Misteri Hutan Tawengan episode 11

Cerita Anggi

Sore menjelang, mendung hitam menggantung di langit selatan. Kabut tebal mulai turun menyelimuti desa. Angin bertiup sedikit kencang, membawa hawa dingin menusuk tulang. Sesekali kilat menyambar, menerangi segenap penjuru bumi, disusul suara guntur yang menggelegar menggetarkan jiwa. Sepertinya hujan akan segera turun.

Angga dan Anggi yang telah seharian berkeliling desa, melangkah cepat kembali ke rumah penginapan. Mereka tak ingin sampai kehujanan di jalan. Sudah cukup hawa dingin yang mereka rasakan, tak ingin lagi sampai kebasahan gara gara tertimpa hujan.

Dan benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di teras, hujan lebat seperti dicurahkan dari langit. Suaranya bergemuruh menimpa atap seng rumah itu. Sebagian air menerjang masuk ke dalam teras karena terbawa angin. Kedua kakak beradik kembar itu segera masuk kedalam rumah dan menutup pintu rapat rapat.

“Gila, deras sekali hujannya bang, beruntung kita sudah sampai di rumah,” kata Anggi sambil merapatkan jaket yang dikenakannya.

“Iya, hujan hujan begini enaknya minum kopi panas Nggi,” Angga menjawab sambil melepas sepatunya.

“Hmmm, bilang saja kalau mau dibikinkan kopi bang,” Anggi mencibir. Namun tak urung gadis itu segera sibuk meracik minuman bercaffein yang menjadi favorit mereka. Memang benar kata Angga, di tengah hujan lebat dan hawa dingin seperti ini, secangkir kopi panas bisa sedikit menghangatkan suasana.

Anggi meletakkan dua gelas cangkir di atas meja, lalu ikut duduk di samping Angga yang mulai sibuk melihat lihat hasil jepretan kamera digitalnya.

“Tak sia sia kita jalan seharian. Pemandangan disini memang sangat bagus.” gumam Angga.

“Iya bang, tapi sedikit menyeramkan juga. Apalagi saat di jurang tadi, yang kata orang dulu digunakan untuk membuang tubuh si dukun wanita itu. Aku sempat merinding membayangkannya.” Anggi menyeruput sedikit kopinya, lalu menyalakan rokok menthol kesukaannya.

“Aku juga sedikit ngeri Nggi. Seorang perempuan dilempar dalam keadaan hidup ke jurang yang dalam dan penuh batu karang tajam begitu. Entah bagaimana nasibnya begitu mendarat di dasar jurang.” Angga ikut mencicipi kopi buatan sang Adik.

“Yang lebih parah bang, waktu itu dia dalam keadaan hamil. Aku pikir pikir, terlalu kejam tindakan mbah Atmo waktu itu.”

“Kita kan tidak tahu latar belakang yang sebenarnya Nggi, dan menurutku bukan sepenuhnya salah mbah Atmo sih, karena nyaris seluruh penduduk desa mendukung tindakannya itu. Hanya segelintir orang yang berusaha mencegah.”

“Ini bagus untuk bahan cerita kita bang. Permadi belum menulis bagian yang ini. Ia hanya fokus pada pengalamannya saat tersesat di hutan itu.”

“Aku juga berpikir begitu Nggi, tapi kita butuh lebih banyak informasi lagi yang lebih detail. Sayangnya tak banyak orang yang bisa kita pancing untuk bercerita.”

“Andai saja Permadi bisa ikut kemari ya bang, tentu dia bisa banyak membantu.”

“Hey, rupanya adikku ini sudah mulai belajar merindukan seseorang yaaa…..,” keisengan Angga mulai kambuh untuk menggoda adik kembarnya itu.

“Ish, abang apaan sih,” Anggi pura pura cemberut dengan wajah memerah. Lalu mencoba mengalihkan pembicaraan. “Abang percaya nggak dengan kisah siluman monyet itu?”

“Entahlah, abang kan belum pernah bertemu langsung dengan siluman itu.”

“Aku pernah melihatnya bang.”

“Oh ya, dimana?”

“Semalam, saat kita di kebun belakang rumah itu. Sebenarnya waktu itu aku bukan dari kali. Emmm, maksudku, aku memang dari kali, tapi tidak untuk buang air. Tapi aku mengikuti dua sosok monyet yang sangat besar. Lebih besar dari monyet manapun yang pernah aku lihat. Dan aku merasa, makhluk itu memang sengaja mengawasi kita bang.”

“Serius kamu Nggi?”

“Kapan sih bang aku nggak serius. Awalnya, aku hanya mendengar suara berisik seperti langkah kaki, karena penasaran aku mencoba mengintip, dan kudapati dua sosok monyet besar itu berdiri mematung dan memandang tepat ke rumah ini. Mereka berusaha masuk pekarangan, tapi pagar janur kuning yang dipasang mbah Mo itu sepertinya menghalangi mereka. Lalu mereka pergi, dan aku mengikutinya sampai ke kali di pinggir hutan itu. Aku penasaran bang, ingin mengikuti sampai ke hutan, ingin tahu kemana mereka pergi. Tapi seperti ada suara perempuan yang membisikiku, menyuruhku kembali. Karena agak takut juga, akhirnya aku kembali, dan bertemu abang yang sedang bengong di kebun belakang itu.”

“Kamu ceroboh Nggi,” Angga mengingatkan adiknya itu. “Mbah Mo kan sudah melarang kita untuk mendekati hutan. Apalagi malam hari, dan kamu sendirian. Kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu bagaimana? Lain kali bilang dulu sama abang kalau ada apa apa!”

“Ya maaf bang, waktu itu aku cari cari abang nggak ada. Lagipula, entahlah bang, perasaanku saja atau bagaimana, aku seperti tak sadar, mengikuti begitu saja kedua sosok monyet itu, sampai aku dengar bisikan suara perempuan itu, aku baru sadar dan kaget. Ternyata aku sudah berada di kali. Abang sendiri kemarin malam kemana? Aku cari cari nggak ada.”

“Aku ngopi di teras Nggi, dan aku juga mengalami kejadian aneh sepertimu,” Angga kemudian menceritakan kejadian yang ia alami semalam, tentang bayangan hitam di hutan dan sosok perempuan berpakaian putih dengan wajah menyeramkan yang ditemuinya.

“Sepertinya desa ini memang dipenuhi dengan misteri ya bang,” kata Anggi setelah mendengar cerita sang kakak.

“Makanya kamu jangan ceroboh, kalau ada apa apa jangan bertindak sendiri. Ingat, kita kesini cuma mencari bahan untuk tulisan kita. Bukan untuk mencari celaka.”

“Hehehe, iya lah bang. Adikmu ini bisa menjaga diri kok,” Anggi tertawa, saat dengan gemas Angga mengacak acak rambutnya.

“Ya sudah, sudah malam nih, kita tidur yuk,” Angga menyudahi pembicaraan. Dan tak lama kemudian kedua kakak beradik kembar itu sudah terlelap dibuai mimpi.

*****

cerbung.net

Misteri Hutan Tawengan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Anggada dan Angginita, dua orang kakak beradik kembar, merupakan novelis terkenal yang sudah menerbitkan puluhan novel best seller dengan nama pena Angganita, gabungan dari kedua nama mereka.Spesialisasi mereka adalah cerita cerita horor dan misteri. Dan karena totalitas mereka dalam berkarya, tak jarang mereka harus mengunjungi lokasi lokasi yang dikenal angker untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat cerita.Hingga suatu saat, berawal dari sebuah thread sederhana yang di unggah di sebuah media sosial, membawa mereka ke sebuah petualangan mistis yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.Bagaimana kisah petualangan mereka? Simak kisahnya di bawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset