Menuju Awal Semula episode 7

Chapter 7

Akhir Januari 2009

Aku duduk sendiri di sebuah kursi tunggu di areal kedatangan terminal 2F Bandara Soekarno Hatta. Hari ini aku sengaja minta ijin nggak masuk kerja untuk menjemput Angga yang rencananya akan bermalam dulu disini sebelum pesawat yang akan membawanya ke China berangkat besok malam.

Ya, dia benar-benar harus pergi. Angga yang bekerja di cabang sebuah perusahaan jasa penyedia mesin-mesin industri di Pandaan, Jawa Timur akan diberangkatkan ke China untuk training dan upgrading ilmu pengetahuannya perihal produk perusahaan di produsen asli principalnya di China. Kesempatan ini merupakan peluang bagus bagi pengembangan karirnya, dan sebagai pacar yang baik mestinya aku mendukung penuh, sekalipun resikonya kami harus long distance untuk setahun ke depan.

Sudah hampir jam 12 siang, kalo on schedule mestinya pesawat Angga dari Surabaya landing 5 menit yang lalu. Tapi belum ada kabar darinya. Tiba-tiba aku teringat, kalo aku di kantor mestinya sekarang Mas Endi sudah menjemputku ke ruangan untuk makan siang bareng seperti biasanya.

Ah, ngapain tiba-tiba aku mikirin dia? Bosen juga lah tiap hari makan siang sama dia. Sejak dia mewajibkanku untuk makan siang tepat waktu bersamanya hidupku rasanya jadi lebih teratur. Dan selama aku mengenalnya nggak cuma urusan jam makan siangku aja yang nggak pernah telat. Begitu pun dengan makan malam, jam 7 teng dia selalu nongkrongin kostku untuk ngajakin makan bareng, kadang dia juga menyiapkan sebungkus nasi untukku dan mengantarkan ke kostku sebelum dia berangkat praktek di salah satu RS swasta tiap hari Rabu dan Jumat malam. Sepenting itukah jadwal makanku untuk harus selalu dia perhatikan? Bahkan setiap Sabtu dan Minggu pagi pun dia nggak pernah absen memaksaku bangun pagi untuk jogging ke Monas. Dia bilang olahraga itu penting, padahal aku paling males bangun pagi. Pengen rasanya aku lari semua aturan-aturan yang dia berlakukan padaku. Tapi aku tak menampik, perhatiannya itu ternyata memang membuat hidupku jauh lebih teratur, dan aku senang bobotku rasanya mulai naik. Haha.

Tiba-tiba ponselku berdering. Dari Angga.

“Ya, Nda? Dimana?” tanyaku cepat saat meyakini pesawat Angga sudah landing kalo dia sudah bisa menelfonku.

“Udah jalan ke pintu keluar, Din. Kamu dimana?” balasnya.

Aku segera berjalan menuju pintu kedatangan dan nggak perlu waktu lama untuk menemukan sosok yang sangat kucintai itu.

“Arah jam 2,” ujarku padanya sambil melambaikan tangan.

Angga tersenyum dan segera mendekatiku. Ada rasa hangat dan bahagia dalam hatiku saat dia memelukku. Terpisah sebulan lebih bener-bener bikin kami saling kangen. Angga nggak berubah, tetap ganteng dan hangat seperti terakhir kali kami bertemu.

“Kamu gemukan, betah ya disini?” komentarnya sambil mengamatiku dari atas sampe bawah.

Aku tersenyum senang. “Kalo gemukan berarti bahagia,” jawabku.

“Baguslah, kirain jauh dari aku bikin kamu sedih terus nggak doyan makan,” balasnya menggodaku.

“Seneng ya kalo aku sedih?” tanyaku dengan nada manja.

“Ya nggak donk,” jawab Angga sambil memelukku lagi.

“Eh, bawaannya mana, Nda?” tanyaku saat tersadar Angga hanya membawa sebuah travel bag seukuran kabin dan sebuah tas ransel di punggungnya.

“Ya ini,” jawabnya.

“Gila! Mo pindahan setaun cuma bawa barang segini???” teriakku.

“Emang mo bawa apaan aja?”

“Ya, apa kek. Kalo disana keabisan baju gimana?”

Angga tertawa. “Jangan kayak orang susah lah, kan bisa beli disana,” jawabnya santai.

Aku memang belum pernah keluar negri, apalagi harus tinggal selama setaun di negri orang. Tapi kalo mo pindahan cuma berbekal sebuah tas koper aku juga nggak yakin sih, cuma ya begitulah gaya cowokku itu. Nggak mau ribet!

“Iya deh, tau yang uang sakunya banyak,” jawabku menggodanya.

***

“Nda…” ujarku pelan pada Angga yang sedang menonton TV di kamarku.

“Hmm?” balasnya tanpa mengalihkan pandangan dari acara berita sore di TV.

“Besok jadi pergi?” tanyaku.

“Ya jadilah. Udah sampe sini masa nggak jadi?!” jawabnya.

Aku mendengus pelan. Lalu menyulut sebatang rokok. Sambil menghisap rokok di tangan kiriku, aku membolak-balik sebuah korek api gas bergambar Manchester United. Korek api ini punya Angga yang sengaja kubawa saat aku pindah ke kota ini.

“Kenapa? Takut kangen ya?” godanya. Kali ini sambil merebut korek di tanganku dan menyulut sebatang rokok juga.

“Aku nggak tau bakalan betah nggak pisahan lama sama kamu,” jawabku pelan.

“Jangan manja gitu ah, kayak nggak pernah pisah aja. Buktinya kamu bisa idup sendiri disini jauh dari aku,” balasnya.

“Tapi kan selama ini kita masih bisa kontak?! Lagian Jakarta-Malang kan beda sama Indonesia-China,” ujarku manja.

“Dinda… Kalo aku nggak jadi pergi, kamu seneng?” tanya Angga pelan sambil menatapku.

Aku terdiam. Pertanyaan retorik sih itu sebenernya. Kalo aku menghalanginya pergi berarti aku menghambat karirnya. Sementara kami berdua sama-sama punya impian untuk bekerja, mapan, dan akhirnya menikah saat kami sudah sama-sama siap dari sisi finansial.

“Aku janji, sepulang dari China aku akan melamar kamu. Aku akan cari jalan buat bisa pindah kesini sebelum kita nikah,” lanjutnya.

Aku tak menjawab. Mau ditinggal pergi begini rasanya hatiku hancur banget. Kalah deh orang putus cinta. Cintaku padanya nggak terputus, tapi cuma terpisah jarak dan waktu. Aku sendiri nggak yakin kuat nggak kami menjalani hubungan jarak jauh nanti?! Berat di ongkos, Cuy!!! Pengen ketemuan susah, kontak via telfon atau internet juga kan pake bayar?!

Aku langsung teringat kenangan beberapa tahun lalu, saat pertama kali aku mengenal Angga di SMA. Kami sekelas, dan setelah beberapa lama akhirnya kedekatan kami sebagai teman naek pangkat jadi pacaran. Aku yang awalnya adalah seorang cewek tomboy dan cuek jadi jatuh cinta pada sosok Angga yang sangat peduli padaku di masa-masa sulitku. Kondisi keluargaku berantakan, dan saat itu aku benar-benar sangat labil. Tapi Angga dengan perhatiannya mampu menjadi satu-satunya tempat aku lari, mengeluh dan mengadukan semua yang kurasakan. Di depannya aku bisa menjadi seorang gadis manja yang rapuh dan seolah selalu butuh orang sepertinya yang bisa menjadi sosok teman, pacar, bahkan juga orang tua bagiku. Bertahun-tahun aku memiliki sosok berharga ini, dan jika sebentar lagi aku harus kehilangan dia aku nggak tau mesti gimana.

“Din???” panggilnya pelan sambil mengusap lembut pipiku.

Aku mematikan rokokku di atas asbak, lalu menangis di pelukannya. Entahlah, aku nggak tau apa yang akan terjadi padaku bila harus ditinggal jauh olehnya. Yang jelas sekarang aku hanya ingin memeluknya dan berharap dia nggak jadi pergi.

Angga pun memelukku erat…

***

“Dimas!” sapaku saat malam ini Dimas terlihat baru pulang dan melewati kamarku.

“Yoyoy!” jawabnya sambil melongok ke kamarku.

“Eh kenalin, ini Angga cowok gue!” ujarku sambil mengenalkan mereka berdua.

Angga dan Dimas pun saling berjabat tangan.

“Gue kira lo nggak punya cowok, Ra!” komentar Dimas setelah bersalaman dengan Angga.

“Menghina lo!” balasku.

Angga tergelak. “Abisan laki kayak lo, emang ada ya cowok yang demen?!” lanjut Dimas menggodaku.

“Kampret!!!” umpatku sambil menonjok lengannya.

Angga makin keras tertawa.

“Dian belum pulang ya, Ra?” tanya Dimas sambil melirik pintu kamar Dian yang masih terkunci.

“Kayaknya sih belum. Eh gue mo minta tolong nih,” balasku.

“Apaan?” tanya Dimas cepat.

“Cowok gue nginep kamar lo ya? Boleh?” tanyaku.

“Yaelah, kenapa nggak disini aja sih? Kan enak bobok bareng,” jawab Dimas sambil ngakak.

“Maunya sih gitu, cuma kan basa-basi dulu, Dim!” sambung Angga sambil senyum-senyum.

“Serius nggak papa?” tanyaku lagi, memastikan.

“Udaaah cuek aja, siapa juga sih yang ngurusin lo berdua? Dosa tanggung sendiri!” jawab Dimas lagi-lagi sambil ngakak.

“Oke, tapi kalo gue bikin dosa lo juga kebagian dosanya,” ujarku.

“Koq bisa?” tanya Dimas bingung.

“Ya kan lo udah tau kita mo bikin dosa, malah lo biarin!” jawabku sambil melet.

Kami bertiga pun tertawa.

Dan obrolan ringan kami bertiga berlanjut sampai menjelang tengah malam, saat Dian baru pulang.

“Yan? Darimana aja jam segini baru pulang?” sapa Dimas saat melihat Dian melintas.

Dian pun menghentikan langkahnya dan ikut masuk ke kamarku.

“Siapa nih, Ra?” tanya Dian padaku.

“Oh, kenalin ini Angga cowok gue,” ujarku bersemangat.

Angga pun mengulurkan tangan. Satu… Dua… Tiga… Bahkan sampai hitungan ke sepuluh pun Dian tak membalas uluran tangan Angga. Berasa keki, Angga pun menarik tangannya. Aku melotot ke arah Dian.

“Lo udah makan, Yan?” tanya Dimas memecah suasana kaku yang sempet beredar di antara kami berempat.

“Udah koq. Gue balik ke kamar dulu ya?” jawab Dian kemudian pergi.

Aku yang nggak suka melihat sikap Dian pada pacarku tadi langsung emosi dan pengen rasanya jambak rambut tu Barbie Girl. Segera aku minta ijin Angga dan Dimas untuk menyusul Dian ke kamarnya, karena aku yakin ada sesuatu di balik sikapnya tadi.

“Lo kenapa sih gitu amat sama cowok gue, Yan?” tembakku setelah menutup pintu kamar Dian dari dalam.

“Lo tuh ye, tega amat sama Mas Endi!” balas Dian tiba-tiba. Endi??? Kenapa tiba-tiba dia ngebahas soal Endi???

“Tega gimana?” tanyaku tak mengerti.

“Lo tau nggak kalo Mas Endi tu suka sama lo?” tanya Dian dengan nada geregetan.

“Tau,” jawabku singkat.

“Raraaaa… Kalo lo udah tau kenapa lo masih aja ngasi harapan ke dia???” tanya Dian lagi.

“Lah? Siapa yang ngasi harapan?” bantahku cepat.

“Selama ini lo deket sama dia, apa namanya kalo bukan ngasi harapan? Padahal lo udah punya cowok!” cecarnya.

“Mas Endi tau gue udah punya cowok. Dan kalo dia suka sama gue apa itu salah gue? Dia maksa tetep pengen deket sama gue apa itu juga salah gue? Trus apa juga hubungannya sama Angga, sampe-sampe lo jutekin dia?” balasku kesal.

Dian diam, hanya memandangku.

“Lagian lo segitu loyalnya sama Mas Endi? Temen lo tu gue apa dia?” lanjutku.

“Bukan gitu, Ra… Gue kasian aja sama Mas Endi. Dia tu sayang banget sama lo tau, Ra?!” ujarnya pelan dengan masih menatapku.

“Udah! Masalah gue sama Mas Endi itu urusan gue, lo nggak perlu memihak siapapun apalagi sampe ngebenci cowok gue. Gue juga bukan cewek jahat, nggak mungkinlah gue niat nyakitin Mas Endi,” balasku.

“Iya, sorry deh, Ra!” ujar Dian lagi, kali ini sambil memelukku.

Tak lama aku kembali ke kamarku.

“Gimana? Dian kenapa?” tanya Dimas.

“Lagi PMS,” jawabku ngasal.

Angga tertawa geli mendengar jawabanku. Dan setelah Dimas pamit untuk kembali ke kamarnya, Angga terlihat penasaran dengan ceritaku.

“Emang temen kamu Dian itu kenapa, Din? Koq kayaknya nggak suka sama aku?” tanyanya.

“Kamu mirip mantannya yang pernah bikin dia sakit ati,” jawabku berbohong.

“Oooh… Emang mukaku pasaran kali ya?” komentarnya sambil garuk-garuk kepala. Aku pun tertawa mendengarnya.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset