Misteri Hutan Tawengan episode 16

Angga dan Perempuan Penghuni Jurang Bangkai

Pak Bayan duduk bersimpuh dilantai tanah, menghadap tepat ke arah dipan dimana tubuh mbah Atmo terbaring lemah. Asap dupa yang dinyalakan tepat di bawah dipan itu mengepul memenuhi ruangan, menyesakkan nafas tua pak Bayan.

Laki laki itu mendesah. Perasaannya gelisah. Hatinya dipenuhi dengan pertentangan. Antara kewajibannya sebagai seorang bayan yang harus menjaga dan menyelamatkan desa beserta segenap warganya, dengan kewajibannya sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada orangtuanya.

Dihelanya nafas panjang, mencoba mengurangi beban di hatinya. Keris yang diberikan oleh mbah Mo sore tadi, dipeluknya erat erat. “Ingat, begitu tiba waktunya, tusukkan keris ini tepat di jantungnya,” demikian pesan mbah Mo.

***

Angga membuka matanya, lalu memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Ah, syukurlah. Sudah tak ada lagi tumpukan tulang belulang yang berserakan dan bau busuk yang memualkan perut.

Sepertinya ia berada di dalam sebuah ruangan. Ruangan sempit yang sangat sederhana, dengan bilik terbuat dari kulit kayu yang disusun sedemikian rupa, membentuk sebuah dinding. Ia sendiri terbaring diatas tumpukan jerami kering di sudut ruangan. Di sudut lain ada sebuah tungku dengan kayu bakar yang menyala menerangi ruangan itu.

Angga berusaha bangkit. Saat itulah ia sadar. Tubuhnya nyaris telanjang. Jaket dan celana jeans yang tadi ia kenakan entah kemana. Hanya menyisakan celana pendek yang membungkus tubuh bagian bawahnya. Kaos singletnya juga telah berubah fungsi menjadi semacam perban, melilit bahu kirinya yang cidera.

Dicobanya menggerakkan bahunya itu. Rasa sakitnya sudah banyak berkurang. Ada sesuatu yang menempel di setiap luka lecet dan lebam di tubuhnya. Entah obat atau apa, yang jelas Angga tak lagi merasakan perih sama sekali.

Angga berniat untuk berdiri, saat sesosok perempuan muncul di ambang pintu. “Jangan banyak bergerak dulu. Luka lukamu belum sembuh benar.”

Angga terperanjat kaget. Penampilan perempuan itu sedikit menyeramkan. Rambut panjangnya acak acakkan, sebagian tergerai menutupi wajahnya. Pakaian yang dikenakannya kumal dan telah robek di beberapa bagian, memperlihatkan sebagian tubuhnya yang seharusnya tertutup.

“Makanlah,” perempuan itu meletakkan beberapa buah buahan hutan di depan Angga yang masih bengong. Si perempuan lalu duduk di depan tungku, lalu memasukkan beberapa potong ubi yang dibawanya ke dalam bara api.

Wajah wanita itu nampak sedikit lebih jelas kini setelah mendapatkan penerangan dari kobaran api. Ternyata belum terlalu tua, mungkin hanya beberpa tahun lebih tua darinya. Dan tak terlalu buruk juga, bahkan terkesan sedikit cantik, andai ia memperbaiki sedikit penampilannya. Hidungnya mancung, dengan bibir mungil dan mata sedikit lebar dihiasi bulu mata yang lentik. Angga tersenyum kecil, mengingat tadi ia hampir mengira bahwa perempuan itu adalah seorang nenek sihir.

Alih alih memakan buah buahan yang tadi diberikan oleh perempuan itu, Angga justru melangkah mendekati perempuan itu dan duduk di sampingnya.

“Boleh aku duduk disini? Udaranya sangat dingin,” kata Angga.

“Hmmmmm……,” perempuan itu hanya mendehem, lalu bangkit dan berjalan keluar ruangan. Sekejap kemudian ia kembali membawa pakaian milik Angga.

“Pakailah,” perempuan itu melemparkan pakaian yang dibawanya ke arah Angga. Sedikit tidak sopan. Tapi Angga memakluminya. Perempuan itu tinggal di hutan, jadi kesopanan mungkin tidak dikenal disini.

“Kau kah yang tadi menolongku?” tanya Angga setelah selesai mengenakan pakaiannya.

“Hmmmm….,” kembali perempuan itu hanya menggumam, sambil membolak balik ubi yang dibakarnya.

“Ah, terimakasih,” ucap Angga lagi. “Namaku Angga. Siapa namamu?”

Sejenak perempuan itu menghentikan kesibukannya, lalu menatap Angga dengan tajam. Angga terperangah. Semakin jelas ia melihat wajah perempuan itu. Benar benar cantik. Kecantikan yang alami, tanpa polesan apapun. Sayang, tak ada senyum di wajah itu.

“Nengsih,” jawab perempuan itu singkat.

“Nengsih,” Angga mengulangi ucapan perempuan itu. “Nama yang bagus. Kamu tinggal sendiran di sini, atau……”

Ucapan Angga terhenti saat perempuan itu kembali menatapnya. Sepertinya ia tak suka dengan orang yang banyak bicara.

“Ah, maaf, bukan maksudku…..”

“Makanlah,” lagi lagi hanya ucapan pendek yang keluar dari bibir mungil perempuan itu, sambil melemparkan sepotong ubi bakar yang telah matang ke depan Angga. Ia sendiri segera membersihkan ubi bakar yang dipegangnya, meniup niupnya sebentar, lalu memakannya dengan sangat lahap.

Angga kembali tersenyum melihat cara makan perempuan itu. Benar benar rakus, seperti orang yang telah berhari hari tak makan.

Sambil membersihkan ubi bakar miliknya, Angga kembali memperhatikan perempuan di depannya itu. Entah kenapa, pemuda yang biasanya sedikit cuek dengan wanita itu, sangat mengagumi perempuan bernama Nengsih itu.

Merasa diperhatikan, kembali Nengsih menatap ke arah Angga dengan mata bulatnya. Angga segera mengalihkan pandangannya, dan berpura pura menikmati ubi bakar miliknya.

Beberapa saat mereka saling terdiam, sambil menikmati makan malam sederhana mereka. Sampai makanan mereka habis, dan perempuan itu merebahkan tubuhnya diatas tumpukan jerami tempat Angga terbaring tadi, tak ada percakapan lagi.

Hanya dalam hitungan menit, perempuan itu telah terlelap dalam mimpinya. Sedang Angga masih duduk di depan tungku. Tak tahu apa yang akan dilakukan. Hendak tidur, hanya ada satu tumpukan jerami tempat tidur di ruangan itu. Selebihnya hanya lantai tanah yang dingin.

Akhirnya ia hanya bisa duduk terkantuk kantuk bersandar pada dinding pondok itu. Sambil sesekali menepuk nyamuk nyamuk hutan yang hinggap di kulitnya.

Suasana malam yang sunyi, membuat Angga teringat kembali dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Beruntung ia selamat. Meski ia masih terjebak di hutan ini bersama perempuan cantik namun sedikit aneh itu. Bagaimana nasibnya esok hari? Dan bagaimana nasib Anggi? Selamatkah ia? Atau makhluk makhluk itu juga menangkapnya? Berjuta pertanyaan menuntut sebuah jawaban di benak Angga, membuat pemuda itu resah.

*****


cerbung.net

Misteri Hutan Tawengan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Anggada dan Angginita, dua orang kakak beradik kembar, merupakan novelis terkenal yang sudah menerbitkan puluhan novel best seller dengan nama pena Angganita, gabungan dari kedua nama mereka.Spesialisasi mereka adalah cerita cerita horor dan misteri. Dan karena totalitas mereka dalam berkarya, tak jarang mereka harus mengunjungi lokasi lokasi yang dikenal angker untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat cerita.Hingga suatu saat, berawal dari sebuah thread sederhana yang di unggah di sebuah media sosial, membawa mereka ke sebuah petualangan mistis yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.Bagaimana kisah petualangan mereka? Simak kisahnya di bawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset