Menuju Awal Semula episode 8-1

Chapter 8-1

Found myself today,
Oh, I found myself and ran away
But something pulled me back,
The voice of reason I forgot I had

All I know is you’re not here to say
What you always used to say
But it’s written in the dark tonight

So I won’t give up,
No I won’t break down,
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong,
Even if it all goes wrong,
When I’m standing in the dark I still believe
Someone’s watching over me

Seen that ray of light, and it’s shining on my destiny
Shining all the time, and I won’t be afraid
To follow everywhere it’s taking me

All I know is yesterday is gone,
And right now I belong,
Through this moment to my dreams

So I won’t give up,
No I won’t break down,
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong,
Even if it all goes wrong,
When I’m standing in the dark I still believe
Someone’s watching over me

It doesn’t matter what people say,
It doesn’t matter how long we take,
Believe in yourself and you’ll fly high
It only matters how true you are,
Be true to yourself and follow your heart

So I won’t give up,
No I won’t break down,
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong,
Even if it all goes wrong,
When I’m standing in the dark I still believe
Someone’s watching over me…

Entah sudah berapa kali lagu itu mengalun dari aplikasi winamp di laptopku malam ini. Aku suka liriknya, dan lagu ini memang special buatku dan Angga. Waktu itu kami nonton film Raise Your Voice, dan setelah nonton langsung nyari-nyari sountracknya ini di 4*shared. Bagi Angga, lagu ini cocok buatku saat aku sedang merasa labil.

Hari ini aku bolos kerja lagi. Angga sudah pergi sejak sore, karena pesawatnya berangkat malam ini. Dia menolak kuantar ke bandara, karena nggak pengen ada drama tangis-tangisan saat aku harus melihatnya pergi. Selama ini Angga tak pernah membuatku menangis, kecuali jika aku menangis karena rindu padanya. Justru dia adalah sapu tangan hidup buatku, karena tiap kali aku menangis, entah lantaran masalah keluargaku atau masalah-masalah lain, dialah yang mampu mengusap air mataku dan menyemangatiku untuk tetap bertahan seberat apapun masalahku.

Aku ingat saat masa-masa akhir kuliahku. Tugas akhir yang kubuat sempat bikin aku galau menahun. Celakanya aku punya dosen pembimbing yang seringkali nggak seiya sekata denganku. Tiap kali pulang bimbingan TA aku selalu menangis melihat draft TA-ku yang penuh coretan tangan dosenku dan harus kurombak lagi isinya sesuai permintaannya. Aku termasuk orang yang idealis dan keras kepala, jadi bukan perkara mudah bagiku untuk begitu saja mengikuti kemauan dosenku dari A sampai Z perihal isi TA-ku. Tapi dengan santainya Angga bilang, “Kalo kamu pengen lulus cepet, ikutin aja apa kata dosenmu.” Dan akhirnya akupun lulus ujian TA dengan sebuah kenangan yang agak nggak enak. Selesai ujian aku menangis di toilet kampus gara-gara terpaksa harus mengalah dalam adu argumen dengan dosen pengujiku saat itu. Aku kesel setengah mati, tapi dosen pembimbingku saat itu juga bilang,”Ikutin aja apa maunya penguji, penuhi aja revisi yang diminta, daripada kamu nggak lulus!” Yaaaah… Begitulah, dimana-mana mahasiswa sih kalahnya sama dosen. Kalo pengen menang dan jadi yang paling benar ya silahkan jadi dosen aja. Itu hukum mutlaknya di universitas.

Dan saat aku mencari-cari namaku dalam daftar nama mahasiswa yang lulus ujian TA yang tertempel di papan pengumuman, Angga jadi orang pertama yang memeluk dan mengucapkan selamat padaku saat namaku ada disitu. TA-ku lulus dengan nilai B. Not bad lah, daripada nggak lulus?!

Begitu juga setelah kami wisuda, Angga duluan diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta di Pandaan. Sementara aku hampir setiap hari masih harus bergelut dengan panggilan tes disana-sini. Angga memang tak selalu mengantar atau menemaniku ke lokasi tes, tapi pesan-pesan dan doa-doanya sebelum aku menjalani tes selalu mampu menguatkanku dan meningkatkan rasa PD-ku. Kami ingin secepatnya mengumpulkan pundi-pundi materi untuk bekal rumah tangga yang kami impikan, dan seandainya pun Angga mampu menghidupiku dan rumah tangga kami nanti, dia tidak akan melarangku bekerja. Prinsipku, urusan nyari nafkah itu mutlak tugas suami. Kalopun sebagai istri aku juga bekerja, bukan semata untuk mengejar karir atau tambahan materi, tapi lebih sebagai penghargaan pada orang tuaku yang telah membiayai pendidikanku dari kecil sampai aku lulus kuliah. Dan aku senang Angga sepakat dengan itu. Ah, mikirin soal cita-cita kami untuk berumah tangga bikin perasaanku makin nggak karuan.

“Ra???” terdengar suara Dimas mengetuk pintu kamarku.

“Ya, Dim?” tanyaku saat membuka pintu.

“Lagi ngapain lo? Boleh ganggu bentar nggak?” tanya Dimas. Aku mengangguk. “Gue beli martabak manis nih,” lanjutnya sambil mengajakku ke teras.

“Ini sogokan buat apaan nih?” tanyaku curiga.

Dimas nyengir sambil garuk-garuk kepala. Akupun segera membuka kotak martabak manis yang Dimas berikan.

“Gue mo minta pendapat lo…” ujarnya ragu. Aku menatapnya serius. “…soal Dian,” lanjutnya.

Tuh kan, pasti ada apa-apanya di balik kebaikan Dimas beliin martabak manis buat gue kan???

“Emang si Dian kenapa? PMS?” godaku sambil tersenyum. Aku paham banget gelagat kayak gini, Dimas pasti naksir Dian.

“Ah, gue bingung mesti mulai darimana nih!” jawab Dimas sebelum menyulut rokoknya.

“Darimana aja boleeeh,” balasku sambil mengunyah martabak.

“Jangan rese gitu deh, Ra!” protes Dimas yang merasa diledek.

Aku tertawa pelan. “Lo tu kenapa sih? Suka sama Dian?” tebakku.

“Koq lo bisa tau, Ra?” tanya Dimas sambil melotot membenarkan tebakanku.

“Lo kira gue nggak punya mata ngeliat tingkah lo berdua? Beli makan berdua, ngemall berdua, si Dian sekarang jarang barengan gue pulang kantor karna lo jemput, emangnya gue bego nggak ngerti kalo lo berdua udah deket?” cerocosku.

Dimas tersenyum malu.

“Terus gimana?” tanyaku memancing.

“Gimana apanya, Ra?” Dimas nanya balik.

“Lo butuh pendapat apa dari gue?” balasku.

“Nah itu dia, Ra. Menurut lo kalo gue nembak Dian, udah pas belum ya timingnya?” jawab Dimas dengan tampang bingung.

“Menurut lo si Dian suka juga nggak sama lo?” balasku.

“Yaaah, Rara… Justru disitulah fungsinya lo jadi temen kita berdua. Lo bantuin gue kek nyari jawabannya,” balas Dimas lagi.

Aku tersenyum geli.

“Gue sih jarang ngadain sesi curhat sama Dian, Dim. Tapi kalo diliat dari ekspresinya tiap kali dia bilang ‘Gue nggak bareng ya, Ra. Gue dijemput Dimas’ pas kita pulang kantor, gue rasa sih dia juga ada filing sama lo,” jawabku sambil menirukan gaya bicara si Barbie yang cukup mampu membuat Dimas berasa melayang.

“Oooh… Gitu ya?” komentarnya sambil ngangguk-ngangguk.

Aku menyulut sebatang rokok setelah menghabiskan sepotong martabakku. “Kalo emang udah sama-sama suka cepetan ditembak, keburu disabet orang nyesel loh!” lanjutku menggoda Dimas.

Dimas malah garuk-garuk kepala. “Gue masih mo mikirin dulu kapan waktu sama moment yang pas buat nembak,” jawabnya.

“Mo nembak aja pake mikir,” gumamku geli mengingat Mas Endi pernah dengan lancarnya mengungkapkan isi hatinya padaku. Nggak kayak Dimas yang gelisah kayak orang kena ambeien gini.

“Halooo… Lagi pada nongkrong nih???” tiba-tiba Dian muncul dari arah pagar kost.

“Baru pulang lo?” tanyaku padanya.

“Barusan main dulu ke kost temen. Lo sih pake acara bolos, gue jadi nggak ada tebengan kan?!” jawab Dian sambil mendaratkan pantatnya di sampingku.

“Tumben ngarep nebeng gue, biasanya udah punya ojekan kan lo?” sindirku sambil melirik ke arah Dimas. Yang dilirik jadi salah tingkah.

“Dimas tadi nggak nawarin ngejemput sih,” jawab Dian sambil nyengir.

“Gue ke dalem dulu ya,” tiba-tiba Dimas pamit pada kami berdua dan langsung ngeloyor ke kamarnya.

“Dia kenapa sih, Ra?” tanya Dian.

Aku menggeleng tanda tak tau.

“Ra gue barusan dari kost Mas Endi, abis ngobrol banyak sama dia,” lanjutnya.

“Lo pulang sama dia?” tanyaku.

Dian mengangguk. “Dia nanyain lo kemana aja dua hari nggak keliatan di kantor,” jawab Dian.

“Terus???” tanyaku lagi, penasaran.

“Ya gue bilang kalo lo kemaren kedatengan cowok lo, terus hari ini kan katanya cowok lo berangkat ke luar, jadi gue pikir lo pasti nganterin dia ke bandara,” cerocos Dian.

“Jujur amat sih lo jawabnya? Terus apa kata Mas Endi?” tanyaku lagi sambil mengisyaratkan Dian untuk mencicipi martabak manis di depannya.

“Dia nggak komentar sih. Cuma nitip salam kangen buat lo,” jawab Dian sambil tergelak.

“Diiih… Salam kangen,” balasku sambil tersenyum geli.

“Jujur deh, Ra! Lo suka nggak sih sama Mas Endi?” tembak Dian yang sempat membuatku terhenyak.

Aku membenamkan puntung rokokku ke dalam asbak. “Suka atau nggak emang penting ya buat lo tau?” balasku.

“Penting donk. Secara Mas Endi tu suka banget sama lo,” jawab Dian semangat.

“Kalo menurut gue sih nggak penting karena gue udah punya cowok,” balasku lagi.

Diam terdiam sambil manyun. Terlihat dia makan martabak sambil mikir.

“Terus kalo hubungan lo sama Dimas gimana?” tanyaku mengalihkan bahan obrolan.

“Gimana gimana?” balas Dian tak mengerti. Tapi ekspresinya keliatan salting gitu.

“Makin deket aja lo berdua?” lanjutku.

“Dimas tu baek, Ra!” jawab Dian sambil tersenyum.

“Terus?” pancingku lagi.

“Terus gimana?” balas Dian lagi.

“Yaaa… Baeknya Dimas kayak Mas Endi nggak?” jawabku sambil tergelak. Emang agak panjang dan bertele-tele ya kalo ngomong sama cewek?!

“Baek kan relatif, Ra. Mungkin kalo menurut lo Mas Endi lebih baek, kan lo yang lebih deket sama dia,” jawab Dian sambil melet ke arahku.

Aku tersenyum mendengar jawaban itu. Iya sih Mas Endi emang selama ini selalu baik sama aku. Tapi baeknya orang kan juga kadang karena ada maunya. Dia baik dan selalu peduli sama aku ujung-ujungnya juga karena sayang sama aku. Terus aku sendiri gimana? No way lah! Aku masih setia dengan Angga yang menurutku ribuan kali lebih baik dari Mas Endi.

“Lo udah makan?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Belum. Lo?”

Aku menggeleng.

“Makan yuk!” ajak Dian.

“Ganti baju dulu napa?! Terus ajakin si Dimas, kayaknya dia juga belum makan tuh. Pulang-pulang tadi langsung nongkrong sama gue disini,” jawabku sambil beranjak hendak kembali ke kamar.

“Lo gimana? Nggak makan?” tanya Dian lagi.

“Males ah!” jawabku sebelum menutup pintu kamar.

Mood-ku untuk makan sama sekali nggak ada. Aku cuma ingin sendiri, menikmati kesepian yang selalu kurasakan saat Angga tak ada. Entahlah, tapi aku suka begini. Larut dengan duniaku sendiri dan tak peduli dengan sekelilingku. Cukup ditemani segelas kopi dan sebungkus rokok, aku sudah merasa lebih baik dalam kesendirianku.

Lama aku larut dalam kesibukanku sendiri, merokok sambil mendengarkan lagu dari Hillary Duff itu yang entar sudah berapa puluh kali kuputar ulang. Tiba-tiba ponselku berdering, dan sebuah nomer tidak dikenal tertera di layarnya.

“Ya, halo???” sapaku sesaat setelah mengecilkan volume winampku.

“Apa kabar, Rara?” balas suara di seberang. Dari suaranya aku tau itu Mas Endi, dan aku sedikit terhibur mendengarnya. Rupanya sudah dua hari ini aku nggak bertemu apalagi berantem dengannya.

“Tau nomer Rara darimana?” tembakku langsung.

“Informannya kan banyak,” jawabnya sambil terkekeh.

Aku mendengus kesal. Pasti Dian ni yang ngasi-ngasi nomer telfon gue.

“Udah makan, Ra?” tanya Mas Endi memecah kediaman di antara kami. Soalnya aku bingung mesti ngomong apalagi, nah kan dia yang telfon?!

“Males ah,” jawabku pelan.

“Koq gitu? Makan yuk! Mas temenin deh,” balasnya.

“Nggak ah, lagi nggak pengen makan nasi,” jawabku males.

“Terus pengennya apa? Burger? Pizza? Martabak?”

“Udah dibeliin martabak tadi sama Dimas.”

“Emang kenyang makan martabak doank? Makan nasi yah? Mas lagi mo beli makan, sekalian beliin buat kamu ya?” cerocos Mas Endi masih maksa nawarin makanan.

“Terserah deh, Rara mo tidur!” jawabku ketus.

“Nggak percaya banget jam segini kamu udah mo tidur,” ledeknya sambil tergelak. “Pokoknya tungguin aku di kost ya, Rara Sayang!” lanjutnya sebelum mengakhiri telfon.

Sayang??? Buset, udah berani dia panggil-panggil gue sayang. Makin lama kurasa tingkah Mas Endi makin sok akrab sama aku. Padahal aku tak pernah memintanya untuk peduli padaku, aku tak pernah berharap dia datang dan menemaniku, tapi gimana, aku pun tak pernah bisa menolak kehadirannya. Dia baik, terlalu baik untuk kutolak.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset