Menuju Awal Semula episode 8-2

Chapter 8-2

Setengah jam kemudian terdengar suara ketukan di kamarku. Aku yang sedang tiduran dengan masih ditemani lagu berjudul Someone’s Watching Over Me langsung bergerak ke arah pintu kamarku.

“Belum tidur kan?” sapa Mas Endi begitu melihat batang hidungku.

Aku menggeleng dan membiarkan dia masuk, lalu kembali ke kasur kesayanganku.

“Eh, makan dulu yuk! Mas beliin burger sama kentang goreng nih, kali aja kamu lagi marahan sama nasi, jadi kentang bisa gantiin karbohidratmu,” ujarnya sambil membuka bungkusan yang dibawanya. Dia duduk di samping tempat tidurku.

“Kan aku dah bilang aku males makan,” jawabku sambil berganti posisi tengkurap dan memainkan sebuah korek gas di tanganku.

Tiba-tiba tangannya mendarat di keningku. Aku tersentak. “Kamu nggak sakit kan?” tanyanya sambil memandangku.

Kuhempaskan tangan Mas Endi sambil menggeleng.

“Duh yang lagi bad mood ditinggal pacar,” godanya.

Aku tak menjawab, cuma meliriknya dengan galak.

“Kalo males aku suapin ya? Mau?” tawarnya.

“Udah sih Mas makan! Mo makan aja ribet pake ngajak-ngajak,” balasku ketus.

“Ya kan nggak enak makan sendiri. Makanya aku heran aja sama orang yang hobinya menyendiri kayak kamu” ujarnya pelan, menyindirku.

“Sendiri lebih baik, daripada diresein orang kayak situ!” jawabku.

Mas Endi tersenyum, dan akhirnya mulai menyantap burgernya tanpa menggangguku lagi.

Aku masih saja bersikap seperti orang autis. Di sampingku ada seorang cowok yang secara fisik bisa dibilang good looking dan sangat peduli padaku, tapi aku tetap asik dengan duniaku sendiri. Menikmati lagu sambil memainkan sebuah korek gas bergambar Manchester United di tanganku. Tiba-tiba musik yang kudengarkan berhenti, berganti suara iklan di TV.

“Tuh kan resenya kumat!” ujarku dengan nada merajuk saat menyadari Mas Endi sedang mematikan laptopku. Setelah itu pandangannya tertuju ke arah TV. Dia tak menjawabku, hanya merebut korek di tanganku dan meletakkannya di atas meja.

Aku mendengus kesal. Lalu bangun dan duduk di sampingnya sambil meraih bungkus rokokku yang tergeletak di lantai. Tapi Mas Endi menarik tanganku.

“Iih apa-apaan sih?” protesku karena napsuku untuk merokok dihalangi.

“Udah abis berapa batang kamu dari tadi?” ujarnya pelan sambil melirik asbak di depan kami yang sudah hampir penuh terisi puntung rokok.

“Emang penting ya ngitungin puntung rokok?” balasku mulai kesal dengan tingkahnya.

“Ini aja nih yang dirokok,” ujarnya lagi sambil menjulurkan sebuah stick kentang goreng padaku.

Aku masih cemberut. Mas Endi malah tertawa dan berniat menyuapkan kentang goreng itu padaku.

“Mas!!!” teriakku kesal.

Dan tanpa kata, tanpa kuduga Mas Endi memelukku erat. Nyaman, itu saja yang kurasakan saat itu. Aku pun tak memberontak, hanya memasrahkan diri dalam pelukannya yang mampu membuatku merasa sangat nyaman dan tenang. Segala rasa kesal, sedih, sepi, galau atau apapun yang ada dalam hatiku seharian ini tiba-tiba hilang seketika. Aku tak butuh rokok lagi untuk menenangkan diri.

Mas Endi masih memelukku dengan hangat sambil membelai rambutku saat tiba-tiba aku berani bersuara. “Kenapa sih kamu peduli banget sama aku?” tanyaku pelan dengan mata masih terpejam di pelukannya.

“Karena aku sayang kamu,” jawabnya singkat, lugas dan jelas banget.

“Tapi aku nggak bisa membalas perasaan itu. Aku punya Angga,” ujarku lagi.

“Aku nggak minta kamu bales perasaanku koq. Just make sure that you’ll always be okey, that’s enough for me,” jawabnya.

“I’m not oke, Mas…” balasku pelan dengan nada manja.

“I know,” ujarnya sambil memelukku lebih erat.

Aku melepaskan pelukan Mas Endi dan kembali pada posisi dudukku. Aku masih berniat melanjutkan keinginanku untuk merokok yang tadi sempat ditahan Mas Endi.

“Kirain cewek perokok itu sangar, pemberani!” komentarnya melihatku mulai menghisap rokokku.

Aku tak menjawab, cuma menikmati isapan demi isapan batang rokok di tanganku.

“Taunya rokok cuma jadi tameng biar nggak keliatan lemah. Padahal di sininya rapuh!” lanjutnya sambil menunjuk dadanya, menyindirku.

“Yang aku tau orang bilang cewek perokok itu nakal,” balasku di sela-sela isapan rokokku.

“Eh, emang kamu nakal ya?” godanya.

Aku tersenyum melihat tingkahnya. Sebentar perhatian, sebentar kocak, sebentar galak, sebentar nyebelin. Cowok aneh! Batinku.

“Orang mo bilang apa emang gue pikirin?!” balasku.

“Kamu boleh nggak peduli dengan tanggapan orang tentang kamu. Tapi janganlah nggak peduli dengan kesehatan kamu sendiri,” ujarnya sambil memandangku. Aku jadi salah tingkah dan cepat-cepat menuntaskan isapan terakhir rokokku.

“Mulai deh, mo ceramah nih pasti!” balasku kesal.

“Ra, sini deh!” Mas Endi mendekat dan memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya sambil menatapku.

Aku diam dan balas menatapnya.

“Kamu mungkin nggak peduli seberapa sayangnya aku sama kamu karena hati kamu udah jadi milik orang lain. Tapi setidaknya, kamu jangan mengabaikan perhatian dari orang-orang di sekelilingmu yang menandakan bahwa sebenarnya kamu itu nggak pernah sendirian. Mas tau kamu selalu merasa kesepian dan memilih untuk membenamkan perasaan itu bersama puntung-puntung rokokmu daripada berbagi cerita dengan orang lain. Come on, Ra! Jangan kayak gitu! I’m here for you, and always be here anytime you need,” ujarnya yakin.

Aku belum bisa bicara, masih mencerna setiap kalimat yang baru saja dia ucapkan. Dari matanya tak kulihat ada kegombalan atau ketidakjujuran disitu. Cowok ini benar-benar peduli padaku, bahkan untuk hal-hal menyangkut isi hati yang tak pernah aku ungkapkan, dia mampu membuatku mengakui semuanya. Aku memang bukan cewek tegar. Aku tak sekuat dan segalak penampilanku yang selalu terlihat di depan semua orang. Dalam hatiku aku terlalu rapuh, sangat rapuh hingga rasanya aku sudah lelah untuk menangis dan menahan saja segala perasaan getir yang kufikir bisa menguap terbawa angin begitu saja melalui setiap isapan rokokku. Otakku terlalu lelah untuk memikirkan segala yang terjadi dalam hidupku dan aku memilih untuk melemahkan saja fungsi otakku dengan nikotin yang mengalir dalam darahku dan menikmati candunya agar aku tak lagi memikirkan semuanya. Mas Endi, aku baru saja mengenalnya, tapi kenapa aku merasa dia sudah sangat memahami aku???

“Kenapa?” cuma kata itu yang terlontar dari mulutku. Aku masih menatap matanya dalam-dalam, berharap menemukan sedikit celah kebohongan dalam ucapannya tadi. Tapi aku pun harus mengakui pada akhirnya, bahwa dia sangat tulus.

“Harus berapa kali aku bilang, Mas sayang kamu, Rara! Mas nggak suka liat kamu sedih,” jawabnya dengan nada sedikit gemas.

Aku tersenyum. Dan tanpa kuduga tiba-tiba saja bibir Mas Endi sudah menempel di keningku. Aku menikmati kecupan itu, terasa sangat nyaman dalam hatiku. Tapi kenyamanan itu berubah menjadi perasaan nggak karuan saat bibirnya turun menyusuri hidungku, dan mendarat mulus di bibirku.

He kisses me!!! Terasa hangat, tapi membuat jantungku berasa mau copot. Anehnya aku sama sekali tak menolak, malah membalas ciumannya. Bibir kami saling berpagut, dan dalam beberapa saat rasanya aku lupa siapa aku dan apa hubunganku dengan Mas Endi. Yap, kami berciuman!!! Belum ada sehari kekasihku pergi, bahkan aku yakin saat ini dia belum juga tiba di kota tujuannya, tapi aku sudah berciuman dengan cowok lain. Damn!!!

Aku tersadar dan segera melepaskan ciuman Mas Endi. Setelah itu kami berdua sama-sama merasa kikuk. Jantungku masih berdetak kencang, belum kembali ke interval normalnya. Segera kuraih bungkus rokokku dan menyulut sebatang rokok untuk mengurangi perasaan grogiku berhadapan dengan cowok yang baru kukenal selama sebulan dan baru saja menciumku ini.

“Maaf,” ujarnya pelan. Dia pun terlihat bingung mo ngapain.

“Laen kali… Kalo mo cium bilang-bilang dulu donk, Mas!” ucapku setelah menghembuskan asap rokokku.

Mas Endi tersentak. Aku tersenyum geli melihat ekspresinya, saat ini detak jantungku sudah normal dan aku sudah mulai bisa menguasai diri.

“Ya kalo bilang-bilang dulu nanti kamunya kabur lagi, nggak mo dicium,” jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang kurasa tidak gatal.

“Masih bagus Rara nggak gampar Mas tadi,” ujarku lagi sambil tertawa kecil.

“Gimana mo ngegampar kalo kamunya keenakan,” balas Mas Endi sambil menoyor kepalaku. Aku pun makin keras tertawa.

“Udah ah ngerokoknya! Makan ya?” ujarnya lagi, kali ini sambil merebut sisa rokok di tanganku dan menyuapiku satu demi satu batang kentang goreng. Aku pun menurut saja padanya. Entah kenapa, malam ini rasanya aku tak lagi sedih atas kepergian Angga.


cerbung.net

Menuju Awal Semula

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Mimpi tidak lebih hanya sekedar bunga tidur , tapi bagaimana jika kamu sudah ber-rumah tangga dan kamu mendapati bermpimpi tentang soul-matemu sewaktu melajang? akankah perasaaanmu merubahmu menjadi manusia murahan yang melanggar sumpah suci pernikahaan dan menuntun keluargamu kedalam kehancuran?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset