Misteri Hutan Tawengan episode 13

Permadi dan Mas Parto

Masih di malam yang sama, namun di lokasi yang berbeda. Mas Parto duduk termenung berselimut sarung. Hujan yang turun semenjak sore tadi membuat warung menjadi sepi. Hanya ada beberapa tukang ojek yang numpang berteduh di warung tendanya, memesan segelas kopi, lalu asyik dengan permainan kartu gaple mereka, dari semenjak sore, hingga sekarang menjelang tengah malam.

Mas Parto sendiri, entah kenapa malam ini sama sekali tidak tertarik untuk ikut bermain kartu. Tidak seperti biasanya. Semenjak sore, ada perasaan resah yang mengganggunya. Perasaan tidak enak yang ia sendiri tak tahu apa penyebabnya.

Sebuah sepeda motor menderu memasuki area parkir pasar, lalu berhenti tepat di depan warung mbok Tonah. Pengendaranya turun, dan langsung menghampiri mas Parto.

“Apa kabar, saudaraku,” sapa laki laki itu. Sejenak mas Parto terbengong, lalu segera memeluk laki laki itu.

“Ah, setelah sekian lama, akhirnya kau kembali juga teman,” pelukan hangat mas Parto disambut oleh laki laki itu.

“Mbok,” laki laki berambut gondrong itu juga menyalami dan mencium tangan mbok Tonah, membuat perempuan setengah baya itu juga terbengong bengong.

“Aku Permadi mbok,” laki laki itu menjelaskan, menyadari bahwa mbok Tonah benar benar tak mengenalinya.

“Oalah, tambah ngganteng kamu le, sampai pangling simbok,” ujar mbok Tonah. Perempuan setengah baya itu segera sibuk meracik kopi untuk tamu spesial mereka. Sedang Permadi menarik tangan mas Parto, mengajaknya duduk di sudut yang sepi.

“Sepertinya ada hal yang penting, sampai kau menyempatkan diri untuk datang kembali,” mas Parto membuka percakapan.

“Ya, begitulah,” jawab Permadi. “Aku mencari dua orang temanku.”

“Sudah kuduga.” tanpa segan mas Parto menyambar rokok milik Permadi dan menyulutnya sebatang. “Jadi dua orang saudara kembar itu adalah temanmu.”

“Sebenarnya, belum pantas untuk disebut teman sih,” Permadi ikut menyulut sebatang rokok. “Tapi mereka datang kesini karena aku. Jadi secara langsung aku merasa ikut bertanggungjawab atas keselamatan mereka.”

“Hmmm, begitu ya,” mas Parto mengangguk anggukkan kepalanya. “Kau nyaris terlambat kawan. Salah satu dari temanmu itu sudah ditandai. Dan malam purnama tinggal besok hari. Dari tadi aku sudah resah memikirkannya. Nasib baik, akhirnya kau datang. Aku sudah bosan terus terusan menghadapi masalah ini seorang diri.”

“Seorang diri?” Permadi mengernyitkan dahi. “Bukankah ada mbah Mo dan pak Bayan muda?”

“Mereka sudah tak bisa diharapkan kawan. Mbah Mo sudah terlalu tua, sedang pak Bayan muda, bisa apa dia? Mengurus bapaknya sendiri saja dia sudah kerepotan.”

“Begitu ya,” Permadi menyeruput kopi yang dihidangkan oleh mbok Tonah. “Lalu, siapa yang sudah ditandai? Dan dimana mereka sekarang?”

“Sayangnya, yang perempuan yang ditandai. Tanpa sengaja, mereka datang ke rumah pak Bayan. Bertepatan dengan pak Bayan yang entah sengaja atau tidak, lupa memperbaiki pagarnya. Terjadi begitu saja, tanpa bisa dicegah. Kini mereka menginap di bekas rumah almarhum kang Jono. Sudah dipagari oleh mbah Mo. Jadi selama mereka tetap di dalam rumah mereka aman.”

“Aman katamu?” Permadi sedikit menyentak. “Jika sudah ditandai, itu berarti mereka akan terjebak selamanya di desa itu.”

“Apa boleh buat,” mas Parto menghela nafas. “Hanya itu yang bisa aku lakukan kawan.”

“Masih ada cara lain,” kata Permadi mantap. “Akan kuakhiri semua ini sampai ke akar akarnya.”

“Jangan gila kamu Di, cukup sudah anakmu kehilangan ibunya. Jangan sampai ia kehilangan bapaknya juga!”

“Apa bedanya To? Toh selama ini dia juga sudah tak mengenali lagi siapa bapaknya. Kamu yang jadi bapaknya sekarang. Dan soal Nengsih, aku yakin dia masih hidup di sana. Aku akan membawanya pulang. Akan kurebut kembali dari tangan iblis iblis laknat itu.”

Gila. Ini benar benar gila. Sungut mas Parto dalam hati. Kehilangan istri dan terusir dari desa selama bertahun tahun, benar benar membuat sahabatnya itu kehilangan akal sehatnya. Tapi mas Parto kenal betul dengan sifat sahabatnya itu, karena mereka telah berteman sejak kecil. Tak mungki Permadi selemah itu. Ia memiliki mental dan tekad yang sangat kuat.

“Yah, kalau memang begitu tekadmu Di, apa boleh buat. Aku tak akan membiarkanmu pergi sendiri,” ujar mas Parto akhirnya.

“Tidak To, selama ini aku sudah terlalu banyak merepotkanmu. Kau sudah merawat dan menjaga anak dan ibuku. Itu sudah lebih dari cukup. Aku tak ingin kau juga ikut mempertaruhkan nyawamu demi aku.”

“Di, kita berteman sudah dari kecil. Susah senang sudah banyak kita lalui bersama. Dan sekarang, saat kamu harus berjuang bertaruh nyawa, tak mungkin aku tinggal diam. Lagipula, aku juga ingin segera mengakhiri tragedi di desa kita ini. Jadi apa salahnya kalau sekali lagi kita berjuang bersama, meski mungkin akan menjadi perjuangan terakhir kita.”

Permadi terdiam, seperti menimbang nimbang ucapan mas Parto. Demikian juga mas Parto, terdiam menanti jawaban dari sahabatnya itu. Suasana menjadi sunyi sejenak.

Sampai akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh suara mesin mobil yang menderu kencang memasuki area parkiran pasar itu, kemudian mendecit dan berhenti tepat di depan warung mbok Tonah. Anggi turun dari mobil itu, dengan airmata yang masih berurai membasahi wajah cantiknya. Semua yang hadir disitu tercekat. Terutama mas Parto dan Permadi. Kedua pemuda itu sudah dapat mengira apa yang terjadi dengan gadis itu.

“Mas Parto…., Permadi….., Bang Angga……, tolong….,” hanya itu ucapan yang keluar dari mulut gadis itu, sebelum akhirnya tubuhnya ambruk tak sadarkan diri.

*****

cerbung.net

Misteri Hutan Tawengan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Anggada dan Angginita, dua orang kakak beradik kembar, merupakan novelis terkenal yang sudah menerbitkan puluhan novel best seller dengan nama pena Angganita, gabungan dari kedua nama mereka.Spesialisasi mereka adalah cerita cerita horor dan misteri. Dan karena totalitas mereka dalam berkarya, tak jarang mereka harus mengunjungi lokasi lokasi yang dikenal angker untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat cerita.Hingga suatu saat, berawal dari sebuah thread sederhana yang di unggah di sebuah media sosial, membawa mereka ke sebuah petualangan mistis yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.Bagaimana kisah petualangan mereka? Simak kisahnya di bawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset