! :'(” tulisku di status FB.

Tak lama ada notifikasi komentar.

“Emang sih pengennya bawa kamu ke ruang operasi, biar penyakit juteknya bisa sembuh,” tulis Mas Endi mengomentari status yang kubuat beberapa minggu lalu saat dia membawaku pergi makan siang. Inget kan waktu itu aku bilang kalo aku lagi diculik dan jangan-jangan aku mo dibawa ke ruang operasi?!

“Status udah basi masih dikomen aja sih!” balasku di kolom komentar statusku waktu itu.

“Bagus dikomentarin, daripada dicuekin?!” balasnya lagi.

Please deh ni cowok ya, ada aja tingkahnya yang bikin aku senewen. Tapi tak bisa kuingkari lama-lama aku suka geli juga mengingat tingkahnya. Ini cowok minat banget ya sama aku, udah dijutekin, bahkan aku nggak pernah sedikitpun tertarik, tapi masih maksa aja dia buat deketin aku. Lucu aja, dan semua hal yang kuingat tentang dia membuat aku tersenyum sendiri.

“Coba kamu senyum-senyum gitunya kalo di depanku, bukan di depan hp, pasti lebih berpahala,” ujar seseorang di depanku.

Aku yang rupanya sedari tadi terlalu sibuk dengan hp dan tak menyadari kehadiran Mas Endi di depanku jadi langsung salah tingkah.

“Sejak kapan Mas berdiri disitu?” tanyaku sambil menatapnya. Sisa senyumku langsung ku-skip, biar dia nggak ke-GR-an.

“Barusan koq. Kamu aja yang nggak ngeh,” jawabnya sambil nyengir.

“Mau apa? Kan belum jam makan siang ini?” tanyaku lagi.

“Mau minta ijin hari ini nggak ngajakin kamu makan siang,” jawabnya.

“Alhamdulillah…” sahutku cepat.

Mas Endi langsung manyun mendengar komentarku yang kayak kesenengan kalo dia nggak ngajakin makan siang kayak biasanya. Aku terkikik melihat ekspresinya.

“Tumben?! Udah bosen makan sama aku? Atau duitnya udah abis?” tanyaku menggodanya.

“Aku ada urusan di luar. Tapi jangan seneng dulu, nanti malem si Dian udah aku suruh booking tempat di G**nd Su** buat kita berempat,” jawabnya menyebut salah satu restoran di mall ternama di kota ini.

Aku tersentak mendengar jawabannya. Ada aja sih acaranya ni orang?!

“Kalo mo minta aku traktir nanya dulu donk sama yang ultah, main booking aja!” balasku.

“Udah nggak usah nolak. Pokoknya nanti jam 7 kita berempat kesana. Aku jemput ya?” ujarnya sedikit memaksa.

Apalagi yang harus kubilang kalo dia udah ngomong begitu?! Saat ini rasanya aku ingin sekali mencakar wajahnya karena geregetan.

Mas Endi pun pamit dari hadapanku.

Nggak lama hpku berdering, telfon dari Bunda.

“Ya, Bun?” sapaku saat mengangkat telfon.

“Ra, Bunda mo curhat!” balas Bunda tanpa basa-basi. Hubunganku dan bundaku memang dekat, bahkan dalam hal berbagi cerita pun kami pake istilah “curhat”, macam ABG aja bundaku itu.

“Iya, kenapa, Bun?” tanyaku penasaran.

“Adekmu itu bikin masalah lagi. Masa duit SPP kuliahnya kemaren udah Bunda kasi ternyata nggak kebayar?! Dan kamu tau itu duit dia pake buat apa?” cerocos Bunda.

“Apa?” tanyaku yang sebenernya nggak tertarik mendengarnya. Sejak menikah dengan Oom Fahmi rasanya hidup bundaku nggak bahagia banget gara-gara ngurusin tu anak satu.

“Dipake mabuk-mabukan, Ra!” jawab Bunda dengan nada geregetan.

Aku diam tak berkomentar. Nggak kaget lah sama kelakuan adik tiriku itu.

“Dua hari dia nggak pulang, dicari Bapaknya ke rumah temen-temennya taunya dua hari itu dia nggak ngampus. Pulang-pulang ditanyain orang tua bukannya jawab malah marah-marah karena dia masih setengah teler,” lanjut Bunda.

Aku masih diam. Makin males rasanya kalo isi curhatan Bunda lagi-lagi soal anak itu.

“Bunda udah nggak tau lagi mesti diapain itu anak,” cerita Bunda lagi sambil mulai terisak.

“Balikin aja ke emaknya, gampang kan?!” balasku ketus.

“Mana bisa begitu, Raraaa?! Kamu kan tau ibunya nggak normal, mana bisa dia ngurus anak?!” jawab Bunda masih sambil menangis.

Ya iyalah stres, secara suaminya selingkuh. Udah gitu punya anak bandelnya nggak ketulungan, jelas kenyataan yang kayak gitu bikin mantan istri ayah tiriku nggak kuat. Kadang aku ingin berteriak kesal mengingat laki-laki yang sekarang sudah tercatat sebagai ayah tiriku itu. Dia rusak rumah tangga orang tuaku, dan membebani ibuku dengan kelakuan anaknya yang nggak tau diuntung! Tapi gimana lagi, bahkan aku tak punya hak suara untuk protes saat perpisahan kedua orang tuaku terjadi. Aku lebih memilih untuk diam dan meninggalkan rumah daripada harus melihat orang tuaku ribut di rumah. Dan saat mereka benar-benar bercerai akhirnya aku juga benar-benar pergi dari rumah. Aku tinggal di kost dengan alasan males jauh-jauh kalo kampusku di Malang, sementara Bunda yang secara hukum memiliki hak perwalianku tinggal di Batu. Lulus kuliah akhirnya aku bekerja di Jakarta, semua usahaku untuk pergi jauh dari rumah benar-benar terlaksana dengan baik. Semua itu kulakukan sebenarnya hanya karena aku tak mampu menghadapi kenyataan bahwa aku harus hidup dengan salah satu orang tuaku setelah palu hakim mengetok keputusan perceraian mereka.

“Ya terus mo diapain lagi? Salah bunda sendiri mau sama bapaknya, dapet lah bonus anak badung kayak dia,” balasku.

“Kamu kenapa jadi menghakimi Bunda gini?” protes Bunda emosi.

Aku langsung diam, karena kalo aku menjawab lagi perdebatan ini akan makin panjang. Bertahun-tahun sudah Bunda berusaha meyakinkanku bahwa semua yang terjadi pada keluargaku adalah sebuah takdir yang harus kuterima. Tapi sisi lain hatiku menolak dan beranggapan seandainya Oom Fahmi nggak masuk dalam kehidupan Bunda, ceritanya nggak akan seperti sekarang.

“Udah ah, Bun. Kalo soal anak Bunda yang itu jangan ngadu ke Rara. Bunda selesain aja berdua sama bapaknya,” balasku sebelum menutup telfon.

Rasanya keseeeeel banget kalo aku harus selalu dibebani dengan masalah-masalah Bunda bersama keluarga barunya. Bahkan di hari ulang tahunku pun Bunda bukannya ngucapin selamat, malah bikin aku emosi.

Aku berjalan menuju pantry yang biasanya jadi markas OB di ruanganku.

“Eh, Mbak Rara. Mo minta kopi ya?” tebaknya yang sudah hafal dengan kebiasaanku kalo lagi pusing. Aku sering ngumpet disini buat ngopi sambil merokok sampai suntukku hilang.

Aku mengangguk dan terduduk lemas di dekat pintu. Ruangan ini selalu ditutup agar exhaust fan yang ada bisa membuang asap dari para ahli hisap yang memang selalu merokok disini.

“Tumben sepi, Wo?” tanyaku pada Jarwo saat dia menyuguhkan secangkir kopi dan meletakkannya di meja kecil di sampingku.

“Yang lain pada pengertian kali, Mbak. Tau kalo Mbak lagi pusing, jadi nggak mo ganggu, daripada kena semprot,” jawab Jarwo sambil nyengir.

“Kampret lo!” balasku sambil tertawa geli menyadari OB ini sedang menggodaku.

***

Aku nggak tau ya sebenarnya Mas Endi sudah men-setting semua ini atau nggak. Malam ini tiba-tiba Dian dan Dimas kompakan bilang “sorry” padaku karena mendadak nggak bisa ikutan makan bareng di tempat yang sudah diatur Mas Endi. Dian alesannya harus nganter sample darah pasien ke laboratorium, sementara Dimas harus ketemu kliennya di jam makan malam. Kalo emang acara makan malam dalam rangka ngerayain ultahku udah diplanning dari siang kenapa tu dua bocah nggak ngosongin acara aja??? Kayak gini kan aku jadi BT karena cuma pergi berdua sama Mas Endi?!

“Kamu keberatan ya makan berdua aja sama aku? Koq dari tadi diem aja?” tanya Mas Endi yang mungkin sejak tadi merasa aku lagi nggak enak hati.

“Kalo makannya berdua aja sama Mas kan udah biasa,” jawabku pelan.

“Mo tambah udangnya lagi nggak?” tawarnya.

Aku menggeleng. Itu shabu-shabu masih semangkuk aja belum abis dia udah nawarin nambah isinya.

“Jadi kado apa yang kamu pengen banget di ultahmu ini kalo kabar mo ditinggal ke China nggak cukup bikin kamu seneng?” tanyanya lagi seperti sedang mencari bahan obrolan.

Aku ingat dia sudah berteman denganku di FB, jadi mungkin dia sudah membaca statusku tadi.

“Ya jelas jangan jadi ke China lah kalo pengen aku seneng,” jawabku.

Mas Endi tertawa kecil mendengar jawabanku.

“Emangnya bundamu mo ke China berapa lama?” tanyanya.

“Bunda???” aku balik nanya.

“Lah yang kamu bilang mo ke China? Siapa?” balasnya lagi, rupanya saat ini terjadi miss understanding antara kami.

Aku akhirnya tersadar, dan langsung tertawa.

“Raraaaa!!!” ujarnya geregetan, nggak suka diketawain.

“Yang mo ke China itu Angga, pacar Rara, Mas!” jawabku di sela-sela tawaku.

“Pacar???” sahutnya cepat.

Aku mengangguk sambil menahan rasa geli.

“Jadi kamu udah punya pacar ya?” tanya Mas Endi sambil nyengir dan garuk-garuk kepala.

“Kenapa emang?” tanyaku balik.

“Kirain jom-blo!” sahutnya pelan. “Dari statusmu tadi kirain yang telfon tengah malem sebelum aku dateng itu bundamu,” lanjutnya.

“Kanda. Aku panggil dia kanda,” balasku mengerti keingintahuannya soal sosok “Nda” yang selalu kusebut di beberapa kesempatan.

“Oooh…” balas Mas Endi singkat.

Aku tersenyum kecil, dan agak lama akhirnya menyadari Mas Endi lebih banyak diam di sisa waktu waktu makan malam kami.

“Tumben banyakan diemnya?” tanyaku saat kami sudah di dalam taxi on the way pulang.

“Ra, kamu sama pacarmu udah lama?” ujarnya pelan.

“Lumayan. Udah hampir 7 taun,” jawabku sambil melihat ke arahnya.

Mas Endi mendengus pelan.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kalo aku bilang aku sayang kamu, salah nggak?” tembaknya.

Aku tersentak, tapi tetap berusaha tenang.

“Nggak sih, emang banyak koq yang sayang sama Rara,” jawabku setelah berusaha menyembunyikan rasa kagetku. Yaelah ni cowok deketin gue ujung-ujungnya juga emang karena ada feeling.

“Maksudku, aku serius, Ra! Dari awal kita ketemu aku udah suka, dan makin hari makin pengen deket kamu terus,” cerocosnya tanpa ragu.

Aku diam dan menatapnya lama.

“Sayangnya dalam konteks apa nih?” cecarku.

“Yaaa pokoknya aku sayang, aku nggak pengen kamu hilang dari depan mataku sedetik aja,” jawabnya.

Lancar banget sih ni cowok kalo ngungkapin perasaan?! Biasa kan masalah kayak gini suka bikin cowok keluar keringet dingin, tapi dia bisa aja ngomongin semuanya dengan lancar.

“Ra!” lanjutnya kali ini sambil memegang tanganku.

Aku masih diam dan menunggu dia melanjutkan bicara.

“Aku nggak peduli ya meski kamu udah punya pacar. Aku cuma pengen kamu ijinin aku untuk selalu deket dan ngejagain kamu,” ujarnya sambil menatapku serius.

Aku mendengus pelan.

“Jadi ceritanya mo jadi selingkuhan nih?” tembakku menggodanya.

Mas Endi tak tertawa sedikitpun mendengar candaanku itu.

“Sampai tiba waktunya kamu benar-benar membuka hati buat aku, aku nggak akan pernah menyerah meski nanti kamu udah punya suami sekalipun,” ujarnya.

Aku langsung menarik tanganku, tapi ditahan keras olehnya. Orang gila nih! Kalo gue udah jadi bini orang masa iya dia masih maksain perasaannya?!

“Let me show you how much I love you,” lanjutnya pelan, kali ini sambil mencium punggu tanganku.

“Tadi katanya sayang doank, sekarang bilangnya cinta,” komentarku pelan. Jujur, mendengar semua pengakuan tentang perasaannya bikin aku agak melting. Tapi gue punya pacar, Bro!

“Aku belum pernah jatuh cinta, dan ternyata jatuh cinta sama kamu bikin aku tergila-gila kayak gini. Tau kamu udah punya pacar bukannya bikin aku mundur tapi aku malah makin semangat buat deketin kamu, paling nggak kan pacarmu jauh. Kamu nggak keberatan kan kalo kita tetep deket?!” tanyanya seolah nggak peduli dengan komentarku.

Dasar sinting!!! Batinku. Tapi akhirnya aku mengangguk pelan.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset