Misteri Hutan Tawengan episode 15

Jurang Bangkai

Angga menggeliat, lalu mengerang lirih, merasakan sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya. Tulang belulangnya berasa remuk redam. Memar lebam dan bekas luka luka dengan darah yang mulai mengering menghiasi seluruh badannya.

Masih dengan tubuh terkapar diatas rerumputan, Angga mengerjapkan matanya, mencoba mengenali situasi di sekelilingnya. Hanya kegelapan yang ia temukan. Disisinya menjulang tinggi bayangan hitam, sebuah tebing yang sangat curam, dengan batu karang yang mencuat di beberapa tempat. Bau busuk yang sangat menyengat menusuk hidung, membuatnya mual bukan kepalang.

Pelan pelan pemuda itu kembali menggerakkan tubuhnya, mencoba untuk bangkit. Rasa sakit sebisa mungkin ditahannya. Setelah berhasil duduk, ia berusaha beringsut dan menyandarkan tubuhnya di tebing berbatu itu. Nafasnya tersengal, menahan rasa nyeri yang hebat di bahu kirinya. Sepertinya terkilir. Kepalanya pening bukan kepalang akibat bau busuk menyengat yang entah darimana asalnya.

Sejenak pemuda itu menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya kuat kuat, mencoba menenangkan dirinya. Tangannya meraba saku celananya. Mencari sebungkus rokok dan korek api. Syukur, masih ada. Mungkin dengan menghisap asap bernikotin itu bisa sedikit menenangkan dirinya. Dikeluarkannya sebatang dari dalam bungkusnya, lalu dijepit di sela sela bibirnya. Korek api ia nyalakan, dan………

“Anjr******tttt……!!!!!!” pemuda itu sampai melemparkan korek apinya sangking kagetnya. Bias cahaya yang keluar dari korek yang ia nyalakan menangkap pemandangan yang sangat mengerikan. Tulang belulang berserakan di tempat itu. Tulang belulang manusia. Ada beberapa yang masih terbalut daging yang telah membusuk dipenuhi belatung yang mengeliat geliat menjijikkan. Dari situ rupanya sumber bau busuk yang sejak tadi diciumnya.

Angga memijit keningnya yang terasa semakin terasa pusing. Tempat macam apa ini? Neraka kah? Apakah itu berarti ia telah mati? Atau ini hanya sebuah mimpi? Ia mencubit lengannya. Sakit. Berarti ini bukan mimpi. Kalau ini bukan mimpi, jangan jangan………

Angga meraba raba, mencari korek api yang tadi tak sengaja ia lempar. Ketemu. Juga sehelai sapu tangan di sakunya. Digunakannya sapu tangan itu untuk menutup hidungnya. Sedikit bisa mengurangi aroma busuk yang memualkan perut.

Dengan berbekal penerangan dari korek api, ia bangkit dan berjalan tertatih tatih. Satu tangan memegang korek, dan tangan yang lain berpegangan pada sisi tebing untuk menopang berat tubuhnya. Rasa nyeri di bahunya tak dihiraukannya lagi. Bagaimanapun caranya ia harus segera meninggalkan tempat terkutuk ini.

Beberapa kali kakinya tersangkut sulur semak dan tulang tulang yang berserakan, membuatnya nyaris tersungkur. Beberapa kali juga ia mengerjapkan mata dan menggeleng gelengkan kepalanya, mencoba mengusir rasa pening di kepalanya. Kadang ia berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Juga mengusir kunang kunang di matanya. Kesadarannya mulai sedikit melemah oleh rasa sakit, juga rasa takut yang ia rasakan.

Tidak! Ia tidak ingin pingsan di tempat terkutuk ini! Apalagi sampai mati disini. Bergidik ia membayangkan tubuhnya menjadi santapan belatung seperti mayat mayat yang ada di tempat itu.

Membayangkan hal itu, sedikit membangkitkan kesadarannya. Ia kembali melangkah, tertatih tatih menyusuri tepi tebing. Semakin lama ia semakin mempercepat langkahnya, ingin segera terbebas dari tempat itu. Hal itu membuat kehati hatiannya sedikit berkurang. Kakinya tersangkut sebuah tulang yang melintang, tubuhnya limbung kehilangan keseimbangan. Refleks tangannya mencoba meraih sulur semak semak untuk berpegangan. Namun sulur itu tak terlalu kuat untuk menahan berat tubuhnya. Sulur semak itu patah, membuat tubuh gempal itu melayang dan terhempas ke depan.

Tap! Beberapa senti sebelum tubuh Angga mencium tanah, sepasang tangan berjari lentik menahannya. Selamat! Angga bersyukur, meski ia tak tahu tangan siapa yang menahan tubuhnya. Dengan sisa sisa keaadarannya, ia hanya menangkap bayangan wajah samar samar dengan rambut panjang, sebelum akhirnya pemuda itu benar benar kehilangan kesadarannya. Ia pingsan!

***

“Bayi itu adalah kamu, nak Permadi.”

“Apaaaaa……????!!!!”

“Jadi……,”

“Ya, suka atau tidak, kamu adalah anak kandung dari mbah Atmo, Atmosuwiryo, orang yang mungkin selama ini paling kamu benci itu adalah ayah kandungmu, orang yang mengukir jiwa ragamu,” mbah Mo mengakhiri ceritanya.

Permadi tertegun, wajahnya menegang, gigi geliginya bergemeletuk menahan emosi. Tangannya mengepal, dengan urat urat yang menonjol di lengannya.

“Jadi begitu ya,” geram ucapan Permadi. “Dia yang mengukir jiwa ragaku. Dan dia juga yang menghabisi nyawa ibu kandungku!”

“Begitulah kenyataannya nak,” mbah Mo berkata pelan. “Mbok Darmi, perempuan yang selama ini kamu anggap sebagai ibu itu, kepadanyalah dulu waktu kamu masih bayi aku titipkan. Setelah kamu berumur lima tahunan, atas permintaanku ia pindah dari desanya ke desa Patrolan. Sampai kamu besar, menikah, dan punya anak.”

Sejenak suasana menjadi hening. Keempat orang itu saling terdiam, menunggu reaksi dari Permadi. Suara binatang malam terdengar jelas. Hawa semakin dingin, dengan kabut yang semakin menebal.

“Kita lanjutkan perjalanan,” hanya itu kata kata yang keluar dari mulut Permadi, lalu melangkah, diikuti oleh ketiga orang lainnya. Berbagai pertanyaan menggelayut di benak ketiganya, mencoba menerka nerka, apa yang ada di pikiran Permadi saat itu.

“Bagaimana ini mbah?” bisik mas Parto sambil berjalan di samping mbah Mo.

“Biarkan saja dulu. Sepertinya dia sangat terguncang. Kita ikuti saja kemana ia akan berjalan. Aku yakin, kalau dulu Nyi Asih yang menolongnya, maka kali ini juga ia akan menuntunnya untuk menyelesaikan masalah ini.” mbah Mo juga berbisik.

“Dimana kau kuburkan jasad ibuku mbah?” Permadi bertanya tanpa menghentikan langkahnya, bahkan tanpa menoleh sama sekali.

“Dibawah pohon randu alas besar di dekat Jurang Bangkai sana.” jawab mbah Mo.

“Kita kesana!” kata Permadi tegas.

*****

cerbung.net

Misteri Hutan Tawengan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Anggada dan Angginita, dua orang kakak beradik kembar, merupakan novelis terkenal yang sudah menerbitkan puluhan novel best seller dengan nama pena Angganita, gabungan dari kedua nama mereka.Spesialisasi mereka adalah cerita cerita horor dan misteri. Dan karena totalitas mereka dalam berkarya, tak jarang mereka harus mengunjungi lokasi lokasi yang dikenal angker untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat cerita.Hingga suatu saat, berawal dari sebuah thread sederhana yang di unggah di sebuah media sosial, membawa mereka ke sebuah petualangan mistis yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.Bagaimana kisah petualangan mereka? Simak kisahnya di bawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset